
Di kantor Dera.
"Bagaimana bisa kamu hamil? " Dera menelisik dalam membuat Tania tertunduk lesu.
" Ya, karna aku di tiduri. Dan dia meninggalkan sp**manya di rahimku Dera." Jawab Tania dengan malasnya.
" Ih, Jelas lah. Kalau itu aku juga tau Tania!" Dera mendengus kesal dan kemudian semakin duduk mendekat pada Tania.
" Maksudku, Hanya dua kali dia memaksamu dan langsung jadi?" Dera berdecak tak percaya.
" Entah takdir atau apa, aku juga tidak tau. Di saat aku mantap untuk bercerai, justru anak ini hadir. Sepertinya anak ini adalah tim Ayahnya." Tania menepuk perlahan perutnya yang seolah ingin memberi pelajaran pada si jabang bayi.
" Eh, eh!" Dera melotot pada Tania dan menghalau tangannya yang ingin menepuk perlahan perutnya.
" Jangan, kalau kamu tidak mau biar aku yang akan menjadi ibunya. Cukup kamu yang hamil dan aku akan membesarkannya." Ketus Dera yang lalu mengusap lembut perut rata Tania.
" Hahahaha, apasih tidak kamu, tidak Julian. Semuanya berlebihan. Aku hanya pelan menepuknya." Tania terkekeh dan membela dirinya yang memang hanya perlahan dan mungkin tidak terasa apa-apa bagi si jabang bayi.
Mereka lalu tertawa bersama, membahas pekerjaan dan juga terkadang terselip cerita soal di atas ranjang.
Namanya juga sahabat dimana keluh kesah bisa tercurah.
Tetapi terkadang dunia ini kejam. Tak ayal mereka yang di anggap sahabat malah menggunting dalam lipatan.
Eits, tapi tenang. Itu semua tidak di cerita ini.
*
*
*
" Pagi pak!" Sapa para karyawan yang menundukkan sedikit kepalanya menyapa si CEO yang baru saja tiba.
"Pagi!"Sahut Julian dengan datar dan berjalan tegap, satu tangannya tersimpan dalam saku celananya. Menatap lurus tanpa menghiraukan sapaan dari karyawan.
Julian memasuki ruangannya. Tak berselang lama dia keluar dengan mengeluhkan bau yang di bencinya.
" Dekta!" Teriak Julian di ambang pintu ruangan Delta.
" Ada apa? " Sahut Dekta tak kalah lantang karena keterkejutan.
" Huek! Kamu taruh bunga apa di ruangan saya? Pakai pewangi apa itu?"
"Apa? ya, yang biasanya lah. Lavender."Jawab Dekta dengan tenang dan polosnya.
" Ganti Sekarang juga. Ganti!" Teriak Julian yang menyalak kesal.
" Santai saja. Biar aku suruh OB beli yang baru. Kamu maunya wangi apa? "
" Entahlah, yang beraroma laut dengan greentea." Jawabnya sambil mengusap perutnya yang masih terasa mual.
" Ok!" Dekta menunjukkan ibu jarinya pertanda permintaan akan segera terlaksana.
__ADS_1
" Eh, tunggu!" Seru Julian mengentikan langkah kaki Delta.
" Apa lagi?" Dekta menoleh dengan raut wajahnya yang kesal.
" Bagaimana pesananku?"
" Sudah siap. Sore ini di antar." Jawabnya lalu pergi.
Bagus, dia pasti akan senang.
Aku sudah tidak sabar. Julian mengulum senyumnya.
Julian merogoh kantong celananya dan menghubungi Tania. Ponsel Tania bergetar beberapa kali tapi tak juga terhubung.
Tania tengah sibuk melakoni pemotretan.
" Sehhhh,! Kenapa tidak di angkat? Bukankah kami sudah berbaikan tadi? Apa aku terlalu tergesa-gesa? Apa dia hanya terpaksa? Ahhh, bisa gila aku." Desis Julian seorang diri di ruangan Sulaiman.
Pewangi ruangan sudah di ganti dan Julian pun sudah menempati kursi kebesarannya dengan pandangan yang fokus menatap berkas yang sudah bertumpuk.
" Krug! Krug!" Suara perut Julian mulai aktif.
" Dekta, belikan aku makanan khas Jawa." Kata Julian tiba-tiba setelah panggilannya terhubung.
" Apa? Makanan khas jawa? Tumben, biasanya kalau di kantor pizza, spaghetti, gimbab," Cerocos Dekta mengabsen makan siang Julian.
" Stop! Carikan sekarang atau aku potong gajimu karena banyak bicara?" Ketus Julian.
" Oke, oke!" Dekta mengalah dan menutup panggilannya.
Yang kampungan lah, yang ndeso lah, Yang primitif lah.
Lalu apa dia sekarang? Manusia purba? Dekta menggerutu tiada habisnya sambil berjalan dan meninggalkan ruang kerjanya.
*
*
*
Ponsel Julian kembali berdering.
" Apa lagi?" Sahutnya geram.
" Ini Jawa mana yang mau kamu makan? Jawa barat, Jawa timur, atau Jawa tengah?" Tanya Dekta yang tak paham akan selera baru bosnya juga sekaligus temannya.
" Pokoknya yang sambalnya Hot jaletot!" Jawab Julian yang kemudian menutup panggilan dan melemparkan ponselnya ke sofa.
" Banyak omong!" Decih Julian yang kemudian memijat pangkal hidungnya.
Di sebuah restoran makanan khas Jawa timur.
" Mau makan apa nih?" Dera membolak-balik buku menu.
__ADS_1
" Aku soto Lamongan aja Ra. Seger kayaknya panas panas makan soto." Jawab Tania yang masih menikmati semilir angin di saung resto.
Yang tadinya masih duduk bersantai tiba-tiba Tania meraih buku menu dan menutup wajahnya seolah masih memilih menu.
" Kenapa mau ganti?" Tanya Dera yang mengira jika Tania akan berganti pesanan.
" Tidak, tapi lihat disana itu." Tania menunjuk dengan dagunya.
Dera mengikuti arah yang ditunjuk Tania dan kemudian tertawa licik.
" Hohoho! Ada yang takut ketemu berondong nih." Dera mengejek Tania yang sudah menunduk dengan mata yang melotot untuk menghentikan suara dera yang kian mengeras.
Tanpa di duga Dera justru berteriak lantang memanggil Harry.
"Harry!" Serunya sambil tersenyum licik pada Tania.
Seketika Harry melambai dan menghampiri saung yang di pakai Tania dan Dera.
" Bukanya, diem. Kan aku udah bilang kalau Julian itu masih berusaha pingin baik sama aku. Kamu ngapain panggil dia?" Lirih Tania berbisik di telinga Dera tapi tetap menjaga senyumnya untuk Harry.
" Ga apa apa, biar Julian tambah hot!" Sahut Dera menggoda Tania dengan mengedipkan satu matanya.
" Ih, jijik!" Ketus Tania yang kemudian tersenyum puas pada Harry.
" Hai, Kak!" Sapa Harry.
" Oh, hai" Tania.
" Hai, sini gabung sama kita." Dera menawari dan tangan Tania mencubitnya dari bawah meja.
" Apaan sih pake minta gabung segala?"Desis Tania sambil melototi Dera.
" Sendirian?" Tanya Dera yang tak menghiraukan keluhan dan rengekan Tania disampingnya.
" Iya, lagi mau makan." Jawab Harry.
" Makanya, udah sini sama kita. Kita satu meja aja, sambil ngobrol-ngobrol ya." Ucap Dera.
" Ok, tapi kayaknya temenku ga suka aku disini kak?" Harry menyindir Tania yang raut mukanya sangat terlihat jika tak menyukai kehadirannya.
" Eh, enggak kok. Cuman lagi capek aja." Ucap Tania menghilangkan kecanggungan antara dirinya dengan Harry.
" Biasalah pengaruh hormon. Namanya juga ibu hamil." Cerocos Dera tanpa rem dan rasa bersalah.
" Kamu hamil?" Harry menatap lekat manik Tania. Sementara itu Tania hanya bisa mengangguk.
" Selamat ya! Aku bakalan punya keponakan. Selamat!" Ucap Harry dengan berlapang dada meskipun sekarang hatinya sudah remuk tak berbentuk setelah mendengar Tania hamil.
itu tandanya secara teknis Kemungkinan mereka bersama juga semakin kecil. Juga, Julian terlihat sangat protektif pada Tania.
" Selamat!" Ucap Harry sambil menyalami Tania dan menyalaminya.
Tanpa Tania duga, Tangan Harry menjulur dan meraba perut rata Tania. Posisi mereka duduk adalah Harry di samping Tania dan Dera pindah di depan Tania.
__ADS_1
" Kalau Bapak liat itu, Pasti diajak gelut itu anak, ga ada kapoknya." Dekta bermonolog dari depan meja kasir karena dirinya selesai membeli.
Akankah, Julian kembali mengamuk setelah mengetahui hal ini?