
Senja menjelang, langit jingga menghiasi hiruk-pikuk perkotaan. Dera sendirian membelah lalu-lalang jalan kota.
Selesai berdebat dengan tantenya membuat mood dera cukup terganggu. Dan kini dia tengah menghubungi Al namun tidak mendapat respon sama sekali.
" Kemana lagi sih dia?" Gumam Dera sambil mengemudi.
Kesal ya semakin kesal, bahkan Al seolah lupa akan semua janjinya kepadanya dera hari ini. Dera memutar bola matanya malas lalu menghubungi Tania.
" Tan, kamu dimana?" Tanya Dera langsung tanpa basa-basi.
" Aku sedang mengisi absen Ra. Baru saja selesai dan ini arah pulang." Jawab Tania yang juga sedang fokus mengemudi.
" Suamimu di rumah?" Tanya Dera yang sepertinya memiliki niatan khusus malam ini.
" Dia tadi pamitan katanya mau keluar kota, semingguan. Kenapa?" Tanya Tania yang tidak tau apa keinginan dera sahabatnya sekarang.
" Bagus! Aku minep di rumah kamu ya Tan." Rengek Dera tiba-tiba membuat Tania sedikit kaget.
Bagaimana bisa seorang Dera yang sangat lengket dengan Al minta bermalam dirumahnya jika tidak ada masalah seperti waktu dulu?
Pasti terjadi sesuatu. Tania menerka dalam diamnya.
" Sudah ijin sama suamimu?" Tanya Tania.
" Buat apa? Dia sendiri menghilang hari ini Tan. Aku kesal, aku chat tidak di balas. Aku telfon pun Samad sekali tidak di angkat." Adunya kesal.
" sudah hubungi temannya?" Tanya Tania yang seolah lupa jika hubungan pernikahan sahabatnya masih sembunyi sembunyi dari ruang lingkup Al.
" Gila apa, ya ga mungkinlah Tan. Mau jawab apa aku kalau mereka tanya aku ini siapa. Lagian suamiku sama sekali tidak pernah punya waktu untuk membicarakan teman-temannya denganku. Jadi aku sama sekali tidak punya kontak mereka Tan."
" Iya juga. Ya sudahlah menginap saja di rumah ku. Jangan lupa bawa makanan yang banyak, nanti malam kita nonton Drakor." Titah Tania yang mengajukan syarat kepada Dera.
Selesai menghubungi Tania, Dera lekas kembali ke apartemen. Tapi, tak ada juga Al di sana. Lagi dan lagi Dera menghubungi Al namun tetap sama tidak ada jawaban.
Dera lalu menghubungi Ayahnya, Dera ingat jika saat mereka bersama kemarin sempat membicarakan perihal membuka usaha kecil-kecilan.
Dera menutup Panggilan dengan raut wajah yang sudah tertekuk.
Pasalnya hari ini juga Al sama sekali tidak mengunjungi mertuanya seperti pada pembicaraan mereka sebelumnya.
" Kemana dia?" Dera mendengus kesal dan mulai bersiap untuk menginap di rumah Tania.
Sebelum kerumah Tania Dera mampir ke minimarket untuk membeli beberapa camilan. Di minimarket Dera berhenti cukup lama untuk membaca dan membolak-balik kemasan susu khusus ibu hamil.
Dera mengambil satu lalu membayarnya.
Di rumah Tania.
" Ah, senangnya. Bisa bebas sendirian. " Desis Tania yang baru saja selesai mandi.
__ADS_1
Tania tidak benar-benar sendirian di rumah. Julian yang akhir akhir ini mengkhawatirkan keadaan Tania meski tidak tampak menyolok mata.
Julian meminta pembantu dari rumah ibunya untuk menemani Tania saat malam hari.
Seperti Malam ini, Mbak Ina dan Pak yok sudah siap siaga menemani Tania.
" Mbak Ina? Kok di sini?" Tanya Tania yang sama sekali tidak tau jika Suaminya memerintah pembantu dan satpam untuk menemani istrinya.
" Iya Non, Tadi Aden yang suruh. Katanya biar Non tidak kesepian di rumah sendirian." Jawab Mbak Ina dengan senyum ramahnya yang menghiasi bibirnya.
Tania merasa bahagia dan senang, ternyata secara diam-diam Julian kini mulai lebih perhatian kepadanya.
" Oh, gitu ya Mbak. Ya sudah mbak sini tolong bantu saya bikin petisan yuk. Tiba-tiba kepingin Mbak." Kata Tania yang kini hanya memakai daster pendek selutut dan rambutnya di ikat asal-asalan.
" Iya Non." Jawab Mbak Ina yang kemudian membantu Tania.
Bel pintu berbunyi dan Tania meminta Mbak Ina untuk membukanya.
Dera dengan sorot matanya yang datar hanya tersenyum tipis kepada Mbak Ina.
Dera sama sekali belum pernah bertemu dengan mbak Ina sebelumnya.
" Siapa Tan?" Tanya Dera yang langsung ikut bergabung memotong buah di depan TV.
" Mbak Ina Ra. Pembantu Ibunda. Mas Julian yang nyuruh dia untuk temani aku selama dia dinas." Jawab Tania tanpa ekspresi yang berarti.
" Cie, so sweet!! Julianmu sungguh perhatian sayang." Dera mentoel dagu Tania.
🎶🎶🎶🎶🎶
Ponsel Tania berdering.
" Hai Sayang!" Seru Julian di seberang dengan riangnya.
" Hai." Jawab Tania seadanya.
" Ih, kok gitu sih Sayang ekspresinya? Ga seneng banget aku VC." Ketus Julian.
" Seneng dong. Tapi juga sebel. Kamu udah janji kan mau anterin aku buat cek kandungan? Nyatanya?" Cecar Tania mengungkit Julian yang lupa akan janji mereka untuk memeriksakan kondisi si jabang bayi.
" Iya maaf Sayang, beneran padet jadwalku. Bulan depan deh ya, aku janji." Kata Julian dengan menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf V.
" Janji melulu, udah kaya politikus." Sindir Dera yang juga mendengarkan perbincangan sepasang suami istri itu.
" Kamu sama siapa di rumah?" Tanya Al setelah mendengarkan suara Dera.
" Sama Dera, dia mau menginap disini." Kata Tania yang menyorotkan kamera kepada dera yang membalas lirikan tajamnya pada Julian.
" Suruh pulang aja sayang. Masa iya tamu mau menginap malah melototin yang punya rumah." Sindir Julian yang blak-blakan.
__ADS_1
" Mas~~." Ucap Tania yang mendayu-dayu yang memberikan kode agar suaminya sedikit lebih manis dalam berucap dengan sahabatnya.
" Iya iya tau. Sayang coba kamu ke kamar sebentar. "
" Untuk apa?"
" Sebentar saja Sayang, ada misi khusus." Pinta Julian dan Tania menurutinya.
" Sayang coba kamu taruh hpnya di atas meja."
"Udah nih, ada apa sih?" Tania heran.
" Kamu mundur." Titah Julian yang sambil senyum-senyum melihat wajah bingung Tania.
" Udah?"
"Lagi, mundur sedikit lagi." Titah Julian.
" Coba muter." Pintanya lagi.
" Muter lagi sayang." Tania hanya pasrah dan menurut saja. Tania berputar di depan ponsel yang masih terhubung VC.
" Hhh, sudah. Bisa tidur nyenyak aku malam ini." Kata Julian yang tersenyum lebar. Seolah puas setelah melihat wajah Tania.
" Kenapa memangnya?"Tanya Tania yang masih tidak mengerti.
" Tan, Sayang. Aku baru sehari disini dan udah kangen berat sama kalian berdua. Aku mau pulang~~~." Rengek Julian seperti anak TK yang meminta balon.
" Ih, Apaan sih. Dulu aja mana pernah kamu begini Mas. Malah bisa satu bulan penuh kamu ga pulang dan berlibur dengan..."
" Stop Tan! Jangan bahas soal itu lagi. Aku sudah bicara berulang kali kan sayang. Aku sudah menyesali segala perbuatan bodohku. Aku menyesal mengecewakan dan menyakiti hatimu." Kata Julian menegaskan yang sesungguhnya.
Sedang asik bercengkrama dengan Tania tiba-tiba terdengar teriakan dari Dera dari lantai bawah.
" Apa!"Teriak Dera histeris yang sampai terdengar kelantai atas.
" Sayang, udah dulu ya Dera kenapa itu aku mau lihat dia dulu." Kata Tania tergesa-gesa yang ingin menutup panggilan dari suaminya.
" Yes!!! akhirnya dia panggil aku sayang! Wohu!!" Teriak Julian yangs say ini merasa sangat senang Tania memanggilnya dengan sebutan SAYANG.
Padahal, siapa yang tau jika Tania hanya reflek dan tidak sadar saja saat mengucapkannya. Nampaknya Julian sudah banyak berharap🤭.
"Ada apa Ra?" Tanya Tania yang sudah berada di sebelah Dera saat ini.
" Kamu baca ini, dan lihat chat Al ini." Ucap Dera yang sudah menangis terisak-isak.
" Kamu yang sabar ya Ra." Tania ikut bersimpatik dan memeluk Dera.
" Aku bingung harus apa Tan. Hiks, hiks, hiks!" Dera menangis di pelukan Tania.
__ADS_1
Ada apa dengan Dera ya?
Hayo ada apa?