In 30th.

In 30th.
7.


__ADS_3

Pemotretan dan pengambilan gambar berlangsung. Selama itu juga baju seragam Tania sudah di laundry dan akan segera kembali siap pakai dalam dua jam.


Kini Tania sudah siap untuk berganti baju yang ke 6 kalinya.


"Eh aku ikut masuk ya. Baju itu agak ribet soalnya." Kata dera yang kemudian berlari dan masuk kedalam ruang ganti bersama Dera.


" Keluarlah Ra, aku malu." Ucap Tania mengusir Dera.


" Kenapa juga malu sih Tan, bukannya dari SMA kita udah sering ganti baju bareng. Malah sering pinjam pinjaman kolor." Celetuk dera yang kekeuh untuk masuk.


Mungkin sekaranglah kamu harus tahu.


Mungkin inilah cara Tuhan membuka aib rumah tanggaku.


Aku pasrah Ya Allah.


Perlahan Tania mulai membuka baju, Dera terkejut melihat paha, lengan, dan juga pinggang Tania yang memiliki luka memar.


" Tan, ini kenapa?" Tanya Dera yang sangat khawatir setelah melihat kulit Tania yang membiru di beberapa titik.


" Julian." Jawab Tania yang lirih dan terus menyelesaikan ritual memakai bajunya.


" Apa? Julian? Apa dia punya kelainan ****? Apa selama ini kamu? Kamu Tan? Kenapa tidak pernah bercerita?" Ucap Dera yang sedih melihat keadaan Tania.


" Jangan menangis oke, Aku baik-baik saja. Dia hanya mencubitku saat kesal. Nanti aku ceritakan. Sekarang aku akan kembali menjadi modelmu." Ucap Tania yang tersenyum getir lalu pergi meninggalkan dera yang berada di ruang ganti dengan sedihnya.


Kamu tidak sebahagia yang aku bayangkan Tan.


Terlihat dari matamu tadi, kamu menyimpan banyak luka dan lara.


Tan, kamu harus kuat. Aku akan selalu mendukungmu. Aku janji. Batin dera yang mengusap air matanya dan kemudian menuju ke ruang kerjanya meninggalkan Tania yang masih sibuk pengambilan gambar.


🍂


🍂


🍂


" Hhhh, akhirnya selesai." Tania mendengus lega dan berjalan menuju ke ruangan Dera.


Saat baru masuk, terlihat dera yang sudah sangat menantikan cerita dari sahabatnya itu.

__ADS_1


" Ceritakan semuanya."Ucap dera di selingi rasa kecewa mengapa Tania tidak mau bercerita kepadanya sedari awal.


" Iya." Jawab Tania sebelum mulai bercerita.


Ini adalah keputusan besar bagi Tania. Dimana baginya ketika ia bercerita adalah waktu seperti dia menelanjangi dirinya sendiri di hadapan orang lain.


Tapi, jika memendamnya sendiri Tania tidak akan mampu. Sesaat sebelum ibu mertuanya datang, Tania sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Tania sudah putus asa, tidak ada tempat berlindung baginya.


Dia lupa, dia masih punya dua sahabat gila yang akan selalu menyayanginya apapun yang terjadi. Dan disinilah sekarang mereka berdua, saling beradu cerita sedih dan memilukan dan menangis haru bersama.


" Tapi mertuamu baik yang benar-benar baik kan Tan?" Ucap Dera memastikan jika setidaknya sahabatnya masih memiliki tempat mengadu yang bijak.


" Iya, dia sangat menyayangiku. Kamu tahu, mungkin jika dia tidak datang pagi ini. Kalian sudah menggelar tahlilan malam ini di rumah Julian atas kepulanganku." Celetuk Tania yang berusaha tegar.


" Apa? Jangan gila deh Tan. Inget ada aku, ada Mayang. Kita akan support kamu terus oke. Jangan mau kalah ditindas oleh ibumu dan Julian. Laki-laki yang baik masih banyak untuk jodohmu selanjutnya Tan."


" Kamu cantik, Kamu baik, kamu tidak pantas di sakiti dan di sia-siakan seperti ini." Ucap Dera menguatkan Tania.


Dera menghidupkan rekaman di ponselnya dan mulai merekam percakapan mereka. Entah untuk apa.


" Lalu, Julian samasekali belum menyentuh tubuhmu ini?"


" Aku sakit Ra, aku sakit. Aku sama seperti dijual oleh ibuku sendiri dan di jadikan budak oleh suamiku sendiri. Aku harus bagaimana Ra?" Tangis Tania pecah dan menyayat hati.


" Sabar sayang, sabar lah."Dera memeluk dan mengusap lembut punggung Tania.


Dera mematikan rekaman lalu mengirimkannya kepada seseorang yang sudah menunggu hasilnya sedari tadi.


Ceglek!


Pintu terbuka dengan tiba-tiba dan membuat acara tangis menangis itu terhenti.


" Kalian? Tania? kamu kenapa?"


" Duduklah dulu, sini!" Dera melambaikan tangannya menyuruh Mayang untuk duduk bersama di sofa.


Mayang yang masih kebingungan dan melihat sembab mata Tania dan Dera hanya bisa ikut menangis sedih.


" Apapun itu aku ikut sedih." Ucap Mayang yang kemudian memeluk sahabatnya.


Kedatangan Mayang sebenarnya ingin menceritakan keadaan buruk yang di alaminya bersama seorang laki-laki yang tak di kenalnya.

__ADS_1


Tetapi setelah melihat situasi sedih ini, Mayang mengurungkan niatnya dan dia menunggu waktu yang tepat.


Satu jam mereka menangis hingga OB datang sambil membawakan baju Tania yang sudah kering dan bersih.


"Aku ganti baju dulu ya. Aku bersiap untuk kerja. Kalian jangan nangis lagi." Ucap Tania yang sok kuat di hadapan sahabatnya.


" Ya ya, cepatlah, sebelum kena skors kepala sekolah. Udah 30 masih aja sekolah." Celetuk Dera yang berusaha menghibur Tania.


" Iya iya, Orang terbodoh itu aku, sekolah udah 30 tahun ga lulus lulus. Hahahaha!" Tania cekikikan menertawai dirinya sendiri.


" Kalian sama bodohnya."Celetuk Mayang sambil tertawa.


" Kamu kenapa kesini?" Tanya Dera yang sebenarnya penasaran akan kedatangan Mayang di jam yang tak biasanya.


" Aku bolos kerja. Kepalaku pusing banget Der." Keluh Mayang yang menyandarkan kepalanya di sofa.


" Mabuk banget sih Kamu. Eh ini pakai baju siapa?" Tanya Dera penuh selidik kecurigaan.


" Aku mau cerita, tapi kamu biasa aja ya."


" Apa?" Dera mendongkkan kepalanya dan memasang wajah serius.


" Semalem aku sikidipapap sama cowok." Ucap Mayang jujur.


" Apa? Astaga?!! Gila kamu May!" Dera tak habis pikir dengan Mayang yang jika mabuk maka akan susah di kendalikan birahinya.


" Apa siapa yang sikidipapap?" Tanya Tania yang ikut nimbrung dan bergabung di sofa.


" Dia, anak bego itu." Ucap Dera kesal akan kebodohan Mayang yang tak bisa menjaga dirinya sendiri.


" Mayang! Aku aja yang udah nikah ga pernah sikidipapap. Ganteng ga orangnya?" Tanya Tania yang kini lebih tertarik kepada fisik.


" Pol, gantengnya. Mirip Ji Chang Wook. Entah gimana atau pengaruh gue mabuk aja atau gimana gue ga tau. Pokoknya oke banget!" Ucap Mayang yang tanpa beban.


" Eh, kamu ga takut May? Kalau hamil gimana?" Tanya Dera khawatir.


" Hamil ya di lahirin lah. Dia kan ga dosa yang dosa akunya. Aku punya duit, aku bakal jaga dan rawat dia." Celetuk Mayang yang membuat dua sahabatnya tergelak tak percaya.


" Asli otakmu ketinggalan dimana sih? Iya kalau cuma hamil, kalau ternyata dia penyakitan terus nular di kamu gimana?" Seloroh Tania yang kini takut jika sahabatnya tertular penyakit mengerikan akibat pergaulan **** bebas.


" Ya, kalau aku mati ya udah, di kubur." Ucap Mayang yang sekektika mendapat hadiah bantal terbang dari Dera dan Tania.

__ADS_1


__ADS_2