In 30th.

In 30th.
18.


__ADS_3

" Sialan! Jadi itu maksud dan tujuanmu mempersulit hidupku. Baik, Baik! Akan kita lihat siapa yang akan bersujud di kaki. Aku atau kamu? Kita lihat permainan ini Akbar."


" Ingat aku tidak selemah yang kamu kira. Kamu tidak tahu dengan siapa kamu bermain saat ini. Hahahaha! Sahabatku sendiripun tidak tahu siapa aku sebenarnya apalagi hanya kamu. Cih!!"


" Bersiaplah untuk jatuh miskin mulai dari malam ini Akbar Zaidan Narendra." Geram seseorang yang kemudian berlalu pergi dari depan pintu kantor Akbar.


*


*


* Ada masanya dimana sesuatu yang kita lihat tak sesuai dengan realita. Ada masanya apa yang kita dengarkan tak sejalan dengan maksudnya. Dengan hati yang tulus semua dapat di raba, memang tak semua orang bisa, memang tak semua orang punya.


Tapi cukuplah dengan hati yang baik kita menjalani hidup ini.


Apa yang terlihat indah belum tentu layak untukmu.


" Pak, sekali lagi ini terakhir kalinya saya mengajukan pengunduran diri." Ucap Mayang yang kini sudah berdiri tegap dengan wajah datarnya menghadap Akbar.


" Kalau saya tidak mengijinkan, maka artinya tidak. Apa kamu tuli Yang?" Jawab Akbar tanpa melihat wajah Mayang yang kesal saat di panggil Yang.


" Hhhhh, Pak saya mohon. Terus terang saya tidak bisa terus-terusan berada di kantor ini dan melihat muka Bapak." Kata Mayang.


" Apa maksudmu, aku jelek begitu?" Hardik Akbar yang diikuti dengan bunyi dokumen yang di tutup dengan kasar.


" Tidak, tapi kejadian malam itu yang membuat saya tidak bisa bersikap profesional saat bekerja. Saya juga merasa tidak nyaman saat mengingatnya." Kata Mayang.


" Apakah tubuhku membuatmu ketagiahan? Sampai-sampai kamu sulit untuk melupakannya?"


Tap!


Tap!


Tap!


PLAK!!! Mayang menampar pipi Akbar kencang.


" Jangan kau rendahkan aku seperti ini. Cukup sekali aku melakukan kesalahan dan aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Jika kau ingin bermain silahkan cari saja jalangmu." Ucap Mayang dengan tegas tanpa suara yang bergetar atau tatapan datar. Tatapannya seperti mata elang yang siap menyerang.


Mayang melemparkan surat pengunduran dirinya ke wajah Akbar dan melenggang pergi dengan amarah yang memuncak. Jika saja itu tidak di kantor, mungkin Mayang sudah membanting dan menginjak injak tubuh Akbar.


" Cih! jangan sok suci kamu Yang! Tubuhmu itu tak lebih dari sebuah sampel, siapapun pasti sudah menjamahnya!!" Teriak Akbar kuat kuat yang hanya di acuhkan oleh Mayang.


Sial, wanita itu tidak punya rasa takut sama sekali.

__ADS_1


Belum pernah aku menemui wanita yang berani menyepelekan aku seperti ini.


BRAK!! Akbar meninju meja dan mengacak-acak apapun yang ada di depan matanya.


Harga dirinya tengah di permainkan oleh seorang wanita yang menerobos masuk kedalam kamarnya dan saling memuaskan kala itu.


*


*


*


1 Minggu setelah Mayang mengundurkan diri.


"Apa lagi ini? Kenapa semua komputer di kantor kita selalu bermasalah saat presentasi?" Ucap Akbar dengan sangat emosi saat menggelar rapat kerja.


" Maaf Pak, kami juga sudah menurunkan seorang yang ahli di bidangnya. Semua membaik tetapi saat kita tengah berebut proyek besar maka selalu saja ada masalah. Sepertinya ini adalah tindakan orang dalam Pak. Jangan-jangan ada mata-mata yang di utus pesaing kita di kantor ini?" Kata Sulaiman.


" Siapapun itu, dia berhak di hukum atas apa yang di lakukannya. Kita sudah rugi miliaran!!" Ucap Akbar yang semakin emosi.


" Maaf Pak, bukannya saya lancang. Tetapi kebocoran data ini adalah karena ada seseorang yang berhasil meretas jaringan dan juga data internal perusahaan Pak." Ucap seseorang yang juga ahli dalam meretas.


" Sudah kamu temukan dimana lokasinya? Tangkap orang itu. Pastikan dia mendekam di penjara." Kata Akbar geram.


Dia selalu berhasil menipu titik lokasi.


Dimana dia sebenarnya. Dari caranya, aku curiga jika dia juga adalah sekawanan yang sama denganku.


Apa sebaiknya aku mengulur waktu?


Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika itu memang dia, Kelihaian dan keahliannya belum terkalahkan selama ini. Pikir si peretas sambil terus mengotak atik laptopnya.


" Lakukan secepatnya, Jangan ulur waktu. Jika dalam sehari saja aku sudah rugi miliaran. Maka seminggu kedepan aku bisa jatuh bangkrut." Ucap Akbar yang kini memijit keningnya. Kepalanya berdenyut-denyut.


" Saya usahakan Pak." Jawab si peretas.


" Rapat selesai." Ucap Akbar yang kemudian menjalankan kursi kebesarannya menuju ke depan jendela besar.


Setelah kepergiannya, banyak kesialan yang menimpaku.


Aku benar-benar sial. Aku butuh suntikan dana saat ini.


Investor terakhir adalah Dery, Haruskah aku memohon kepadanya? Pikir Akbar yang mengetuk-ngetukkan telunjuk di pelipisnya.

__ADS_1


Astaga, itu benar Dia. Aku tak bisa mengalahkannya. Wanita ini, sepertinya dia menyimpan dendam yang dalam terhadap pemilik perusahaan ini.


Ternyata kamu tidak berubah sama sekali. Baiklah, aku menyerah.


Aku akan menemui mu segera Yang. Batin si peretas yang tersenyum tipis mengerikan.


" Pak, Maaf. Dia mengetahui aksiku. Lihat dia sudah berhasil melumpuhkanku. Virus ini cepat sekali menyebar di laptopku. Keahliannya jauh berada di atasku Pak. Aku menyerah." Ucap si peretas yang mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah dan tak sanggup melawan musuhnya.


" Apa!!" Bentak Akbar dengan lantangnya.


" Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi dia sangat jago." Si peretas menggelengkan kepalanya.


" Pergilah dari hadapanku dan jangan harapkan bayaran sepeserpun dariku karena kamu telah gagal." Ucap Akbar dengan nada geram sambil mencengkram kerah baju si peretas.


Selesai dari ruang CEO, si peretas berjalan meninggalkan gedung perusahaan dan melakukan suatu panggilan telepon.


" Cafe Xxxxxx? Jam 9 pagi. Aku rindu." Kata si peretas yang kemudian menutup panggilan teleponnya dan tersenyum manis.


*


*


*


Cafe Xxxxxx.


Di sudut ruang VIP duduklah seorang wanita berpakaian serba hitam dengan topi dan masker yang membuatnya susah di kenali. Si peretas, ( Robby ) datang, dia melambai dan kemudian duduk dimeja yang bersebrangan dengan si wanita yang berpakaian hitam.


" Hai, lama tidak tercium Baumu Black mind." Sapa Robby yang menyesap Americano yang sudah tersedia di tempat duduknya.


" Hahahaha, apakah kau merindukanku Angelo?" Tanya si wanita berpakaian serba hitam.


" Tentu, kau guru terbaikku. Kemana saja selama ini?" Tanya Robby.


" Aku mencari ketenangan."


" Hahahaha, ketenangan? Tapi mengapa akhirnya kau membuat banyak kerugian untuk perusahaan tuan Akbar." Tanya Robby yang penasaran akan maksud dan tujuan si Black mind.


" Apakah dengan begitu kamu akan tenang?" Sambungnya lagi.


" Jelas, tentu, of course. Aku akan lebih bahagia jika melihat dia jatuh miskin." Jawaban si Black mind.


" Gila kamu, Sudahlah jangan terlalu sadis." Kata Robby menasehati si Black mind.

__ADS_1


" Tidak, aku bermain lembut, tidak sadis. Hanya saja untuk sementara waktu dia akan kehilangan gairah hidup. Hahahahahaha!!!"


__ADS_2