In 30th.

In 30th.
25.


__ADS_3

Pintu terbuka tiba-tiba di saat Tania masih memeluk surat gugatan perceraian yang baru saja di dapatkannya dari ibu mertuanya.


Julian merampas surat itu lalu merobeknya menjadi beberapa bagian.


" Julian! apa yang kamu lakukan?" Tanya Tania dengan mata yang terbelalak. Julian datang dalam senyap dan tiba-tiba hingga Tania tidak menyadari keberadaan Julian.


" Apa lagi? jelas aku merobeknya." Jawab Julian dengan enteng dan tersenyum sinis.


" Kamu tidak bisa seenaknya seperti itu Julian. Aku ingin kita bercerai." Ucap Tania memberontak dan meluapkan amarahnya.


" Kenapa tidak bisa? Kenapa? aku ini suamimu. Dan aku tidak ingin kita bercerai. Lalu apa lagi?" Kata Julian dengan santai sambil berdiri menatap Tania yang bersimpuh menangisi dokumen yang sudah menjadi serpihan-serpihan kecil.


Aku tidak bisa melepaskanmu Tan.


Aku tidak ingin kamu bersanding dengan laki laki lain.


Aku tau setelah ini ibumu akan menjadi semakin gila dalam menjodohkan dirimu.


Maafkan aku yang mungkin keliru dalam hal ini.


Aku masih tetap ingin kita bersama.


" Tania. Tidak bisakah kau mengerti apa maksudku?" Tanya Julian yang kini mendekati Tania nada suaranya menjadi lebih lembut.


" Apa maksudmu? Kamu masih ingin menyiksaku dan menjadikanku budak nafsumu?" Cetus Tania dengan berapi-api.


Tentu bukan itu mauku. Tapi, aku hanya ingin menjagamu.


Aku merasa ada yang hilang dari diriku setelah kita benar-benar tak ada kabar satu Minggu ini.


Aku merindukan senyumanmu, aku merindukan hangat sentuhanmu.


Aku sudah ketergantungan akan semua sikap baikmu.


" Oh tentu. Apa hutang ibumu sudah kau lunasi? Dan alasan apa kamu meminta cerai karena orang ketiga?" Kata Julian sambil menaikkan alisnya dan telunjuknya mengangkat dagu Tania yang tertunduk.


" Hahahaha, Tania. Aku baru saja dari sidang mediasi. Aku meminta waktu lagi. Aku menceritakan semuanya jika pengajuan itu bukan kehendak ku tetapi kehendak ibu. Aku masih ingin bersamamu dan hubungan kita baik-baik saja. Mereka tentu lebih mempercayai aku Tania." Ucap Julian yang merasa menang dan di atas awan.


" Lalu mereka percaya begitu saja?" Lirih Tania yang mengusap kasar air matanya dan berusaha setegar mungkin.


" Oh tentu. Aku memberikan bukti dari CCTV di rumah kita. Siapa yang tidak percaya, kita begitu terlihat mesra dan saling mencintai disana." Julian terkekeh senang menerima kemenangan putusan hasil mediasi yang menyatakan jika gugatan perceraian telah di batalakan.

__ADS_1


" Salah apa aku padamu julian?" Ucap Tania dengan sedih dan pilu sampai bibirnya bergetar menahan sakit.


" Tidak salah, hanya saja kamu harus melunasi semua hutang ibumu padaku." Kata Julian mengancam Tania.


" Mulailah dari sekarang." Kata Julian yang kemudian memeluk erat tubuh Tania sambil mengajaknya untuk berdiri.


" Apa yang kau inginkan Julian? Kau ingin tubuhku?"


" Ini, Kau hanya ingin terpuaskan bukan?" Kata Tania dengan emosional sambil membuka bajunya dengan kasar. Matanya terus saja menitikan air mata.


Selama aku hidup aku hanya menjadi mainan banyak orang.


"Hentikan, jangan seperti ini." Ucap Julian begitu lembut di telinga Tania sampai membuat bulu kuduk Tania meremang dengan seketika.


Julian menggenggam tangan Tania dan menarik Tania perlahan menuju ke dapur utama. Tania masih terbengong-bengong dan hanya mengikuti langkah kaki Julian kemana menuju. Tania heran ketika langkah yang di turutnya berhenti di dapur.


" Masaklah. Aku lapar!"Seru Julian dengan santainya lalu menarik kursi dan duduk di ruang makan layaknya suami yang menunggu masakan istrinya siap tersaji.


" Kamu lapar? Apa Angel sudah tidak mengurusmu lagi sehingga kamu kelaparan? hum?" Tanya Tania yang sengaja menyindir kebiasaan Julian yang selalu meninggalkannya demi Angel.


Rahang Julian mulai mengeras dan tangannya mengepal. Telinganya mulai membenci nama yang baru saja di sebutkan oleh Tania. Ingin Julian marah dan menghukum Tania atas ucapannya yang sembarangan menyinggung perasaannya.


*Tarik nafas, hembuskan.


Tarik, hembuskan.


Tenang Julian relax. Jangan terpengaruh dan hitung sampai seratus*...


Batin Julian mencoba menenangkan pikiran dan dirinya sendiri.


Eh, dia tidak marah?


Biasanya kalau aku menyinggung sesuatu tentang hubungan mereka, Julian akan langsung mengamuk dan menyebutku lancang?


Tapi ini, dia diam saja?


Aneh! Gumam Tania yang kemudian mulai memasak menu asal-asalan sesuai bahan yang ada di kulkas.


Julian asik memainkan game di ponselnya hingga tiada terasa, aroma masakan Tania memenuhi seluruh ruangan. Hidung Julian mulai mengendus dan memperhatikan Tania yang sibuk menyajikannya di piring.


Julian datang dan memeluk Tania dari belakang.

__ADS_1


Aku merindukanmu Tania. Dalam hati tentunya. Mana mungkin Julian mau mengungkapkan perasaannya secara langsung.


Padahal seminggu terakhir, Julian sudah hampir gila karena berada jauh dari Tania dan entah mengapa Julian ingin sekali bermanja-manja dengan Tania.


FLASH BACK ON.


" Tania!! Mantra apa yang kamu gunakan untuk mempengaruhi ibuku? Dia lebih menyayangimu dari pada aku. Dan kamu juga pasti sudah memakai pelet kepadaku kan? Ahh, jujurlah saja Tania." Kata Julian yang berbicara pada gambar wajah Tania dalam foto pernikahan mereka berdua.


" Kamu jahat Tania, kamu jahat! Kenapa kamu pergi di saat aku mulai sering memikirkanmu? hum? hum? kenapa?" Julian berbicara sampai menaikan kedua alisnya layaknya seseorang yang sedang menantang.


" Kamu jahat!" Teriaknya lagi.


Selesai memarahi sebuah foto. Julian kemudian mandi untuk menghilangkan keringat yang menempel di tubuhnya setelah seharian mengantri di pengadilan agama untuk membatalkan gugatan perceraian. Tentu bukan hal yang mudah jika yang di lawan adalah ibunya sendiri.


Ibu Yuli akhirnya menyerah setelah Ayah dan anak yang kompak menyerbunya. Ayah Dito selalu berpihak kepada anaknya. Ayah Dito selalu memanjakan Julian. Julian adalah anak semata wayangnya yang juga merupakan hasil dari bayi tabung. Oleh sebab itu Ayah Dito sangat menyayangi Julian.


Julian meminta kesempatan kedua kepada ibu Yuli. Tetapi ibu Yuli juga tidak menyangka jika Julian mau merogoh kocek yang dalam untuk membatalkan perceraiannya dengan Tania.


Tak cukup disitu, selesai dengan ritual mandinya, Julian kemudian duduk di meja rias dan tersenyum melihat jajaran alat make up Tania yang masih berbaris rapi. Alat make-up murah dan sederhana. Parfum pun bukan yang bernilai jutaan, hanya collone murahan yang mampu di belinya.


" Harusnya aku sadar dari lama. Harusnya aku tau dari apa yang melekat padamu. Kamu tampil biasa saja dan amat sangat sederhana untuk sejumlah uang yang telah banyak kau habiskan atas namamu."


" Harumnya...." Ucap Julian menghirup dalam-dalam aroma parfum murahan Tania yang banyak di perjual belikan di pasar tradisional.


Julian beralih berdiri menatap ke lemari baju Tania yang kecil. Hanya ada dua sap di dalamnya dengan satu pintu tempat baju yang di gantung. Hanya ada daster dan dua gaun di tempat baju yang di gantung, Satu sap berisi seragam Tania untuk mengajar dan satu sap lagi baju harian Tania yang bisa di bilang kering, cuci, pakai.


"Aku malu Tania setelah menyadari ini." Gumam Julian mengehela nafas panjangnya.


Mata Julian beralih melirik ke satu buah tas berwarna hitam yang lebih mirip benda keramat. Meski sudah banyak bagian yang retak dan hampir mengelupas dari tas KW dari brand ternama itu.


" Tania, kamu berbeda." Puji Julian dalam hatinya.


" Aku ingin kau disini." Ucap Julian yang kemudian memeluk baju daster Tania dan lekas membawanya tidur.


FLASH BACK OFF.


" Lepaskan!" Seru Tania memberontak ingin terlepas dari pelukan Julian.


" Tidak! Apa kamu mau menjadi istri durhaka? Menurutlah, Tania. Membahagiakan hati suami itu banyak pahalanya." Ucap Julian yang menggunakan dalil agama dalam mencari keuntungan. Julian tersenyum tipis setelah mengatakannya.


" Lepaskan!" Teriak seseorang dengan lantang dari belakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2