In 30th.

In 30th.
43.


__ADS_3

Akbar berdiri di bawah tiang lampu di sebuah dermaga tempat wisata dimana banyak lalu lalang orang di sekitarnya dengan keluarga mereka yang terlihat bahagia.


Yang Akbar sesali hanyalah kebodohannya dalam berbicara. Dia terlalu angkuh dan kasar saat berbicara dengan Mayang.


Yang dia tau semua wanita itu sama. Luka di masa lalunya yang membuatnya menjadi minim kepercayaan terhadap sikap baik wanita.


Baginya, setiap wanita hanya menginginkan uang, uang dan uang.


Tapi tidak bagi Mayang yang hanya ingin kenyamanan dari kejujuran.


" Andai saja waktu itu aku tidak menghinanya." Lirih Akbar penuh sesal yang menumpuk di hatinya.


Kesalahannya dalam menilai orang lain membuatnya terpuruk kali ini. Akbar sendiri dan hanya di temani oleh Sulaiman kemanapun dia pergi.


" Om, bisa tolong ambilkan balonku?"Celoteh seorang anak kecil laki-laki yang menarik ujung Jasnya untuk meminta bantuannya mengambil Balinya yang tersangkut di tiang lampu.


" Oh, tentu. Ini punyamu?" Tanya Akbar setelah berjongkok di hadapan si bocah kecil.


" Iya. Terimakasih ya om." Jawab si anak kecil dengan suaranya yang khas dan tersenyum manis.


" Lucu sekali, siapa namamu?" Tanya Akbar sambil mengusap gemas pipi gembul anak laki-laki itu.


" Namaku Gio Om. Om sudah dulu ya nanti Mama nyariin aku." Pamit si bocah kecil itu dengan riangnya.


" ya." Akbar mengangguk dan membalas senyum si bocah.


Anak itu berlari kecil dengan kakinya yang pendek dan sesekali berjingkrak senang karena Balinya telah kembali.


Mungkin aku akan sebahagia dia jika wanitaku dan calon anakku kembali nanti. Gumam Akbar dengan Tatapan mata yang terus tertuju pada si bocah kecil.


" Bar, sudahlah kita kembali ke rumah ya. Aku antar kamu." Kata Sulaiman sembari menepuk pundak Akbar.


" Hemh, ayo." Jawab Akbar sekenanya dan berjalan begitu saja mendahului Sulaiman.


Di rumah Mayang.


" Huek! huek! huek!"


" Aduh, pusing sekali kepalaku,"Keluh Mayang yang kemudian memijit sendiri pelipisnya.


Mayang kini tengah berada dalam semester awal kehamilan yang membuatnya sering merasa mual, lemas dan pusing dalam waktu yang bersamaan.


Mayang melihat jam dinding tinggal satu jam lagi Robby akan sampai di rumah tetapi Mayang belum selesai memasak.


Sayuran hanya terpotong potong juga bumbu yang belum selesai disiapkan tetapi Mayang sudah terkulai lemas di sofa depan tv dengan celemek yang menempel di tubuhnya.


" Aku pulang Yang " Seru Robby yang baru saja datang dan kemudian meletakkan tasnya di sofa setelah melihat Mayang yang berbaring di sofa.


" Eh, kamu sudah pulang By?" Sambut Mayang pada suaminya yang terdengar sangat lemah untuk ukuran kata sambutan.


"Kamu kenapa?" Robby sangat cemas lalu membantu Mayang untuk memberikan posisi yang nyaman dengan mengganjal punggung Mayang bersandar di sofa.


" Ga apa-apa By. Aku tadi mau masak buat makan malam kita. Tapi aku ga tahan dengan bau bawang jadi aku muntah-muntah dan pusing."


" Kan sudah aku bilang tadi, ISTIRAHAT!" Kata Robby dengan tegas menekankan kata ISTIRAHAT.


" Ya, maaf. Kan aku juga pengen jadi berguna gitu By ga melulu diam di ranjang." Cicit Mayang yang tak berani bicara lantang.


" Sudah, tiduran saja biar aku yang masak." Kata Robby yang kemudian melepas jas dan Dasinya lalu melipat lengan bajunya dan beralih melepaskan celemek yang di pakai Mayang.


Saat melepaskan celemek, tanpa sadar posisi mereka amatlah dekat dengan mata yang saling beradu.


Darah Mayang berdesir kali ini, ada rasa di dalam dirinya yang ingin bermanja pada si suami.


Mayang tersenyum tipis lalu merangkul leher Robby begitu saja dan kini posisi mereka adalah saling tindih dengan tatapan mata yang intens.

__ADS_1


" Yang, jangan memancingku ya. Bagaimanapun aku ini lelaki normal." Kata Robby mengingatkan tindakan Mayang.


" Hehehe! By, aku cuman mau di peluk. Sebentar saja ya. Boleh ya?" ujar Mayang yang melerai pelukannya tapi tak melepaskan Robby begitu saja. Mayang mengedipkan matanya berkali-kali seperti seseorang yangs sedang kelilipan dan menunjukkan barisan giginya yang putih di hadapan Robby.


" Ok, peluk saja. Tangannya diam jangan meraba tengkukku." Kata Robby.


Mereka berpelukan, entah apa yang terjadi kemudian tangan Mayang tak henti-hentinya memberikan usapan-usapan lembut di tengkuk Robby yang sontak saja membuat Robby larut dan mengecup bibir Mayang dengan perlahan dan lembut.


" By?" Panggil Mayang pada Robby yang masih menyesap bibirnya dengan hangat dengan mata yang terpejam rapat seperti membayangkan sesuatu.


" Heum?" Robby tersadar dan kemudian terponjak melepaskan pelukan mereka berdua.


"Oh, maaf. Aku kebablasan." Kata Robby tanpa berani menatap mata Mayang dan salah tingkah.


" Em, aku ke kamar." Pamit Mayang yang kemudian berlari kecil menuju ke kamarnya dan menutupnya.


" Bodoh, bodohnya aku." Robby merutuki perbuatannya dan menepuk kepalanya beberapa kali. Wajahnya bersemu merah.


di dalam kamar.


" Ah, aku bisa gila. Kenapa saat bersamanya aku merasa nyaman dan senang?" Desis Mayang sambil berpikir mengingat apa yang telah terjadi.


" Malu sekali aku, selalu saja nafsuku tidak bisa ku kendalikan. Satu kesalahan saat mabuk membuatku hamil. Lalu Sekarang?" Mayang terduduk dan bersandar di tembok.


" Hangat." Gumam Mayang yang meraba bibirnya seolah mengingat lagi dan lagi ciuman dari Robby meski hanya menempel di bibir tetapi terasa dalam sampai kehati Mayang.


Sementara itu,


Robby sibuk berkutat di dapur. Ciuman dengan Mayang seolah memberikan binar kebahagiaan yang tak terkira untuk Robby. Sepanjang memasak dia hanya tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi.


Selesai memasak Robby menatanya dan membereskan dapur lalu bergegas menuju ke kamar tamu.


" Sudah tidak ada, kemana dia?" Gumam Mayang yang memeriksa sekeliling dapur namun tidak ada Robby di sana.


Mayang mengetuk pintu kamar Robby perlahan tetapi tidak ada jawaban dan Mayang membukanya karena tidak terkunci. Terlihat Robby terlelap dengan dengkuran halus yang mengiringinya.


" Baiklah tidurlah, aku akan membangunkamu nanti " Mayang bergumam lantas tersenyum dan meninggalkan kamar tamu.


Mayang tidak tega untuk mengganggu tidur Robby. Untuk mengisi waktunya Mayang melakukan video call dengan Sahabatnya.


VC terhubung.


" Hai! apa kabar kalian?" Sapa Mayang dengan antusias sambil melambaikan tangannya.


" Sehat sayang," Jawab Dera.


" Kamu baik!" Jawab Tania.


" Kamu dimana? tempatnya asing banget?" Tanya Dera yang mengamati ruangan tempat Mayang tinggal saat ini.


" Aku di rumah nenek di negara Xxxxx." Jawab Mayang.


" Apa? jauhnya. Aku kangen tau!" Sahut Tania yang mencibirkan mulutnya kesal.


" Kapan-kapan kalian kesini. Dera, kamu kesini sekalian honeymoon."


" Tania, kamu bagaimana dengan si lintah darat itu?" Sarkas Mayang menyebut Julian sebagai lintah darat.


Bagaimana tidak, apa sebutan yang pantas bagi seorang suami yang menghitung setiap pemberian kepada istrinya sebagai hutang kalau bukan lintah darat?


" Iya ya, tapi tidak asik kalau kesana sendiri. Aku ingin kesana hanya dengan Tania." Celetuk Dera.


" Eh, lalu suamimu?"Tanya Tania dan Mayang bersamaan.


" Kan dia masih kuliah." Jawab Dera singkat.

__ADS_1


" Yang, Julian sekarang bukan lintah darat lagi. Tapi aku rasa otaknya sedikit bergeser." Kata Tania.


" Memangnya kenapa?" Dera mulai penasaran.


"Aku tunjukkan ya." Jawab Tania yang kemudian membawa ponselnya dan menunjukkan semua yang Julian berikan.


Seperti ibu-ibu komplek, mereka saling berceloteh tanpa sadar jika ada Julian yang sengaja pulang lebih cepat dari kantornya. Yang hanya berdiri diam di sudut kamar dan mendengarkan semua percakapan mereka.


" Tania, kamu bodoh atau apa sih?" Ketus Dera yang merasa gemas akan kepolosan Sahabatnya.


" Tan, fix Julian udah jatuh cinta beneran sama kamu." Kata Mayang.


" Berapa dia bilang habis beli semua itu?" Selidik Dera lagi yang masih penasaran dengan jumlah keseluruhan hadiah yang di berikan oleh Julian kepada sahabatnya itu.


" Dia bilang 7 M." Jawab Tania dengan santainya dan menutup kembali pintu walk in closet dengan sangat hati-hati.


" Hahahaha kamu ditipu Tan. Barang barang itu brended semua. Bahkan tas yang aku ga punya kamu ada? Belum lagi kalung itu yang berlian. Tan, kamu milyarder sekarang. Semuanya bisa dua kali lipat dari yang dia katakan. Fix deh no debat kamu sekarang sudah jadi nyonya Julian Arsen Prasetya." Kata Dera yang berdecak kagum atas apa yang di terima oleh sahabatnya.


" Apa? Lebih dari itu?" Tania melotot tidak percaya. Otaknya masih memikirkan jumlah nol dan lembar yang berjajar.


" Anggap anggap itu sebagai tebusan karena menyia-nyiakan kamu selama beberapa bulan yang lalu." Kata Mayang.


" Eh, juga sekaligus kado karena kehamilannya." Celetuk Dera.


" Kamu hamil Tan? Kok bisa? kok mau?" Ucap Mayang seenak jidatnya.


" Ish, kalian ini apaan sih?" Tania tersipu-sipu mendengar celotehan sahabatnya yang tak jelas juntrungannya.


" Ya bisa lah, orang kita anu anu..." Celetuk Julian yang tiba-tiba memeluk Tania dari belakang dan mencium pipi Tania di hadapan sahabatnya.


" Iyuh....! Udah ah bubar bubar. Sudah tercemar, Sudah Ra jangan ganggu. Mereka mau bercocok tanam kayaknya." Sindir Mayang yang kesal akan kehadiran Julian yang mengganggu perbincangan mereka.


" Iya tau kok. Orang pak taninya udah ga sabar gitu. Mana yang punya rawa kayaknya pasrah banget lagi." Sindir Dera penuh dengan makna kiasan.


" Ih, apasih kalian. Bye...!" Tania melambaikan tangannya mengakhiri VC.


" Lepas Mas." Tania memberontak ingin terlepas dari pelukan Julian.


" Tidak. Sebentar lagi. Aku ingin memelukmu lebih lama Sayang. Besok seminggu aku ada urusan diluar kota. Biarkan aku memelukmu lama ya, untuk bekalku." Lirih Julian sambil menciumi leher Tania dengan aroma tubuh yang mungkin akan semakin dirindukannya.


" Modus!" Ketus Tania dan hanya diam membiarkan Julian memeluknya dan kini dengan posisi Julian duduk dan Tania berada di pangkuannya.


*


*


*


" By, bangun. Kita makan yuk, aku lapar." Rengek Mayang mengajak Robby untuk makan.


" Hoamz, oh maaf Yang aku ketiduran. Kamu kenapa tidak makan duluan?" Tanya Robby yang masih lesu setelah bangun tidur.


" Nunggu kamu. Kan kamu yang masak. Tidak enak kan kalau memakan tapi tidak di tawari sama yang masak?"


" Oh, aku kira karena aku suami kamu." Sahut Robby yang kemudian berdiri dan bercermin menghilangkan kotoran yang mungkin menempel di matanya.


Mayang langsung tergugup mendengar ucapan Robby yang seolah menyentilnya untuk sadar dengan posisinya sebagai istri.


" Kok sedih gitu? Aku bercanda Yang." Kata Robby sambil tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan rasa kecewa di hatinya.


Robby menghampiri Mayang lalu merangkul Mayang tepat di ketiaknya.


Ketiak Robby bertengger di leher Mayang. Dan Mayang hanya terdiam dan melihatnya.


" Tenang enggak bau kok. Aku baru aja habis mandi kan?" Cetus Robby yang meringis sambil mengajak Mayang berjalan dengan posisi yang sama.

__ADS_1


Semoga kamu cepat menerima perasaanku ini Yang.


__ADS_2