
" Aku tidak perduli dengan jarak usia kita. Bahkan jika kamu menua dan keriput, aku akan tetap mencintaimu cinta pertamaku."
Muach!
Harry mencium kening dan bibir mungil Tania.
" Kemana suamimu, seharusnya dia yang menemanimu dan merawatmu saat ini." Gumam Harry perlahan. Yang hanya berdiri tanpa menyentuh Tania.
" Aku di sini!" Kata Julian yang sudah berdiri di ambang pintu.
" Anda? sejak kapan anda berdiri di sana?"
Apakah dia melihat perbuatanku pda istrinya barusan?
Apa dia melihat saat aku mencium bibir Bu Tania?
Julian berdiri dengan bersedekap dada, tatapannya tajam dan dingin, sama sekali tak bersahabat. Harry memundurkan langkahnya dan mendekati Julian, di dalam benaknya Harry berpikir bahwa kemungkinan Julian tidak melihat apa yang di lakukannya barusan.
" Sejak tadi." Jawab Julian dingin lalu berjalan melewati Harry dan sengaja membenturkan bahunya hingga Harry mundur beberapa langkah.
" Em, maaf. Kenalkan aku..."Harry mengulurkan tangannya mencoba untuk memperkenalkan dirinya. Tetapi, perkenalannya di sambut dengan bogem mentah dari Julian yang geram karena dia melihat saat Harry mengecup bibir dan kening Tania.
BUGH!!
"Mau memperkenalkan apa huh? memperkenalkan jika kamu adalah selingkuhan istriku?" Julian mencalag dan mencengkeram kerah baju Harry. Kilat permusuhan sudah tertanam saat pertama kali mata mereka bersitatap.
" Hei, anda salah paham pak. Aku dan ibu Tania tidak memiliki hubungan seperti yang anda tuduhkan. Aku hanyalah mantan muridnya sewaktu SMA." Ujar Harry yang belum melawan sama sekali tindakan Julian.
Bagaimanapun juga posisi Harry akan kalah telak. Yang Harry miliki adalah ketulusan hati dalam mencintai meski hanya dalam diam dan cinta sebelah pihak. Sedangkan Julian sah secara hukum dan agama walau tanpa perasaan cinta secuil pun.
" Ah, banyak omong kamu!" Seru Julian lagi lalu menghantam perut Harry.
Julian benar-benar murka saat ini. Angel sudah menghianatinya. Dan lagi sekarang ini Tania juga sedang di tunggui seorang laki-laki muda yang lebih manis darinya. Julian mengamuk dan membuat keributan. Harry kemudian melawan dengan meluncurkan satu tinjuan tepat di hidung Julian.
Darah segar seketika mengucur dari hidung Julian.
" Hentikan!!!" Teriak Tania yang tersadar dari tidurnya karena mendengar perkelahian sengit antar dua pria yang berbeda usia ini.
Keduanya menoleh dan melihat ke arah Tania secara bersamaan.
" Bu. " lirih Harry menggumam menyebut Tania.
" Tania." Ucap Julian yang mematung dengan tangan yang masih mencengkeram kerah baju Harry.
" Harry,..." Lirih Tania mencoba mengingat sosok pria muda berwajah imut yang meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
" Iya Bu, ini aku Harry." Jawab Harry senang karena Tania masih mengingatnya.
" Kamu, kenapa ada disini?" Tanya Tania mengernyitkan keningnya.
Sesaat karena Harry, Tania sampai melupakan keberadaan Julian. Dalam ingatan Tania, Harry dulu adalah anak yang berprestasi, tetapi prestasinya merosot tajam saat orang tuanya tengah dalam perceraian. Harry yang depresi berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari atap gedung sekolah.
Namun usahanya di gagalkan oleh Tania. Semenjak saat itu, Harry selalu dalam pengawasan Tania, hanya ucapan Tanialah yang Harry dengarkan. Siapa yang tau penyebab Harry selalu mematuhi setiap nasihat dari ibu gurunya adalah karena Harry menaruh perasaan.
" Keluar kamu!" Seru Julian menarik kerah baju Harry dan menyeretnya keluar dengan wajah bengisnya. Tak di hiraukannya darah yang mengalir dari hidungnya.
Harry hanya pasrah dan mengalah. Sementara Tania masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Tania hanya terdiam dengan tatapan matanya yang lekat memandang Harry.
Sesampainya di luar ruang rawat. Caci dan maki Julian tujukan terkhusus bagi Harry.
" Jangan pernah kamu mendekati istriku lagi. Aku tidak peduli apa hubungan kalian tapi bagiku hubungan kalian berakhir semenjak tadi aku melihatmu mencium istriku. Jika kamu masih bersikeras, maka bersiaplah. Nyawamu akan menjadi bahan permainanku." Ucap Julian mengancam Harry.
__ADS_1
" I Don't care!! F**k you!!" Sahut Harry yang kemudian dengan tiba-tiba kembali meninju hidung Julian hingga Julian tersungkur.
Harry pergi tanpa memperdulikan sepatah katapun ucapan Julian yang bernada ancaman. Apalagi yang lebih menakutkan bagi Harry? Tidak ada!.
Harry tidak takut akan kehilangan apapun bahkan nyawa sekalipun. Baginya Tania lah pusat dunianya. Baginya Tania adalah malaikat nya. Baginya Tania adalah segalanya.
Harry Arfian.
Di sinilah dia, berdiri di teras depan cafe menatap lurus ke rumah sakit. Di kepalanya masih terngiang saat Tania menyebut namanya. Senyum tipis terukir manis di bibirnya. Mengalihkan rasa sakit di perut yang baru saja di dapatkannya dari suami seorang wanita yang baru saja di ciumnya.
" Akan aku dapatkan kamu. Lihat aku sekarang. Semua usaha Ayahku sudah jatuh ke tanganku. Dan targetku sekarang adalah kamu Tania Ayu Dewanti." Gumam Harry yang mengulum senyumnya.
" Manis." Gumam Harry yang kembali mengusap lembut bibirnya dengan jari jempolnya. Terbersit kembali saat dia mencium bibir lembut Tania yang terasa hangat dan menggetarkan jiwanya.
*
*
*
" Mas, hidungmu berdarah." Gumam Tania saat Julian kembali masuk kedalam ruangannya.
" Apa pedulimu?" Sahut Julian dengan ketusnya tatapannya tajam dan mengerikan.
" Kemarilah Mas, biar aku bantu obati." Kata Tania dengan suaranya yang lemah karena memang kondisinya yang masih lemah.
" Tidak perlu." Tolak Julian dengan kasar.
Sakit? memang. Niat hati Tania ingin merawat dan berbuat baik kepada suami tetapi Julian masih saja seperti Julian yang dulu. Yang bersikap kasar dan menindas Tania. Tania hanya bisa mengusap dadanya dan menghela nafasnya berat.
Tanpa terasa menetes air mata dari sudut matanya saat Julian menolaknya.
" Dia hanya mantan muridku Mas." Jawab Tania dengan jujur. Suaranya bergetar ketakutan. Tania takut Julian akan kembali mengamuk.
" Heh, mantan murid mana ada yang berani mencium gurunya?" Ucap Julian menyindir Tania. Satu tangan Julian membersihkan sisa darah dari hidungnya setelah sebelumnya dia mencuci hidungnya.
" A... apa Mas?" Tania gugup mendengarkan penuturan dari Julian.
" Dia menciummu. Disini, dan disini." Kata Julian yang kembali mempraktekkan apa yang di lakukan Harry pada Tania dengan mencium Tania.
" Ti .. tidak Mas. Mungkin kamu cuma salah lihat. Dia tidak mungkin berani melakukannya." Sergah Tania dengan nada bicara yang kaku bercampur malu dan terbata-bata.
" Aku tidak salah. Tadi dia menciummu disini, dan disini. Aku belum Buta tania!" Ketus Julian yang lagi-lagi mempraktekkan adegan ciuman tadi tanpa Tania sadari.
Yang berada di otak Tania saat ini hanyalah rasa takut yang teramat sangat. Tania takut jika Julian mengamuk lagi hingga melukai dirinya sendiri.
Padahal Julian sendiri tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Tania. Tetapi Tania masih saja mengkhawatirkan keadaan Julian apapun itu selayaknya istri yang mendapat perlakuan manis dari sang suami.
" Ma... maaf Mas. Aku sama sekali tidak tau hal itu terjadi." Ucap Tania bergetar ketakutan dan menunduk mengurai air matanya lagi.
" Tidak usah menangis. Apa guna air matamu itu?" Ketus Julian sambil berdiri dan melepas bajunya yang terkena darahnya.
" Mas, aku sungguh tidak tau. Aku mohon maafkan aku Julian." Ucap Tania.
" kenapa jadi memanggilku Julian lagi? Panggil aku Mas!"
"Tapi, bukankah kamu tidak suka aku memanggilmu dengan sebutan Mas?" Tania masih menunduk dan mengusap air matanya perlahan.
" Aku harus menghukummu karena perbuatanmu tadi." Kata Julian dingin.
__ADS_1
" Silahkan kamu menghukumku sesuka hatimu Julian. Tapi jangan sakiti Harry, dia anak yatim." Ucap Tania mengiba.
" Oh, jadi kamu lebih mengkhawatirkan anak itu daripada aku suamimu?" Ketus Julian yang kembali kasar.
" Bu... bukan begitu maksudku." Tania tidak habis pikir kenapa Julian menjadi sulit di ajak bicara seperti ini.
Tadinya aku sudah mulai sedikit melunak padamu Tania.
Aku kasihan kepadamu yang menjadi tambang penghasilan hidup bagi ibumu. Aku kasihan kepadamu karena perlakuan burukku.
Tapi aku tidak bisa terima saat kamu memikirkan lelaki lain bahkan kamu mengkhawatirkan keadaanya.
" Geser sedikit!" Seru Julian yang naik di ranjang.
" Kamu mau apa?" Tanya Tania semakin gugup dan takut.
" Mau tidur! aku lelah habis berantem!" Ketus Julian datar lalu memejamkan matanya.
Dia tidak memarahiku? Tidak memukulku? Ada apa? apa karena tadi kepalanya terbentur sesuatu? Batin Tania ketakutan.
Tania bergeser dan di susul oleh Julian yang menaiki ranjang yang sempit itu. Julian menarik tubuh Tania agar semakin mendekat dengannya. Tania hanya bisa diam dan menuruti kemauan Julian. Tania tidak ingin ada keributan lagi karena itu akan mengganggu pasien yang lain.
" Jangan lakukan seperti itu lagi. Aku benci di hianati." Desis Julian lirih sambil membenamkan kepalanya di pundak Tania.
Tania terdiam tanpa menjawab atau bersuara apapun.
Kamu itu sulit di tebak.
Kamu bertindak semaumu tanpa memikirkan orang-orang yang berada di sekitarmu.
Aku harus apa Julian? Kamu benci di hianati?
Tapi coba lihat apa yang kamu lakukan padaku? Pada istrimu sendiri!
Lalu apakah aku pernah membalasmu? Tidak!
Aku bahkan tidak tau jika Harry memciumku.
Kamu berhak marah ya, karena kamu adalah suamiku.
Tapi bagiku aku tidak berhak marah atas tindakanmu apapun itu.
Karena bagimu aku hanya mainanmu. Batin Tania sedih.
" Kamu hanya cukup patuh dan tunduk padaku!" Ucap Julian yang semakin mengeratkan pelukannya Seolah tau apa yang sedang Tania pikirkan.
Bukan pelukan hangat tapi pelukan memyakitkan yang Julian lakukan. Julian memeluk Tania erat sampai Tania merasa sesak nafas.
" Jika kau ingin membunuhku maka jangan eratkan pelukanmu di perutku, tapi langsung saja cekik leherku!" Ucap Tania tanpa ada takut dan penyesalan Tania sudah siap menjemput mautnya.
Kenapa?
Kenapa aku selalu bersikap jahat kepadanya.
Kenapa hati dan pikiranku selalu bertolak belakang?
Aku ingin pelukan hangatmu, aku rindu usapanmu tapi aku tak bisa memintanya?
Padahal kamu istriku sendiri. Batin Julian menyesal.
" Diamlah!! aku hanya ingin memelukmu! Enak saja kamu mati maka aku akan menjadi tersangka. Kalau mau mati lompat saja dari atap gedung ini. Aku tidak perduli. Aku hanya butuh tubuhmu. Aku tidak perduli kau sakit atau tidak." Ucap Julian sarkastik.
__ADS_1
Tania kembali menahan tangisnya. Hatinya hancur mendengar perkataan yang menyayat hati dari Suaminya sendiri. Istri mana yang bisa di perlakukan seperti ini? Tania selama ini terlampau sabar dan baik hati.
Apakah aku mampu ya Tuhan?