In 30th.

In 30th.
38.


__ADS_3

Julian kembali bermalam di rumah Tania untuk yang kedua kalinya. Tania memberikan ijinnya biar bagaimanapun status mereka saat ini masih sah sebagai suami dan istri.


Tania lebih berserah diri dan pasrah akan takdir Yang Mahakuasa gariskan.


Pagi hari saat menikmati waktu sarapannya.


" Mas, nanti kalau kamu pergi tolong bungaku yang itu kamu masukkan ke teras ya." Pesan Tania meminta agar Julian memindahkan sebuah pot yang berukuran lumayan besar dengan bunga aglonema big Roy, sedang dia sibuk menata barang barang bawaannya untuk pemotretan busana terbaru milik Dera.


" Oke!" Sahut Julian yang memberikan senyum manisnya dan menunjukkan ibu jarinya pertanda setuju.


" Tan, kapan kamu akan mengijinkan aku untuk tidur satu ranjang denganmu?" Julian berdiri di samping Tania yang masih sibuk berkemas.


" Mas, aku tidak tau hubungan apa yang kita jalin. Yang aku tau kita terikat oleh status resmi. Menolakmu? apakah aku punya hak?" Ketus Tania yang kembali mengingat masa masa buruk mereka.


" Tan, aku hanya ingin kamu menerimaku lagi. Aku sungguh-sungguh Tan." Ucap Julian membujuk Tania dengan kesungguhan hatinya berharap Tania akan segera luluh.


" Mas," Tania merasa jengah dan kini berdiri berhadapan dengan Julian.


" Ini masih pagi dan aku buru-buru. Jangan memancing keributan. Aku malas untuk bertengkar denganmu." Ketus Tania lagi. Hatinya masih belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran Julian.


" Tan, aku antar ya?"Pinta Julian penuh harap.


" Hmh....., ya." Jawab Tania sekenanya tanpa melihat wajah Julian.


" Sini biar aku yang bawakan. Ibu dari anakku tidak boleh kelelahan kan?" Ucap Julian yang terdengar lembut dan menenangkan di telinga Tania.


Apa dia benar-benar sudah berubah? Tania merenung melihat punggung suaminya yang mulai beranjak semakin jauh hingga menghilang di balik pintu.


" Tan, sayang. Ayo!" Julian kembali lagi dan mengajak Tania sambil menarik tangannya perlahan.


Tania hanya diam sepanjang perjalanan. Julian pun masih tidak tau akan memulai pembicaraan dari mana. Sebab tidak ada keterbukaan dan suasana hangat yang terjalin sebelumnya. Keduanya menyimpan ganjalan di hati.


" Pulang jam berapa?" Tanya Julian dengan lembut.


" Siang aku sudah pulang. Tidak usah menejmputku Mas, aku tau kamu banyak pekerjaan." Tolak Tania dengan halus.


" Apa kamu tidak merasa mual, pusing atau ingin sesuatu?" Julian dengan tiba-tiba menggenggam tangan Tania lalu mengecupnya berkali-kali seolah merasakan cinta yang besar di hatinya.


" Tidak." Tania menggeleng dan bersikap datar.


" Syukurlah, kalau aku seperti ini dan kamu tidak merasa mual. Berarti malam kita bisa tidur satu ranjang kan?" Julian tersenyum manis menggoda Tania yang spontan juga ikut tertawa mendengar modus dari Suaminya yang sedang merayunya.



" Hahahaha, Julian kamu menggelikan." Tania tertawa bersama Julian tanpa disadarinya.


Eh, mengapa aku ikut tertawa? Bukankah itu membuatnya akan besar kepala?


" Ehem..!" Tania berdehem.

__ADS_1


" Lepas Mas." Kata Tania dengan dinginnya sambil menarik tangannya dari genggaman Julian.


" Kenapa? bukanya barusan kamu senang dan ikut tertawa?" Dengus Julian mencabikkan bibirnya dan mengangkat kedua alisnya heran.


" Dih, siapa juga yang ketawa." Ketus Tania mengelak dan menatap keluar jendela.


Tanpa terasa mereka telah sampai di depan Mall. Julian memarkirkan mobilnya dan menatap Tania yang tengah sibuk menghubungi Dera. Dera dan Tania akan pergi ke studio foto bersama menggunakan mobil Dera yang terlihat masih berada di pelataran parkir.


" Tan, jawab aku jujur." Kata Julian tiba-tiba. Tatapannya sendu menatap kedua manik Tania dengan penuh kasih.


" Hem?" Sahut Tania acuh.


" Selama beberapa bulan kita bersama, pernah tidak. Sekali, saja kamu merindukanku atau menginginkan aku untuk berada di sisimu?"


" Jujur?" Tania memutar badannya dan kini berhadapan dengan Julian.


" Pernah, tentu pernah bagaimanapun kamu suamiku." Jawab Tania dengan santainya. buat Julian tersipu.


" Tapi, semua itu sudah lenyap saat berkali-kali kamu memperlakukanku sebagai budak." Tutur Tania seolah tegar. Padahal saat ini hatinya sudah hancur lebur kala mengingat hal itu.


" Sayang." Ucap Julian dengan lembut lalu menarik Tania hingga berhambur kedalam pelukannya.


Julian menghisap wangi aroma favoritnya saat ini. Aroma yang membuatnya kecanduan dan hampir gila saat tidak bersama.


Tania memberontak karena enggan berada di dalam pelukan suaminya. Amarahnya masih memenuhi hatinya.


Tapi, saat aroma maskulin yang lama di rindukannya kini berada di depan hidungnya, Tania tidak memberontak. Seolah dia sangat menyukainya, menyukai bau Suaminya, aroma parfum, shampo, dan juga body washnya. Semuanya yang ada di diri Julian Tania merindukannya.


" Maafkan aku sayang." Kata Julian dengan suara yang bergetar.


" Aku sudah memaafkanmu Mas. Hanya saja aku belum bisa lupa." Tutur Tania dengan jujur.


" Terimakasih, sayang." Desis Julian yang terdengar nyaring di telinga Tania. Terdengar merdu dan membuatnya merasa nyaman.


" Jangan pernah ulangi lagi. Jika hal seperti kemarin terjadi lagi. Maka aku akan pergi dengan membawa hartaku ini." Ancam Tania sambil mengusap perutnya yang masih rata.


" Tidak ." Julian menggeleng.


"Tidak akan ku biarkan kalian pergi dengan mudahnya." Sahut Julian membuat Tania tersenyum senang. Setidaknya saat ini status pernikahannya memiliki kejelasan


" Bagaimana kalau kita menikah lagi?" Tanya Julian meminta sesuatu yang aneh menurut Tania.


" Menikah lagi? Tidak perlu. Tunjukkan saja padaku dan baby bagaimana perubahan sikap baikmu." Jawab Tania yang masih merasa aneh dengan semua yang terjadi.


" Aku janji akan menjadi ayah dan suami yang baik bagi kamu dan baby." Ucap Julian dengan matanya yang berbinar penuh kebahagiaan.


" Aku akan memegang janjimu ini Mas. buktikanlah." Kata Tania yang kemudian turun karena Dera sudah sampai dan mengetuk kaca jendela mobilnya.


" Ra, titip istriku ya."Kata Julian yang tersenyum manis setelah menata tas Tania kedalam bagasi mobil Dera.

__ADS_1


" Widih, terkejut aku Julian mendengarkan pesanmu. Kamu salah makan?" Dera meyakinkan pendengarannya pasalnya tak pernah sekalipun Julian mengkhawatirkan Tania.


" Tidak." Jawab Julian.


" Aku hanya ingin menjadi ayah dan suami yang baik saja dan mengubur masa lalu kami." Sambungnya.


"Tunggu. Ayah?" Dera melongo hingga membuka mulutnya lebar-lebar.


" Tan, kamu hamil?" Tanya Dera masih dengan wajahnya yang terkejut.


" Em, iya Ra. masih kecil sekitar 5 Minggu." Jawab Tania dengan ragu dan juga tersipu malu.


" Wah, Woah! Hebat, walau dengan keterpaksaan akhirnya jadi juga. Lalu kapan kalian bercerai?" Celetuk Dera.


"Enak saja. Kami sudah memutuskan untuk berbaikan Ra. Jadi jangan banyak bicara." Ketus Julian yang tidak suka dengan ucapan Dera.


" Woah, benarkah? Padahal aku tidak setuju keponakanku memiliki Ayah yang playboy seperti kamu." Cela Dera secara terang-terangan.


" Sayang!" Panggil Al mengingatkan Dera akan ucapannya.


" Iya Ay, maaf. keceplosan." Sahut Dera yang kemudian menuntun Tania untuk segera pergi memasuki mobilnya.


" Tuan, maafkan perkataan istri saya. Dia hanya asal bicara. Jangan di ambil hati." Al meminta maaf mewakili kelakuan istrinya yang menyebalkan berbicara tanpa aturan.


" Tidak apa-apa. Saya sudah hapal dengan sifat dia. Juga, memang saya dulu yang punya banyak salah. Tak heran mengapa Istri anda masih membenci saya." Jawab Julian yang terdengar berbesar hati menerima pernyataan dari Dera yang memang sesuai dengan fakta.


" Terimakasih atas kebesaran hati anda. Baiklah saya permisi dulu. Anda tidak ikut masuk?" Al menawari Julian untuk masuk dan melihat sesi pemotretan.


" Maaf, mungkin lain kali." Julian menolak secara halus dan kemudian pergi meninggalkan pelataran parkir.


*


*


*


" Bunga apa? ini hanya daun, tapi di perlakukan dengan istimewa. Lebih istimewa daripada aku." Julian mencibir kesal dan mengangkat sebuah pot dengan bunga jenis daun daunan.



" Unik." Kata Julian yang kemudian tersenyum melihat tanaman kesayangan istrinya.


*


*


*


Di kantor Dera.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu hamil? " Dera menelisik dalam membuat Tania tertunduk lesu.


__ADS_2