
Seminggu setelah kejadian itu, setelah Julian sukses menggauli Tania dengan buasnya. Setelah malam itu, Julian lantas tak pernah terlihat batang hidungnya. Tak berpamitan tak juga menghubungi Tania.
Tania sebenarnya sangat enggan untuk menghubungi suaminya. Tania malas untuk beradu argumen dengan Julian. Karena bagi Julian bentuk perhatian dari istrinya adalah sebuah gangguan.
Tania kini tengah duduk sambil menyisir rambutnya. Dia baru saja selesai mandi setelah sebelumnya membersihkan kamar dan juga walk in closet milik Julian yang teramat sangat besar dengan setiap benda yang memiliki tempatnya tersendiri. Dari mulai, dasi, sepatu, ikat pinggang, kemeja, jas kerja, dan masih banyak yang lainnya.
"Lelahnya." Lirih Tania sambil memijit tengkuknya sendiri.
Hari ini iklannya telah di luncurkan. Gambar wajah Tania terpampang besar di salah satu mall terkenal. Banyak dari kolega Julian yang memuji dan memberi selamat atas profesi baru sang istri.
Tapi, apa kata Julian?
Disinilah dia, duduk bersantai di pantai bersama Angel menikmati liburan. Alasannya adalah dinas keluar negri, itu yang selalu di katakannya kepada ibunya.
" Sayang, kapan kamu menceraikan istrimu?" Tanya Angel yang berbaring di samping Julian sambil memainkan dada bidangnya.
" Nanti." Jawab Julian singkat.
Sial, apa maunya dia. Apalagi sekarang ini?
Dia menjadi bintang iklan?
Tapi dia cantik juga. Apa kurang selama ini uang uang yang aku berikan? belum lagi ibunya yang setiap Minggu meminta uang padaku tanpa rasa malu. Julian memikirkan tujuan Tania menjadi model.
...💬 Apa maksudmu dengan menjadi model iklan tanpa persetujuan dariku? ...
Julian mengirim pesan dan telah di terima oleh Tania. Tania hanya melirik ponselnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
💬 Balas pesanku!
Lagi lagi Tania tidak merespon dan kembali melanjutkan sesi pemotretannya. Kali ini Tania melakukan pengambilan gambar dengan seorang pria sebagai model busana berpasangan.
Julian meremas ponsel yang di pegangnya. Dia berharap Tania segera membalas pesannya. Lama menunggu Julian yang tidak bisa menahan emosinya kemudian bangkit dari kursi malasnya.
" Ayo kita pulang. Jangan banyak tanya ini itu aku ada urusan." Ketus Julian dengan amarah yang menggebu terlihat jelas dari sorot matanya.
" Ada apa ini? apakah ini soal istrimu? Sayang, biarkanlah saja dia bekerja dengan begitu dia bisa dengan cepat masuk perangkap kita." Kata Angel yang merajuk manja enggan untuk pulang dan mengakhiri liburannya.
" Diam! Pulang atau aku tinggal kamu di sini." Ancam Julian tanpa menoleh.
" Ish, iya iya kita pulang." Angel menghentakkan kakinya jengkel.
" Apa apaan, bukanya kalau Tania peot itu cepat bekerja maka dia akan dengan cepat melunasi hutang ibunya pada Julian dan Julian akan menceraikannya. Atau.... Tunggu dulu, jangan jangan Julian mulai jatuh cinta pada wanita peot itu." Gumam Angel.
Angel dan Julian, mereka memiliki rencana untuk menjebak Tania agar supaya Tania terlihat salah karena berselingkuh. Dan akhirnya Julian terlihat bersih saat mereka bercerai dan semua kesalahan akan tertuju pada Tania.
Dengan demikian maka Tania di pastikan akan di usir tanpa membawa apapun dari Julian. Rencana itupun Julian sendiri yang mencetuskan.
Menjadi model, jika dia semakin tenar, maka...
Akan banyak lelaki yang mengenalnya dan mengelilinginya. Aku tidak mau jika milikku di jamah orang lain meskipun itu hanya pajangan.
Istri pajanganku akan tetap berada di sisiku.
__ADS_1
Batin Julian geram dan kini dia sudah berada di dalam pesawat menuju kembali ke kediaman mereka.
Dalam perjalanan, Angel sama sekali tidak berani menegur atau bertanya dia tau benar bagaimana Julian saat marah. 8 jam perjalanan dari kota S. Kini Julian sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
Tidak ada sambutan atau apapun itu. Rumah terlihat lengang. Julian kembali menghubungi nomor Tania tapi tidak mendapat jawaban. Julian kemudian masuk kedalam rumah dengan satpam yang membukakan pintu.
" Kemana Nyonya?" Tanya Julian dingin.
" Nyo.. Nyonya menginap di rumah sakit Tuan." Ucap Satpam.
Julian memutar badannya dan kini menatap satpam dengan serius.
"Apa nyonya sakit? kenapa tidak ada yang memberi tahuku?" Geram Julian.
" Bukan Tuan, tetapi Bu Dera yang sakit dan Nyonya menemaninya." Jawab satpam dengan gugup.
"Uhuk-uhuk!" Julian terbatuk-batuk.
" Hhh, ya sudah. Kamu boleh pergi." Julian menghela nafas lega dengan tangan yang reflek mengelus dadanya.
Mengapa aku sangat lega mengetahui jika dia hanya bersama Sahabatnya dan tidak bersama yang lain? Batin Julian sambil melangkah masuk.
*
*
*
Tania sudah mendapat kabar dari satpam jika Julian sudah pulang. Mbok Jum juga sudah memberitahunya. Kini Tania mempersiapkan fisik dan mental sebelum melangkah masuk kedalam kamar.
Di dalam kamar terlihat Julian yang tidur meringkuk dengan selimut yang terjatuh di lantai. Tania memungutnya dan menyelimuti tubuh Julian sampai ke dada.
" Kalau tidur begini dia seperti malaikat. Tapi ketika membuka mata dia sangat jahat. Aku istrimu, tetapi aku seperti musuhmu. Sampai kapan semua ini akan berakhir Julian? Apakah kamu tidak lelah?" Lirih Tania menatap wajah Julian.
"Aku merlekanmu suamiku untuk bersama dengan wanita lain. Apa yang kamu lakukan, aku juga menanggung dosanya. Karena aku membiarkan suamiku berbuat zina." Lirih Tania dalam wajah sedihnya.
" Apa katamu, aku terlihat jahat? Tidak Tania tidak terlihat tapi aku memang jahat." Kata Julian tiba-tiba.
" Kenapa kamu tidak membalas pesan dariku? Dan iklan itu, apa maksudnya? Katakan!"Julian membentak Tania dengan tangan yang meremas lengan Tania.
" Aku akan melunasi hutang ibuku dengan honorku menjadi model busana." Kata Tania yang meringis menahan sakit di lengannya.
" Mimpi saja kamu!" Julian menoyor dahi Tania kuat sampai Tania terhuyung dan jatuh ke lantai.
" Hutang ibumu sudah menyentuh angka 466 juta. Kamu mau bayar pakai apa selain dengan tubuhmu sebagai pemuas nafsuku?" Kekeh Julian tertawa meremehkan Tania.
" Aku akan bekerja keras Julian aku pasti akan membayarnya. Tapi ku mohon lepaskan aku. Ceraikan aku Julian ceraikan!Aku sudah tidak tahan lagi menjadi wanita pajanganmu. Ceraikan aku Julian maka aku akan pergi dan mencari uang sebanyak mungkin tanpa menganggu hidupmu lagi. Aku mohon."Tqniq menangis bersimpuh di kaki Julian.
Tentu saja tidak sebanyak itu jumlah hutang ibu Julian terhadapnya. Angka itu sengaja Julian besar besarkan agar Tania tidak bisa pergi dari sisihnya. Julian menginginkan Tania tetapi dia tidak memperlakukannya dengan baik.
Itulah mengapa kini Tania bersimpuh memohon agar Julian mau menceraikannya. Tanpa di sangka Julian bangkit dan menjambak rambut Tania dengan kuat.
" Ya, itu pasti terjadi tapi tidak saat ini karena itu akan memperburuk kesehatan Ayahku. Kamu tahu itu, atau kamu ingin Ayah mertua mu segera mati huh?!" Julian melepaskan dengan hentakan hingga kepala Tania terantuk sudut nakas.
__ADS_1
Darah mengalir dari pelipis Tania. Julian tidak perduli sama sekali. Yang Julian perdulikan hanya dirinya sendiri.
" Sana kamu menjauhlah, jangan sampai darahmu menetes mengenai lantai marmer ku." Ketus Julian yang mengelap tangannya setelah menjambak rambut Tania seolah dia merasa jijik.
Sudah biasa bagi Tania di perlakukan buruk oleh orang yang menyandang predikat sebagai suaminya. Hanya sebatas status dan predikat saja tidak lebih.
"Apa kamu jijik? Bahkan tubuhku ini pun sudah pernah kamu nikmati." Tania mendesis laku bergegas pergi.
" Hei dengar kamu ya! Kalau tidak saat itu aku sedang bertengkar dengan Angel, aku tidak akan menyentuhmu sama sekali. Ingat, kamu hanyalah alat pemuas nafsuku, jangan besar kepala kamu!" Teriak Julian dengan lantangnya tanpa memperdulikan perasaan Tania.
Sakit sungguh sakit tak di anggap sekaligus di jadikan pelacur oleh suaminya sendiri. Hati Tania sungguh remuk tak berbentuk lagi saat ini. Tania hanya bisa membendung air matanya sekuat mungkin agar Julian tidak semakin menginjaknya lagi.
Aku berharap dia akan semakin marah padaku dan pada akhirnya dia yang akan menghabisi ku.
Tuhan aku lelah menjadi pelakon dalam kisah yang sadis ini.
Bolehkah aku berhenti bertugas di usiaku yang 30 tahun ini?
Aku sungguh lelah. batin Tania memohon dalam doanya.
*
*
*
" Uhuk-uhuk!" Julian terbatuk-batuk.
Tania yang merasa terganggu tidurnya karena suara batuk Julian kemudian bangun dan melihat Julian yang menggigil kedinginan. Dengan tubuh dan bibir yang bergetar Julian seolah menahan rasa sakitnya.
"Dia kenapa?" Tania bergumam dan bangun mendekati Julian.
" Astaga Julian, kamu demam. Kenapa tidak membangunkan ku jika kamu merasa tidak enak badan?" Tania menyelimuti tubuh Julian setelah mengecek suhu tubuh Julian dengan punggung tangannya.
" Kita ke rumah sakit ya?" Bujuk Tania lemah lembut.
" Tidak, panggil saya Dokter Rusli kemari. Hemmm, aku dingin Tan." Keluh Julian sampai giginya saling beradu bergetar menahan dingin.
" Boleh aku memelukmu? atau aku panggilkan Angel ya?"
" Hangatkan aku sekarang." Pinta Julian yang sudah melebarkan tangannya guna meminta Tania untuk segera masuk kedalam selimut yang sama dengannya.
Ini yang membuat Tania tidak mengerti akan Julian. Di saat butuh dia akan menjadi lelaki yang sangat manis. Tapi di sisi lain juga dia terlihat sangat jahat.
" Kamu tidak marah padaku walau aku tadi memperlakukan kamu dengan buruk?" Tanya Julian yang tidak lagi menangkap aura permusuhan dari Tania.
" Tidak, untuk apa aku menyimpan amarah dan dendam?" Jawab Tania yang balik bertanya dengan tangan yang terus mengusap lembut punggung Julian dan satu tangannya lagi mencoba menghubungi Dokter Rusli dokter pribadi keluarga Julian.
Angel dan Dokter Rusli tak lama juga datang. Kini Julian beralih manja pada Angel mereka berpelukan erat di kamar Julian dan Tania setelah Dokter Rusli pergi. Tania sendiri yang menghubungi Angel dari ponsel Julian. Tania tak ingin dirinya di anggap sebagai menganggu diantara keduanya karena faktanya Tania lah orang ketiga diantara Julian dan Angel.
Tania beralih tidur di kamar tamu. Seperti sang ratu yang terasingkan dan tak di anggap di istananya sendiri.
Sakit Ayah, hatiku sakit melihat suamiku berada di dalam kamarku dan bermesraan. Aku hancur Ayah.... Hiks hiks hiks! Tania menangis pilu seorang diri.
__ADS_1