In 30th.

In 30th.
31.


__ADS_3

" Sedang apa kamu? Kenapa belum juga mengabariku?" Gumam Al sambil membolak balikkan ponselnya. Berkali kali Al membuka aplikasi chatting, tetapi tidak ada juga pesan dari istrinya.


" Kalau aku menelfonya, dia terganggu tidak ya? Apa aku sudah keterlaluan kemarin?Tapi, jujur sebagai lelaki aku merasa kecewa. Selama ini, aku belum pernah sama sekali melakukan hal itu dengan wanita manapun. Aku hanya ingin ini pertama kali ku rasakan dengan pasangan hallal ku.


Tapi, mendapati dia sudah tidak perawan lagi sungguh membuatku kecewa." Gumam Al dalam kesendiriannya menatap langit-langit kamarnya.


" Ah, aku hubungi saja. Bagaimanapun juga dia istriku. Seharusnya aku sudah bisa melupakan masa lalunya entah apapun itu dan hidup bersamanya menuju ke masa depan." Lagi-lagi Al bermonolog dengan kesendiriannya.


" Astaghfirullah...! Dia marah. Nomorku pun sudah di blockir." Al menatap ponselnya dengan Kecewa.


Al terdiam memikirkan Tania yang hilang tanpa kabar. Kembalilah Al seperti dulu saat di tugaskan oleh Ayah dewa untuk mengawasi Dera. Al menjadi pengintai. Kali ini penelusurannya pertama kali menuju kepada Mayang.


Nihil,


Kabar Mayang sama sekali tak di dapatinnya. Al semakin gelisah, tetapi sesaat dia termenung duduk di atas motornya, Al teringat Akan Tania.


Al kemudian bergegas menuju ke kediaman Julian. Al tidak tau jika Julian sendiri sedang Urung uringan dengan sikap ibunya dan juga Tania yang dengan terang-terangan menolak keberadaannya.


Di waktu senggangnya Al gunakan untuk mencari informasi tentang istrinya. Al tidak berani bertanya kepada Ayah mertuanya, Al takut jika dia bertanya kepada Ayah mertuanya maka akan terjadi keributan dan terlihatlah jika Al tidak bisa bertanggung jawab atas istrinya sendiri.


Sampai dua hari Al mengintai rumah Julian, tetap saja sama sekali tidak ada kemajuan. Al tidak tau jika Tania mendapatkan rumah di sebelah rumah mertuanya. Dari pengamatan Al terdahulu Dera lah yang paling kecil memiliki kemungkinan untuk pergi keluar kota ataupun sekedar jalan-jalan berbelanja.


Al kembali beraktivitas seperti biasa. Dia ke kampus dan memulai kuliahnya. Tanpa di sadari Al, setiap jam dia pulang kampus, di sudut yang lain ada Dera yang mengawasinya. Dan lagi-lagi kali ini Al kembali menuju ke rumah yang sama dengan wanita yang sama.


Juga Laporan yang Dera terima, foto yang melaporkan jika Al berada di rumah bersama dengan seorang wanita dan anak perempuannya.


Dera menangis menitikan air mata lagi di dalam mobilnya di temani oleh Tania.


" Kamu lihat? Dia bahkan tidak perduli akan kepergianku Tan. Dia tidak mencariku sama sekali." Ungkap Dera yang merasa teraniaya.


" Menelfonmu pun tidak?" Tanya Tania yang marah dengan perlakuan Al kepada sahabatnya.


Bagaimana bisa seseorang yang sudah saling menjalin hubungan mengabaikan pasangannya begitu saja?


Tania pikir hal seperti itu hanya terjadi dengan dirinya sendiri tapi ternyata sahabatnya pun sama.


Namun bukan Tania namanya jika dia hanya menilai dengan satu sisi sudut pandang.


" Kenapa dia tidak menghubungimu? Jangan-jangan kamu yang memblokir dia?" Tania menelisik dalam, mungkin saja kebiasaan sahabatnya kambuh lagi. Lari dari masalah dan mencari tempat persembunyian yang aman.


" Iya. Aku Kesal. Penanda lokasi juga ku matikan." Jawab Dera dengan raut wajah kecewa dan sedih.


" Hhhh....!" Tania mendesah Kelu dan memijit keningnya. Kepalanya serasa berdenyut memikirkan sikap sahabatnya yang kekanakan.


" Jika ada masalah itu di hadapi, dan selesaikan. Sampai kapan kamu akan lari dari masalah Sayang? Hadapi dia, apapun itu hasilnya kita harus berbesar hati menerima." Tania berbicara dengan lembut dan tenang mencoba sedikit demi sedikit merubah pola pikir Dera.


" Tapi aku takut kecewa dan sakit lagi Tan."


" Lalu kamu akan terus menggantungkan Maslaah ini selama sisa hidupmu tanpa ada solusi?Bicarakan Dera, bicaralah. Cari situasi yang baik lalu bicara." Tania menatap lurus kedepan melihat Al yang terlihat menghubungi seseorang dengan raut kecemasan.


" Sudah satu Minggu kamu seperti ini. Apa kamu tidak lelah menyiksa hati dan dirimu sendiri?" Tanya Tania sambil menaikkan alisnya.


" Mau bagaimana?Jika aku pergi lebih jauh lagi maka Ayah akan tau dan juga banyak Bisnisku akan terkatung katung."


" Maka pulanglah sayang, bicarakanlah. Hargai suamimu, jika kamu ingin dia menghargaimu.Jikq kamu sebagai istri ingin di perlakukan sebagai ratu, maka kamu pun harus bisa memperlakukan suamimu seperti raja." Ucap Tania menasehati Dera. Intinya Tania ingin agar dera bisa menghargai Al tanpa memaksakan kehendak Al dan berlapang dada akan apa yang terjadi.


*


*

__ADS_1


*


Dera mendengarkan nasihat Tania. Tetapi tidak juga langsung bertindak.


3 hari kemudian.


Dera pulang ke apartemen.Matanya terbelalak saat melihat seisi apartemen tertata rapi dan bersih. Juga ada mi instan yang sudah di seduh tersedia di atas meja makan. Dera berjalan perlahan mencari keberadaan Al.


Namun tidak ada. Setiap sudut ruangan telah di periksa tetap saja Al tidak ada. Dera mencari Al tanpa memanggilnya. Dera terduduk di meja makan menatap semangkuk mi instan.


" Kamu lapar?" Tanya Al dengan suara baritonnya.


Dera terdiam termangu dan gelagapan dengan kehadiran Al yang tiba-tiba ada di belakangnya.


" Kamu lapar, hum? Makanlah aku bisa membuatnya lagi." Ucap Al lembut yang kemudian duduk di samping Dera.


Al masih memakai baju Koko dan juga sarung yang masih melekat sebagai bawahannya. Wajah Al terlihat cerah dan berbinar membuat Dera terkesima, ada juga kerinduan di hati Dera.


Ingin rasanya dera menghambur dan memeluk Al dengan seketika. Namun semua itu di urungkannya karena rasa sakit hatinya lebih besar dari sekedar rindu.


Tidak mendapatkan jawaban dari Dera, Al kemudian berdiri dan beranjak menuju ke kamarnya. Dera masih saja terdiam terpaku, Dera tidak bisa banyak bicara saat menghadapi Al dengan sikap tenangnya.


" Ini." Al menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada Dera.


" Apa ini?" Dera mulai bersuara.


Apa ini surat gugatan cerai? Dera mulai menerka-nerka dan membolak balik amplop coklat yang diterimanya.


" Bukalah, itu hakmu." Jawab Al yang dengan lembutnya mengusap pucuk kepala Dera sambil tersenyum manis.


Seperti hilang di telan besarnya perhatian Al. Kemarahan dera lenyap seketika saat Al memperlakukannya dengan lembut.


" Apa ini?"


Dera membuka amplopnya dan tanpa terasa air matanya luruh begitu saja.


" Uang ini...." Ucap Dera lirih dengan suara yang bergetar.


Uang berjumlah 700 ribu. Bukan apa-apa bagi Dera itu hanyalah jumlah uang yang sedikit sekali. Bahkan dera bisa menghabiskan uang itu hanya untuk memesan sebuah menu masakan.


" Maaf..., tidak banyak. Tapi, itulah kemampuanku. Itulah sebabnya aku belum siap dalam menikahimu."


" Bukan masalah banyak atau tidaknya. Aku sangat menghargai usahamu untuk menfkahiku." Jawab Dera terhenti..


" Tapi ini? apa ini, siapa dia? dan anak ini? Punya hubungan apa kalian?Apakah ini penyebab kamu tidak siap menikahiku? Apa kamu sudah berkeluarga? Maafkan aku jika memang begitu, aku rela melepasmu Al. Aku rela." Kata Dera yang memberondong Al dengan sejumlah pertanyaan. Dera menunjukkan foto yang di dapatnya dari laporan si mata-mata.


Al tersenyum tipis, mengangkat sudut bibirnya lalu mengangguk perlahan sesekali setelah melihat fotonya bersama si wanita dan anaknya.


" Kalau bertanya jangan banyak banyak. Bagaimana aku mau jawab." Al berdiri dan memeluk Dera yang masih terduduk di hadapannya hingga kini kepala Dera sudah berada di dalam dekapannya. Al membelai lembut rambut Dera dan mencium pucuk kepala Dera.


Dera melongo mendapat perlakuan lembut dan sayang Al kepadanya.


Kalau dia seperti ini bagaimana aku bisa marah? Dera merutuki dirinya sendiri saat Al memeluknya dimana kemarahannya sirna seketika.


" Jadi, istriku kabur dari rumah karena cemburu?" Celetuk Al yang kemudian mendapat pukulan di dada dari Dera yang mengurai pelukannya.


" Ish! Jelaskan!" Desak Dera dengan wajahnya yang kesal.


" Lihat ini, dan ini." Al membuka lengan bajunya dan memperlihatkan lengannya yang memar dan juga telapak tangan yang mendapatkan luka jahitan.

__ADS_1


" ...Eung?" Dera semakin bingung di buatnya.


" Wanita ini adalah dosenku. Dia satu-satunya yang mengetahui pernikahan kita. Ini gadis kecil ini adalah anaknya. Aku membantunya untuk pindah rumah karena suaminya sedang terkena musibah. Mereka kerampokan di rumah lama dan suaminya mendapatkan luka bacok karena ulah si perampok. Mereka trauma dan akhirnya pindah rumah. Aku membantunya sekaligus juga bekerja karena dia juga membayarku."


" Uang ini, adalah hasil kerjaku. Dia juga yang menasehati ku tentang wajibnya nafkah untuk istri dari seorang suami. Dia sudah seperti keluargaku sendiri Dera." Jawab Al yang dengan tenangnya kembali duduk di kursi meja makan.


" Kamu bohong!" Ketus Dera tidak percaya.


Sebenarnya sudah ada ketenangan di hati dera setelah mendengarkan penjelasan dari Al. Hatinya tidak lagi terombang ambing.


" Aku jujur Dera." Al menoleh dan melihat dalam mata Dera. Dera juga menatap lekat kedua manik Al dan mencari apakah ada kebohongan yang terselip disana. Tetapi tidak ada.


Al terdiam sesaat dan merogoh kantung baju kokonya lalu menghubungi seseorang melalui video call.


Terlihat wanita yang di dalam video nampak sama dengan Yanga da di foto. Al memberikannya kepada Dera dan mereka berbicara. Rupanya Al memanglah jujur dengan perkataannya, terlihat dalam video ada lelaki paruh baya yang duduk dengan perban yang masih membalut paha dan pundaknya.


Dari VC itu banyak nasihat yang dera dengarkan dari si wanita yang seumuran dengan Tante Ari.


" Gimana?" Tanya Al setelah panggilan berakhir.


Al melahap mie instan yang ada di depannya yang kini sudah dingin.


" Jangan di makan, itu sudah dingin." Ucap Dera yang sudah tak marah lagi tapi malu untuk mengakui kebodohannya.


" Aku sudah biasa makan yang dingin seperti ini semenjak istriku minggat." Ucap Al dengan santainya menyindir Dera.


" Maaf." Dera menghambur dan memeluk Al dengan rasa penyesalan yang bertumpuk di dadanya. Dera merasa bersalah karena hanya menilai apa yang di lakukan Al dari satu sisi.


Al yang banyak mendapatkan tuduhan, sebenarnya dia sedang bekerja keras membanting tulang demi sekedar menfkahi Dera meski dengan jumlah nominal yang tak seberapa.


" Sudah, besok-besok jangan di ulang ya. Maafkan aku juga yang waktu itu bersikap dingin sama kamu." Kata Al lembut.


" Aku bisa jelaskan sayang." Kata Dera yang kemudian mengurai pelukannya dan kembali duduk di samping Al kali ini duduknya lebih dekat.


" Sebenarnya, aku tidak perawan lagi karena kecelakaan." Ucap Dera jujur.


" Apa?" Tanya Al yang sedikit terkejut. Al tidak mengerti yang di maksud kecelakaan itu yang benar-benar kecelakaan, atau kecelakaan dengan makna kiasan?


" Waktu aku SD, aku yang di titipkan di rumah Nenek. Aku bermain dengan Tania dan Mayang. Aku manjat pohon jambu dan terjatuh. Tapi sebelum terjatuh aku sempat nyangkut beberapa kali di dahan, nah ada sebuah ranting yang menusuk itu ku...," Kata Dera dengan menundukkan wajahnya.


Al mendengus lega, setidaknya bukan terjamah laki-laki lain yang menyebabkannya tidak perawan lagi.


" Kalau kamu tidak percaya boleh tanya Tania, Mayang, atau nenek juga." Ucap Dera meyakinkan karena Al terlihat masih ragu.


" Apa? Jadi kamu di perawani pohon jambu? Sudah di tebang belum pohon itu?" Tanya Al yang terlihat marah namun lucu di mata Dera.


" Peffttt..., Ya ga harus kasar saa pohon jambu juga kali Al." Celetuk Dera yang kini sudah bisa tertawa di hadapan Al.


" Eh, apa tadi? Al? Panggil apa gitu yang Sopan dan sayang." Lagi-lagi Al menyindir soal panggilan sayang.


" Iya Sayang, Maaf." Kata Dera dengan wajahnya yang kembali ceria menampakkan senyum manis dan gigi putihnya.


" Aku yang minta maaf sama kamu sayang. Maaf jika nanti selama kita menikah aku belum bisa memberikan nafkah yang cukup buatmu."Ucap Al dengan rasa kecewa tas dirinya sendiri.


" Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan itu." Ucap Dera yang sekarang sudah duduk manja diatas pangkuan Al.


" Aku kangen." Bisik Dera di telinga Al sebelum dia memeluk Al dengan erat.


" Aku lebih, lebih, lebih, kangen sayang." Jawab Al yang kemudian membenamkan kepalanya di dada Dera.

__ADS_1


__ADS_2