
Mayang berjalan mondar mandir setelah kembali dari kediaman Dera. Satu bulan sudah semenjak kejadian dera di jambret. Ini sudah kedua kalinya surat pengunduran dirinya mendapat penolakan dan setiap kali pengajuan juga Akbar selalu mengajaknya untuk bertengkar.
Mayang menatap lembar surat pengunduran diri di tangannya, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mayang sudah bertekad dan ingin segera dari hadapan Akbar. Mayang mengetuk pintu ruang kerja CEO yang sombong.
Tok!
Tok!
Tok!
" Masuk" sahut Akbar dari dalam.
Dengan ragu-ragu Mayang mulai melangkahkan kakinya. Pemandangan pertama yang di tangkapannya adalah seseorang yang berwajah tampan yang sedang serius bergelut dengan berkas yang menumpuk di sudut ruangan.
" Ada apa?" Tanya Akbar setelah melirik sekilas kedatangan Mayang.
"Surat pengunduran diri lagi? Jangan harap! Sekarang keluar kamu dan pergi ke gudang yang ada di lantai paling atas. Awasi para pekerja dan juga satu lagi. Aku tidak akan memecatku sebelum kamu bersimpuh di kakiku untuk memohon." Kata Akbar dengan arogansinya. Tatapan akbar sangat melecehkan Mayang saat ini.
Tapi apa yang di lakukan Mayang?
" Cih, bersimpuh di kakimu? Never!" Mayang berdecih.
" Hanya di depan kaki ibuku aku akan melakukannya. Tidak di kakimu lelaki kurang ajar. Aku tau kamu atasanku tapi aku tidak pernah mengijinkan siapapun menginjak harga diriku!" Ketus Mayang geram.
"Hahahaha, hanya kamu wanita yang selalu menentangku. Seberapa besar nyalimu? Apa kamu tidak pernah berfikir kedalam kandang siapa kamu masuk? Mulai detik ini aku turunkan jabatanmu menjadi Office Girl." Ketus Akbar dengan lantangnya.
"Office girl? Hahahahha!"
"I like it! Dengan begitu aku dengan mudah bisa meracuni setiap saat, Atau membuatmu jatuh terpeleset dari lantai atas, menggelinding sampai ke lantai bawah dan berakhir di kantormu sendiri." Ucap Mayang yang balik mengancam.
Gentar? tentu tidak. Inilah karakter Mayang yang keras dan tak takut dengan siapapun Mayanglah yang terkuat diantara sahabatnya. Sudah seperti bodyguard posisi Mayang di dalam persahabatan mereka. Tapi jika soal kebijaksanaan maka Tanialah tempatnya dan jika butuh pendanaan Dera lah tempatnya.
"Hei!"
" Kamu berniat membunuhku?" Akbar beranjak dan mendekati Mayang dengan wajah yang menempel beradu kening. Nafas Akbar menderu menerpa wajah Mayang.
Tidak di pungkiri kini jantung Mayang berdegup kencang. Mayang hukannya mundur tetapi dia juga melawan hingga sebenarnya keningnya terasa sakit.
Jangan, jangan sampai dia tahu kelemahanku. Batin Mayang berharap.
__ADS_1
" Maka dari itu cepat tanda tangani surat ini sebelum aku mencoreng nama perusahaanmu." Ancam Mayang. yang melengos dan menghindar dengan cepatnya.
"Kemarikan!" Akbar mundur dan mengambil pena.
Mayang tidak berfikir negatif akan tindakan Akbar. Mungkin saja Akbar sudah menyerah saat ini dengan sikap keras kepalanya. Tapi,
Krekkk!!!
Suara kertas yang robek menjadi dua.
" Kamu?" Geram Mayang sangat emosi. Nafasnya memburu dan tatapan matanya tajam menyorot Akbar yang malah tertawa puas di hadapannya.
" Hahahaha, 😂! Banyak berharap! Keluar dan segeralah bekerja. Aku tidak membayar mu untuk membuatku terus tertawa kucing kecil." Akbar menggelitik bawah dagu Mayang seolah Mayang adalah kucing kecil yang imut.
Terdengar lagi suara ketukan pintu. Tidak lain adalah sekretaris Akbar yang bernama Sulaiman. Mayang berpapasan dengan Sulaiman dan juga melayangkan tatapan lasernya pada Sulaiman.
" Wuih... Mampus! Tatapannya, Horor Yang." Goda Sulaiman yang terkenal playboy.
" Yang, jangan lupa langsung ke gudang!" Seru Akbar memberikan perintahnya.
" Jangan panggil aku Yang!!" Teriak Mayang sambil membanting pintu dan keluar.
Kedua pria itu masih tertawa setelah Mayang pergi.
" Ini Pak." Jawab Sulaiman.
" Dia janda dari Dery Putra Pradipto?" Gumam Akbar.
" Dia pesaing kita kan? Tapi mengapa kita tidak tau kabar pernikahannya?" Tanya Akbar.
" Karena pernikahannya hanya diam-diam lantaran menuruti kemauan Nyonya Pradipto yang terbaring kritis." Jawab Sulaiman.
" Lalu, berapa lama mereka menikah? Apakah sudah ada anak?" Tanya Akbar yang semakin penasaran.
" Belum, punya anak karena Dery tidak mencintainya sama sekali. Mereka selalu bertengkar dan Dery memfitnahnya sebagai wanita tukang selingkuh."
"Lalu?"
" Ya mereka bercerai. Sikap keras kepala dan tidak takut siapapun itu Mayang dapatkan dari Dery yang selalu menindasnya hingga Mayang pernah masuk penjara satu kali."
" Karena apa?"
__ADS_1
" Mayang memberontak saat Dery menindasnya. Mayang yang kalap meninju batang leher Dery sampai dia harus di larikan ke rumah sakit karena kesusahan bernafas."
" Auh..., serem. Dia preman atau bagaimana sih?" Tanya Akbar yang bergidik ngeri menyimak kisah hidup wanita yang pernah di tidurinya.
"Tidak. Dia wanita yang baik bahkan sangat baik. Tapi dia akan membalas jika harga dirinya di rendahkan. Dan dia sangat keras kepala."
" Tadi katamu apa, dia belum punya anak?" Pertanyaan Akbar menjurus kepada hal yang lebih sensitif membuat Sulaiman curiga.
" Belum iya belum. Memangnya kenapa? Kamu naksir atau bagaimana?"
" Aku hanya penasaran saja." Gumam Akbar.
Tok!
Tok!
Tok!
" Masuk" Seru Akbar yang kemudian menutup berkas yang di bacanya dan menyimpannya di laci.
" Permisi Pak, ada paket." Ucap office boy.
" Kemarikan. Buatkan saya kopi sekalian. Jangan lupa tutup pintunya." Titah Akbar yang mulai membuka hasil lab dari rumah sakit.
" Apa itu? Kamu beneran tes lab?" Tanya Sulaiman mengintrogasi.
" Iya, Aku memeriksakan kesuburanku Man. Kamu tau kan usia kita tidak muda lagi. Kamu saja sudah menikah dan punya anak. Usiaku sudah 43 tahun dan aku masih lajang." Gumam Akbar dengan tatapan mata yang sulit di jelaskan.
" 80% sper*a ku bagus Man. Itu tandanya aku masih bisa memberikan cucu untuk Mama." Kata Akbar yang tiba-tiba terdengar sedih.
" Tidak usah di dramatisasi seperti itu. Itu ada Mayang, kamu embat saja dia. Dia juga masih singel. Dia juga mantan istri Dery, kamu bisa memanfaatkan itu untuk menghancurkan perasaan Dery." Kata Sulaiman dengan ide gilanya.
" Tapi aku rasa itu tidak berpengaruh Man, karena dia tidak saling mencintai." Gumam Akbar berputus asa.
" Cinta atau tidak, yang penting harga dirinya tercabik-cabik." Ujar Sulaiman.
" Kamu benar Man." Sahut Akbar mengiyakan.
Entah setelah ini rencana apa yang mereka susun tetapi ada sepasang telinga yang menyimak percakapan mereka berdua sampai-sampai tangannya mengepal geram.
" Sialan! Jadi itu maksud dan tujuanmu mempersulit hidupku. Baik, Baik! Akan kita lihat siapa yang akan bersujud di kaki. Aku atau kamu? Kita lihat permainan ini Akbar."
__ADS_1
" Ingat aku tidak selemah yang kamu kira. Kamu tidak tahu dengan siapa kamu bermain saat ini. Hahahaha! Sahabatku sendiripun tidak tahu siapa aku sebenarnya apalagi hanya kamu. Cih!!"
" Bersiaplah untuk jatuh miskin mulai dari malam ini Akbar Zaidan Narendra." Geram seseorang yang kemudian berlalu pergi dari depan pintu kantor Akbar.