In 30th.

In 30th.
45.


__ADS_3

Tak apa jika hidupmu di selimuti masalah. itu namanya manusia.


Sebab jika hidupmu di selimuti biji wijen, itu namanya onde-onde.


"Sayang. Aku ingin memakai uangku. Bagaimana menurutmu jika aku membuka toko sparepart motor?" Tanya Al kepada Dera yang masih bersandar di dadanya memainkan Simbar yang menjadi mainan favoritnya.


" Toko sparepart? Kenapa tidak buka di Mall xxx milikku saja Ay?" Dera menghentikan tangannya dan menatap wajah Al.


" Tidak Sayang, Aku benar-benar ingin mandiri."


" Mau dimana? kamu bukanya?"


" Di, depan Minimarket jalan Xxx itu loh. Tau kan?" Jawab Al.


" Jalan xxx? Sayang tidak ke tempat lain saja?"


" Kenapa memangnya?" Al tidak mengerti mengapa sepertinya Dera tidak menyukai idenya.


" Sayang, dengarkan aku." Dera mulai berbicara serius dan duduk menarik selimut dan menutup tubuhnya yang masih telanjang bulat.


Ya, tentu mereka selesai bersenggama. Selesai mendengar ceramah Al soal pahala bagi istri membuat Dera menunjukkan kebolehannya dengan maksimal.


Dera berdandan dan memakai wewangian, Lingerie yang tipis menerawang tanpa ada balutan pengaman didalamnya membuat Al menyergapnya dengan buas.


Keduanya saling beradu, saling memuaskan dan mencari kenikmatan. Sentuhan halus dan kata-kata manis Al seperti pujian untuk dera selalu dilayangkannya membuat Dera terbang ke awang-awang.


Tak pernah dera temukan sebelumnya Al berkata manis kecuali saat mereka di atas ranjang.


" Kamu cantik."


" Kamu manis."


" Sayang, sebut namaku."


" Sayang cium leherku."


" Lakukan lagi sayang."


Ya, kata-kata seperti itulah yang selalu membuat Dera mabuk kepayang. Saat berjima, membuat Dera bisa merasakan kebahagiaan dan kesukarelaan.


Melepaskan segalanya dengan suami juga berharap pahala dari Illahi.


Sehingga tak ragu Dera meminta tambah lagi dan lagi.


Dan kini mereka berdua bersama bercengkrama hangat setelah melakukannya.


" Di sana ada showroom mobil kan, Juga ada rumah makan yang besar?" Kata Dera terhenti.


"…" Al mengangguk.

__ADS_1


" Ay, itu punya Tante Tanteku. Mereka itu orangnya sombong dan iri dengan keluarga Ayah Ay. Nanti kalau kamu buka usaha di sana, mereka pasti akan menghina kamu habis habisan. Tolong pikirkan lagi Ay. Ayah juga tidak akan setuju. Apalagi nantinya menantu kesayangannya satu satunya akan dihina." Dera berbicara dengan mencibirkan mulutnya, dia benar-benar tidak rela jika nantinya hanya akan menjadi tempat Bullyan kedua Tantenya.


" Begitu?" Tanya Al lagi memastikan.


Apa Tante yang di maksud Dera adalah wanita yang sama yang menggunjingkan Dera sesaat setelah ijab Qabul kami waktu itu? Al mengingat kembali disaat dimana dia mendengar gunjingan mengenai dera dari kerabat dekatnya kala itu.


" ish, jangan suudzon Sayang." Kata Al dengan mencubit gemas hidung Dera.


" Auh, Ay!" Dera mengusap hidungnya yang sedikit memerah setelah Al yang gemas mencubitnya.


" Aku serius. Mereka tidak suka dengan ayah sejak lama. Ayah dan Tante adalah saudara satu ibu beda Ayah. Ayah hidup atas kerja kerasnya sendiri. Tapi Dimata mereka Ayah hanyalah numpang kesuksesan dari ayah mereka. Itulah mengapa mereka selalu iri." Sahut Dera yang berdecak kesal menjelaskan mengapa hubungan mereka tidak baik baik saja.


" Baiklah sayangku, besok aku akan ke kantor Ayah. Aku akan berunding dengan Ayah." Kata Al menenangkan perasaan Istrinya yang berkecamuk saat ini.


" Sudah ayo tidur. Besok kamu mau bikin sarapan apa?" Tanya Al yang seolah menantikan masakan terbaik dari istrinya.


" Apaya? Nasi goreng mau?" Tanya Dera ragu-ragu.


" Apapun itu Sayangku, yang penting kamu terus semangat belajar memasaknya. Besok aku pulang larut. Aku ada sedikit urusan dengan anak-anak mereka butuh bantuanku untuk mengerjakan tugas." Kata Al yang sebenarnya ingin meminta ijin.


" Ada yang cewek?" Dera mulai lagi dengan sikap posesifnya.


" Ya jelas lah, Sayang." Kata Al yang mengulum senyumnya seolah tau reaksi apa selanjutnya yang akan di terbitkan oleh istrinya.


" Ih, awas kamu ya kalau macam-macam!"Gertak Dera dengan wajah yang sudah tertekuk kehilangan moodnya.


" Pokoknya aku ga mau denger ya kamu aneh aneh di luaran sana." Kata Dera lagi.


" Hem." Jawab Al menggumam.


Saat dera menoleh ternyata Al sudah sangat mengantuk dan menutup matanya sesekali. Dera terdiam dan memandangi wajah suaminya lebih dalam lagi.


Semoga Ayah melarangnya besok. Aku tidak tau akan seperti apa mulut tanteku menghinanya jika tau suamiku hanyalah penjual sparepart motor. Batin dera berharap.


*


*


*


Pagi menyingsing, Dera sudah berangkat ke Mall dan Al melakukan aktivitas seperti biasa. Berangkat ke kampus dan menyelesaikan studinya.


Siang hari Dera masih sibuk di kantor sudah di kejutkan dengan keributan yang terjadi di depan pintu kantornya.


" Pokoknya saya tidak mau tau. Baju itu tadi untuk saya." Ujar seorang wanita yang memarahi staff karyawan di Mall.


" Bu, maaf tapi Nona yang tadi telah melakukan pembayaran lebih dahulu." Kata si karyawan.


" Kamu tidak tau siapa saya huh? Dera ini adalah keponakan saya. Panggil saja dia jika kalian tidak percaya." Kata Si Tante sambil menunjuk-nunjuk para staff yang melarangnya untuk mengganggu Atasan mereka.

__ADS_1


" Maaf Nyonya, tapi Atasan kami sedang sibuk. Juga anda tidak memilki janji temu sebelumnya. Jadi kami tidak bisa mengganggu beliau." Kata si staff.


" Banyak omong!" Umpat Si Tante.


" Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Dera yang tidak sabar mendengarkan perdebatan tersebut.


" Ini Bu..." Kata staff terhenti saat si Tante tiba-tiba masuk kedalam ruang kerja Dera begitu saja tanpa di persilahkan.


" Sudah kalian boleh pergi, dia tanteku." Kata Dera yang kemudian mengijinkan karyawannya pergi.


" Ada apa sih tante?" Tanya Dera yang menyusul tantenya dan duduk di sebelahnya.


" Kamu! Masa Mall sebesar ini hanya baju model begini saja tidak ada stok?" Kata Si Tante penuh amarah dan menyodorkan gambar baju yang tadi di incarnya.


" Tante, kalau memang stok sudah habis ya gimana?" Jawab dera membela diri.


" Karyawan kamu itu tidak becus. Tadi Tante sudah simpan itu baju di ruang ganti. Karena ATM card Tante tertinggal di mobil. Tapi waktu Tante kembali, malah sudah tidak ada di beli orang lain. Apa maksudnya?" Kata Si Tante kesal.


" Tante, seharusnya kalau Tante sudah benar suka, maka Tante bisa menitipkannya dulu ke meja kasir Te." Jawab Dera berusaha sesabar mungkin meski sifat dari Tantenya ini sangatlah menyebalkan.


" Kamu ini ya, malah belain karyawan kamu." Cerocos di Tante dengan mata yang menyalang menatap Dera yang terkesqn membela staffnya.


" Ya, bukan begitu Tante. Harusnya kamu kasih tau ke semua karyawan dan staff kamu ini siapa saya. Jangan seperti ini, jujur Dera saya malu!" Kata si Tante.


" Tante masih bisa pilih model baju yang lain dengan merek yang sama. Yang lain juga ga kalah cantik lho Tante." Lagi-lagi dera merayu sebisa mungkin.


" Tidak, itu keluaran terbaru. Tante tidak mau lagi yang lain. Kamu tau tidak jika sudah lama Tante mencari baju dengan warna yang sesuai dengan warna tas Tante yang baru."


" Coba di combain sama yang warna lain juga pasti bagus. Tan." Lagi bujuk Dera.


" Tidak! Ah percuma bicara sama kamu. Dasar ayah dan anak sama saja tidak bisa di andalkan! Saya menemui kamu kesini hanya karena ingin baju itu tetap saya dapatkan. Tapi mendengar jawaban kamu, saya rasa hanya buang-buang waktu. Percuma punya ponakan yang mallnya besar kalau untuk urusan sepotong baju saja tidak bisa di andalkan." Kata Si Tante menghina kemampuan Dera.


" Tante! Cukup ya. Saya tidak ada waktu untuk meladeni celotehan Tante. Kalau saya dan ayah saya memang tidak bisa diandalkan maka jangan buang buang tenagamu untuk menginjakkan kaki ketempat kami. Selama ini saya cukup bersabar atas semua yang Tante lakukan. Sekarang silahkan pergi, saya banyak kerjaan, pintunya di sana." Kata Dera menunjuk pintu keluar lalu merapikan penampilannya dengan angkuh.


Ada rasa lega di hati dera setelah meluapkan kekesalannya terhadap sikap Tantenya yang menyebalkan. Dera yakin selesai ini, maka akan ada masalah lagi.


" Awas, kamu ya. Okey! kita lihat bagaimana reaksi ibumu yang sok baik itu jika melihat anaknya yang tidak memiliki sopan santun terhadap tantenya dan mengusirnya seperti ini." Kata si Tante Yang dengan angkuhnya memakai lagi kacamata hitamnya.


" Terserah!! Lakukan semua yang kamu mau. Aku tidak perduli Tan." Sahut Dera yang kemudian duduk di kursi kebesarannya dan memutarnya menghadap keluar jendela sengaja mengacuhkan keberadaan Tantenya.


" Kamu akan menyesal Dera!" Seru si Tante sebelum kepergiannya.


Cih, gara gara baju saja dia membuat keributan seperti ini. Sengaja sekali dia mencari keributan dan membesarkan sesuatu.


Aku rasa dia sengaja melakukan ini untuk mengganggu konsentrasi kerjaku. Batin Dera dengan tatapan hampa menghadap ke jendela besar ruang kerjanya.


Tinggalkan Like, comment, dan Vote ya cantik dan ganteng.


Bakar semangatku dengan comments kalian🤗🤗.

__ADS_1


__ADS_2