

" Ya aku suka." Tania Tersenyum tipis menunjukkan jika masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Keraguan akan semua kebaikan suaminya berulang kali selalu muncul dalam benaknya.
Julian merasa senang, usahanya tidak sia-sia. Dia beralih berjalan menjauh dari Tania dan membuka jendela balkon. Masih juga ada jajaran bunga Lily disana. Mereka tertata rapi di dalam pot pot yang cantik. Melihat itu, Tania juga langsung saja mengikuti Julian.
Dua jenis bunga yang sangat disukai Tania. Bukan karena bentuk dan rupanya. Tetapi karena nilai filosofis yang terkandung didalamnya. Lily menggambarkan ketulusan dan mawar yang melambangkan cinta.
Julian berdiri bersandar pada besi pagar dan memandang hamparan luas bangunan dan juga gelap langit malam. Seolah pupus sudah harapannya untuk melunakkan hati istrinya. Baru kali ini dia sangat kesulitan untuk melunakkan hati seorang wanita meskipun banyak materi yang telah di kucurkannya.
Hadiah barang-barang mewah dengan Milan milyaran rupiah tak lantas membuat Tania luluh. Dari hal inilah Julian sadar jika semua yang diucapkan Tania dari dulu adalah kejujuran. Dia tidak memandang apapun dari harta. Dia menikahi Julian bukan karena harta. Lalu karena apa?
Kini muncul tanya itu di benak Julian.
Tania terkesima akan segala upaya suaminya. Tania terdiam sesaat merenungkan bagaimana akhir-akhir ini Julian bersikap baik padanya. Bahkan, tak pernah lagi Julian marah atau bersikap kasar.
Nak, apa benar Ayahmu serius terhadap Bunda? Tania mengusap perlahan perutnya.
Masih, Julian menatap kosong langit malam. Perlahan, menggerayang sepasang tangan lentik yang menyisip dari belakangnya dan melingkar indah di pinggangnya memberikan kehangatan yang lama di nantikannya.
" Mas~~~, Terimakasih." Ucap Tania lembut dan mendayu-dayu membuat jantung Julian berdegup kencang tersiram kehangatan yang lama dinantikan.
Julian tersenyum senang namun tak di nampakkannya di hadapan Tania. Di biarkannya sesaat rasa hangat yang hinggap di punggungnya. Dalam diam mereka berdua menikmati kebersamaan yang jauh dari kata nafsu yang menggebu. Hanya ada kedamaian dan kehangatan di sana.
" Tan, jika bukan karena harta. Lalu untuk apa kamu mau menikah denganku?" Julian membuka suara mengawali percakapannya.
" Karena Almarhum Ayah Mas. Karena beliau memiliki hutang terhadap Ayah Dito. Aku, sebagai anaknya tidak mau jika Ayahku tersiksa di alam sana karena hutang-hutangnya. Aku menerima pernikahan kita tanpa Cinta. Tapi aku ikhlas menjalaninya. Ku abdikan hidupku pada suamiku. Awalnya aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, pahit getir yang aku telan menjadikanku yang sekarang berbeda dari yang dulu. Hatiku telah kotor, ada rasa benci, iri, dan juga dendam."
" Maafkan aku Mas, sakit yang aku terima membuatku selalu meragukanmu. Tidak muluk-muluk keinginanku Mas. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama anak-anak dan suamiku. Bukan karena harta atau rupa. Mas, aku mengikhlaskan apa yang telah lalu. Aku harap kamu bersungguh-sungguh akan semua ucapan dan niatmu untuk memperbaiki rumah tangga kita." Tania berucap dalam tangisnya, tangannya masih melingkar di pinggang Julian dengan wajah Tania yang masih bertumpu pada punggung Julian. Menyisakan rasa basah di punggungnya.
Rupanya Tania menangis dalam setiap ucapannya.
Julian terdiam, hatinya bergemuruh mengingat tiap kesalahan yang pernah di perbuatnya terhadap istri yang hanya menginginkan hal sederhana di dalam rumah tangganya.

" Sayang, Sekarang katakan apa inginmu." Ucap Julian lirih namun sangat jelas di telinga Tania. Bahkan deru nafas Julian pun masih sangat jelas di telinganya.
Dengan posisi yang sama tanpa membalik badan. Julian merasakan kedamaian yang nyata. Damai dan tenang yang tak pernah dia dapatkan dari wanita manapun sebelumnya.
" Aku ingin, Ayah dari anakku ini menepati janjinya untuk menjadi imam yang baik. Yang membimbing aku dan anak-anaknya untuk menuju Jannah bersama." Kata Tania terdengar tulus dan teduh.
Julian membalik tubuhnya dan kini menghadap ke Tania. " Terimakasih." Ucapanya dengan mata yang sudah basah oleh air mata. Rupanya sedari tadi, dirinya pun ikut menangis sedih.
" Aku akan berusaha Sayang. Aku akan berusaha." Lalu Julian mencium hangat kening Tania sebagai pengikat janjinya. Dan, mereka berpelukan dengan sangat erat. Saling melepaskan segala permasalahan yang ada.
Tania menangis haru bercampur bahagia. Entahlah apa namanya, yang jelas ada kelegaan yang membalut nafas mereka berdua.
Tania membenamkan wajahnya ke dada Julian dan menangis sepuasnya dengan tangan sang suami yang senantiasa mengusap penuh cinta kepala Tania.
" Ehem. Mas, ambilkan tisu." Rengek Tania di sela tangisannya.
__ADS_1
" Tisu?" Julian menghentikan tangisnya dan menatap heran wajah yang ada di dalam dekapannya.
" Buat apa? Sudah pakai saja kemeja dan jasku. Keduanya sudah terkena ingusmu." Jawab Julian sesuai dengan keadaan.
Memang sedari menangis tadi jas Julian sudah tak jelas lagi tingkat kerapihan dan kebersihannya. Di bagian punggung, jelas sudah basah dengan air mata. Dan kini di bagian depan juga sama malah lebih parah.
" Tidak apa-apa?" Tania menengadah dan terlihat riasannya yang sudah berantakan.
" Tidak, kan nantinya kamu juga yang akan mencucinya." Jawab Julian yang cekikikan menhan tawanya saat melihat maskara Tania yang sudah meleber dan juga cushion yang tak lagi rata.
" Ih~~~," Keluh Tania yang kemudian cemberut dan melepaskan pelukannya.
" Jangan gitu ah Bun, bikin ayah jadi mau." Goda Julian sambil menoel pipi Tania.
"Apasih, Mas ah~~!" Tania mengusap kasar air matanya dan tertawa kecil.
Kebahagiannya sempurna malam ini rumah tangganya terselamatkan dari badai kehancuran. Bermodalkan kepercayaan kini mereka bersama membangun mahligai sampai hari tua.
Julian kemudian menarik Tania untuk masuk kedalam kamar dan membawa Tania menuju ke kamar mandi.
" Bersihkan riasanmu Tan. Ini sudah malam, tidak baik jika kau begadang." Kata Julian yang berdiri di belakang Tania yang menghadap ke cermin.
Tanpa menjawab Tania lantas membersihkan wajahnya dan nampaklah wajah naturalnya ynag sebenarnya dengan atau tanpa make-up tidak berbeda jauh karena memang Tania sudah terlahir cantik.
" Cantiknya istriku." Puji Julian sambil tersenyum manis lalu mencium leher Tania.
Tau akan apa yang lama di incar Julian, Tania lalu membuka suaranya.
" Mas, aku siap." Kata Tania sambil menunduk tersipu malu.
" Ehem...!" Tania mengangguk malu-malu.
" Tapi, pelan pelan ya. Aku takut akan sakit lagi." Kata Tania lirih.
Julian kembali teringat akan kelakuannya dulu saat menggauli Tania dengan buasnya sampai Tania menangis, menjerit dan meraung kesakitan tetapi tidak mendapatkan ampunan. Bahkan tamparan dan cekikan acap kali Tania dapatkan.
" Apakah aku pantas? Sayang, maafkan aku yang dulu." Gumam Julian yang terlihat murung dan menunduk lesu.
Tania tersenyum tipis lalu memeluk Julian erat-erat.
Perlahan-lahan, Tania mengusap lembut rambut Julian seolah memberikan kenyamanan dan menggugah hasrat kelelakiannya.
Kedua tangan Tania menangkup wajah Julian lalu mencium dan menyesap manis bibirnya meski dengan kaki yang berjinjit.
Awalnya, Julian menerimanya dengan perlahan. Namun lama-kelamaan, keduanya tidak lagi mampu menahan hasratnya.
Tangan Julian mulai bergerilya dan meraba setiap inci tubuh Tania. Memberikan apa yang seharusnya mereka berdua lakukan.
Tangan Tania pun sama. Perlahan tapi pasti, Tania melucuti jas, baju, celana hingga segitiga pengaman milik suaminya.
Sebaliknya, Julian yang sudah tidak sabar menjadi brutal dan buas. Resleting gaun Tania sedikit mengalami kemacetan. Julian sudah bernafsu sampai ke ubun-ubun harus di minta bersabar lagi?
__ADS_1
Tidak bisa semudah itu ferguso.
Julian lalu merobek gaun, melepas paksa bra Tania, dan segitiga pengaman pun menjadi korban keganasan Julian.
Di robeknya segitiga pengaman itu dengan bibir yang masih terpaut menjadi satu. Sesaat, Tania terkejut mendengar bunyi robekan dan melotot tidak percaya lalu melepas pagutan mereka.
" Mas, kan sayang." Ketus Tania tidak terima jika bajunya dirobek oleh suaminya.
" Aku lebih sayang sama kamunya. Cepatlah Tan, aku sudah lama merindukanmu." Kata Julian dengan menahan dadanya yang sudah bergemuruh penuh nafsu.
Terjadilah penyatuan yang lama mereka dambakan.
Tidak mengeluh lagi saat Julian memainkannya. Tania justru menikmatinya. Lagi, lagi dan lagi. Satu malam mereka lewatkan tanpa tertidur. 3 kali permainan membuat keduanya tertidur pulas.
*
*
*
Pagi hari.
" Sayang bangun." Perlahan Julian menciumi Tania yang masih polos tanpa balutan sehelai benang dan hanya menggeliat.
" Apa mas?"
" Bangun, ini sudah pagi." Julian kembali menciumi pucuk kepala Tania.
" Mas, perutku kram. Pinggangku sakit." Keluh Tania.
" Maaf ya, semalam aku terlalu bersemangat." Julian mengusap rambut Tania.
" Tidak mas, aku juga..." Kata-kata Tania terhenti saat Julian tertawa terbahak-bahak.
" Aku senang jika istriku menjadi buas dan kelaparan di hadapanku. Asal tidak dengan lelaki lain." Kata Julian tertawa senang mengingat kejadian semalam dimana mereka melakukan penyatuan.
" Mas~~," Tania tersipu malu lalu menenggelamkan wajahnya kedalam selimut dan justru melihat sesuatu yang polos berada di bawah sana.
" Mas!" Teriaknya kencang.
" Ada apa?" Julian tersentak kaget.
" I...., ini darah apa?" Tania bertanya kepada Julian yang hanya terdiam. Sedangkan noda darah itu tepat berada dimana posisi Tania tidur.

Maaf ya jika typo banyak yang berkeliaran.
kira kira kenapa ya?
Itu darah siapa?
__ADS_1
Maaf telat up. Karena ga lolos review 🤭🤭.
banyak em....