In 30th.

In 30th.
40.


__ADS_3

Tanpa Tania duga, Tangan Harry menjulur dan meraba perut rata Tania. Posisi mereka duduk adalah Harry di samping Tania dan Dera pindah di depan Tania.


" Kalau Bapak liat itu, Pasti diajak gelut itu anak, ga ada kapoknya." Dekta bermonolog dari depan meja kasir karena dirinya selesai membeli.


Lagi-lagi ponsel Tania berdering. Sesaat Tania melihatnya dan kemudian permisi menuju ke toilet untuk mengangkatnya.


" Hallo istriku!" Sapa Julian dengan sumringah bahkan kebahagiaan itu sampai terasa dari suaranya.


" Iya, hallo ada apa Mas?" Jawab Tania setengah hati. Sebab, dia sangat malas untuk bersikap manis pada Julian. Mungkin lebih tepatnya hatinya sudah membatu. Bagaimanapun Tania juga seorang wanita yang tidak mudah lupa akan kesalahan pasangannya.


" Tadi kemana sayang, Aku telfon kok ga di angkat?"


" Masih kerja tadi Mas. Ada apa?" Tanya Tania yang sebenarnya berharap agar Julian segera mengakhiri percakapan mereka.


" Em, kamu sudah makan belum sayang? Aku menghubungi kamu karena aku kangen kalian. Bagaimana baby?Dia nakal tidak?"


" Mas, aku sudah makan. Tidak dia tidak nakal. Ayahnya yang nakal, sok sok manis." Sindir Tania pada sikap Julian yang menurutnya hanya dibuat buat.


" Sayang, bukanya aku sok manis. Harus berapa kali aku bilang, aku benar-benar ingin berubah untuk kalian. Demi kalian sayang." Kata Julian meyakinkan Tania.


" Hhhh." Tania hanya mendesah dan memutar bola matanya malas.


" Kenapa? Sepertinya kamu tidak suka aku menghubungimu?"


" Bukan begitu Mas. Aku hanya sedikit lelah saja." Jawab Tania berkilah. Dia sangat malas untuk menanggapi Julian.


" Kamu lelah? Aku jemput ya, kamu dimana sekarang? kita kedokter ya sayang." Ucap Julian yang terdengar cemas dan panik.


" Mas, udah. Aku ga apa-apa. Ga usah lebay deh!"


" kamu tidak suka aku perhatikan? Tania, harus berapa kali aku bilang. Aku sayang kalian." Tandas Julian masih mencoba meyakinkan Tania.


" Iya, kamu hanya sayang dan khawatir dengan anak ini. Tapi tidak denganku kan? Bagaimana bisa dengan mudahnya dan begitu saja kamu menaruh rasa padaku sedang aku ingat betul Mas, Bagaimana kamu sangat mencintai Angel." Kata Tania sengaja menyindir kesalahan Julian.


" Sayang, tolong. Tolong, jangan sebut nama itu lagi. Yakinlah dan percaya padaku, aku mencintai kalian." Kata Julian yang mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


" semoga Mas. Sudah dulu aku harus bekerja." Tania menutup panggilan tanpa banyak basa-basi.


Julian duduk dan melamun, merenungi segala kesalahannya di masa lalu. Muncul lagi akan tingkah lakunya yang memuakkan bersama Angel.


Tan, tidakkah kau melihat kesungguhanku?


Aku sungguh-sungguh ingin membina rumah tangga kita dengan baik. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku dan menua bersamaku Tan. Rintih Julian dalam kalbu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk" Sahut Julian tak bersemangat.


" Ini makanannya Bos."Dekta meletakkan pesanan Julian di mejanya sambil mengamati mimik wajah Julian yang lesu seperti tak memiliki gairah hidup.


" Hem, taruh saja. keluarlah!" Titah Julian tanpa menatap wajah Dekta.


Setelah percakapannya dengan Tania, nafsu makan Julian mendadak hilang. Bungkusan makanan yang ada di meja hanya di pandangnya.


Di rumah Julian dan Tania.


" Bye! aku pulang dulu ya sayang."Kata dera berpamitan sambil membantu menurunkan Tas Tania.


" Mampir dulu ya." Pinta Tania dengan wajahnya memelas.


" Ga ah, takut ganggu kalian." Jawab Dera 6ang melirik Harry yang masih ikut bersama mereka.


" Enggak kok Kak. Aku kesini cuma sebentar." Jawab Harry yang tersenyum ramah.

__ADS_1


" Awas, jangan lama-lama berduaan nanti kepincut loh." Ledek Dera yang asal bicara.


" Apaan sih Ra!" Tania tersipu tetapi juga melotot menatap Dera.


Dera pergi berlalu. Dan sekarang hanya Tania dan Harry yang berbincang di taman samping rumah.


" Harry, ini tehnya. Silahkan diminum." Ucap Tania sambil menyuguhkan Teh manis untuk Harry.


" Terimakasih Kak." Jawab Harry tanpa melihat wajah Tania.


" Ada apa, kamu seperti punya banyak masalah?" Tanya Tania yang melihat wajah Harry tertunduk lesu.


" Kak, apa boleh aku meminta sesuatu darimu?" Tanya Harry dengan Tatapan matanya yang mengiba membuat siapapun yang melihatnya tak kuasa menolak permintaannya.


" Apa itu? Kalau uang aku tidak punya. Kan, aku tidak lebih kaya daripada kamu. Oh iya, selamat ya. Aku tidak menyangka kamu akan menjadi pemuda yang sukses di usia semuda ini."


" Hem." Harry tersenyum senang mendengar pujian dari Tania.


" Bisakah kita berhubungan baik layaknya adik Kakak?" Harry berbicara dengan malu-malu.


" Harry, sedari waktu kita bertemu, Aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri."Jawab Tania yang tersenyum manis dan tulus.


" Benarkah?" Harry tersenyum senang dan menatap manik Tania tanpa berkedip.


"... " Tania mengangguk.


" Kalau ada masalah, ceritakan padaku. Jangan kau pendam sendiri. Kita sama, aku pun, tidak punya siapa-siapa di dunia ini semenjak ayahku meninggal." Kata Tania yang teringat kepergian ayahnya.


" Baiklah, Tapi kakak juga harus berbagi denganku ya?" Kata Harry yang terdengar tulus.


" Ok, selagi itu bukan urusan rumah tangga." Jawab Tania yang kemudian menyesap teh hangatnya.


" Memangnya kalau urusan rumah tangga kenapa?" Tanya Harry dengan polosnya.


" Nanti kamu juga akan paham setelah menikah." Jawab Tania.


Batin Harry yang melihat wajah Tania yang terlihat semakin cantik karena sorot mentari senja.


Di kantor Julian.


" Eh, tidak di makan bos?" Tanya Dekta melihat kotak nasi masih utuh dan rapi.


" Aku tidak nafsu." Jawab Julian yang kemudian bergegas pulang.


Julian berjalan di depan Dekta dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celananya. Setelan jas hitam dan kaca mata hitamnya semakin menambah aura dan wibawa Julian.


" Apa semuanya sudah tertata rapi?" Tanya Julian kepada Dekta yang masih fokus mengemudi membelah jalanan kota.


" Siap! sudah Bos!" Jawab Dekta yakin.


" Bagus." Puji Julian yang melihat ke jendela luar.


" Dekta, apakah kamu tau bagaimana cara meluluhkan hati istri yang marah besar?" Tanya Julian tiba-tiba membuat delta sampai tersedak air ludahnya.


Pasalnya selama menikah dengan Tania, tak jarang delta menjadi saksi bisu yang mengetahui agenda terlarang Julian dan Angel.


Tapi sekarang, Julian terlihat sangat mengkhawatirkan hubungannya dengan sang istri. Tentu saja, hal ini membuat Dekta tersenyum senang. Akhirnya bos-nya tidak berada di jalan yang salah lagi.


" Maaf, saya tidak berpengalaman dalam hal itu bos. Bos kan tau, saya belum pernah menikah. Tapi," Kata Dekta menggantung seperti ragu untuk melanjutkannya.


" Tapi apa?" Julian melepas kacamatanya dan berkonsentrasi pada kata-kata Julian selanjutnya.


" Tapi, dari kisah ibuku dan mendiang Ayahku aku tau satu hal Bos."


" apa?"


"Jika, wanita itu bisa mengorbankan perasaannya hanya demi masa depan anak-anaknya. Seperti ibuku yang selalu disia-siakan oleh mendiang Ayahku. Tetapi pada akhirnya, kepada ibulah ayahku bertekuk lutut. Tapi sayang itu semua tak bisa membuat ibu luluh. Banyaknya luka dihati yang di terima oleh ibuku, membuatnya mati rasa bos." Jawab Dekta jujur.

__ADS_1


"Memang, apa kesalahan ayahmu?"


" Judi, berselingkuh, kekerasan. Ibu memaafkan, tapi tidak bisa melupakan. Hanya denganku, ibu bisa mencurahkan semuanya." Kata delta lagi yang semakin emmbuat Julian ketar-ketir.


Dari cerita Dekta, Julian menggambarkan keadaan yang sama pada rumah tangganya saat ini. Apakah Tania sudah mati rasa?


Julian menggigit bibir bawahnya cemas.


*


*


*


Malam Hari di kediaman Julian.


" Aku pulang!" Seru Julian yang masuk Sabil mengendurkan dasinya.


" Ya." Sahut Tania yang terkesan cuek dan duduk menikmati siaran TV.


Melihat respon istrinya yang acuh tak acuh membuat Julian lesu dan tak bersemangat. Di lepasnya sepatunya dan jasnya lalu hanya di letakkan begitu saja di lantai dan dia menghampiri Tania yang bahkan tidak melirik keberadaanya.


Tiba-tiba Julian merebahkan kepalanya di atas pangkuan Tania dan membenamkan kepalanya di perut Tania.


" Eh, kamu ngapain? Kenapa? kok aneh gini?"


" Em, biarkan seperti ini sebentar lagi Tania. Aku merindukan kalian." Gumam Julian dengan suara yang lirih.


" Mandi di Mas, kamu bau!" Protes Tania yang hanya berasalan agar Julian segera bangkit dan pergi.


" Tan, Maaf. Nak, maafkan Ayah ya." Gumam Julian.


"Maaf untuk apa?"


" Untuk yang lalu, untuk setiap luka yang pernah aku torehkan di hatimu."Jawab Julian yang terus saja memeluk erat pinggang Tania dan berbicara menghadap ke perut istrinya.


" Maafkan Ayah nak, karena telah banyak menyakiti hati ibumu. Ayah tau ayah tak pantas menjadi Ayahmu. Ayah bukan contoh Ayah yang baik. Jangan pernah kamu meniru kelakuan ayah ya. Ayah mohon. Tumbuhlah menjadi anak yang baik, Tumbuhlah seperti ibumu yang berhati malaikat." Kata Julian lirih namun sangat jelas di telinga Tania.


Tanpa Julian sadari, air matanya mengalir begitu saja membasahi pipi dan juga perut Tania.


Dan, tanpa sadar Tania mengusap lembut pucuk kepala Julian tanpa permintaan atau rengekan dari Julian.


" Mas, aku sudah memaafkanmu. Tapi maaf, tidak semudah itu aku melupakannya. Mengertilah Mas. Bagaimana jika posisimu adalah Aku? Aku yakin kamu akan bertindak lebih dari apa yang aku lakukan. Jadi mengertilah aku,menghapus luka di hati bukanlah sesuatu yang mudah." Kata Tania dengan lemah lembut.


" Maaf, Maafkan aku sayang."


" Muach!"Julian mengecup perut dan tangan Tania lalu kembali membenamkan kepalanya dan tak terasa tertidur di pangkuan Tania.


15 menit kemudian.


"Mas, bangun ah!"Tania menggoyangkan tubuh Julian sampai Julian terbangun dan duduk dengan seketika.


" Apa? ada apa sayang?" Tanya Julian terkesiap sambil mengucek matanya.


" Bangun! lihat sudah 15menit kamu tidur di pahaku Mas. Kakiku sampai kesemutan. Mandi sana kamu bau." Tania mencibir kesal.


" Cium dulu, baru mau mandi." Rengek Julian dengan manjanya dan memajukan bibirnya.


" Dih! Ogah, bekasnya Angel." Lagi-lagi Tania keceplosan.


" Ya makanya di hapus sayang. Gini," Kata Julian yang dengan tiba-tiba memagut bibir ranum Tania dengan lembut dan hangat.


" ih...!" Tania memberontak dan mendorong tubuh Julian sampai ciuman mereka terlepas.


" Kan sudah hilang, sekarang ini sudah jadi bekasmu. Masih banyak yang harus kamu hapus sayang." Kata Julian kesal sambil berlalu ke kamarnya.


" Ogah!" Seru Tania menolak.

__ADS_1


" Tunggu saja, PR mu banyak sekali malam ini sayang." Julian bergumam dan menyeringai.


__ADS_2