
" Sangat bencikah kamu padaku Tan?" Tanya Julian dengan wajah yang kini menunduk dan kedua tangannya setia menggenggam tangan Tania yang di kuncinya. Bulir air mata itu jatuh mengenai tangan Tania.
" Air mata buaya!" Umpat Tania yang geram akan tindakan Julian yang maunya menang sendiri.
"Aku sungguh-sungguh Tan. Dengarkan aku, Aku menyesal selama ini telah menyia-nyiakan istriku sendiri. Aku menyesal telah mengabaikan semua bakti dan kebaikanmu. Aku ingin kita bersama Tan. Tidak bisakah aku mendapatkan kesempatan yang kedua?" Kata Julian memohon dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
" Jangan akting di depanku Julian. Sekalipun selama kita bersama, tidak pernah kamu menganggap ku ada. Aku hanya seperti sampah bagimu. Awal mula pernikahan kita kamu sengaja ingin menikahiku hanya karena terbakar emosi karena Angel mengajakmu putus. Dan sekarang, dia pergi lagi lalu kamu mendekatiku lagi. Aku tau Julian, kamu melakukan ini agar semata-mata Angel kembali padamu. Julian dengarkan, aku ini manusia bukan alat bantu bagimu." Kata Tania tanpa mau melihat wajah Julian. Baginya sangat memuakkan selama ini hanya menjadi tempat pelampiasan dan alat Julian agar angel kembali padanya.
" Tan, Sayang." Panggil Julian yang kini sudah menangis menunduk di hadapan Tania. Kata sayang dari Julian membuat Tania merinding. Ini pertama kalinya kata-kata itu terdengar tulus tanpa niat terselubung atau CCTV yang mengintai.
" Cih!" Tania berdecih tak percaya memutar bola matanya malas. Rasanya ingin sekali dia membekap Julian agar berhenti membual.
" Aku serius, Aku jujur, jauh darimu membuatku gila Tan. Hidupku terasa hampa tanpa adanya kamu di rumah, didekatku." Kata Julian yang kini sudah memandang Tania dengan tatapan mengiba dan matanya sudah basah dengan air mata. Pertama kali selama hidupnya Julian merengek mengiba belas kasih dari seorang wanita.
Tania menarik tangannya perlahan dan mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya lalu meremasnya kuat-kuat.
"Lihat ini." Tania memperlihatkan kertas yang semula halus berubah kusut dan berbekas.
" Bisakah kau mengembalikannya untuk sama seperti semula?" Harapan Tania Julian akan menyerah dan menjawab tidak. Tapi, bukan itu jawaban Julian.
" Kemarikan! Aku bisa." Julian semakin meremas kertas itu hingga lebih kusut lalu membukanya dengan perlahan beberapa kali Julian mengibas-ibaskan kertas itu lalu kembalilah seperti semula.
" Lihat? aku bisa Tania. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Julian meyakinkan Tania.
Tania masih melongo dengan bibirnya yang setengah menganga tidak percaya jika Julian memiliki kemampuan seperti itu.
Disaat Tania masih takjub dan terkesima melihat kertas yang kembali halus seperti semula, Julian memanfaatkan momen itu untuk mengecup bibir Tania. Tania tidak bereaksi apapun selain diam dan memejamkan matanya.
Tania masih meraba perasaannya sendiri kali ini. Kemana sebenarnya hatinya menepi, mengapa terkadang sentuhan Julian teramat dia rindukan?
Tania mendorong tubuh Julian perlahan agar kembali ke tempat duduknya lalu menatapnya intens dengan kedua mata Tania yang bergulir kesana-kemari.
" Kamu dukun? Atau penyihir, atau pesulap?" Celetuk Tania yang merubah suasana sedih menjadi sedikit santai.
" Tidak penting. Yang terpenting percayalah kepadaku Tan. Aku ingin kita bersama lagi. Aku tidak akan mengecewakan kamu untuk yang kedua kalinya." Julian memohon dan berjanji dengan kesungguhan hati.
" Entahlah Mas, aku lelah. aku ingin tidur!" Tania bergegas turun dan ingin mengakhiri percakapan yang tak berujung.Sedari tadi mobil berhenti di depan rumah Tania dengan ibu Yuli yang mengawasi keduanya dari lantai kamarnya.
Mas?
Dia sudah tidak marah lagi berarti. Julian, Julian, Julian. Saat marah hanya namaku yang di sebut tanpa embel-embel. Kalau sudah ada Mas di depannya berarti dia sudah tidak marah lagi. Batin Julian senang dan mengekori di belakang Tania.
" Pulang sana, ngapain ikut?" Tania melirik tajam dan memutar bola matanya malas.
" Anu...." Jawab Julian sambil meremas perutnya seperti menahan sesuatu.
" Anu apa? jangan banyak alasan sudah sana pulang." Tania mendorong Julian hingga mundur beberapa langkah.
" Tolonglah Sayang, kamu tidak kasihan padaku? Perutku mulas, ijinkan aku ke kamar mandi ya? Setelah ini aku pulang." Ucap Julian yang masih mengekori Tania dengan kakinya yang saling menghimpit menahan sesuatu yang ingin keluar dengan bau menyengat.
" Modus!!" Ketus Tania yang mengacuhkan Julian dan membuka pintu rumahnya.
" Bret...!!" Kentut Julian.
Bau busuk menyengat hingga menusuk ke hidung Tania dan membuat Tania reflek memukul lengan Julian perlahan dan kemudian berlari kembali keluar menghirup udara segar dalam-dalam demi membuang bau busuk yang serasa mencekat di lehernya.
" Huek!" Tania merasa mual dan sesekali mengibas-ibaskan tangannya di depan hidungnya dan mengatur nafasnya.
" Makan apa sih dia, makan bangkai kali ya." Tania menggerutu sebelum akhirnya masuk kedalam rumah setelah merasa bau busuk itu hilang.
"Lihat mereka Yah. Apa anakmu itu sudah jatuh cinta kepada istrinya?" Tanya ibu Yuli kepada sang suami yang juga berdiri di sebelahnya melihat kelakuan anak dan menantunya.
" Sudahlah Bu, jangan di suruh pisah ranjang. Akhir akhir ini aku di buat pusing oleh anakmu itu. Dia selalu merengek, dan bahkan kamu tau dia kemarin menyogokku dengan iming-iming akan memberikanmu mobil antik yang lama aku incar tapi tidak kamu restui itu. Sudahlah, biarkan mereka tinggal satu atap lagi." Ayah Julian berkata yang sejujurnya kepada istrinya berharap ketegasan ibu Yuli akan sedikit memudar.
" Tidak! Akan ku beri pelajaran anak itu biar tau rasa. Biar dia tau cara menghargai wanita terlebih itu istrinya. Kalau aku tidak mengingat jika dia itu anakku maka aku akan memenjarakan dia. Kamu ingat berapa kali dia membuat menantimu masuk ke rumah sakit? Itu sudah tindak kekerasan Yah. Kurang toleransi apalagi aku selama ini?" Ibu Yuli teguh dengan pendiriannya. Dia bersikeras ingin menjauhkan Julian dari Tania semata-mata agar Julian tau seberapa berharganya jalinan suci mereka.
" Hhh, terserahmu lah Sayang. Yang penting kamu jangan marah sama aku ya. Jatah malam ini lancarkan?" Ayah Julian menggoda istrinya dengan tangan yang sudah menggerayangi tubuh ibu Yuli yang berdiri di depan jendela.
" STop!! Aku akan menyeret anak itu untuk keluar dari rumah menantuku dulu. Biar tau rasa dia." Ucap Ibu Yuli menggebu dengan wajahnya yang menunjukkan kemarahan.
" Yang anakmu itu Julian atau Tania sih Bu?" Seru Ayah Julian dari kamarnya sementara ibu Yuli sudah berjalan menuju ke rumah menantunya.
" Dua duanya!" Sahut ibu Yuli yang pergi menghilang di balik pintu.
__ADS_1
*
*
*
" Sudahkan? sana pulang jangan alasan lagi." Ketus Tania yang kini sudah berganti baju tidur dengan celana pendeknya.
Tania menyalakan TV dan duduk bersandar di sofa, mengacuhkan keberadaan Julian yang berdiri setelah keluar dari kamar mandi. Julian berdiri bersandar di dinding dan menatap Tania penuh arti.
Apa yang salah dan kurang dari istriku? Kenapa dahulu aku sangat membencinya? Perang batin Julian mulai terjadi dimana antara otak dan hatinya mulai tak sejalan.
" Kenapa masih berdiri di sana? sudah pulang sana. Kamu tau kan Mas dimana pintu keluarnya?" Ucap Tania cuek dengan mata yang terus fokus pada TV dan tak mengindahkan keberadaan suaminya.
" Tan, sayang." Rengek Julian sambil berjalan mendekati Tania.
" Stop! Jangan panggil sayang, sayang, percuma sebentar lagi kita bercerai."
" Tapi,... Tan...." Julian terhenti berbicara karena mendengar suara ketukan pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
" Siapa itu? kamu mengundang tamu malam-malam? Apa kamu janjian dengan brondong tadi?" Celetuk Julian sambil memicingkan matanya menelisik Tania penuh dengan tanda tanya.
" Asal monyong aja ya itu mulut kalau bicara. Memangnya aku kamu, suka bermalam dengan yang haram!" Cetus Tania dengan disertai bantal sofa yang terbang dan pas sasaran mengenai kepala Julian.
Julian terdiam sejenak berpikir, iya Memnag itu adalah kebiasaan dirinya. Dan apa kali ini? malah dia menempatkan dan memandang Tania sama perilakunya dengan dirinya.
" Ibu?" Tania tertegun dan terdiam di depan pintu setelah membukanya.
Sementara itu Julian sudah berlari bersembunyi di balik gorden. Masih seperti anak TK yang takut terkena hukuman dari ibunya. Keringat dingin Julian sampai menyembul dari dahinya.
Bahkan satu tangan Julian bergelayut kencang di handel jendela.
" Bu, perut Julian sakit Bu. Sumpah Julian tidak berbuat aneh-aneh disini. Tolong Bu jangan marah. Jangan pisahkan Julian dari Tania. Bu aku mohon." Rengek Julian.
Apa ini? Dia merengek sampai seperti itu? Kemana wibawa dan juga bengisnya selama ini? Dia sangat mencintai ibunya.
Sebenarnya kamu adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Hanya saja tumbuh dalam keadaan yang teramat manja membuatmu suka salah jalan.Batin Tania bergumam.
" Tan, tolong aku sayang. Biarkan aku bermalam disini. Aku tidak bisa tidur selama pisah dari kamu Tan." Rengek Julian yang kini mengiba berharap Tania akan membelanya.
" Bawa saja Bu." Tegas Tania acuh walaupun sebenarnya hatinya sangat iba. Biar bagaimanapun Julian sepenuhnya masih berhak atas diri Tania baik secara hukum dan agama.
" Iya ibu akan menyeretnya dan mengusirnya dari sini. Kamu tenang saja." Sambung ibu Yuli yang terus menyeret Julian meski dengan susah payah. Dan Tania hanya diam tak bergeming di depan pintu menyaksikan drama kolosal ini. Seperti Mak Lampir yang sedang menyeret grandong.
Akhirnya tangan Julian terlepas dari handel pintu dan terpaksa mengikuti langkah kaki ibu Yuli. Namun, ketika berdiri dekat dengan Tania, Julian berbelok dan kemudian mendekap erat Tania dan bersembunyi di belakangnya.
" Tan aku mohon. Perutku masih sakit, kalau aku pulang tidak ada yang akan merawatku di rumah. Tan, sayang. Kamu tidak kasihan dengan suamimu ini?" Kini Julian berbicara dengan nada memelas kepada Tania.
Tania menoleh kebelakang dan mendapati kening Julian dirasakannya sudah menempel di punggungnya dan terasa sedikit panas.
Ah, dia benar-benar sakit rupanya. Aku akan berdosa besar jika mengabaikan suamiku sendiri. Baiklah ku rasa tak apa untuk malam ini dia bermalam disini. Pikir Tania.
" Bu, bisakah kita membatalkan soal pisah ranjang?" Kata Tania tiba-tiba yang membuat ibu Yuli tercengang.
" Apa katamu?" Ibu Yuli menegaskan suaranya dan menatap tajam Tania.
" Aku rasa percuma juga peraturan itu ada jika suamiku sendiri seperti ini. Bagaimanapun juga dia masih suamiku Bu. Aku tidak mau menanggung dosa besar jika bersikap dzolim." Kata Tania sambil menunduk, setengah hatinya ragu saat berucap.
" Tania? Semudah ini kamu memaafkan dia?" Ibu Yuli mengernyitkan dahinya tak percaya akan apa yang di dengarnya dari bibir Tania.
" Aku sudah memafkanya sedari lama. Tapi sampai mati aku tidak pernah lupa. Untuk malam ini saja biarkan dia disini Bu."
Deg! Hati Julian serasa tertikam ratusan belati saat Tania berkata sampai mati dia tidak akan pernah lupa. Itu tandanya luka yang Julian torehkan sangatlah dalam di relung hatinya.
" Ah, terserahmu. Kepalaku merasa pusing sekarang." Ibu Yuli berlalu sambil memijit kepalanya yang berdenyut.
__ADS_1
Sebelum pergi ibu Yuli terlebih dahulu melotot menatap Julian dan dengan sengaja menginjak kaki Julian dengan tungkainya kuat-kuat.
" Auh...!" Keluh Julian kesakitan.
" Kenapa? kamu kenapa Mas?" Tania khawatir mendengar Julian mengasuh kesakitan.
" Tidak, kakiku hanya mulai terasa sakit saja."
" Kenapa sampai berdarah sih Mas?" Tanya Tania yang sedari tadi rupanya dari mereka tidak ada yang sadar jika kaki Julian terluka saat terik menarik terjadi.
Saat bersembunyi dengan tergesa-gesa kaki Julian menyandung kaki meja yang cukup kuat dan juga pas sekali sudut kaki meja itu memiliki permukaan yang kasar sehingga kulit Julian terbeset begitu saja.
" Astaga, duduklah aku obati." Kata Tania dengan sedikit panik melihat darah dari kaki Julian.
Sudah sakit, di injak lagi sama Mak lampir. Julian mengadu pada Tania melalui suara hatinya.
Tania mengobati Julian dengan telaten. Ada rasa bahagia yang berlipat lipat dirasakan oleh Julian. Kekhawatiran Tania adalah bentuk perwujudan sayang dan baktinya sebagai seorang istri.
" Tan, Sayang, istriku." Panggil Julian dengan lengkapnya. Matanya tak berkedip saat menatap Tania dengan teduhnya.
" Hem?" Si empunya nama sangat malas menyahuti.
" Benarkah kamu sudah memaafkanku?"
" Ya." Jawab Tania malas.
" Malam ini boleh kita tidur bersama?"
" Enak saja!" Cetus Tania sambil menepuk luka Julian.
" Tan, lihat aku. Aku ingin bertanya hal serius kepadamu. Semenjak malam itu, pernahkah kamu merindukanku?" Julian ingin menanyakan hal yang sedikit sensitif baginya.
" Maksudmu malam di saat kamu memaksaku?" Sindir Tania yang kesal sekaligus marah jika mengingat kejadian itu.
" Tidak! aku membencimu. Benci suaramu, baumu apalagi." Celetuk Tania.
" Jangan begitu Tan. Bagaimana jika kamu membenciku karena kamu hamil." Ucap Julian ngawur yang hanya ingin bercanda.
" Hamil? Tanggal berapa sekarang?" Tania mulai terlihat panik dan takut. Seketika Tania menghentikan pekerjaannya dan berlari ke kamar dengan membawa sebuah kalender.
Julian masih terdiam tak mengerti akan tindakan Tania dan raut wajahnya yang berubah drastis.
" Kenapa dia?" Gumam Julian yang melanjutkan memasang perban di kakinya sendiri.
" Julian!! Kurang ajar kamu ya! Awas kamu!!" Tania meradang penuh amarah lalu berlari menghampiri Julian dan menjambaknya sampai kepala Julian bergerak kesana-kemari mengikuti gejolak amarah Tania.
" Ada apa sayang! lepaskan kepalaku bisa patah jika begini!" Keluh Julian dengan pasrahnya tanpa melawan dan tanpa marah.
" Aku hamil, aku telat dua Minggu. Bagaimana ini? Bagaimana? Huh?" Tania mengamuk seolah dia hamil tanpa suami.
" Kamu hamil?" Julian menghentikan tangan Tania yang masih berada di kepalanya dan keduanya saling menatap dalam.
"Istriku hamil? Aku akan jadi Ayah .! Aku jadi Ayah!!" Julian bersorak kegirangan dan memeluk erat Tania menghadiahi Tania dengan kecupan membabi buta di wajahnya.
" Kenapa kamu hadir sekarang nak? kenapa?" Tania terdiam sambil menangis setelah keadaan cukup tenang.
" Dia itu anak yang berbakti kepada Ayahnya. Jangan kamu marahi dia. Awas saja kalau kamu berani macam-macam dengan anakku." Kata Julian dengan datarnya.
" Apa katamu? Dia anakmu? Dia anakku. Lihat dia ada di perut siapa sekarang?" Tania bersikeras.
" Dia berasal dari benih siapa? Aku kan?Berarti dia anakku." Julian tidak mau kalah.
Tania kecewa dengan dirinya sendiri. Bukan dia tidak suka akan kehadiran si buah hati hanya saja baginya ini bukan bagian dari apa yang di rencanakannya. Tania belum siap, terlebih lagi kondisi rumah tangga mereka yang sedang berantakan.
"Kamu anakku! Tapi kenapa kamu hadir di saat Bunda ingin bercerai dari lelaki menyebalkan ini?" Dengus Tania dengan kesalnya sambil berbicara pada sebuah test pack bergaris merah dua.
" Dia anak yang baik sayang. Dia tidak mau Ayah dan bundanya berpisah. Tuhan pun menginginkan kita untuk tetap bersama. Percayalah aku akan menjadi Ayah dan suami yang baik. Berikan aku kesempatan yang kedua." Kata Julian dengan lembutnya bahkan terdengar indah dan nyaman di telinga Tania.
" Tapi aku benci kamu.... hiks! hiks! hiks!" Tania menunduk menangis bimbang, antara bahagia atau bersedih.
" Sudahlah diam, Jagan menagis lagi. Tidak baik ibu hamil menangis.Kita ke kamar ya. Kamu harus istirahat." Julian memeluk Tania dan menyelipkan anak rambutnya.
Terasa tenang dan damai meski masih ada beberapa ganjalan di dalam hati Tania karena perlakuan manis dari Julian.
__ADS_1