
" Selamat By, akhirnya kamu mendapatkan cintamu meski Mayang memilihmu hanya sebagai suami sementara. Terlepas itu hanya sementara yang akan berubah menjadi selamanya atau bagaimana, apapun itu aku turut berbahagia. Sebab, hatiku kini sudah terisi penuh oleh sosok pemuda menyebalkan." Gumam Dera yang duduk menatap jendela luar dari mobilnya.
" Aku tau kamu terluka hati Mae. Aku masih ingat bagaimana Derry mempermalukan kamu di depan banyak orang dengan menuduhmu sebagai wanita yang doyan selingkuh dan mencacimaki kamu sebagai wanita mandul. Hhhh, kamu kuat Mae." Kata Dera yang kembali teringat bagaimana pahitnya kisah rumah tangga Mayang dan Derry di waktu lalu.
" Hhhhh.....!" Dera mendengus dan menatap keluar jendela lagi. Tangannya memainkan ponselnya berharap Suaminya akan menghubunginya.
" Tidak, aku rasa keputusanku adalah salah. Memaksakan perasaan orang lain itu tidaklah baik." Gumam Dera merenung.
" Dera, Dera. Harusnya kamu tau resikonya menikah dengan orang yang lebih muda. Dia tampan dan juga idaman banyak wanita ternyata di kampusnya. Hahahaha, apa aku sudah masuk kedalam jebakan kadal?" Desis Dera yang kemudian tertawa getir.
" Ada apa Non kepada Non tertawa sendiri?" Tanya pak Manto yang melihat Dera dari spion dalam.
" Tidak Pak, hanya saja ada yang lucu." jawab dera berbohong.
" Sepertinya banyak yang Non pikirkan."
" Banyaklah Pak, gaji bapak, gaji anak-anak, klien, suami."
" Susah ya Non, jadi orang kaya? Harus memikirkan kesejahteraan anak buahnya."
" Iyalah pak, biar semuanya lancar harus ada satu kepala yang berpikir keras." Jawab Dera yang perlahan pikirannya teralihkan dari penyesalannya setelah menikahi Al.
" Pak, Bagaimana hukumnya menyesali pernikahan?"
" Ada apa Non? Ada masalah dengan Den Al?"
" Eum... Pak. Kemarin..." Kata Dera menceritakan semuanya kepada Pak Manto.
Pak Manto adalah supir pribadi Dera. Sosoknya yang tenang dan dewasa serta Sopan santun dalam berbicara selalu bisa membuat Dera menemukan solusi dalam setiap keluhan yang di bicarakan kepada pak Manto. Orang tua Dera jarang berada di rumah. Dera lebih banyak waktu bersama pengasuhnya dan juga para asisten rumah tangga sedari kecil.
" Non, jangan mudah terbakar cemburu. Ada waktu dimana apa yang kita lihat tidak sesuai fakta. Kadang sudut pandang kita mempengaruhi hasil akhirnya." Jawab Pak Manto singkat tapi penuh makna.
" Tapi pak, Setelah aku pikir-pikir dia mau menikahiku hanya karena materi. Aku mulai menyesal karena memaksakan perasaan orang lain."
__ADS_1
" Hahahaha, Non, Non belum apa apa kok sudah menyesal. Non pernah dengar pepatah waiting tresno jalaran Soko kulino? Yang artinya Cinta ada karena biasa?"
" Iya Sih pak. Artinya apa ya?" Dera masih belum terlalu faham akan falsafah yang di utarakan oleh Pak Manto.
" Ya, Cinta yang model begitu yang kehadirannya tak kita sadari. Dimana kita tidak pernah mengutarakannya tetapi sudah terpahat di hati. Kita hanya bisa merasakan dan menyadarinya saat cinta itu perlahan pergi. Sekarang, bukan waktunya untuk Non menyesali." Kata Pak Manto yang malah tersenyum. Membuat dera semakin bingung sampai mengerutkan keningnya.
" Lalu aku harus apa pak?" Tanya Dera yang seperti anak TK yang tidak mengerti apa apa perihal cinta.
" Biasakan saja." Ucap Pak Manto dengan terus fokus mengemudi.
" Pak, yang jelas dong. Aku belum paham ini." Desak dera 6ang gemas karena jawaban pak Manto terkesan bertele-tele.
" Jadi begini. Siapapun wanita yang Non curigai itu, Posisinya jauh lebih rendah daripada Non. Abaikan saja dia. Untuk pernikahan Non, Lakukan saja bagaimana baiknya sebagai seorang istri mengurusi suami. Selalu bersikap manis dan baik. Lama kelamaan tuan Al akan terbiasa dan mulai tergantung pada Non. Itulah letak cinta kalian yang mulai tumbuh tanpa di sadari." Jawab Pak Manto.
" Tapi pak, melihat dia saja aku kesal. Apalagi kalau ingat waktu dia pergi dengan wanita lain." Dera mendengus kesal dengan cemberut tetapi telinganya masih siap menampung aspirasi dan solusi dari pak Manto.
" Ya itu juga terserah Non. Ingin bertahan atau menyerah. Kalau saran Saya sih begitu. Buat dia menjadi terbiasa dengan Non biar cintanya tumbuh." Kata Pak Manto dengan tenang.
Dera terdiam memikirkan ucapan Pak Manto. Ada benarnya juga perkataan pak Manto. Bagaimanapun juga, jika sudah terbiasa maka akan merasa kehilangan jika tiada.
^^^'Aku tidak pulang Al. Urus saja kebutuhanmu sendiri. Bawa barang barang kita kembali ke apartemen.'^^^
Al yang masih mengangkat beberapa box bahan bahan makanan langsung meletakkan box dan membalas pesan Dera.
Al sedikit kesal saat dera kembali memanggilnya hanya dengan sebutan Nama seperti saat Al masih bekerja dengannya.
^^^'Apakah sopan seperti itu terhadap suamimu Dera?'^^^
Alih-alih marah karena di tegur oleh suaminya, Dera malah senang bukan kepalang karena Al menyinggung soal panggilan sayang.
Dera tidak membalas lagi pesan Al. Dirinya masih sangat kesal jika mengingat tentang hari kemarin saat pengintaian Al berjalan dan satu mobil bersama seorang wanita. Sampai-sampai Al menolak ketika Dera ingin menjemputnya.
Al ingin menghubungi dera segera setelah membalas pesan dari dera. Namun semua itu di urungkannya saat matanya melihat masih banyak kardus dan boks kayu yang menunggunya untuk segera di pindahkan.
__ADS_1
*
*
*
" Ah, lelah sekali." Al melengkuh meregangkan otot-otot bahunya yang terasa kencang dan kaku.
" Ini Aldi minumlah." Ucap Maria salah seorang dosen Aldi.
" Terimakasih Bu." Jawab Aldi yang malu-malu kemudian menerima segelas air dingin yang di berikan oleh Bu Maria.
Aldi dan Bu Maria berbincang di dalam kamar yang masih minim penerangan. Sesekali mereka tertawa bersama, dan nampak juga Aldi menggendong seorang bocah cilik berkucir kuda yang terlihat nyaman dan manja dalam gendongannya.
Tanpa Al sadari ada sepasang mata juga lensa kamera yang mengintainya. Al yang merasa tidak ada apa-apa hanya melakukan semuanya sewajarnya.
Al kemudian kembali pulang ke apartemen lalu tertidur karena lelahnya Al sampqi lupa untuk menghubungi Dera.
*
*
*
" Oh, pantas saja dia sangat acuh kepadaku. Apa yang di kumpulan anak buah Papa salah?" Dera bertanya pada dirinya sendiri.
" Anak kecil? atau jangan-jangan dia sudah menikah dan memiliki anak istri? Makanya dia tidak mau mempublikasikan pernikahan kami. Wah, apa ini artinya aku menjadi pelakor?" Cerocos Dera tiada henti setelah mendapatkan kiriman Poto dari orang suruhannya.
" Aku yang salah. Aku yang salah...." Desis Dera yang kemudian memukul-mukul dadanya dan menangis tersedu-sedu di kamar hotel tempatinya menginap.
" Seharusnya aku tidak memaksakan. Seharusnya aku melihat lebih dalam, Apa ini? Wanita yang kemarin, Apa dia benar-benar istrinya? Sejahat inikah aku merenggut seorang Ayah dari anak dan istrinya?" Dera menangis menyesali keputusannya.
Apalah yang Dera Tangisi belum tentu merupakan apa yang sesungguhnya terjadi. Asumsi dera yang berasal dari hati yang kecewa perlahan justru bisa membuat Dera hancur tak bersisa.
__ADS_1
" Tidak...., Tidak....., aku bukan wanita jahat." Desis Dera mengusap kasar air matanya dan kemudian merogoh saku jaketnya lalu meminum beberapa butir obat penenang.
Ada apa dengan obat penenang? Apakah Dera punya masa lalu yang membuatnya jatuh dan terpuruk?