In 30th.

In 30th.
50.


__ADS_3

Mayang langsung tergugup mendengar ucapan Robby yang seolah menyentilnya untuk sadar dengan posisinya sebagai istri.


" Kok sedih gitu? Aku bercanda Yang." Kata Robby sambil tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan rasa kecewa di hatinya.


Robby menghampiri Mayang lalu merangkul Mayang tepat di ketiaknya.


Ketiak Robby bertengger di leher Mayang. Dan Mayang hanya terdiam dan melihatnya.


" Tenang enggak bau kok. Aku baru aja habis mandi kan?" Cetus Robby yang meringis sambil mengajak Mayang berjalan dengan posisi yang sama.


Semoga kamu cepat menerima perasaanku ini Yang.


Mungkin apa yang terjadi dengan Mayang saat ini adalah gambaran bagaimana jika pertemanan yang lama terjalin berubah menjadi pernikahan.


Seperti saat ini.


Mayang selesai mandi dan mulai merebahkan dirinya di ranjang ukuran king size miliknya.


" Hemh, lelahnya." Mayang melengkuh dan menghirup nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya.


" Yang, Mau mi ga?" Seru Robby dari dapur dengan sedikit berteriak.


" Mi?" Mayang langsung terkesiap dan bangun lalu menuju ke dapur dengan berlari kecil.


" Eh, No no no!! jangan lari. Nanti kalau jatuh gimana?" Robby khawatir.


" Tidak akan. Aku kan jago karate." Jawab Mayang dengan entengnya sambil memamerkan barisan giginya yang putih.


" Susah emang di bilangin kalau udah ngeyel." Robby menggerutu tapi terdengar jelas.


" Kenapa belum tidur? malah bikin mi instan?" Tanya Mayang yang membolak-balik kemasan mi instan.


" Lapar Yang, banyak yang harus di selesaikan juga." Robby menunjuk meja di ruang tamu dan benar saja banyak berkas yang bertebaran di meja dan sofa.


" Banyak sekali?" Desis Mayang melihat berkas-berkas itu.


" Biasalah, namanya juga anak baru. Jadi ya..." Robby menghentikan ucapannya dan kembali fokus pada mi instan buatannya.


Mayang mendekat ke ruang tamu dan mulai mengamati berkas satu persatu.


Mayang mulai mengasah kembali skill nya saat bekerja dan mulai mengetik sesuatu di laptop Robby.


" Ga usa Yang, nanti kamu capek. Aku aja, nih kamu makan mi nya." Ujar Robby yang menyajikan mi instan di meja makan.


Robby mendekati Mayang dari belakang dan mengamati apa yang sedang Mayang kerjakan.


" Bagus, skillmu sangat mumpuni. Ga rugi aku memperistri kamu Yang." Robby memberikan pujiannya juga sekaligus mengacak rambut Mayang sambil tertawa kecil.


" Mayang gitu loh." Ucap Mayang memuji dirinya sendiri.


"By, sering-sering bawa kerjaan pulang ya. Biar aku tetap bisa mengasah kemampuanku." Kata Mayang sambil terus mengetik.


" Ya ga usah lah, kalau begitu bisa-bisa kantornya pindah kerumah Yang. Ga mau aku, aku maunya kalau dirumah ya istirahat sama anak dan istri." Kata Robby yang kemudian menutup layar leptopnya begitu saja.


" Sudahlah, ayo makan keburu dingin." Robby menarik perlahan lengan Mayang dan memberikan pelayanan terbaiknya dengan menyiapkan kursi dan sendok makan untuk Mayang.

__ADS_1


" By, kamu baik banget sama aku?" Lirih Mayang dengan wajah yang tertunduk dan tangannya mengaduk-aduk mi kuah yang ada di hadapannya.


" Harus dong, kamu kan istriku Yang. Sebelumnya juga kamu teman baik aku kan?" Jawab Robby yang entah mengapa membuat Mayang semakin sedih dan berkaca-kaca.


" Nih, makan. Keburu dingin nanti ga enak." Lagi-lagi Robby melayani Mayang dengan senang hati malah ingin menyuapinya tetapi Mayang langsung mengambil sendok dari tangan Robby.


" Aku bisa. Jangan terlalu manis nanti aku mewek." Kata Mayang dengan mata yang hampir basah.


" Hahahaha, dasar tukang mewek. Nanti anak kita pasti cengeng kayak kamu Yang. Sok keras padahal tukang mewek." Robby terkekeh.


" Diam ga?" Mayang kesal dan melempar kerupuk ke Robby.


Bukan menampik, tapi Robby justru mangap seperti sedang atraksi. Lalu memakan kerupuk yang di lempar Mayang.


Selesai makan, Mayang yang hendak mencuci piring di larang oleh Robby " Udah sana, biar aku aja." Kata Robby yang merebut mangkuk yang akan di cuci Mayang.


Mereka kembali ke ruang tamu dengan Robby yang duduk di lantai dan Mayang yang berbaring di sofa.


Layaknya mentor, Mayang terus memberikan arahan kepada Robby.


Juga, tangan Mayang siap sedia menyuapi Robby dengan buah dan camilan.


" Kamu udah ga mual lagi?" Tanya Robby mengkhawatirkan keadaan Mayang.


" Em, enggak terlalu sih. Palingan kalau bangun tidur aja sama pas bau yang ga enak." .


" Bau parfumku?" Tanya Robby yang menoleh melihat Mayang.


" Enggak, biasa aja. Suka malah." Jawab Mayang ceplas-ceplos.


Robby mengulum senyumnya atas jawaban suka dari Mayang.


" Sama aku juga. A. ..." Jawab Robby yang kemudian mangap dan minta diisi mulutnya.


" Nanti jika anakku lahir, kalau dia ada ngerepotin kamu. Kamu jangan marahin atau bentak dia ya. Bilang aja ke aku biar aku yang marahin." Kata Mayang tiba-tiba.


Biar bagaimanapun kecemasan selalu ada dalam benak Mayang mengingat jika Robby bukan Ayah biologis dari janin yang di kandungnya, bisa jadi suatu saat nanti ada perubahan perasaan atau kondisi yang membuat Robby pilih kasih atau bahkan membenci Anak yang di kandung Mayang.


" Kok ngomongnya gitu? Mayang, dengarkan aku. Semenjak aku menikahimu. Apapun yang ada pada dirimu sudah beralih seratus persen menjadi milikku dan tanggung jawabku. Jadi dia anakku juga. Kamu ngapain sih over thinking?" Kata Robby dengan ketulusan hatinya.


" Ga bagus ibu hamil banyak pikiran. Sana liat Drakor aja. Timbang malah mikir yang tidak-tidak. Liat apa kek, Lee min ho atau Taehyung gitu." Desis Robby sambil terus mengerjakan berkasnya.


Mayang mengusap air matanya yang luruh tanpa suara.


" Nak, kamu dengar Mamamu takut jika Papa tidak mencintaimu. Padahal Papa udah ga sabar pengen gendong kamu Nak." Ucap Robby yang kemudian memutar kepalanya dan berada tepat di depan perut Mayang.


" Boleh aku pegang dia?" Tanya Robby yang meminta ijin Mayang untuk sekedar mengusap perutnya.


"..." Mayang masih melow dan hanya mengangguk.


" Nak, jangan rewel Ya. Kasihan Mama Sayang. Cepat besar, baik-baik di dalam. Nanti kalau sudah keluar main sama Papa ya?" Kata Robby lagi berbicara pada janin Mayang yang sesungguhnya tidak ada kaitan darah dengan Robby tetapi dia tulus menyayanginya.


CUP!


Robby mencium lembut perut Mayang yang masih rata dan sesekali mengusap dengan sayang.

__ADS_1


" Makasih Ya By sudah mau menerima aku yang kotor ini untuk menjadi istrimu." Ucap Mayang dalam tangisnya setelah hatinya begitu bergemuruh dengan hangatnya sikap Robby.


Tangan Mayang mengusap perlahan rambut coklat milik Robby. Robby yang merasakan usapan hanya bisa bersyukur dan menahan luapan kegembiraan sambil tersenyum.


" Apapun kamu Yang. Sebab aku tau bagaimana kamu. Kamu itu baik. Tuh kan, mewek lagi." Robby menggoda Mayang.


" Tuh Sayang, jangan tiru Mama ya. Dia cengeng! kamu jangan gitu ya. Kau kayak Papa aja, tegar dan kuat." Kata Robby pada si janin sambil menepuk nepuk dadanya dan berlagak sok kuat dan tangguh.


" Apaan sih." Mayang tertawa dan mengusap air matanya. lalu duduk di sebelah Robby.


" By." Panggil Mayang.


Robby menoleh dan Mayang merentangkan tangannya lebar-lebar. Robby tersenyum kemudian memeluk Mayang dengan sayang dan hangat. Satu tangannya setia mengusap lembut memberikan kenyamanan pada ibu hamil yang emosional.


" Peluk aja, jangan anu anu."Cicit Mayang dalam pelukan Robby.


" Hahahaha!" Robby tertawa keras.


Bagaimana Mayang bisa menebak apa keinginan suaminya selanjutnya?


Tentu bisa, sebab sesuatu yang yang menonjol terlihat dari balik balutan celana hitamnya.


" Dah selesai nih. Tidur yuk!" Kata Robby.


" Ayo, aku juga sudah sangat ngantuk." Jawab Mayang Sambil menguap.


" Dih, nguapnya kayak kuda Nil." Robby meledek Mayang.


" Ih!" Mayang melirik tajam dan melemparkan bantal sofa ke arah Robby.


" Bye...!" Mayang melambai lalu menutup pintu kamarnya.


Mayang, aku mencintaimu.


Kamu istriku sekarang, tapi aku tidak mau terlalu memaksamu atau terburu-buru.


Aku ingin kamu menerimaku dengan suka rela.


Batin Robby yang memikirkan Mayang.


*


*


*


TING TUNG!!


TING TUNG!!


TING TUNG!!


" Siapa sih pagi pagi begini?" Seru Robby yang baru membuka pintu kamarnya begitu juga dengan Mayang. yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


" Ga tau." Mayang menggeleng dan mereka berdua berjalan menuju pintu untuk membukanya.

__ADS_1


Mereka terbengong sat melihat siapa yang datang...


Hayo, siapa yang datang ya??


__ADS_2