
Keheningan masih saja terasa, Dera tengah duduk sendiri menikmati indah jajaran awan yang menggantung tinggi di angkasa di temani dengan segelas orange juice kesukaannya.
Suara seseorang memecah lamunannya.
"Ehem!" Aldi berdehem membuyarkan lamunan Dera.
" Apa?" Tanya Dera yang seketika sadar dari lamunannya.
" Mbak, sampai kapan saya berdiri di sini memegang infus mbak? Kaki saya mulai pegel." Keluh Al sambil meringis menahan pegal-pegal di kakinya.
" Tahan, anggap aja ini sebagai bagian dari latihan Al, Baru juga dua jam." Ucap Dera entengnya tanpa melihat ekspresi Al yang seperti orang menahan buang hajat.
Bukan tak tahan berdiri lama, tapi memang Al sudah menahan buang hajat demi memegang infus Dera. Padahal jika di pikir di sana ada tiang penyangga infus yang tersedia. Tak lain dan tak bukan ini hanyalah akal akalan dera untuk menguji kesabaran dari Aldi yang di panggilnya sebagai Al yang menjadi Asisten pribadinya.
" Mbak, sudah Yuk. aku..., a.... aku...." Gugup Al dengan kringat dingin yang sudah menyembul dari keningnya.
" Apa?" Kata Dera cuek.
" A..." Belum sempat Aldi berucap sudah di sambung dengan suara lainnya.
" Preettttt.....!" Al terkentut menahan rasa ingin buang hajatnya.
" Al! Tidak sopan! Jorok kamu." Ketus Dera membentak Al. Dera paling anti sama yang namanya kentut orang lain. Jika ada yang kentut di sebelahnya maka dera akan merasa seperti oksigen di sekitarnya habis tersedot kedalam lubang kentut. Dan tentunya Dera enggan untuk menghirup udara. Baginya udara di sekitar gas kentut adalah racun yang mematikan. Dera bisa muntah muntah jika memaksakan.
" Ma... maaf Mbak. Sudah kebelet...!"Sahut Al yang kemudian berlari setelah sebelumnya menarik tiang penyangga infus dan menggantungkan infus pada tempatnya.
" Sana, sana yang jauh. Jangan di ruangan ini!" Usir Dera Pada Aldi yang sudah berlari dan berniat untuk membuka pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar rawat dera namun di urungkannya setelah mendengar teriakan Dera.
" Iya Mbak...!!"Al berlari kocar kacir keluar ruangan.
" Hahahaha, patuh sekali dia. Alim, tidak banyak tingkah dan juga tak banyak omong. Dia pria idaman." Puji Dera di balik senyumnya.
" Eh tapi kenapa riwayat hidupnya tidak terbaca? Tidak sesuai dengan formulir yang di isinya?" Dera meragukan Al yang dimana diam diam Dera mengutus detektif swasta untuk menyelidiki siapa Al sebenarnya.
Setelah Dera memutuskan Al sebagai targetnya, Dera tak mau ceroboh dan gegabah lagi. Dera ingin tau secara mendalam dari asal usul calonnya kini. Seperti ada yang menutupi siapa Aldi sebenarnya, semuanya hanya tampak buram.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Sayangkuh!" Ucap Mayang yang sudah masuk sambil menenteng buah tangan.
" Hai, kangen aku loh!" Sahut Dera yang tersenyum memelas.
" Gimana keadaan kamu?" Tanya Mayang yang tampak sedikit sembab.
" Aku juga kangen, pengen nongki bareng kalian. Eh, kamu habis nangis?" Tanya Dera setelah melihat wajah sembab Mayang.
" Huft! Iya, I had a bad day!" Celetuk Mayang yang kemudian menghempaskan bokongnya di sofa dengan kasar dan melepas setelan jas kerjanya.
"Apa lagi sih?" Tanya Dera yang tertarik mendengar curhatan sahabatnya.
" Laki laki itu, dia CEO baru di tempat kerjaku. Dia mengataiku, menghinaku habis habisan. Dia berfikir jika apa yang terjadi hanyalah akal akalanku Ra. Aku tidak terima Ra." Ucap Mayang yang berkeluh-kesah.
" Aku memutuskan untuk resign Ra." Ucap Mayang yang di sertai wajah frustasi.
" Apa? Kamu resign? Kenapa sampai begitu? bukannya dulu posisimu itu karena tuan Cokro sendiri yang menunjukmu?" Kata Mayang heran.
" Aku tidak tahan harga diriku di injak injak Ra. Lagian aku juga tak mungkin bisa hamil kan?" Kata Mayang putus asa dan mengulum senyum palsunya.
" Tapi May, kamu juga belum tes sendiri kan? Bisa jadi dulu itu adalah akal akalan suami kamu untuk menceraikan kamu tanpa ada kesalahan yang menempel padanya. Apa kamu tidak curiga?" Tanya Dera menelisik.
" Lalu, apa rencanamu setelah ini?" Tanya Dera.
" Aku, aku akan kembali ke kampung ibuku saja Ra. Aku akan buka bisnis kecil-kecilan di sana dan juga menenangkan diri. Kasihan juga rumah peninggalan ibu yang mulai tak terawat karena bibiku sekarang sudah ikut suaminya ke Sulawesi." Mayang kembali mendekat ke ranjang dan mengusap jari jemari Dera.
" Aku kesini ingin pamitan sama Kamu Ra." Kata Mayang.
" Kamu tidak usah pulang kampung May, kamu bisa bekerja di Mall ku."
" Tidak Ra. Terlalu susah buatku untuk menghindari tuan CEO yang menyebalkan itu. Mulutnya sungguh tajam. Dan aku juga sudah berjanji Ra, apapun yang terjadi kepadaku setelah malam itu, aku tidak akan pernah mencarinya. Dan Dia juga mengancamku, katanya aku akan di buatnya tidak di terima di perusahaan manapun." Kata Mayang mengulas lagi isi pertengkarannya dengan Akbar, lelaki yang sudah menidurinya.
" Terkecuali perusahaan milikku kan May."
"Tidak, aku akan tetap pulang kampung saja Ra. Aku ingin pensiun dini dan menjadi tuan tanah saja di kampung. Memang hasilnya tidak pasti, tapi ya aku akan berusaha Ra."
" Aku tidak bisa memaksa kamu sayang. Tapi tetap, ingat aku dan Tania. Kita akan tetap bersahabat." Ucap Dera yang ingin memeluk Mayang.
"a.... a....auh!" Keluh Dera meringis kesakitan dan akhirnya mereka tertawa bersama.
" Memang sudah mengajukan surat pengunduran diri?"
__ADS_1
" sudah, dan di sobek oleh si CEO menyebalkan itu." Ketus Mayang kesal.
" Berarti belum Fix."
" Belum Ra, tapi aku sangat ingin kembali ke kampung saja." Ungkap Mayang.
Tok!
Tok!
Tok!"
"Masuk" Dera dan Mayang bersamaan.
" Hai! Cintaku!" Seru Tania yang kini Masuk kedalam kamar rawat Dera.
" Tania?" Dera dan Mayang mengerutkan Keningnya bersamaan.
" Iya, kalian lupa ya? Kenapa, aku kelihatan cantik ya?"
Dera dan Mayang terheran melihat penampilan Tania yang memakai syal di siang bolong yang membebat lehernya dan juga kaca mata hitam di dalam ruangan.
" Buka kaca matamu" Kata Dera yang curiga terhadap penampilan Tania.
Pasalnya biasanya Tania tampil sederhana tapi kali ini tidak. Tania tampak aneh.
"....." Tania menggeleng.
"Ini buat kamu Cintaku, cepat sembuh ya."Ucap Tania sambil tersenyum manis.
Dengan cepat Dera menarik kaca mata hitam yang di kenakan oleh Tania. Dan juga terlihat sembab.
" Kamu nangis? Kenapa? Julian mukul kamu? Atau dia bawa pacarnya yang ulat bulu itu ke rumah?"Tanya Dera bersungut-sungut.
" Ada apa Tan?" Mayang mendekat dan mengangkat wajah Tania yang tertunduk dan kemudian melepaskan syal di leher Tania.
Tampak luka lecet seperti tergigit dan juga hisapan yang kelewat lama, sampai sampai perih jika di sentuh dan terlihat menghitam.
" Kamu di apain?" Tanya Mayang yang tercengang.
" Luka itu baru lagi?"Tanya Dera yang kesal sekaligus marah. Dera sangat kesal dengan sikap Tania yang terlalu mengalah dan lemah lembut terhadap Julian.
__ADS_1