
" Gimana, enak kan?" Tanya Dera yang menunggu anggukan dari Al atau sekedar jawaban YA.
" Enak sekali Sayang." Jawab Al yang terus melahap nasi dan nugget ayam yang ada di hadapannya.
" Itu aku yang goreng loh." Ucap Dera menanti
pujian lagi meski yang di maksud memasak hanyalah menggoreng nugget.
Walaupun hanya lauk dengan nugget ayam dan saus botol tetapi Al tidak mempermasalahkan hal itu. Al tau benar bagaimana sikap manja istrinya sebelum menikah dan sekarang sudah berubah. Al sangat menghargai itu. Perbincangan hangat dan sesekali diiringi gelak tawa juga usapan sayang Al kepada sang istri membuat hati Dera seperti dipenuhi oleh jutaan kupu-kupu yang menggelitiknya.
Tidak terasa satu Minggu sudah pernikahan Al dan Dera terjalin. Al sibuk dengan kuliahnya di siang hari dan dera sibuk kerja. Hanya di malam hari Dera dan Al bisa bercengkrama.
Malam ini Dera sengaja pulang cepat untuk memasak.
Ya, apalagi kalau bukan menu masakan siap santap yang tinggal di panaskan.
Menu kali ini hanyalah ayam goreng spicy yang di belinya dari mall miliknya dan juga tumis kangkung yang berbumbu dasar bawang goreng dan kaldu ayam bubuk.
" Sudah selesai, sekarang tinggal masak saja." Dera bermonolog dengan senyuman yang mengembang indah.
Dera mandi, sementara itu Julian telah sampai dan langsung menuju ke dapur sangking hausnya.
"Apa ini? Sepertinya enak." Al mengulum senyumnya dan menenggak segelas air dingin.
" Tapi, kemana dia? Hemh, aku tidak percaya jika kami berjodoh dan tinggal satu atap sekarang." Al menggeleng tak percaya dengan seulas senyum tipis di ujung bibirnya.
" Sudah pulang Ay?"
" Eh, iya." Sahut Al tersenyum manis dan menjulurkan tangannya untuk di cium Dera.
Dera mencium punggung tangan Al dengan hangat. Terselip rasa sayang dan juga rasa hormat terhadap suaminya saat melakukan rutinitas yang baru ini.
Al mengusap pucuk kepala Dera dengan sayangnya lalu mencium kening Dera.
" Ay, mandi dulu ya. Habis itu kita makan bersama."
" Iya Sayang." Jawabnya dengan mengembangkan senyum manisnya.
Dera berjalan mengekori Al dengan membawakan tas Al. Saat Al memasuki kamarnya, sudah tertata rapi baku ganti Al. Al seolah merasa sangat di sayangi. Seketika Al membalik tubuhnya dan memeluk Dera dengan sayang.
" Kenapa?" Tanya Dera yang tidak mengerti mengapa suaminya memeluknya dengan tiba-tiba.
" Terimakasih sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik ya." Kata Al singkat namun seketika membuat Dera tersipu-sipu dan bahagia tak terkira.
" Ay, jangan terlalu manis begini. Aku malu..."
" Malu?"
__ADS_1
"...." Dera mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
"Untuk apa malu? kita kan sudah menikah. Sampai saat ini aku tidak pernah menduga, dan tidak pernah mengira jika aku akan menikahi anak semata wayang bosku. Rasanya semua ini masih bukan realita." Gumam Al.
" Bilang saja, jika maksud ucapanmu itu adalah kita tidak akan menikah jika tanpa tindakan gilaku waktu itu." Dera bersecih kesal dengan menatap Al dengan tajamnya.
" Dih, sensitif sekali?" Al menggoda Dera dan menggesekkan hidung mereka.
" Bukan sayang. Apapun jalannya aku tetap bersyukur. Sebab niatku menikahimu adalah untuk beribadah bersama dan mencintaiNya bersama. Menuju surgaNya bersama." Kata Al yang membuat Dera merasa jika dirinya tidak dicintai Naum hanya semata-mata karena ibadah.
" Jadi cuma karena ibadah? Tidak karena suka atau cinta aku?" Dera merajuk dan duduk di tepi ranjang meninggalkan Al yang berdiri dengan tatapan bimbang melihatnya.
"Dengarkan aku. Jika aku tidak mencintaimu, mengapa aku mau menikah dengan kamu yang suka ngambek ini? hum," Julian berjongkok di depan Dera dan mengusap lembut tangan Dera.
" Karena Tuhanku memerintah hamba- hambaNya untuk memperlakukan istri-istrinya dengan baik. Sebab sebaik-baik lelaki ialah lelaki yang bersikap baik terhadap istri-istrinya. Jangan marah, kata istri-istrinya teruntuk para Nabi yang kuat mengemban poligami." Kata Al dengan lembut. Membuat Dera terdiam mencerna setiap ucapan Al.
" Halah, bisaan aja. Mana ada sih? semua laki-laki juga demen kalau bahas soal poligami. Kamu juga kan?" Dera mencecar Al dengan jawaban Al sendiri yang seolah berbalik menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
" Ogah Sayangku. Poligami itu berat. Harus adil dari segala segi. Harta, hati, rasa dan simpati. Lah aku mana bisa? Punya istri satu aja suka ngambekan gini, apalagi kalau dua? Bisa mati muda aku." Jawab Al yang sedikit memebuat dera bernafas lega. Setidaknya jawaban suaminya bisa di percaya yang terlihat dari sorot matanya.
" Benar?" Dera menelisik dan memastikan ucapan Suaminya.
" Demi Allah Sayang," Al meyakinkan dengan segala upaya yang ada.
" Awas kalau bohong, aku cincang anu mu!" Ancam dera yang tentunya tidak akan pernah terjadi.
" Cium" Dera memajukan bibirnya meminta sesuatu yang memang sedari tadi ingin Al berikan namun malah harus melewati banyak drama.
CUP! "sudah, aku mandi ya."
Kata Al yang kemudian memeluk dera untuk sesaat.
" Mandilah, aku tunggu di ruang makan ya Ay." Kata Dera yang kini sudah kembali ceria dan tersenyum lebar.
Memang, awalnya adalah karena tindakan nekat dera yang membuat pernikahan mereka bisa terwujud. Namun, bukan semata-mata Al tidak menaruh rasa kepada istrinya kala itu.
Dera, lelaki yang banyak di dambakan kaum Adam. Al mengetahuinya dengan pasti, sebab tak jarang juga, kala Al bertugas memata-matai Dera dirinya juga harus menyingkirkan beberapa orang yang akan memanfaatkan Dera.
Tentu saja semua itu sudah bagian dari pekerjaannya.
Tapi tak bisa dipungkiri jika Al juga menaruh rasa.
Hanya saja Al sadar diri, dia cukup tau kasta dan juga level mana yang harus di gapainya.
Dera merupakan sosok yang jauh dari dugaannya.
Tapi, jika Tuhan sudah berkehendak, siapa yang kuasa menolak?
__ADS_1
Manusia hanya bisa melakoni setiap alur yang sudah di tetapkan oleh sang pencipta.
Tidak ada negosiasi, tidak ada penolakan, tidak ada pergantian.
Itulah hal yang selalu Al tanamkan dalam dirinya. Dia pasrah akan takdir yang akan menimpanya. Tidak menampik tetapi juga terus berusaha sebaik yang dia bisa.
*
*
*
" Gimana? Enak?" Tanya Dera yang berharap banyak pada Al.
Namun raut wajah Al datar dan tidak menunjukkan sesuatu yang berbeda.
" Sini A...." Al menyuapi Dera.
" Heum, enak Ay. Tuh kan aku jago masaknya." Kata Dera dengan sumringah senyuman yang menghiasi wajahnya.
" Ya, istriku pandai memang. Semakin baik lagi ya, jangan kendur, semangat terus." Ucap Al yang sungguh memompa semangat Dera untuk terus dan rajin belajar memasak.
Dera membalikkan piringnya dan ingin makan dengan piring yang berbeda namun Al segera mencegahnya.
" Jangan Sayang, kita makan bersama sini aku suapin."
" Tapi," Dera tidak enak hati, bagaimana bisa malah dia yang disuapi, sedangkan seharusnya dialah yang melayani suaminya.
" Ay, aku bisa makan sendiri." Tolak dera secara halus.
" Sayang, aku ingin mencari banyak pahala saat kita bersama. Menyuapi kamu seperti ini sudah tak terhitung lagi berapa pahala yang aku dapat." Kata Al menjelaskan untuk apa sikap manisnya ini.
Jadilah dera menurut dan sesekali berebut dan mereka bercanda bersama sambil menikmati makanan yangs sederhana tapi sungguh hal seperti inilah yang Dera inginkan.
Tidak seperti hubungan Ayah dan ibunya yang terkesan dingin. Hingga, Dera sendiri sampai jarang memiliki waktu bersama kedua orang tuanya.
"Habis ini mau cari pahala yang setara haji dan umroh ga sayang?" Tanya Al dengan senyum yang mengembang.
" Apa itu? aku mau." Jawab Dera dengan antusias.
" Dari Adabun Nisa’ karya Abdul Malik bin Habib (Abu Marwan) Al-Qurthubi:
Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya dengan suka-rela, maka: (1) Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka; (2) memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh; (3) dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan; (4) diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga.
Dan siapa saja seorang istri yang masuk bersama suaminya dalam satu selimut, maka malaikat dari bawah 'Arsy memanggilnya, "Mulailah duluan olehmu perbuatan itu (merangsang suami): (1) Maka Allah akan mengampuni untukmu dari dosamu yang telah lalu dan yang akan datang; (2) Dan Allah akan mencatat untuknya pahala seorang yang memerdekan seratus budak; (3) Dan mencatat untuknya dari setiap sehelai rambut dengan satu kebaikan." Al menjelaskan panjang lebar mengenai hubungan yang sesungguhnya sangat dera sukai.
" Wah, Ayo Ay sekarang." Dera mengedipkan sebelah matanya setelah mendengarkan penjelasan sang Suami.
__ADS_1
" Hehehe, ya nanti aku selesaikan makan dulu." Jawab Al yang menggeleng perlahan. Baginya sangat menggemaskan tingkah istrinya ini.