
Malam berlalu.
Tania terlelap dalam pelukan Julian. Julian menghirup aroma tubuh Tania. Aroma khas green tea bercampur sweet ocean membuat Julian merasakan ketenangan.
" Permisi Pak, hanya pasien yang di perbolehkan tidur di ranjang ini." Ucap perawat yang mendapat tugas jaga untuk mengecek infus Tania.
" Tapi dia istriku." Tolak Julian yang malas berpindah tempat tidur.
" Kami tau Pak. Tapi ini sudah kebijakan. Jadi kami mohon Bapak untuk berpindah. Juga kasihan pasein yang hampir jatuh apa Bapak tidak lihat?" Sindir perawat yang kemudian menunjuk sisi tempat tidur Tania yang benar saja dia nyaris jatuh.
" Ehem," Tania berdehem dan tersenyum kecut melihat perdebatan yang terjadi.
" Ibu sudah bangun? Bagaimana Bu, apa yang ibu rasakan?" Tanya si perawat dengan pena yang siap menggores menuliskan semua keluhan pasien.
" Masih panas dingin Bu, juga tanganku sakit." Keluh Tania.
" Makanya, jangan coba-coba bunuh diri kalau masih takut sakit!" Ketus Julian tanpa rasa empati.
" Oh, pantas saja ibu mau bunuh diri. Orang bentukan suaminya sifatnya macam Dajjal begini." Lirih Perawat tanpa terdengar Julian yang sudah beranjak menjauh dari Tania.
" Kapan menantu saya bisa pulang Sus?" Tanya Ibu Yuli yang baru saja datang di tengah malam.
" Sekitar dua hari lagi Bu. Karena, kami masih memantau urat nadinya yang mendapat operasi kemarin untuk kembali tersambung secara baik." Ucap perawat menjelaskan.
" Apa urat nadi?" Tanya Ibu Yuli yang tersentak kaget.
Lagi lagi Tania hanya bisa menunduk sedangkan Julian menelan ludahnya kasar. Tidak ada yang lebih mengerikan di bandingkan dengan amukan ibunya. Julian sangat takut jika ibunya mengamuk.
" Tapi dari yang saya tau menantu saya sakit DBD sus." Kata Ibu Yuli.
" Awalnya iya Bu. Bu Tania kemari dengan demam tinggi dan pembuluh darah di tubuhnya sudah mulai ada yang pecah hingga beliau mimisan dan hilang kesadaran saat beliau datang seorang diri. Tapi setelah kami rawat malah beliau berusaha untuk mengakhiri hidupnya dengan...." Kata Perawat yang terpotong karena ibu Yuli sudah mengangkat tangannya dan mengangguk.
" Julian! ikut Ibu!" Kata ibu Yuli dingin dan tegas lalu keluar dari ruang rawat Inap Tania.
Ibu Yuli berjalan dengan langkah lebarnya menuju kedalam kendaraan mewahnya. Julian seketika mengikuti ibu Yuli.
Sesampainya di dalam mobil.
__ADS_1
" Ini, baca dan tanda tangani!" Ucap ibu Yuli datar.
Julian dengan takut membuka dokumen yang di berikan oleh ibu Yuli. Dengan perlahan dan teliti Julian membacanya.
" Aku tidak mau!" Tegas tutur Julian.
" Atas hak apa kamu tidak mau? Semua bukti sudah mengarah padamu. Kekerasan perselingkuhan."
" Ibu tidak bisa lagi mengubur hati nurani ibu melihat seorang wanita yang menjunjung tinggi arti ikatan pernikahan selalu mendapat siksaan dari kamu. Anakku sendiri yang bejat!!" Ucap Ibu Yuli.
Julian tergelak tidak percaya. Sejak kapan ibunya tau. apa Tania yang mengadukan semua ini?
" Apa Tania yang bilang bu?" Tanya Julian yang geram akan dokumen yang berisikan surat gugatan cerai juga serta foto-foto perselingkuhannya bersama Angel juga rekaman kekerasan yang pernah dia lakukan kepada Tania.
" Tidak, bukan dia. Dia bukan seperti kamu kamu Julian. Dia selalu menutup rapat aroma busukmu agar tidak terendus. Tapi ibulah yang mengutus seseorang." Ucap Ibu Yuli jujur.
Julian terperanjat tidak percaya.
"Tanda tangani atau akan ibu tarik semua asetmu!" Ucap Ibu Yuli.
Di dalam dokumen itu juga di tuliskan pembagian harta gono-gini antara Julian dan Tania. Dimana sudah terdata dua rumah dan 4 mobil tercatat semenjak tanggal mereka menikah yang sudah tentu akan di bagi dua dan merata.
" Tidak! Sudah cukup kamu menyiksa dia.selama ini. 6 bulan dan kamu menyiksa wanita yang berbakti padamu? Tidak tidak akan ibu biarkan kamu merampas hak dan kebebasan orang lain."
" Ceraikan dia, atau kamu menjadi gembel!" Ancam Ibu Yuli secara terbuka dan tegas.
Perlahan tinta mulai menggores membentuk pola tanda tangan. Ibu Yuli merasa lega tetapi juga sekaligus kehilangan Tania sebagai menantu sekaligus anaknya. Tetapi setidaknya dia sudah menyelamatkan satu nyawa dari penindasan.
" Selama ini ibu berbakti kepada negara, selalu menindak orang-orang yang jahat. Tetapi ibu sendiri tidak bisa menindak tegas anak ibu yang melakukan tindakan memalukan. Jangan pernah kamu usik hidup Tania lagi. Biarkan dia bahagia dan bebas." Ucap Ibu Yuli yang kemudian pergi keluar dari mobil meninggalkan Julian.
*
*
*
Satu Minggu semenjak kejadian.
__ADS_1
" Bu, Mas Julian dinas kemana?" Tanya Tania sembari memakan sandwich.
" Di luar kota. Nanti juga dia pulang." Ucap Ibu Yuli yang masih menikmati sarapan bersama Tania.
" Tania, ibu punya hadiah untuk kamu. Ibu yakin kamu pasti senang akan hadiah ini. Tapi, ibu harap walaupun nanti kamu sudah tau isi hadiah ini, tetaplah jadi anak ibu ya? Ibu kesepian." Ucap ibu Yuli dengan raut wajah yang sedih.
" Bu, selama aku masih menjadi istri Mas Julian. Selama itu aku akan tetap menjadi anak ibu." Jawab Tania yang belum mengerti arah pembicaraan ibu Yuli.
" Bukalah kalau ibu sudah berangkat Ya." Ucap Ibu Yuli yang kemudian menepuk pundak Tania lembut lalu tersenyum.
Di bukanya perlahan map coklat itu. Rupanya sebuah surat gugatan cerai. Tania menangis, antara sedih dan senang dia tidak percaya akan apa yang ada di tangannya saat ini. Sesuatu yang mustahil baginya kini sudah di depan mata.
"Bagaimana bisa? Siapa yang mengurusnya? Apa ibu yang mengajukan permohonan?" Lirih Tania dalam tangisnya.
"Ibu, harus dengan apa aku membalas kebaikanmu. Kamu ibu mertuaku tetapi kamu sangat menyayangiku seperti ibu kandungku." Desis Tania yang menangis pilu sendirian di ruang makan.
Tania semenjak pulang dari rumah sakit, dia di tempatkan di rumah yang berada tepat di samping kediaman ibu Yuli. Ibu Yuli sengaja memilihkan aset sebuah rumah yang dekat dengannya agar Tania selalu dapat di pantaunya. Ibu Yuli tidak mau jika putranya kembali berbuat kasar kepada Tania.
Untuk kepengurusan surat cerai, tentu itu adalah hal yang mudah bagi ibu Yuli mengingat pengaruh dan juga jabatanya yang disegani banyak orang dalam bidang hukum dan kepolisian.
Antara sedih dan senang. Tania menangis memeluk surat perceraian. Akhirnya dia terlepas.
Akhirnya dia bebas.
Tapi ada juga rasa sedih di hatinya saat dia memikirkan statusnya yang kini menjadi seorang janda.
Jika aku sudah bercerai dengan Julian, Apakah itu sudah lebih baik?
Tidak! Ibuku pasti akan menikahkanmu dengan orang yang lebih lagi.
Dia pasti akan menjodohkan ku lagi dan hanya akan mengeruk keuntungan dariku.
Ibu tidakkah mata hatimu itu tergerak melihatku tersakiti?
Aku putrimu ibu, aku putrimu!
Tapi mengapa kau jadikan aku sumber penghasilan?
__ADS_1
Kenapa ibu? Kenapa?