In 30th.

In 30th.
22


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Al dan Dera saling diam dan tak banyak berkomunikasi. Tetapi tetap saja demi menjaga perasaan kedua orang tuanya Dera berusaha bersikap normal dan biasa saja.


Seperti pagi ini, sesuai dengan keinginan Tuan Dewa, jika Al akan mulai masuk di bangku kuliahnya untuk mengejar gelarnya. Tentu saja hal ini yang menjadi sebab mengapa tuan Dewa setuju atas pernikahan diam-diam yang di jalani putrinya.


Al mengajukan syarat jika dia mau menikah asalkan di rahasiakan. Al hanya tidak mau dengan dirinya yang belum selesai kuliah dan tidak memilki gelar maka akan menambah berat bebannya untuk setara dengan sang istri.


Al ingin di pandang atas usahanya sendiri. "Untuk ke kampus bareng aku saja sekalian Al" Kata Dera yang tengah sibuk membenarkan riasannya.


" Sama suami itu yang sopan. Manggil suami seperti manggil adikmu saja. Panggil yang sopan dan penuh sayang." Ketus Tuan Dewa yang menatap serius Wajah Dera, putrinya.


" Iya Ayah." Sahut Dera lembut.


" Ayo Beb, kita berangkat." Kata Al yang mengulurkan tangannya untuk menggandeng Dera.


" Iya." Jawab Dera yang memberikan tangannya dan kemudian tersenyum simpul.


Al dan Dera berpamitan dan berangkat bersama.


Di dalam mobil.


" Maaf untuk tadi pagi. Maaf sudah membuatmu kecewa." Ucap Dera sungguh-sungguh dengan rasa sedih yang mendalam.


" Sudah jangan di bahas lagi. Aku yang salah, ini di kota bukan di desa. Seharusnya pola pikirku juga berubah." Ucap Al membalas.


" Al, Apakah sebegitu pentingnya aku perawan atau tidak?" Tanya Dera sambil melihat Al dan memperlambat laju kendaraannya.


" Tentu, meski bagimu mungkin itu tidak berharga. Tapi bagiku itu sungguh istimewa. Tenang saja aku tidak akan memperpanjang Maslah ini. Aku hanya butuh waktu untuk menerima keadaanmu yang satu ini." Kata Al dengan datar.


" Al..." Panggil Dera lagi.


" Sudahlah mbak Dera tidak usah kita bahas lagi. Tidak ada gunanya. Aku hanya perlu menenangkan hatiku yang kecewa." Tandas Al yang terus saja berbicara tanpa melihat wajah Dera.


" Mau kecewa atau apapun itu, aku yakin kamu tau agama. Kamu tau bagaimana cara yang layak untuk memperlakukan seorang istri."


" Ya aku tau itu. Maka diamlah!" Ketus Al yang benar-benar malas membahas masalah yang membuatnya kecewa berat.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan hingga mereka sampai di depan kampus Al.


" Disini kampusmu sayang? Tidak ingin pindah ke kampus lain?" Tanya Dera setelah melihat kampus Al yang hanya kampus Negri.


" Ini semua sudah lebih dari cukup buatku mbak."


" Sayang, bisakah mulutmu berhenti memanggilku Mbak. Aku merasa sangat tua disini!" Ucap Dera yang kesal lalu menajamkan lirikan matanya.


"Ok" jawabnya. Al kemudian mengulurkan tangannya di hadapan Dera.


" Oh iya." Gumam Dera dan kemudian mengambil dompet dan memberikan beberapa lembar uang di tangan Al yang menengadah.

__ADS_1


" Ini." Kata Dera yang memberikan sejumlah uang untuk Al.


" Baby, aku hanya minta kamu mencium tanganku. Bukan aku meminta uang saku." Tolak Al yang juga mengembalikan uang kertas itu.


" O...oh..., Maaf." Sergah Dera yang clingukan.


" Assalamualaikum! Beb. Aku masuk dulu ya." Ucap Al berpamitan dan diiringi dengan kecupan lembut di kening Dera.


Deg!


Dera terperanjat, Darahnya kembali berdesir dan seperti ada kupu-kupu yang menggelitik hatinya. Pipi Dera merona dan menundukkan wajahnya. Dera masih tak percaya sikap Al bisa kembali hangat setelah mereka perang dingin tadi pagi.


" Jawab Beb, kenapa diam saja?" Al menunggu jawaban dari Dera yang masih asik dengan halusinasinya.


Al menepuk pundak Dera.


" Wa... waalaikumusalam." Jawab Dera dengan rasa canggung sampai-sampai matanya tidak berani menatap Al.


Apa-apaan aku ini seperti anak remaja saja yang malu malu kucing.


Kenapa harus malu. Dia suamiku kan?


"Apa kamu sudah tidak marah lagi?" Tanya Dera yang penuh harap.


Dera berharap agar suaminya tidak marah lagi padanya.


" Oh, jadi karena kewajiban. Bukan karena perasaan." Gumam Dera yang menyesal karena banyak berharap.


*


*


*


Seharian Dera bekerja dan terus membolak-balik ponselnya. Lagi lagi dia merasa jenuh menunggu pesan atau panggilan dari suaminya. Tapi tidak ada sama sekali. Hanya harapan kosong semata.


"Apa aku harus memata-matai suamiku sendiri? Kami belum terlalu dekat dan aku terkesan memaksa perasaannya. Tapi tadi pagi dia bersikap Hangat dan baik."


"Argghh!! Sial kenapa aku jadi bego gini sih? Jangan-jangan dia punya pacar di kampus. Oh No!! Tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali aku." Desis Dera yang kemudian beranjak dan menyambar kunci mobilnya.


Pikiran Dera tetap saja tertuju pada satu titik. SUAMIKU. tidak ada yang lain. Dera sampai melupakan makan siangnya. Dera sampai di kampus Al dan menghubungi Al.


* "*Hallo. Al."


"Iya."


" Jam berapa pulang?"

__ADS_1


" Em, aku pulang sore. Tidak usah di jemput. Aku naik taksi saja."


" Kenapa? aku bisa kok jemput kamu. Kerjaanku udah selesai."


" Tidak usah, nanti aku masih ada urusan dengan anak-anak mau berkunjung ke panti."


" Anak-anak? Panti?"


" Maksudku Teman teman aku. Dan kami akan ada acara bakti sosial dan mengumpulkan sumbangan dan membagikannya ke panti."


"Oh, ya sudah Hati-hati Ya*." Dera menutup panggilannya.


" Hemhhh,, Aku curiga kenapa dia melarang ku untuk menjemputnya? Atau, Jangan-jangan dia...?"


"Oke, akan aku awasi kamu." Gumam Dera yang kemudian menggelung rambutnya dan memasukkannya kedalam topi lalu memakai kaca mata hitam mengawasi Al dari balik pepohonan.


Banyak semut dan nyamuk yang menggigitnya. Tapi, Dera tidak menyerah sama sekali tetap saja di pantainya Al dari gerbang depan kampus.


Dua jam berlalu akhirnya Al keluar bersama seorang wanita yang jauh di atasnya tetapi masih terlihat sangat cantik. Dera geram dan mengepal. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana.


" Pantas saja dia tidak mau aku jemput, ternyata dia pergi dengan wanita itu." Geram Dera yang terbakar cemburu.


" Alasan ada acara bakti sosial. Bakti apanya? Enak-enakan pergi sama wanita lain. Lihat saja akan aku balas!" Geram Dera yang pergi begitu saja tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.


*


*


*


Malam hari.


Al datang dan membuka pintu kamar perlahan. Dia takut jika kedatangannya akan mengganggu tidur Dera. Al melepaskan semua pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi dengan bertelanjang dada.


Dera yang belum tertidur sebenarnya mendengar kedatangan Al. Namun karena rasa kecewa di dalam hatinya membuat dera memutuskan untuk berpura-pura tidur agar tidak banyak bertegur sapa dengan Al.


Terdengar pintu kamar mandi terbuka dan Dera kembali melanjutkan aksinya.


" Dia sudah tidur rupanya." Al mengusap lembut pucuk kepala Dera.


Dera berpura-pura menggeliat sebenarnya hanya tidak ingin jika Al menyentuhnya. Rasa cemburu di hati dera membuat dera benci mendapatkan sentuhan dari suaminya.


" Hhhh, Lelahnya. Hemmh...!" Al menghela nafas panjang dan menghembuskannya sambil terus mengusap lembut pucuk kepala Dera.


" Selamat tidur istriku. I love you." Al mengecup bibir Dera sekilas dan kemudian dia merebahkan dirinya di samping Dera.


Modus saja biar tidak terendus kalau di luaran punya peliharaan. Batin Dera murka.

__ADS_1


Kalau ini tidak ada Ayah dan Bunda, sudah aku lempar kamu ke rawa-rawa Al!!


__ADS_2