
" Lepaskan!" Seru Tania memberontak ingin terlepas dari pelukan Julian.
" Tidak! Apa kamu mau menjadi istri durhaka? Menurutlah, Tania. Membahagiakan hati suami itu banyak pahalanya." Ucap Julian yang menggunakan dalil agama dalam mencari keuntungan. Julian tersenyum tipis setelah mengatakannya.
" Lepaskan!" Teriak seseorang dengan lantang dari belakang mereka.
" Ibu?!" Seru Julian yang terperanjat melihat ibunya sudah berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang merah.
" Lepaskan kataku!" bentak ibu Yuli kepada Julian yang masih memeluk erat tubuh istrinya.
" Kenapa bu? dia istriku sendiri.". Kata Julian membela dirinya.
" Dasar kamu anak kurang ajar! ku sudah berjanji pada ibu kemarin kan? Kamu bilang tidak akan menyakiti istrimu lagi. Tapi ini apa?" Kata ibu Yuli yang sudah mengoceh sambil memukuli tubuh Julian dengan gulungan berkas yang di bawanya dari pengadilan agama.
" Aku tidak menyakitinya Bu, aku hanya memeluknya. Auh...!" Kata Julian yang tak kalah ngeyel.
Sementara perdebatan ibu dan anak sedang berlangsung, Tania malah seperti sekat pemisah diantara keduanya. Tubuh Tania ikut tertarik kesana kemari karena Julian bersembunyi di belakangnya.
" Ibu hentikan, aku tidak apa-apa. Dia hanya memelukku. Aku hanya tidak suka saat dia memelukku." Kata Tania yang terdengar sedikit tegas dan membuat keduanya berhenti.
" Apa?" Ibu Yuli tidak percaya mendengar Tania yang seolah membela Julian.
"Kamu membela anak kurang ajar ini?" Sentak ibu Yuli yang tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Tania.
Julian tersenyum senang mendengar apa yang di ucapkan Tania. Julian menjadi semakin percaya diri jika Tania pasti akan memberikan kesempatan kedua untuknya.
"Tidak." Tania menggeleng.
Julian kembali menjadi lesu mendengar jawaban dari mulut Tania.
" Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya ibu. Aku tidak suka jika putramu menyentuhku. Aku takut padanya ibu." Ucap Tania jujur.
Tangan Julian yang masih melilit di pinggang Tania perlahan mulai merenggang dan terlepas setelah Tania berkata jika dia merasa ketakutan akan tindakan Julian.
" Kamu dengar itu julian?" Ibu Yuli mendelik menatap Julian.
__ADS_1
Ibu Yuli mengacak rambutnya yang pendek dan menyurainya dengan jarinya lalu berjalan menuju sofa dan duduk dengan gusarnya.
" Kemarilah kalian, aku ingin bicara sekarang." Ujar ibu Yuli yang saat ini mulai merasakan denyutan di kepalanya.
Tania dan Julian saling tatap sekilas dan kemudian menghampiri ibu Yuli dan mereka duduk bersama.
" Apa maumu Julian?" Tanya ibu Yuli tanpa basa-basi. Wajahnya terlihat tegas dan garang.
" Aku tetap ingin membina rumah tangga dengannya ibu. Aku tidak ingin bercerai atau berpisah lagi dengan dia. Cukuplah aku menikah sekali seumur hidupku." Kata Julian yang entah dari mana mendapatkan kata-kata sakti itu.
" Lalu kamu Tania, apa maumu?" Telisik ibu Yuli yang kini beralih melihat Tania yang tertunduk dengan pipi yang sudah basah di aliri air mata.
" Aku tetap ingin bercerai Bu. Aku tetap ingin melayangkan gugatan. Benar dia sudah mencabutnya. Tapi aku pasti akan mengajukan permohonan lagi. Aku cukup tau diri Bu." Kata Tania terpotong karena Isak tangisnya.
" Kami menikah bukan karena cinta. Dan karena aku juga Mas Julian sampai berpisah dengan Angel. Disini, akulah yang bersalah Bu. Kedatanganku menghancurkan kebahagiaan orang lain. Aku harap dengan aku bercerai dari Mas Julian, hidupnya akan lebih bahagia. Aku berjanji Bu. aku akan tetap mengembalikan uang yang pernah ibuku minta dari Mas Julian. Aku juga berjanji akan pergi sejauh mungkin dari jangkauan pandangannya." Kata Tania.
Mengapa dadaku terasa sesak saat mengatakan hal ini?
Ibu Yuli mengangguk beberapa kali dan kemudian beralih lagi melihat Julian yang menatap dalam Tania.
" Iya Bu. Tapi aku tetap tidak mau bercerai! Selamanya, dia akan tetap menjadi istriku, Selama aku hidup. TITIK!" Tungkas Julian yang elot dan pantang mundur.
" Mas, kita tidak ada kecocokan. Kamu tidak mencintaiku Mas. Aku tidak mau selamanya berada di antara kalian berdua. Aku tidak mau menjadi wanita yang merebut kebahagiaan dari wanita lain." Kata Tania yang sesenggukan menahan tangisnya.
" Angel sudah bukan apa-apa bagiku." Ucap Julian dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
" Hhhh... kalian ini." Ibu Yuli memijat pelipisnya mencari ide baru untuk memecahkan masalah anaknya.
" Apa kalian tau, jika mendayung hanya dengan satu sisi hanya membuat kalian terus berputar di tempat yang sama?" Tanya Ibu Yuli menggunakan majas metafora.
Tania dan Julian mengangguk secara bersamaan. Maksud dari ibu Yuli adalah, Bahtera mereka tidak akan pernah sampai pada tujuan jika hanya satu sisi yang berusaha. Dalam hal ini hanya Julian yang berniat mempertahankan sementara Tania sudah lebih memilih untuk pergi.
" Ini pemikiran ibu. Kalian harus pisah ranjang maksimal selama 3 bulan. Jika dalam tiga bulan kalian sudah saling mengerti akan titik kekurangan masing masing-masing, maka apapun itu keputusan kalian ibu tidak akan ikut campur." Kata ibu Yuli yang di sambut baik oleh Julian.
Entah apa yang berada di dalam kepala Julian. Tetapi, dia terlihat senang saat ibu Yuli mengatakan pisah ranjang. Berbeda untuk Tania, dia terlihat lesu dan murung.
__ADS_1
"Baik aku terima." Kata Julian dengan mantap dan yakin.
" Kamu Tania?" Tanya ibu Yuli pada Tania yang hanya terlihat datar tanpa ekspresi.
" Baiklah." Jawa Tania dengan pasrah.
" Baik. Kita sudah mengambil keputusan bersama. Ibu harap selama tiga bulan ini kalian bisa saling introspeksi diri. Dan, untuk kamu Julian. Jangan pernah datang karin tanpa ijin dari Ibu."
" Tapi Bu."
" Tidak ada tapi. Namanya juga pisah ranjang. Jika kalian memutuskan berbaikan tidak bisa hanya dari satu pihak. Harus dari keduanya. Jadi jangan pernah merusak kesepakatan ini. Jika salah satu dari kalian ingin bertemu atau mengatakan sesuatu, sertakan ibu di dalamnya." Ujar Ibu Yuli.
" Julian, sekarang kita pulang." Kata ibu Yuli yang sudah berdiri dari duduknya dan merapikan bajunya.
Julian hanya menuruti perkataan ibunya dengan tatapan yang tak rela meninggalkan Tania. Sementara Tania menyeka air matanya yang mulai berhenti berderai.
Tok!
Tok!
Tok!
" Iya!" Seru Tania yang beranjak dan kemudian mengekori Ibu Yuli dan Julian yang akan keluar dari rumahnya.
Tania membukakan pintu dan seorang pria berdiri tepat di depan pintu membawa bunga dan juga buah buahan sebagai buah tangan. Tatapannya teduh dan menenangkan melihat Tania dengan lembut dan penuh kasih.
Tetapi tidak dengan Julian yang sudah ingin melayangkan tinjunya kepada pria yang baru datang itu. Tatapannya saling beradu dan mengirimkan sinyal permusuhan yang teramat dalam.
Ingin rasanya Julian menghabisi laki laki itu sekarang juga tapi apa yang bisa di lakukannya?
" Hai, masuklah." Kata Tania menawari.
" Jangan ajak laki laki lain masuk kalau tidak ada suamimu di rumah." Ucap Julian dengan sinis dan kemarahan yang nyata.
" Kita berbincang di teras saja."Ucap si lelaki itu seolah menguji tingkat kecemburuan Julian.
__ADS_1
Kita mulai pertarungan kita. Batin si pria yang bertamu.