
Tania membukakan pintu dan seorang pria berdiri tepat di depan pintu membawa bunga dan juga buah buahan sebagai buah tangan. Tatapannya teduh dan menenangkan melihat Tania dengan lembut dan penuh kasih.
Tetapi tidak dengan Julian yang sudah ingin melayangkan tinjunya kepada pria yang baru datang itu. Tatapannya saling beradu dan mengirimkan sinyal permusuhan yang teramat dalam.
Ingin rasanya Julian menghabisi laki laki itu sekarang juga tapi apa yang bisa di lakukannya?
" Hai, masuklah." Kata Tania menawari.
" Jangan ajak laki laki lain masuk kalau tidak ada suamimu di rumah." Ucap Julian dengan sinis dan kemarahan yang nyata.
" Kita berbincang di teras saja."Ucap si lelaki itu seolah menguji tingkat kecemburuan Julian.
Kita mulai pertarungan kita. Batin si pria yang bertamu.
Semenjak malam itu, Harry bukannya mundur untuk mendekati Tania, dia semakin gencar.
Seperti hari ini, saat Tania tengah sibuk berkemas setelah selesai pemotretan suatu busana. Harry dengan sengaja datang menjemputnya.
Bukanya merasa senang, Tania merasa sedikit risih akan tindakan Harry. Banyak dari tim penata rias dan juga fotografer yang mengira jika Harry adalah suami Tania. Melihat Harry yang memperlakukan Tania dengan manisnya.
" Mbak, Dapat suami yang seperti itu di mana? Kalau ada saudaranya yang masih singel mau aku mbak." Celetuk asisten sang fotografer sambil tersipu malu berbicara dengan Tania.
" Dia bukan suamiku. Kami hanya berteman." Jawab Tania sambil menggeleng tak percaya, baru sebentar Harry berada di sana tetapi sudah mampu memikat banyak wanita.
"Oh, teman. Boleh kenalkan mbak? Dia tampan, manis dan santun sekali. Oh, sungguh suami idaman." Si asisten fotografer mengulum senyumnya dengan angannya yang membumbung tinggi membayangkan Harry sedang tersenyum padanya.
Tania membalas senyum manis Harry lalu sedikit membungkukkan badannya seolah memberikan salam. Harry mendekat dengan langkahnya yang terlihat bak model papan atas.
" Sudah?" Tanya Harry dengan senyum manisnya yang tak pernah ketinggalan untuk Tania.
" Iya." Jawab Tania yang kemudian berdiri dan segera mengangkat tas ranselnya tetapi Harry terlebih dahulu mengangkatnya dan juga tas bahu selempang milik Tania pun dibawakannya.
" Eh tidak usah Harry, ibu bisa membawanya." Tania menolak secara halus dan merasa tidak enak hati dengan sikap Harry yang baginya sedikit berlebihan untuk hubungan guru dan murid.
Harry mengabaikan penolakan Tania dan berjalan begitu saja mendahului Tania seolah telinganya tuli terhadap segala bentuk penolakan.
Harry mengajak Tania untuk makan malam. Tidak di tempat mewah, pilihan Tania jatuh di tenda bebek goreng di tepi jalan.
Bagi Harry yang sudah biasa merasa terlantar diantara keluarga yang terbilang kaya raya, makan di pinggir jalan sudah sangatlah nikmat baginya. Semenjak Ayah dan ibunya bercerai, tidak ada lagi perhatian akan kesehatan anaknya. Ibunya sibuk membanting tulang dan Ayahnya sibuk mengurusi istri barunya. Sungguh masa kelam yang tak mampu Harry lupakan.
" Bebek gorengnya mas, 2 ya. Minumnya es jeruk." Harry memesan kepada mas mas penjual.
" Ibu jadi ingat bagaimana dulu kita duduk disini bersama setelah kamu ingin menemui malaikat maut dengan melompat dari atap gedung." Ucap Tania yang mengulas masa lalu bagaimana awal kedekatan mereka.
" Iya. Tapi kalau aku tidak nekat waktu itu. Mungkin sekarang kita tidak akan sedekat ini." Sahut Harry dengan wajah yang berbinar senang bercampur malu mengingat masa itu.
Betapa Harry malu akan kebodohannya sendiri sampai ingin bunuh diri.
" Bisakah, kamu berhenti membahasakan ibu untuk panggilanmu? Aku merasa seperti anak kecil disini." Protes Harry yang tak suka Tania selalu membahasakan dirinya sebagai ibu guru.
" Oh ya? Lalu apa? Bukankah aku memang ibu gurumu dulu?" Tania sengaja meledek Harry yang terlihat ingin mengerucutkan bibirnya.
Bagi Tania Harry tetaplah anak muridnya. Walaupun Harry Sekarang sudah bertumbuh menjadi pemuda yang gagah dan mapan.
" Itu dulu, sekarang kita teman." Harry berdecak kesal dan membuang pandangan, tak lagi menatap wajah Tania.
" Cie... anak ibu ngambek." Tania meledek Harry yang terlihat kesal, baginya sangat menggemaskan.
" Ih...!" Harry lagi lagi berdecak kesal setelah mendengar ledekan Tania.
__ADS_1
" Sudah sudah jangan marah, panggil aku Kakak. Aku janji ga akan ledekin kamu lagi Harry." Ucap Tania yang kemudian tersenyum manis menatap lekat wajah Harry. Dengan tangannya yang membentuk huruf V.
Apa kupingku salah dengar? Dia memanggilku dengan sebutan kamu. Aku, kamu?
Wah, ini kemajuan yang pesat. Baiklah aku selangkah lebih dekat, Jaarak usia kita bukanlah masalah yang besar. Harry bersenang-senang dengan batinnya sendiri.
" Cih, Seorang Harry pengusaha kaya raya yang mengurusi warisan bisnis Ayahnya, hanya mampu makan di pinggir jalan?" Julian berdecih di samping Tania seolah jijik melihat keduanya makan di tempat yang baginya bukan levelnya.
Raut wajah Tania yang tadinya berbinar senang dan hangat saat berbincang dengan Harry kini seolah padam dan menghitam. Tania sungguh tidak senang bahkan hanya dengan mendengarkan suara Julian. Apalagi setelah dia mengetahui fakta sesungguhnya dari Dera. Jika Julian mendekatinya karena sedang ada masalah dengan Angel.
Tidak menutup kemungkinan Angel akan kembali dan Julian akan membuangnya lagi. Tania harus lebih tegas kali ini.
Tania dan Harry keduanya sangat tidak suka dengan kehadiran Julian. Harry mengepalkan tangannya di atas meja dan hampir saja dia berdiri untuk meladeni sikap menyebalkan Julian yang sengaja mencari keributan.
Tetapi,
Tania yang membaca perubahan raut wajah dan mood Harry dengan segera melepas sandalnya yang berada di bawah meja lalu kedua telapak kakinya menangkap satu kaki Harry. Tania menatap lekat kedua manik Harry seolah berbicara kepada Harry untuk tidak tersulut emosi.
Merasa kakinya disentuh Tania, wanita yang di gilainya, membuat emosi Harry cepat meredam. Dia tak lagi meradang dan tangannya sudah tak mengepal lagi.
"Bukan karena makanannya atau tempatnya. Tapi bagiku ada kenangan indah di dalamnya adalah lebih nikmat daripada sekedar makanan mahal." Sahut Harry dengan santainya juga tersungging senyuman manis yang sengaja di lemparkannya untuk Tania yang ada di hadapannya.
" Misi Mas, makanannya datang." Pelayan datang menyajikan.
Harry dan Tania mengabaikan keberadaan Julian yang masih berdiri di samping Tania.
" Ayo di makan." Harry menyuirkan Bebek goreng milik Tania dengan sesekali tangannya merasa kepanasan karena bebek itu baru saja selesai digoreng.
" Cih, sok perhatian." Julian berdecih dan duduk di sebelah Tania.
" Aku bisa membantu istriku. Awas!!" Julian menepuk punggung tangan Harry dengan keras lalu merebut piring Tania dari hadapan Harry.
Tania hanya bingung melihat tingkah keduanya yang kekanakan.
" Mau makan saja ribut!" Keluh Tania yang tanpa sadar mengomel sambil menaikkan kakinya kebangku tempatnya duduk lalu makan dengan cueknya membuat kedua pria tadi melongo tak percaya. Pasalnya Tania sekarang sudah seperti mamang angkot yang sedang makan dengan satu kaki di atas bangku.
Its ok! Calon ibu dari anak-anakku tetap cantik. Batin Julian.
What's? why I can fall in love with you? Why?? Batin Julian bertanya-tanya tak percaya dengan kelakuan abstrak Tania yang tak pernah di tqmpakkanya.
Atau Julian memang tak pernah tau karena terlalu sibuk dengan Angel si wanita ulat bulu? Entahlah tetapi sekarang kedua lelaki itu masih melongo tak percaya.
Julian menelan ludah melihat Tania makan dengan lahapnya. Tania menyadarinya dan memberikan secuil bebek gorengnya untuk Julian.
" Mau?" Tania memberikannya.
Alih-alih memeganya, Julian malah langsung membuka mulutnya dan nampaklah seperti Tania sedang menyuapinya.
Julian merasakan takjub akan rasa yang tak pernah di rasanya selama ini. Sungguh kriuk yang special berpadu dengan bumbu yang sempurna membuat Julian ingin memesan satu porsi yang sama.
" Mas, satu ya. Yang sama seperti ini!" Seru Julian yang tanpa gengsi setelah sebelumnya menghina makanan yang ternyata sangat enak ini.
" Uhuk...Uhuk....!" Tania dan Harry tersedak bersamaan mendengar suara Julian memesan bebek goreng.
" Kamu dengar itu?" Celetuk Harry tiba-tiba sambil mengunyah makanannya dan menatap wajah Tania sengaja mengajaknya berinteraksi.
" Hum?" Tania tidak mengerti arah pembicaraan Harry karena terlalu fokus dengan makanannya dan juga perutnya yang lapar.
" Kalau banyak menghina biasanya jatuh cinta. Kalau banyak mencaci biasanya jadi simpati,Kalau terlalu benci nantinya pasti cinta mati."Kata Harry yang sengaja menyindir Julian yang sesaat lalu menghina makanan mereka.
__ADS_1
" O? Oh.... iya. Di fisika juga ada kan? Tekanan \= Gaya. Jadi kalau hidupmu banyak gaya sudah pasti banyak tekanan." Tandas Tania yang terasa pedas saat menyindir Julian. Tania menahan tawanya saat berucap membuat Julian menautkan alisnya dan berdecak kesal.
Tak lama pesanannya datang. Tak butuh waktu lama, Julian lalu melahapnya dengan cepat tanpa suara seolah semua konsentrasi hanya berpusat pada si bebek goreng dan sambelnya yang khas.
Tania tidak menggubris Julian dan kemudian berdiri untuk pulang diantar oleh Harry.
" Aku duluan ya Mas." Kata Tania yang niatnya ingin berpamitan.
" Apa sayang?" Sengaja Julian menekankan kata SAYANG dengan intonasi yang tinggi sampai terlihat kekesalan di wajah Harry.
" Aku duluan!" Tania mengulang tanpa melihat wajah Julian.
" Turunkan tas istriku, biar aku SUAMINYA yang akan mengurusnya. Terimakasih telah mentraktir kami makan." Kata Julian yang secara halus menegaskan akan posisinya yang masih berkuasa dengan Tania di bandingkan dengan Harry.
" Makananmu bayar sendiri!" Seru Harry yang kesal dan kemudian mendekati Tania untuk memberikan Tas milik Tania.
" Harry, terimakasih." Lirih Tania sebelum Harry pergi. Harry tersenyum senang saat mendengarnya.
*
*
*
Di dalam mobil sewaktu pulang menuju ke rumah Tania.
" Bagus ya, masih bersuami sudah Jalan sama berondong!" Ketus Julian menghina Tania dengan terang terangan.
" Heh! Kamu jalan sama Angel bahkan berhubungan badan dengannya pun aku tidak pernah rewel ya!" Sahut Tania.
" Itu Dulu! sekarang tidak." Jawab Julian membela dirinya sendiri.
" Cih! Tentu tidaklah. Bagaimana rasanya melihat kekasihmu menunggangi tua bangka?" Sarkas Tania yang membuat Julian geram dan meremas stir mobilnya.
Apa?
Dia sudah tau jika Angel berselingkuh dariku? Batin Julian meragu.
" Kenapa? tidak bisa menjawab?"
" Apa kamu lupa kata ibu? Dia melarangmu untuk menemuiku selama 3 bulan lalu apa ini? Kenapa kamu datang?" Tania berbicara dengan santainya mengingatkan Julian akan peraturan yang di buat oleh ibu Yuli.
" Selalu ada pengecualian dalam setiap aturan. Aku tidak bisa melihat istriku bersama lelaki lain. Dan apa menurutmu wanita yang baik akan pergi bersama lelaki lain tanpa sepengetahuan Suaminya?" Julian membalasnya dengan pertanyaan.
" Hahahaha, Lucu sekali. Lelaki yang mengabaikan ku selama hampir setahun ini tiba-tiba mengaku kalau dia suamiku? Hei pak suami, dengarkan aku yang katamu adalah istrimu ini. Aku sudah cukup muak selama ini selalu kau gunakan sebagai alat agar kekasihmu itu kembali padamu. Aku sudah tau semuanya. Keputusanku sudah bulat, Aku ingin kita cerai!" Tegas Tania dengan suara penuh amarah.
" Sampai aku matipun, aku tidak akan pernah menceraikan kamu Tania! Dengarkan itu."
" Cih, hanya menunggu mati? Baiklah tidak usah khawatir aku yang akan lebih dulu Mati agar terlepas darimu."
" Apakah kamu berniat ingin cerai karena keberadaan Harry?" Tanya Julian dengan wajah yang muram.
" Oh iya tentu. Setidaknya dia tulus mencintaiku." Sahut Tania mengunggulkan Harry.
Julian menepi dan menginjak rem mendadak. Dengan sepersekian detik Julian melepaskan seat belt dan Menangkup wajah Tania lalu mema**t bibir Tania dengan rakusnya. Tania terbelalak dan membuka matanya lebar-lebar. Tangannya menepuk kuat dada bidang Julian berkali-kali tapi tidak berpengaruh sama sekali. Julian tetap bertahan dengan aksinya.
" Jangan pernah membanggakan laki-laki lain di hadapanku. Aku tidak suka!" Kata Julian yang selesai dengan aksinya dan merapikan rambut Tania dengan lembutnya.
" Aku ingin cerai!"
__ADS_1
" Sangat bencikah kamu padaku Tan?" Tanya Julian dengan wajah yang kini menunduk dan kedua tangannya setia menggenggam tangan Tania yang di kuncinya. Bulir air mata itu jatuh mengenai tangan Tania.
" Air mata buaya!" Umpat Tania yang geram akan tindakan Julian yang maunya menang sendiri.