In 30th.

In 30th.
49.


__ADS_3

Julian tengah senyum senyum mengulang ulang video yang dikirimkan oleh mbak Ina. Dia senang saat Tania memakai bajunya, saat Tania bilang bau parfumnya bikin kepengen pakai bajunya.


Dan juga sikap rendah hati Tania kepada kedua orang yang sudah Julian anggap sebagai ibu kedua baginya.


" Gitu kalau aku ga di rumah, kamu pakai bajuku. Kangen ya? Anak aja di ajukan sebagai alasan." Julian mencibir senang dan meremas serta mengigit bantal karena sangking gemasnya.


" Kenapa Bos? girang banget udah kayak menang lotre aja." Kata Dekta yang baru saja memasuki kamar hotel mereka dengan menjinjing sebuah kantung besar berwarna biru muda.


" Istriku, ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan Dekta." Kata Julian girang masih dengan euforia yang memenuhi dadanya.


" Baguslah. Sudah seharusnya kan pasangan suami istri saling mencintai?" Dekta membaca struk belanja dan duduk di sofa.


" Hhhh, aku sudah banyak salah sama dia selama ini. Aku terlalu dibutakan oleh cinta dan nafsuku kepada Angel." Suasana seketika berubah menjadi sedikit hening da raut kekecewaan nampak di wajah Julian.


" Bos, Nyonya itu wanita baik. Sungguh baik dia selalu menjaga kehormatannya di manapun dia berada. Meskipun dulu anda sama sekali tidak menghargai kehormatannya. Padahal jika Nyonya mau, sudah tentu banyak lelaki yang akan berbaris untuk mendapatkannya. Dia manis, baik, dan cantik. Kurang apalagi coba Bos?" Dekta menuturkan kenyataan bahwa jika memang Tania adalah wanita sederhana dengan segala kebaikannya.


" Loh loh loh, kamu muji istriku? Jangan-jangan kamu juga suka sama dia." Cetus Dekta yang raut wajahnya terlihat kesal.


" Laki-laki tidak normal yang tidak menyukainya bos." Dekta terkekeh-kekeh melihat respon Bossnya.


" Tapi saya cukup sadar posisi dan juga sadar diri. Saya hanya bahagia, sangat bahagia akhirnya anda menyadari keberadaan mutiara yang cantik setelah sebelumnya tertipu oleh batuan pantai. Hahahahahaha!" Sambungnya sambil tertawa terbahak-bahak seolah mengikis status antara atasan dan bawahan.


PLETAK!!


Julian menampol kepala Dekta dengan sebuah berkas yang ada di meja "Sialan kamu!" Ujarnya yang kemudian duduk dan membuka kantung besar berwarna biru muda itu.


" Lucu ya? Dia pasti terkejut ketika aku pulang lebih cepat. Apakah dia akan senang?"Julian meminta pendapat dari Dekta namun hanya memperoleh jawaban berupa gidikkan bahu oleh delta yang sudah asik dengan game onlinenya.


*


*


*


" Tinggal dua hari lagi dan selesai. Huft!" Tania merasa jenuh karena jadwalnya yang lumayan padat.


Tania duduk di studio foto dengan para tim make-up yang sedang memoles wajahnya. Fotografer datang menghampirinya dan duduk di sebelah Dera.


" Mbak Wina." Sapa Tania yang sedikit sungkan karena tak biasanya Wina datang menghampirinya seperti saat ini.


" Tania. Kenapa kamu buru buru sekali untuk menyelesaikan proyek ini?" Tanya Wina.


" Mbak, di kontrak saya ini di sebutkan kalau saya harus menjaga bentuk tubuh selama proses pengambilan gambar. Dan mbak tau, sekarang saya hamil Mbak. Makanya saya selesaikan cepat cepat." Jawab Tania dengan jujur.


"Oh, kenapa bisa gitu? Maksud saya bagaimana bisa kamu hamil setelah menandatangani kontrak ini? harusnya kamu lebih profesional dengan menjaga isi perjanjian. Hamilnya di tunda dulu kan bisa?" Kata Wina.


" Gimana ya Mbak. Dia ini munculnya dadakan. Kalau di kejar terus, dua bulan kan selesai ya Mbak?" Tanya Tania yang ingin agar tanggung jawabnya segera selesai.


" Kalau kamu begini terus tiap hari ambil gambar, Ya, seminggu aja kelar. Tinggal nanti tim editor aja yang kerja keras. Sudah ini mau ambil tema apa kamu?" Tanyanya lagi sambil mengotak atik kameranya melihat beberapa gambar yang sudah di ambil.


" Belum tau Mbak kayaknya istirahat dulu geh, badanku lagi lemes banget sebenarnya. Bawaan hamil muda kali ya?"


" Iya, aku dulu juga gitu pas hamil. Bawaannya lemes, tapi makan terus. terus males mandi." Kata Wina yang kini menatap Tania seolah menemukan frekuensi yang sama.


" Ih sama banget Mbak. Aku juga gitu. Males banget mandi, tapi kalau kecium bau badan sendiri rasanya pengen muntah. Aneh kan?" Desis Tania.


" Hahaha, lucu sih kalau di inget. Nanti kalau perutmu sudah kelihatan agak buncit aku kenalkan dengan temanku yang suka cari model untuk susu ibu hamil dan juga ya, pokoknya yang berkaitan dengan kehamilan dan bayi. Mau?" Wina menawari Tania.


" Mau mbak Mau!" Jawab Tania dengan antusias.


" Oke! Kamu punya potensi di bidang ini Tan. Pertahankan ya." Kata Wina seraya tersenyum lembut dan pergi memeriksa hasil jepretannya di monitor.


*


*


*


" Hhh, lelahnya!" Gumam Tania dengan menikmati pemandangan tepi sungai buatan yang ada di taman kota.


" Adek lelah juga ya? Kita harus kerja keras dek. Bunda takut jika suatu saat nanti Ayah membuang kita, setidaknya kita sudah bisa hidup mandiri." Cicit Tania mengobrol dengan janin yang masih sebesar biji kacang hijau.


Tania duduk di bangku yang di Sunari temaram lampu taman. Duduklah seseorang yang tak asing baginya tepat di sebelahnya.


" Harry?" Tanyanya memastikan.


" Kak, ngapain malam-malam di taman sendirian?" Tanya Harry yang juga terkejut dirinya baru menyadari jika yang duduk di sebelahnya adalah Tania karena Harry sangat disibukkan dengan ponselnya. Ya, apalagi kalau bukan game online.


" Lagi istirahat sebentar baru pulang kerja." Jawab Tania.


" Sudah makan?" Tanya Harry dengan wajahnya yang datar tak terbaca bagaimana ekspresinya.


" Belum, tapi pengen makan mi instan dengan telur dan baso." Cicit Tania.


" Eh, jangan dong. Kan lagi hamil. Ga bagus Kak. Gimana kalau ku traktir?" Harry menawarkan.


" Apa?" Tania menayakan menu makanan.


" All you can eat? Yuk ah, aku kan sudah banyak uang sekarang. Masa iya pecel ayam dan bebek goreng terus. Sekali sekali lah makan yang ada daging sapinya. Yuk!" Harry menarik-narik tangan Tania seperti adik yang merajuk manja pada sang Kakak.


" Ya udah Ayuk!" Tania mengangguk dan mereka menuju ke restoran yang di maksud Harry.


Banyak bercanda tawa dan juga beberapa celotehan mereka di dalam mobil. Sungguh hati Harry sangat senang kala melihat wanita yang dicintainya bisa tertawa dengan lepasnya.


Sekilas Harry selalu memperhatikan Tania, tetapi Tania tetap tidak menyadarinya.


Mereka makan dengan lahap, Tania seperti orang yang kelaparan.


Harry hanya bisa mengulum senyum, lucu saja baginya melihat tingkah Tania yang makan tanpa malu-malu.

__ADS_1


" Ahh, kenyang!" Tania mengusap perutnya.


" Kamu juga sudah kenyang kan dek?" Tania berbicara dengan si jabang bayi.


Julian tersenyum melihat Tania mengusap dan berbicara dengan janin yang ada didalam perutnya.


Andaikan, andaikan, dan andaikan. Itu saja yang ada di kepala Harry saat ini.


Andaikan waktu dulu dia lebih berani mengutarakan perasaannya.


Andaikan dia bertindak lebih cepat.


" Mbak, kalau tiba-tiba suatu saat nanti aku jadi menantumu gimana?" Celetuk Harry tiba-tiba membuat Tania melongo tak percaya.


" Heh, gila ada ada aja. Ya ga mungkinlah. Dia sekarang masih kecil. Kamu sudah umur 24 tahun, nanti kamu 25 dia lahir jauh amat jaraknya?? lagian belum tau juga dia cewek atau cowok. Ga usah aneh-aneh deh kalau ngomong." Tania menepis asa Harry.


" Aku yakin dia perempuan."


"Ya tapi pas dia usia 25 kamu udah 50 tau. udah tua juga, udah nikah juga kamu. Aneh-aneh." Tania menggeleng.


" Kak ah, bikin patah semangat aja." Cicit Harry kesal.


" Pulang yuk, udah malam juga. Besok mau kerja lagi aku." Kata Tania yang ingin mengakhiri percakapan yang nyeleneh itu.


" Aku antar ya Kak, capek kan? biar aku yang nyetir Kakak bisa tidur."


" Ya udah nih." Tania memberikan kunci mobilnya.


Selama dalam perjalanan benar, Tania tertidur karena kekenyangan dan Harry sengaja memperlambat laju mobilnya.


Dia ingin berlama-lama menatap wajah cantik Tania.


*


*


*


Perlahan mobil mulai memasuki pelataran rumah Tania.


Ibu Yuli sedang tidak ada di rumah dan rumah terlihat masih terang benderang. Terlihat dari lampu-lampu yang masih menyala.


" Kak, bangun kita sudah sampai." Kata Harry menepuk perlahan lengan Tania.


" Hem? sudah sampai ya?" Tania menggeliat dan mengucek matanya, dia mengerjap beberapa kali sampai benar-benar sadar ada di mana.


" Sudah tuh liat rumahnya kan?" Jawab Harry yang kemudian melepas seat beltnya dan turun.


Julian berjalan menghampiri setelah sebelumnya dia mengintip dari jendela.


Tadinya Julian berencana memberikan kejutan untuk Tania akan kepulangannya yang lebih cepat dari jadwal semula.


" Merusak acaraku saja bocah tengik itu." Julian mendengus kesal dan mengepalkan tangannya menatap geram Julian penuh kebencian.


" Sudah pulang sayang?" Tanya Julian dengan suaranya yang lembut menyisip dan menggelitik Tania membuat bulu-bulu Tania meremang.


" Loh, kok sudah pulang? Katanya satu minggu? baru juga 5 hari?" Ucap Tania yang tanpa sadar mulai mengacuhkan keberadaan Harry yang masih berdiri di samping pintu mobilnya.


" Gimana ya kalau kangen? Bener kata dilan, rindu itu berat." Jawab Julian yang sok manis di hadapan Harry.


" Eh, Harry. makasih ya sudah mengantarkan istriku. Masuk yuk kita ngopi-ngopi dulu di dalam." Ucap Julian yang memulai aktingnya.


Julian, sungguh merencanakan strategi balas dendam yang aestetik.


" Iya Mas, makasih tapi saya harus pulang." Tolak Harry yang seolah bisa membaca siasat Julian yang ingin menyadarkannya atas posisinya.


" Ayolah, anggap saja sebagai ucapan terimakasih saya karena kamu sudah mengantarkan istri saya yang sedang hamil ini." Julian berucap manis dan mengusap perlahan perut Tania yang ada di hadapan Harry.


Risih?


Ya Tania merasa risih akan sikap Julian yang sangat terlihat jelas ingin menunjukkan siapa pemilik sebenarnya. Tetapi apalah yang mampu Tania lakukan selain tersenyum simpul dan menerima sikap Julian.


" Ayo!" Ajaknya lagi yang kali ini juga di ikuti dengan anggukan dari Tania yang membuat Harry tak bisa menolak.


" i... iya." Jawab Harry dengan gugup.


Malas, sangat malas Harry menerima ajakan dari Julian. Tetapi Harry harus bisa menutupi perasaannya yang sesungguhnya dari hadapan Tania.


Tanpa amarah dan kecemburuan, itukan yang seharusnya ada diantara Kakak dan adik?


Kini Harry seolah terjebak dengan ucapanya sendiri.


Di dalam rumah.


" Sayang buatkan kopi ya. " Seru Julian pada Tania yang berada di dapur.


" Dari mana saja tadi?" Tanya Julian dengan datarnya.


" Em, makan sih Mas." Jawab Harry yang sejujurnya kali ini sudah ingin lari menjauh dari Medan peperangan. Bagaimanapun hati Harry masih rapuh jika menyangkut Tania.


" Makan? Makasih ya sudah menemani istriku makan. Dia pasti kesepian saat makan sendirian. Untungnya ada kamu yang menemaninya. Sungguh adik yang baik." Kata Julian yang tersenyum simpul seolah menarik ulur hati Harry dan mempermainkannya.


Julian sengaja menekankan kata ISTRIKU di setiap kalimatnya. Ya, apalagi kalau bukan bertujuan agar Harry tergores hatinya lagi dan lagi.


" Ini kopi dan camilannya. Di makan ya Har." Kata Tania dengan sopan.


" Sayang, aku tadi beli sesuatu loh buat kamu ada di kamar atas." Ucap Julian pada Tania yang kini duduk agak jauh di sebelahnya.


" Sini, jangan malu-malu gitu kenapa? aku tau kamu kangen kan sama aku?" Julian melirik manja Tania dan mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


" Mas~~." Tania menegur Julian dengan nada yang mendayu-dayu membuat Julian semakin bersemangat untuk membuat Harry remuk redam.


" Nah, suara kamu yang kayak gini nih bikin aku kangen terus." Ucap Julian tersenyum manis menatap Tania dengan satu tangannya mencubit gemas pipi Tania.


Tanpa mereka sadari ada sesuatu yang terbakar dan berasap, ya jika bisa dilihat mata sih. Tapi, sayangnya tidak.


Harry terbakar cemburu dan langsung menenggak kopi yang di sajikan tanpa berhenti hingga tandas.


" Aku pulang ya Kak, Mas. Kopiku sudah habis, temanku juga sudah nunggu di depan." Harry tersenyum palsu dan kemudian berdiri untuk berpamitan.


" Loh kok buru-buru?" Tanya Julian sok tidak rela padahal sih, senang sekali.


" Iya, ada pekerjaan." Jawab Harry memaksakan Padahal mulutnya sudah malas bicara atau menyahuti Julian.


" Oh, makasih ya Har!" Seru Tania.


" Iya Kak, sama-sama." Harry mengangguk dan berlalu dengan Tania yang menghantarkan Harry sampai ke depan rumah.


Julian duduk terdiam di depan TV, Tania yang baru kembali setelah mengantar Harry kemudian menghampirinya untuk membereskan cangkir bekas kopi Harry.


Namun, Julian segera meraih tangan Tania dan menariknya sampai Tania terjatuh di pangkuannya dan dengan cepat Julian mengungkung tubuh Tania sehingga Tania ada di bawahnya.


CUP!


Julian mencium bibir Tania dan menatapnya lekat-lekat " Aku kangen." Katanya dengan suaranya yang serak dan berat.


CUP!


Lagi, Julian mencium kening Tania.


" Tumben, kamu tidak marah melihat Harry?" Tanya Tania to the points.


CUP!


Julian mencium pipi Tania.


" Tidak, buat apa? Aku percaya istriku bisa menjaga kehormatannya."


" Lalu, kenapa tadi sok-sok manis di depan Harry?" Tania menayakan tujuan Julian.


CUP!


Lagi Julian mencium leher Tania dengan agak lama.


" Jawab!" Tania mendesak Julian.


" Eumh.!" Mulut Julian masih sibuk mencium leher Tania sehingga memberikan sensasi geli yang lama dirindukannya.


" Mas~~, Jawab!" Kata Tania meminta jawaban tetapi dengan suaranya yang mendayu-dayu membuat Julian semakin bernafsu.


" Kamu mancing aku sayang? Suaranya jangan di buat mendesah gitu." Ujar Julian yang masih fokus di leher Tania.


" Mas, siapa juga yang mancing. " Tania bersecih kesal.


CUP!


Lagi-lagi Julian mengecup bibir Tania tetapi berujung pada lumayan lembut yang memabukkan membuat Tania juga membalasnya dengan manis dan lembut.


Seolah melepas rindu yang lama terpendam. Tangan keduanya tanpa sadar sudah mulai bergerilya meraba dengan lembut bagian bagian tubuh tertentu.


" Stop! Jawab dulu!" Tania membekap mulut Julian yang sudah siap untuk ********** lagi.


Julian terduduk dan diikuti oleh Tania yang juga duduk.


" Hemh, ya karena aku tidak suka Istriku dekat dengan lelaki lain. Itu caraku menunjukkan jika kamu sepenuhnya adalah milikku Tania." Jawab Julian yang kemudian menyesap kopinya.


Tania tersipu-sipu tapi menyembunyikannya dari hadapan Julian. Tania tak mau Julian besar kepala.


" Auh... Vanas, Vanas." Julian kepanasan saat menyesap kopinya dan menjulurkan lidahnya dan mengipasnya dengan tangannya.


" Akting! Tadi aja si Harry biasa saja." Tania memegang cangkir kopi milik Julian dan dia tergelak.


" Eh, iya loh?" Tania melongo menatap Julian.


" Tiup." Rangek Julian manja masih menjulurkan lidahnya seperti bocah ff yang minta dijitak.


Tania baru mulai meniupnya dan Julian kembali melancarkan aksinya dengan kembali menyesap manis bibir Tania.


" Sayang, boleh ya?" Tanya Julian meminta ijin menatap dua manik coklat Tania penuh harap.


"....." Tania berpikir.


...🦋🦋🦋🦋 ...


Hayo, kira kira boleh ga ya?


Dikasih ga ya sama Tania?


Hi... hi.... hi....! Jujur saja saat menulis ini, Othor jadi baper.


Jadi membayangkan yang tidak-tidak 🤭🤭.


Selamat membaca ya sayang,


jangan lupa like dan komentar ya.


Rasanya semangat nulis gitu kalau kalian pada like dan komen.


komentar apa kek gitu, tanda titik atau koma aja juga boleh🤭🤭

__ADS_1


syukur syukur mau kasih dukungan berupa Vote.


Idih, authornya ngarep yak? 😂😂.


__ADS_2