
Pengaruh obat membuat tania terlelap. Julian memanfaatkan hal itu untuk kembali kerumah dan mengambil beberapa keperluan mereka.
Kegelisahan yang menggelayuti Julian hilanglah sudah, dia berjanji untuk tidak mengulangi kebodohan yang sama.
Selesai mengurus keperluannya Julian kembali ke rumah sakit. Tidak pernah di harapakannya bersua lagi dengan Harry.
Entah mendapat kabar dari mana Harry sangat sigap datang menjenguk.
Apakah Tania sendiri yang memberi kabar kepada harry?
Sontak saja hal itu membuat Julian kembali terbakar cemburu meskipun hal yang sebenarnya tidak dia ketahui.
" Mau kemana kamu?" Julian mencengkeram pundak Harry dari belakang saat Harry berjalan membawa bungkusan makanan.
" Eh, Mas Julian." Sahut Harry yang menyeringai lebar dan memamerkan keindahan giginya yang putih dengan lesung pipinya.
" Mas mes, mas mes! Ga usah kamu panggil aku dengan sebutan itu. Jangan sok akrab kamu." Ketus Julian yang langsung berapi-api.
" Hehehehe, sensi banget? Lagi pms om?" Ledek Harry tanpa ada rasa canggung atau takut.
"Cih! Bocah tengil." Julian hanya berdecih dan melewati Harry begitu saja.
Julian berjalan mendahului Harry. Dia tidak ingin terlihat akrab atau baik dengan Harry.
Ya, tentu saja selama ini sikap baiknya dengan Harry hanya sebuah kepura-puraan di hadapan Tania.
Semata-mata agar Tania tidak marah ataupun semakin bersimpatik pada Harry yang tertindas oleh Julian.
Tak lagi berbincang Julian meninggalkan Harry begitu saja dan masuk kedalam kamar Tania.
" Hai!" Sapa Julian dengan ceria.
" Hai Mas" Sahut Tania meski hanya pelan dan lemah.
" Sudah bangun? Dari tadi? Muach!" Julian memborbardir Tania dengan pertanyaan dan kemudian mencium kening Tania.
" Lumayan sih. Mas dari mana?"
" Dari ambil baju ganti. Tadi kata dokter kamu harus bed rest dulu dan nunggu infus ini habis baru kita bisa pulang dan kamu harus istirahat total di rumah." Julian menjelaskan sembari menyelipkan anak rambut di belakang telinga Tania.
" Eh, tadi di depan aku ketemu Harry. Sepertinya dia mau kesini, tapi entah mau beli apa gitu dulu buat kamu katanya." Kata Julian memancing reaksi Tania.
Julian menunggu reaksi dan mimik wajah Tania. Apakah Tania atau bukan yang menyuruh Harry untuk datang. Julian terus mengamati wajah Tania dan tidak menemukan sesuatu yang janggal.
" Iyakah? Tau darimana dia aku disini?" Celetuk Tania dengan datarnya tanpa melihat wajah Julian tetapi hanya menggelung rambutnya yang panjang dengan kesusahan.
" Sini aku bantu." Julian mendekat dan merapikan rambut Tania. Menyisirnya dengan perlahan.
" Aku kira kamu yang memberi tau Harry jika kamu disini." Kata Julian yang lagi-lagi mengorek informasi.
Entah mengapa ada rasa yang menyebalkan yang singgah di hati Julian saat membahas nama Harry.
Tapi demi mencari tau kebenarannya Julian rela hatinya tersayat-sayat.
" Aku?" Tania menunjuk hidungnya dan terkekeh.
" Aku Mas? Aku rasa aku belum lupa saat kamu membanting ponselku sampai berkeping-keping hanya karena sesuatu hal kecil. Lalu mengabarinya? Bisa-bisa kamu membunuhku." Dengus Tania yang jengkel saat mengingat hal yang lalu juga saat ini Julian meragukan dirinya.
" Sayang. Aku hanya tidak suka istriku di dekati lelaki lain." Kata Julian yang berusaha mengutarakan isi hatinya.
" Mas, Sini duduklah." Tania menepuk kasur Yanga da di hadapannya lalu menekuk kakinya dan bersila menyisakan ruang untuk Julian duduk di hadapannya.
Di genggamnya tangan Julian dengan lembut lalu menciumnya. " Mas, aku dengan tulus menganggapnya sebagai adikku sendiri. Takdir yang mempertemukan kami. Aku masih ingat bagaimana saat-saat kami yang sama-sama terpuruk saling memberikan semangat untuk terus berjuang dalam hidup. Ijinkan aku untuk mengenalkan dia kepadamu sebagai adik angkatku Mas." Tania menitikan air mata yang menandakan kejujuran dan ketulusan menguasai hatinya.
Seseorang yang berdiri di ambang pintu mendengarkan semua percakapan suami dan istri itu hanya diam dan terus menyimak.
"Iya. Aku akan berusaha percaya padamu meski aku tak bisa percaya padanya." Jawab Julian yang lalu mengusap air mata Tania dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Harry tersenyum lega sekaligus senang.
Lega akhirnya Julian mau menerimanya menjadi adik angkat istrinya.
Senang akhirnya Harry sekarang memiliki keluarga baru dan dia tidak sendirian lagi.
Julian memeluk Tania dengan hangatnya.
" Ehem!" Harry berdehem dan membubarkan semuanya.
" Huft pengganggu itu sudah datang." Julian mendesah sebal.
" Mas~~" Tania melirik Julian lalu tersenyum lebar menyambut Harry.
" Hai!" Sapa Tania.
" Kakak sudah baikan?" Tanya Harry yang kemudian melangkah masuk.
" Dari dulu dia baik." Ketus Julian menyamarkan maksud pertanyaan Harry.
" Mas, ah jangan begitu." Protes Tania tidak suka dengan sikap kekanakan Julian.
" Tidak apa-apa Kak. Eh, ini aku bawakan bubur kacang hijau kesukaan Kakak. Tadi kata penjualnya bilang ini bagus untuk ibu hamil. Biar rambut derek bayinya lebat juga lurus katanya." Kata Harry yang dengan antusias menjelaskan dan menceritakan tentang bubur yang di bawanya.
" Halah, mitos!" Cela Julian dengan nada sinis.
" Mas~~." Tania menegur Julian dengan lembut lalu mengusap punggung Julian yang berdiri dekat dengannya.
" Wah, makasih ya Har. Kamu masih ingat makanan kesukaan Kakak. Eh iya, tau dari siapa kamu kalau aku disini?" Tanya Tania seolah menjawab banyak keraguan di benak Julian.
" Dari Kak Dera. Dia tadi memasang story di AW miliknya dan kami chat lalu aku kesini." Harry menjelaskan dengan senyuman di bibirnya.
Tak lama ponsel Tania berdering. Julian memberikannya meski dengan raut wajah tak senang.
" Hai Tan. Gimana kabarnya?" Dera berbicara melalui sambungan telepon.
" Aku baik Der." Jawab Tania.
" Astaga kalian ini. Namanya juga lagi enjoy. Aku khilaf tau ga!"Seloroh Julian yang kesal juga malu dengan perbuatannya.
" Hei jangan bahas itu, disini masih ada anak perjaka." Cetus Tania yang melirik Harry.
Harry hanya bisa tersenyum dengan telinganya yang memerah mendengar percakapan di luar jalurnya.
" Siapa?" Tanya Dera.
" Siapa Tan?" Mayang juga ikut pemasaran.
" Ada Harry." Jawab Tania.
" Ooo!"Tania dan Mayang ber O ria.
" Kak nanti ini dimakan ya. Cepat sembuh!" Harry berucap Sabil tersenyum setelah sebelumnya menata bubur di atas nakas lengkap dengan minumnya.
Harry keluar dari kamar rawat Tania dengan perasaan bercampur aduk. Dia merasa Tania mengacuhkan keberadaan dirinya. Harry merasa dirinya tak lagi di inginkan.
" Ikut aku!" Kata Julian yang kemudian mendahului langkah Harry.
Rupanya Julian ingin membicarakan sesuatu dengan Harry.
Julian dan Harry menuju ke taman. Kini keduanya telah duduk di bangku taman berdua dengan memegang secangkir kopi.
" Jangan berkecil hati. Kakakmu itu selalu lupa dengan sekitarnya jika sudah berbicara dengan kedua sahabatnya." Kata Julian dengan santainya sambil menyesap kopinya.
Apa aku tidak salah dengar ini? KAKAKMU katanya?
itu artinya dia juga sudah menerimaku sebagai adik angkatnya?
__ADS_1
benarkah ini?
Harry berpikir positif.
" Em." Harry mengangguk.
" Apa aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Harry yang mencoba memberanikan diri.
" Ya. Selagi bukan pertanyaan biologi saja." Cetus Julian asal.
" Hahaha bukan." Harry terkekeh. Rupanya candaan receh Julian mudah sekali membuat Harry tertawa.
" Aku tadi tidak sengaja mendengar perbincangan kalian tentang Kak Tania yang ingin mengangkat ku sebagai adiknya. Dan kamu juga memberikan ijinmu." Kata Harry yang terputus-putus karena mulai ragu untuk bertanya.
" Jangan berputar-putar! kamu bukan gangsing." Cela Julian di sela perkataan Harry.
" Iya."
" Apakah kamu serius mau menerimaku sebagai adik angkatmu juga?" Tanya Harry dengan bersemangat.
"...." Julian mengangguk.
Harry menatap mata Julian yang teduh dan tenang. betapa senangnya dia saat menemukan ketulusan disana.
Dua kakak juga merupakan keluarga baru yang sangat berarti baginya.
" Nanti malam datanglah. Aku akan memperkenalkan mu secara resmi di dahapan Ayah ibuku. "
" Apa mereka akan setuju jika kamu mengangkat ku sebagai adik?" Tanya Harry meragu.
" Aku akan mengesahkanmu sebagai adaik angkatku di hadapan mereka. Jadi otomatis kau juga akan punya ayah dan ibu angkat." Kata Julian dengan santainya. tanpa melihat binar kebahagiaan di mata Harry.
" Benarkah?" Harry takjub. rasa senangnya meluap luap.
Harry memeluk Julian erat-erat dengan spontan.
" lepaskan! jangan terlalu senang, aku melakukan itu agar ibuku bisa menembak kepalamu jika suatu saat nanti kau mencari Maslah denganku." Kata Julian yang tentunya hanya bercanda dan menggertak Harry di waktu yang sama.
" Apa?" Harry melongo tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Hahahahahaha, Bercanda G****k!" Ujar Julian sambil tertawa terbahak-bahak.
Begini rasanya punya adik?. Gumam Julian dalam hati.
Begini rasanya punya Kakak yang menyebalkan? Harry tertawa senang dalam hatinya.
*
*
*
Julian kembali masuk ke kamar Tania sedangkan Harry langsung kembali ke kantornya.
Julian sengaja merahasiakan apa yang tadi telah di baicarakanya dengan Harry untuk menyimpannya sebagai kejutan nanti malam.
"Hei, sudah ngobrolnya!" Julian ikut bergabung dan naik ke ranjang yang sempit itu lalu membenamkan kepalanya di leher Tania.
" Jul! ah kenapa kamu mesum sekali sih?" Protes Dera yang merasa perbincangannya terganggu.
" Julian! Jangan jadi manja gitu kenapa sih?" Ucap Mayang yang tidak suka tapi lebih tepatnya dia iri.
" Kenapa sih manja sama istri sendiri kok." Julian membela dirinya dan memejamkan matanya tidak lagi menggubris riuh suara protes dari ponsel Tania.
Sedangkan Tania hanya tertawa senang dengan sikap manis Julian.
Sekarang Tania tau bagaimana seorang Julian jika sudah menemukan satu nama di hatinya.
__ADS_1
Miliknya, miliknya, miliknya dan hanya miliknya. Itulah rumus Julian dalam mencintai.
Maaf jika typo bertebaran dimana-mana ðŸ¤.