
" Apa? Hamil?" Seru seorang wanita paruh baya yang terkejut sembari memegang dadanya.
"........ ........ ....... " Lapor seseorang di ujung panggilan telepon.
" Laporkan apapun yang terjadi padaku dan juga. Terserah bagaimana caramu, aku ingin segera mengetahui siapa ayah dari bayi yang di kandungnya saat ini." Titah si wanita paruh baya yang kemudian menutup panggilan teleponnya.
Wanita paruh baya itu duduk terdiam memikirkan sesuatu.
Kebingungan dan kegelisahan melanda kalbunya saat ini.
*
*
*
Selesai berbenah, Mayang duduk terdiam sesaat menatap langit malam. Ada rasa bahagia di dalam hatinya saat dia dinyatakan hamil.
" Kamu bukti, jika Mama bukan wanita mandul sayang. Kita akan hidup bersama. Bersama-sama kita akan hidup dengan tenang dan damai."
" Tabungan Mama sudah cukup banyak untuk kita hidup sampai mama menua dan kamu dewasa. Untuk catatan seorang Ayah bagimu, mama sudah memutuskan satu nama lelaki yang pasti mau menjadi suami sementara bagi Mama. Namanya Robby. Dia laki laki terbaik yang pernah mama jumpai." Desis Mayang yang bermonolog dengan jabang bayinya.
Mayang memilih Roby sebagai suami sementara bayinya. Hanya sebatas pengakuan jika Robby adalah ayah dari bayi yang di kandungnya. Mayang mengambil ponselnya dan menghubungi Robby.
" Hallo, By."
" Iya Yang, ada apa?" Tanya Robby yang sedikit heran karena tak biasanya Mayang menghubunginya.
" Besok kamu ada waktu?"
" Besok? sebentar. Aku senggang di sore hari. Kenapa?"
" Bisa kita bertemu? aku akan meminta tolong sesuatu kepadamu tetapi, tidak baik jika di katakan lewat telepon." Kata Mayang dengan gugup dan tak enak hati.
__ADS_1
" Hahahaha, tumben kamu sopan dan lemah lembut kepadaku? Pasti ada maunya."
" Jangan menghinaku ya, aku ini kan memang wanita yang sopan dan lemah lembut."
" Hahahaha, iya iya apa aja kata kamu deh, daripada HP ku kamu kirimin virus." Jawab Robby yang tau kebiasaan buruk Mayang yang dengan gampangnya merusak ponsel orang lain.
" Oke, bye By. Sampai ketemu besok sore di rumah nenek Ya."
" Eh, Rumah Nenek? Kalau ke sana aku akan minta cuti kerja sekalian Yang." Kata Robby yang mengingat jarak tempuh yang cukup lama untuk menuju ke rumah Nenek Mayang.
" Ya sudahlah minta cuti sekaian kita jalan jalan di kampung berdua. Sudah lama kan kita tidak pernah jalan-jalan bersama?" Kata Mayqng yang tanpa sadar menabur harapan pada sebuah hati yang lama memendam perasaan.
" Hemm, baiklah. Bye bye Yang." Ucap Robby yang tersenyum senang.
" Bye By!!" Mayang mengusap dadanya mengakhiri kegugupan yang melanda jantungnya.
*
*
*
Mayang berpamitan kepada kedua sahabatnya. Tania meminta Mayang untuk tinggal menetap saja bersamanya yang saat ini hanya tinggal seorang diri.
" Kamu tidak usah jauh jauh. Disini saja Yang. Kita besarkan anakmu bersama sama." Ucap Tania yang kemudian duduk sembari menghidangkan segelas jus jeruk.
" Tidak Tan, aku juga muak terus terusan setiap hari harus menghadapi Akbar. Dia sangat yakin jika ini adalah anaknya." Kata Mayang.
" Bagus dong. Itu tandanya dia mau bertanggung jawab." Tania ikut duduk dan mengusap lembut perut Mayang yang rata.
"Bagus apanya? Aku masih sangat ingat saat dia menghinaku. Bahkan dia sempat berencana menggunkanku sebagai alat untuk menghancurkan mental Derry. Dia bukan lelaki baik-baik. Dia sama dengan Derry yang suka memperalat orang lain." Kata Mayang yang menyimpan kemarahan dalam sorot matanya. Tangannya mencengkeram gelas jus yang di pegangnya.
" Yang, aku tau kamu trauma pada pernikahan setelah semua apa yang kamu lalui dengan Derry. Kamu diperalat, di fitnah, dan di hina sebagai wanita mandul. Tapi Yang, kamu tidak bisa menyamakan Akbar dengan Garry. Setidaknya Akbar mau bertanggungjawab dan terus mencarimu." Kata Tania menasehati Mayang agar tak salah langkah.
__ADS_1
" Tidak Tan, keputusanku sudah bulat. Aku akan membesarkan anak ini seorang diri." Tungkas Mayang yang menunduk melihat perutnya.
" Yang, anakmu butuh sosok Ayah. Belum lagi kalau dia sekolah, dia butuh akta kelahiran. Bagaimanapun dia tetap butuh Ayah. Tolonglah kami berpikir jernih sebelum bertindak." Kata Tania terdengar bijaksana.
" Tan, aku sudah punya calon suami sementara. Aku yakin dia lelaki yang baik." Kata Mayang yang sukses membuat Tania tersedak jus yang di minumnya.
" Apa?" Tania terperangah mendelik melihat Mayang.
" Gila kamu! Pakai suami sementara segala. Kalau kamu yakin dia memang baik kenapa tidak kamu jadikan selamanya saja?" Ucap Tania tanpa sadar jika kata-katanya membuat Mayang memikirkan sesuatu yang terlewatkan.
" Kamu benar Yang. Kata-katamu benar." Mayang mengangguk beberapa kali kemudian tersenyum simpul dan memeluk Tania yang hanya terdiam mendapat pelukan hangat dari sahabatnya.
" Ya memang benarkan? Tapi kenapa kamu seperti dapat ide cemerlang begitu?" Ucap Tania yang masih terbengong-bengong mendapati perubahan ekspresi wajah Mayang yang sulit di artikan.
Selesai menemui Tania, Mayang pergi. Dera tidak bisa menemuinya karena masih ada pekerjaan di luar kota yang memakan waktu cukup lama. Dera dan Mayang hanya berbicara melalui suara di udara. Dera mendukung apapun yang Mayang lakukan selagi itu baik dan bagi dera tidak ada masalah dengan suami sementara pilihan Mayang sebab dera tau siapa itu Robby.
Robby adalah sosok idola di hati Dera. Hanya saja Dera mengurungkan niatnya karena sebelum dera mengungkapkan perasaannya Robby telah curhat terlebih dahulu akan cinta diam-diamnya kepada Mayang.
" Selamat By, akhirnya kamu mendapatkan cintamu meski Mayang memilihmu hanya sebagai suami sementara. Terlepas itu hanya sementara yang akan berubah menjadi selamanya atau bagaimana, apapun itu aku turut berbahagia. Sebab, hatiku kini sudah terisi penuh oleh sosok pemuda menyebalkan." Gumam Dera yang duduk menatap jendela luar dari mobilnya.
" Aku tau kamu terluka hati Mae. Aku masih ingat bagaimana Derry mempermalukan kamu di depan banyak orang dengan menuduhmu sebagai wanita yang doyan selingkuh dan mencacimaki kamu sebagai wanita mandul. Hhhh, kamu kuat Mae." Kata Dera yang kembali teringat bagaimana pahitnya kisah rumah tangga Mayang dan Derry di waktu lalu.
*
*
*
Mayang kini sudah beralih dan berada di sebuah vila yang dekat dengan pemandangan danau dan perbukitan. Vila ini milik keluarganya, lebih tepatnya sudah menjadi hal miliknya.
Vila yang tidak terlalu megah dan mewah. Vila sederhana yang bernilai fantastis untuk di sewa permalamnya. Mayang mendapatkan warisan Vila dari kakeknya yang ternyata lelaki tua yang kaya yang dulunya lebih memilih harta daripada harus bertanggungjawab atas buah cintanya kepada sang Nenek.
Mayang cucu satu satunya dari sang kakek. Sebenarnya vila itu diberikan untuk Ayah Mayang, tetapi Ayah Mayang yang masih menyimpan kebencian menolaknya dengan seketika. Dan Nenek masih menyimpannya dan memberikannya kepada Mayang tanpa sepengetahuan ayah Mayang.
__ADS_1
" Hai!" Sapa seseorang yang baru saja datang.
" Hai...!" Sahut Mayang melambaikan tangannya dan tersenyum riang.