
" Lepas Mas." Tania memberontak ingin terlepas dari pelukan Julian.
" Tidak. Sebentar lagi. Aku ingin memelukmu lebih lama Sayang. Besok seminggu aku ada urusan diluar kota. Biarkan aku memelukmu lama ya, untuk bekalku." Lirih Julian sambil menciumi leher Tania dengan aroma tubuh yang mungkin akan semakin dirindukannya.
" Modus!" Ketus Tania dan hanya diam membiarkan Julian memeluknya dan kini dengan posisi Julian duduk dan Tania berada di pangkuannya.
" Tan, harusnya kamu senang dong aku kasih hadiah itu semua. Tapi kamu malah..., ah sudahlah aku akan bekerja. Kamu siap-siap nanti siang kita periksa kandungan. Pakai baju yang sudah ku belikan." Titah Julian tanpa ada tawa yang mengiringinya.
Sepertinya dia marah. Batin Tania melirik Julian.
" Jangan marah, aku senang dengan pemeberianmu. Tapi kurasa aku tidak pantas." Ucap Tania lirih sambil berlalu pergi.
Arghh!!
Apa aku salah memberikan semua ini? terlalu berlebihan?
Tania, aku harus bagaimana? Gumam Julian meraba kesalahannya dimasa lalu.
"Hhhh, baru aja aku mau kasih liat ini semua sama Dera dan tanya soal harga-harganya." Tania yang kecewa menatap walk in closet yang berada tepat di samping kamarnya yang kini penuh dengan barang-barang hadiah dari Julian.
Dera harus menuju kesuatu tempat karena keadaan yang mendesak. Acara mereka untuk menonton drama bersama gagal sudah.
Kini Tania hanya sendirian di kamar membaringkan dirinya dan menatap gambar hasil USG.
" Kamu Dek, masih sekecil biji kacang ijo saja sudah membuat Ayahmu banyak berubah. Bunda berterimakasih sangat kepadamu dek. Ayahmu sekarang jadi lebih baik kepada bunda." Tania mengulum senyumnya dan mengusap perutnya dengan lembut dan penuh kasih.
Senang?
Tanti senang, istri mana yang tak senang jika di sayangi dan di perhatikan oleh suaminya sendiri.
Keraguan?
Selalu ada di hati Tania. Tania hanyalah manusia biasa yang semua ingatannya masih berpaut dengan bagaimana sikap jahat Julian kepadanya sebelum ini. Kekerasan bisik dan juga verbal sering di dapatkannya berulang kali membuat Tania merasakan trauma tersendiri.
Memaafkan?
Sudah Tania sudah memaafkan hanya saja kepalanya masih belum bisa menghapus memori yang menyakitkan.
Ketakutan?
Iya, tentu saja Tania memiliki ketakutan tersendiri. Dia takut jika sikap Julian akan kembali buruk.
" Maafkan Bunda dek. Hati bunda masih ragu dengan semua kebaiakn Ayahmu." Tania menitikan air matanya perlahan mewakili sakit hatinya yang kembali terkilas.
Tak lama kemudian, ponsel Tania berdering.
Ya siapa lagi kalau bukan Julian?
" Ya, Hallo." Sahut Tania dengan santainya dia masih berbaring dan melihat gambar hasil USG.
" Sayang, Maaf ya aku sudah mengingkari janji." Kata Julian yang menyerah pada janjinya yang terabaikan karena ada janji temu dengan klien yang juga di lupakannya.
" Tidak apa-apa Mas. Biasanya juga aku melakukan apapun sendiri dan baik-baik saja." Jawab Tania yang justru mengingatkan kembali Julian pada kesalahan-kesalahannya yang lampau.
Benar dia, dulu aku mana pernah memperdulikan perasaan dan juga kebutuhan istriku? Bahkan mau hidup atau matipun dia aku tidak perduli. Gumam Julian mengenang memori yang menyedihkan.
__ADS_1
" Em, kamu sudah makan?"Tanya Julian yang mengeluhkan topik pembicaraan agar tidak berlarut dalam masa lalu.
" Sudah." Jawab Tania singkat yang sepertinya tidak ada rasa ingin tau perihal apapun yang dilakukan oleh suaminya.
" Eh, tadi aku lihat cewek cantik loh." Niat hati Julian ingin menggoda juga sekaligus menggombal pada Tania.
" Oh ya? Baguslah." Jawab Tania tanpa mengarahkan kamera ke wajahnya melainkan ke langit-langit kamarnya dan hanya terdengar suara berisik grasak-grusuk.
Tuh,kan. Seharusnya aku lebih kebal. Dia ya tetaplah dia. Dia bertahan hanya karena anak ini kan?
Karena dia ingin mempunyai penerus keluarganya, bukan karena mulai ada rasa Tania.
Bangunlah Tania sadarlah. Setelah melahirkan dia akan segera merebut anak yang yang sudah susah payah kamu kandung ini. Batin Tania yang kecewa dalam diamnya.
" Sayang, Tan~~." Julian memanggil Tania dengan nada lembut dan mendayu membuat Tani kini mengarahkan kamera ke wajahnya yang tertekuk lesu.
" Tanya gitu, siapa? atau apalah gitu?" Lagi Julian tak putus asa dan menggoda Tania.
" Hemmh, siapa memangnya?" Tanya Tania yang malas meladeni Julian.
" Ah, tidak asik. Padahal tadi niatnya mau gombalin kamu. Tapi kamu malah. Tan bukalah hatimu sedikit saja untukku Tan." Kata Julian.
" Aku sudah bilang kan, aku butuh waktu. Aku juga butuh ketenangan Mas. mengertilah."Jawab Tania dengan jujur.
" Hhh, Oke. Sial, aku masih terbayang terus sama cewek cantik tadi Tan. Kenapa ya?" Tanya Julian yang memancing kesabaran Tania berharap istrinya akan seperti istri istri temannya yang di ceritakan temannya.
" Hubungannya apa coba sama aku Mas?" Tania enggan untuk terbawa perasaan.
" Ya jelaslah ada. Ada orang cewek yang aku maksud itu kamu Sayang. Aku kebayang kamu yang pake daster dengan rambut yang berantakan itu." Kata Julian mulai menggombal.
Ya walaupun senyumnya tipis tapi jelas ya hantinya mulai tergelitik. Berbunga-bunga gitu ðŸ¤ðŸ¤.
" Kamu beli daster lagi?" Tanya Julian yang sedikit heran karena sebelumnya daster daster milik Tania yang sudah usang di berikannya pada Mbak Ina.
" Iyalah, Oh iya. Kamu kemana kan daster daster kesayanganku?"
" Aku kasih ke Mbak Ina." Jawab Julian tanpa merasa bersalah.
" Oh pantas, tadi waktu liat Mbak Ina kayak ada yang aneh. Kayak kenal gitu.." Desis Tania yang menatap tak suka Julian yang kini malah cengengesan di ujung sana.
" Sayang, tapikan aku sudah belikan gaun-gaun pendek selutut juga untuk di rumah. Malah mbak-mbak butiknya yang bilang itu gaunnya bisa di pakai kesegala acara karena modis dan elegan." Jawab Julian menjelaskan persis seperti yang di katakan oleh penjaga butik.
" Eh, kalau nyaman itu tak liat harga. Sayangkan aku beli daster- daster itu pakai uang gaji bulanan aku di pasar. Susah payang, udah ku sayang sayang, udah nyaman malah kamu kasih ke orang." Cicit Tania kesal.
" Daster aja di sayang, kalau aku, kamu sayang ga?" Cetus Julian dengan cepatnya.
" Ya sayanglah." Jawab Tania yang mengikuti kata terakhir Julian.
"Eh, em. Maksudku dasternya. Bukan kamu."Sambar Tania yang meralat ucapanya.
" Hahahaha, kamu sadar ga sudah dua kali kamu panggil aku sayang Tan. Aku yakin di hatimu ada aku kan?" Tanya Julian dengan kepercayaan diri yang tinggi.
" Idih, terserah kamu mas. Mau liat biji kacang hijau ga?" Tania mengalihkan topik.
" Biji kacang hijau?" Julian menggumam dan Tania mngarahkan kamera ke gambar hasil USG.
__ADS_1
" Apa itu Tan? Hitam-hitam?"
" Ini hasil USG Mas. Lihat titik putih kecil itu? Dia calon anak kita." Kata Tania dengan antusias.
" Itu hasil perbuatanku? Tan, kamu serius?" Tanya Julian memastikan dengan mata yang berkaca-kaca.
Hatinya sungguh bergetar dan menyadari jika selama ini wanita yang dia sia-siakan adalah wanita yang terbaik yang menjadi ibu dari anak-anaknya.
" Iya Mas ini hasil pemaksaanmu. Mangnya siapa lagi yang bisa dan tega memaksaku selain kamu?" Tania menyindir dengan pertanyaan yang diajukan.
" Tan, tunggu aku Ya. Kita rayakan ini bersama ayah dan Ibu. Aku akan cepat menyelesaikan ini semua dan kembali pada kalian. " Kata Julian yang sangat bahagia.
Mereka berbincang melalui saluran video call sampai akhirnya terputus karena ponsel Tania low battery.
**Jika kau temui seseorang yang menyebalkan, jangan kau benci dia.
Bisa jadi orang tersebut adalah jelmaan malaikat yang menyelamatkan nyawamu melalui cara yang kita benci tanpa kita sadari.
Dan kamu tau itu? Semua itu kita, bertemu dengan wajah itu hanya satu kali dalam seumur hidup kita.
Sepenggal kisah**.
ini dari kisah temanku. Panggil saja dia Si N.
N berjalan pulang dari tempat dia les bimbel menuju ke rumahnya.
Dia sendirian karena kebetulan Ayahnya tidak bisa menjemput dikarenakan ada urusan mendadak dan ibunya sedang sakit.
Malam itu,
Hujan gerimis, N berjalan dan ada seseorang yang seumuran dengan dia juga memakai tas dan topi. N pikir dia juga adalah anak yang pulang dari bimbel.
Lama berjalan, anak berjaket hitam ini panggil aja si O. Entah mengapa dengan sengaja dia melemparkan batu kerikil ke kepala N.
N marah dong jelas. Kenal tidak, ada masalah apapun juga tidak, tau tau lempar batu kerikil dan cukup keras.
N berbalik dan hendak menegur si O. Ya mau marah-marah gitu lah ya.
Tetapi kalian tau?
Saat N berbalik dan berlari menghampiri O dengan emosinya. Tiba-tiba ada sebuah motor yang hilang kendali dan menabrak tepat di lokasi tempat di N tadi berdiri.
Kejadiannya begitu cepat, orang-orang sekitar mulai berkerumun dan melihat si korban kecelakaan itu tadi. Sepersekian detik, N juga menjadi lupa akan keberadaan si O.
Sesampainya di rumah N baru ingat tentang si O. N yang ketakutan karena melihat korban kecelakaan yang meninggal di tempat sampai demam beberapa hari.
Dan, saat demam dia kembali bertemu dengan perawakan si O hanya saja wajahnya buram. Dalam mimpinya si O hanya tersenyum dan mengusap kepala si N dengan penuh perasaan.
N terbangun dan kemudian baru menyadari jika si O yang dia temui bukanlah manusia. Dia meyakini Jika Si O adalah malaikat yang sedang menejlma. Karena di dalam mimpinya si O berkata. "Jangan cari aku. Rupaku tak pernah sama"
Kalau Othor yang di mimpiin begini sih, auto merasakan dagh digh dugh tak menentu ya. Merinding disco langsung dan ngibrit sembunyi di bawah selimut 😂😂.
Tapi temanku itu pemberani. Dia biasa aja dan menganggap itu sebagai keberuntungan karena bertemu dengan malaikat yang menjelma. Bukan demit loh ya. Sebab dia positif thinking, mungkin kalau dia negatif thinking pasti bilangnya si O adalah penunggu daerah situðŸ¤ðŸ¤.
Udah dulu ah, Happy reading sayangku!!
__ADS_1