
Tania tersipu-sipu tapi menyembunyikannya dari hadapan Julian. Tania tak mau Julian besar kepala.
" Auh... Vanas, Vanas." Julian kepanasan saat menyesap kopinya dan menjulurkan lidahnya dan mengipasnya dengan tangannya.
" Akting! Tadi aja si Harry biasa saja." Tania memegang cangkir kopi milik Julian dan dia tergelak.
" Eh, iya loh?" Tania melongo menatap Julian.
" Tiup." Rangek Julian manja masih menjulurkan lidahnya seperti bocah ff yang minta dijitak.
Tania baru mulai meniupnya dan Julian kembali melancarkan aksinya dengan kembali menyesap manis bibir Tania.
" Sayang, boleh ya?" Tanya Julian meminta ijin menatap dua manik coklat Tania penuh harap.
"....." Tania berpikir.
Dert....!
Dert...!
Ponsel Tania bergetar.
" Maaf Mas, ada telfon sepertinya penting. Aku akan mengangkatnya dulu." Ini kesempatan bagi Tania untuk menghindar dari serangan mematikan Julian.
Jujur saja, Tania masih enggan untuk melayani Julian meskipun dia tau jika menolaknya akan berakibat laknat dari malaikat.
Tapi, Ya mau bagaimana lagi. Tidak mudah bagi Tania melupakan apa yang sudah pernah terjadi dan disaksikannya secara nyata di depan mata.
Terang terangan suaminya mengakui jika dia memiliki wanita lain. Hati wanita mana yang tak sakit?
Tania tidak ingin sesuatu yang muluk-muluk, dia hanya ingin di hargai dan di perlakukan layaknya manusia yang bernyawa.
Dan kini, Julian masih berjuang untuk mengikis keraguan istrinya.
Menebus segala kesalahannya dan menghapuskan kenangan buruk yang masih saja tersimpan di kepala Tania.
Tan, sampai kapan kamu akan terus menolakku?
Baru kemarin hatiku sangat senang saat kamu mengangguk menerimaku, mencoba membenahi rumah tangga kita.
Tapi sekarang, kamu mulai menjauh dan menjaga jarak lagi.
Kau suka sekali menyiksaku Tan.
Aku paham bagaimana dulu luka hatimu jauh lebih sakit daripada ini.
Tan, maafkanlah aku. Batin Julian yang terduduk lesu sendirian di ruang tamu.
" Mas, sudah makan?" Tanya Tania yang juga ikut duduk di sofa di sebelah Julian.
Tania merasa tak enak hati jika harus meninggalkan Julian duduk sendirian di ruang tamu. Yang Tania ingat, Tadi suaminya berkata jika dia punya hadiah untuknya.
Dan sekarang Julian sudah memasang muka masam, Tania paham jika muka masam itu adalah akibat dari penolakannya atas ajakan Julian. Sesuatu yang mengeras pun seketika layu tak bernafsu kala ingat kembali akan kesalahannya di masa lalu yang dengan mudahnya bermain di sembarang liang.
" Belum, sengaja nunggu kamu Tan." Kata Julian sendu.
__ADS_1
Eh, Dia panggil nama saja? Itu artinya dia sedang....? Tania mengulum senyumnya seolah senang dengan apa yang terjadi. Perlahan tapi pasti Tania kini memegang kendali akan suasana hati Julian.
" Ehem,!" Tania berdehem dengan sengaja untuk mendapatkan perhatian Julian yang kini sedang menutup matanya mencoba terpejam meski tak mengantuk.
" Mas, mau makan?" Tanya Tania dengan menahan tawa di wajahnya. Baginya lucu saja saat ini melihat ekspresi wajah Julian yang kusut.
Julian memijit pangkal hidungnya dengan matanya yang terpejam dan bersandar di sofa.
" Tadinya aku lapar, tapi setelah melihat istriku pulang di antar laki-laki lain, aku jadi tidak selera makan."
Tania terkekeh geli tanpa suara, senang sekali sekarang dia melihat Julian yang terbakar cemburu. Sesekali Tania mengusap perutnya seolah berinteraksi dengan jabang bayinya.
" Mmm, benarkah sudah tidak nafsu makan Mas? Padahal, tadi... aku.... mau makan oleh-oleh dari kamu loh. Tapi Mas sepertinya tidak berminat lagi jadi ya sudah. Aku ke kamar dulu ya Mas..." Tania melirik Julian, dia ingin reaksi Julian adalah merengek manja seolah tak bisa hidup tanpa kehadirannya.
" Ya." Jawab Julian tanpa membuka matanya.
Tania berjalan sambil berjinjit menuju ke kamar. Sesekali sampai beberapa kali Tania berbalik badan, berharap Julian akan memanggilnya kembali. Tapi tidak, apa yang di harapkan tak sesuai kenyataan.
Secara tidak sadar Tania sudah mulai mengharapkan perhatian dari Julian. Senang saja hatinya jika bisa mengerjai atau membuat Julian kecanduan akan kehadirannya.
Lama Tania masuk kedalam kamarnya, tetapi Julian tidak menyusulnya. Hingga Tania tertidur pulas dan terbangun di tengah malam karena haus, masih saja Julian tidak kembali ke kamar.
Tania mulai memikirkan Julian. Tania risau, cemas juga khawatir. Rasanya campur aduk dan membuat Tania sedikit banyak merasakan ingin Julian berada di dekatnya. Entah memang karena hatinya mulai terbuka, ataukah karena si janin yang ingin dekat dengan Ayahnya.
Tania mencari Julian. Benar saja Julian masih di tempat yang sama dan posisi yang sama dia tertidur dengan lelapnya. Tania menghela nafas, ada kelegaan ternyata suaminya tidak kelayapan. Tapi juga ada rasa bersalah karena mengabaikan suaminya sendiri.
" Mas, kamu pasti lelah ya? Sampai tidur tidak bergerak seperti ini." Lirih Tania yang ikut duduk di sebelah Julian yang tidur Sabil bersedekap dada.
Tania tersenyum memperhatikan alis, bulu mata, hidung, kening, dan bibir Julian lalu mengusap perutnya.
" Sayang, nanti wajahmu pasti akan sangat mirip dengan Ayah. Bunda yakin." lirih Tania nyaris tanpa suara yang kemudian mengusap lembut perutnya.
Masih Julian terlelap.
" Mas, pindah ke kamar yuk." Ucap Tania lembut.
" Mas~~ " Tania mengguncang tubuh Julian perlahan namun Julian hanya menggeliat.
" Mas," Lagi Julian membangunkan Julian untuk berpindah ke kamar.
" Apa?" Tanya Julian dengan suara parau khas orang yang baru terjaga.
" Pindah ke kamar Mas, disini dingin. "
" Biarkan saja, apa pedulimu. Bukanya kamu senang jauh dariku?" Langsung kata Julian yang seperti tajamnya belati.
" Mas, kenapa bilang seperti itu? Mas marah?" Tania mengusap lengan Julian tanpa sadar. Hatinya sungguh merasa bersalah karena mengabaikan suaminya.
" Iya kan? Aku sengaja bekerja lembur berhari-hari dan memajukan janji dengan klien biar cepat pulang dan kembali ke rumah bersama kamu. Tapi apa? Sampai di rumah malah di suguhi istri yang pulang di antar lelaki lain. Jangankan sentuhan hangat atau pelayanan, aku hanya ingin memelukmu dan menciummu pun sepertinya kamu banyak alasan."
Oh, apa? Jadi dia hanya ingin bermanja-manja? Tidak ingin uh, ah, uh, ah? Tania, sepertinya otakmu yang kotor!! Umpat Tania dalam hatinya.
" Mas, ini sudah malam. Tidak bagus Mas marah-marah begini. Kita pindah ke kamar ya. Marahnya di lanjut besok lagi. Atau mas mau makan?" Tania bersikap sangat manis dan memasang kesabaran yang berlapis-lapis demi menebus kesalahannya.
" Cih! " Julian hanya bersecih dan menuju ke dapur lalu mengambil apel di ikuti oleh Tania yang ada di belakangnya. Dengan cepatnya Tania mengambil air.
" Di cuci dulu mas." Kata Tania yang melihat Julian mengambil apel.
__ADS_1
"...." Julian hanya melirik Tania dan mengelapkan apel ke bajunya lalu melahapnya.
Tania melongo, respon Julian menunjukkan jika dia masih kesal.
" Mas, jangan marah begitu. Aku pijitin ya." Tania menawarkan. Harapannya agar Julian menolaknya. Ya hanya basa-basi.
Tidak di sangka.
" Pijit aku di kamar. Aku lelah." Kata Julian yang berjalan cepat menuju ke kamarnya dan langsung merebah di ranjang mereka.
Ternyata perhatian juga dia dengan keadaanku. Gumam Julian senang dan mengulum senyum kemenangan.
Tania segera memijitnya dan melemaskan otot-otot Julian yang tegang. Beberapa saat kemudian.
" Buatkan aku rujak." Kata Julian tiba-tiba.
" Mas, aku tidak salah dengar kan? Rujak malam-malam?" Tania melongo tak percaya.
" Iya." Jawab Julian singkat, mengangguk tanpa ragu.
Tania hanya menurut dan membuatkan rujak. Tidak sulit karena hanya tinggal memotong buah saja untuk bumbu rujaknya Julian sudah membelinya dalam bentuk kemasan. Memang kehamilan Tania ini sangatlah menyiksa Julian.
Tania hanya menatap heran suaminya yang makan rujak dengan lahapnya.
Tania hanya bisa menelan liurnya berkali-kali saat melihat betapa masam rasa mangga yang tadi di cicipinya saat memotongnya tadi.
" Enak Mas?" Tanya Tania dengan ekspresi wajah menahan rasa asam padahal sama sekali dia tidak memakan rujaknya.
" Enak." Jawab Julian yang cuek dan masih fokus dengan rujaknya.
" Habis ini langsung ke kamar ya Mas. Aku mengantuk." Kata Tania yang sudah terkantuk-kantuk dan beberapa kali menguap.
"...." Julian mengangguk dan terus melahap rujaknya.
" Hoamz~~~" Tania menguap dan merapikan rambutnya sebelum berbaring.
Julian masuk ke kamar masih dengan wajahnya yang tertekuk lesu. Dia masih arah dengan Tania. Tanpa melihat Tania yang sudah berada di atas ranjang, Julian langsung masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi.
Saat bercermin sebelum mencuci mukanya.
" Apa ini? Lipstik? wah, ini lipstik?" Julian menyeringai kegirangan sampai meloncat-loncat kegirangan.
" Dia menciumku? Tadi dia menciumku? Disini?" Julian bermonolog.
Julian bergegas menyelesaikan ritualnya dan segera keluar meninggalkan kamar mandi.
" Sa..." Kata Julian terhenti saat melihat Tania sudah terlelap.
" Sayang, kamu sayang aku kan?" Lirih Julian yang teramat bahagia.
Julian naik ke ranjang dan langsung memeluk Tania erat lalu menghujani Tania dengan ciuman di kening bertubi-tubi sampai si empunya terbangun.
" Mas, kenapa?" Tania linglung.
" Aku sayang Kamu Sayang." Kata Julian senang.
__ADS_1
Yang hamil aku atau dia sih? Perasaan baru tadi dia cemberut ga jelas. Tapi sekarang? girang banget udah kayak janda baru dapet mangsa.
Betapa bahagianya Julian meski yang mendarat di keningnya hanya sebuah kecupan kecil yang bahkan tidak terasa olehnya, nyatanya mampu memberikan dopamine bagi Julian. Mood booster telah di dapatkannya dan kini Tania hanya pasrah berada dalam dekapannya.