In 30th.

In 30th.
60.


__ADS_3

" Mas!" Teriaknya kencang.


" Ada apa?" Julian tersentak kaget.


" I...., ini darah apa?" Tania bertanya kepada Julian yang hanya terdiam. Sedangkan noda darah itu tepat berada dimana posisi Tania tidur.


" Sayang, apa perutmu terasa sakit?" Julian terlihat panik dan ketakutan. Tangannya mengusap-usap kepala Tania.


" Mas, ini sedikit nyeri. Aku rasa, darahnya keluar lagi." Keluh Tania meraba perutnya dan merasakan sesuatu yang mengalir dengan kental dari bawah sana.


" Kita kerumah sakit sekarang juga." Julian setengah berlari dan bergegas bersiap-siap memakai bajunya setelah sebelumnya memunguti dan juga memakaikan baju Tania yang sudah terkulai lemas.


Julian menghubungi pihak hotel untuk merahasiakan hal ini dari ibunya. Ya, sebelum semua di pastikan, Julian tak mau memancing kemarahan dari Ibunya.


" Sabar Sayang.!" Julian membopong Tania sendirian dan mengantarnya ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Tania yang menahan sakit sama sekali tak bisa di ajak bicara kecuali hanya mampu menangis.


Betapa hawa nafsu membuatnya lupa jika ada benih kecil yang baru saja ingin mengenal hidup.


Tania mengerang menahan sakit di perutnya bagian bawah.


" Sayang, maafkan aku. Tak seharusnya kita... Ini semua gara-gara kebodohanku." Julian terus merutuki kebodohannya sendiri. Dengan tatapan nanar dia memperhatikan Tania yang mengerang kesakitan dalam diam dengan keringat yang menyembul dari Keningnya dan juga tangan yang terus mengusap lembut perut ratanya seolah takut kehilangan sesuatu yang singgah di dalamnya.


Sesampainya di rumah sakit.


" Maaf pak, Bapak tunggu di luar saja. Biar kami yang menangani pasien." Kata asisten dokter yang menghalau Julian yang terus saja memberontak ingin masuk kedalam ruang IGD. Akhirnya Julian pasrah dan kalah setelah berupaya melawan kebijakan dari pihak rumah sakit.


Lampu merah di pintu masih menyala. Menandakan penanganan masih berlangsung. Julian berjalan bolak balik dengan panik dan tiba-tiba mendarat beberapa pukulan dari sandal jepit.


PLAK!


PLAK!


PLAK!


Bunyi tamparan terdengar nyaring di telinga di susul suara seorang ayah yang memelas kepada istrinya.


" Sudah Bu sudah. Kasihan Jul. Jangan marah terus Bu." Ayah Dito melerai Ibu Yuli yang ingin mengkoyakkan Julian sekarang juga.


" Kamu apakan lagi istrimu?" Tanyanya geram setelah puas mendaratkan beberapa pukulan dari sandal jepit yang dipakainya.

__ADS_1


Tampilan Ibu Yuli sungguh kacau. Dia masih memakai daster dan rambut yang masih tergelung dengan roll. Dia tidak sadar akan penampilannya saat ini. Begitupun ayah Dito yang masih memakai piyama.


Setelah pulang dari dinas memang Ibu Yuli dan Ayah Dito sengaja menginap di hotel yang sama dengan putranya. Namun karena malu, Ayah Dito berpura-pura jika mereka akan kembali kerumah.


Pihak hotel lah yang memberitahu perihal tuan mudanya yang menggendong istrinya yang terkulai lemas dengan bercak darah yang terlihat di bagian belakangnya.


" Auh, Bu. Sakit!" Rengek Julian yang menangkis pukulan yang menghujam bertubi-tubi dari sandal jepit kesayangan Ibunya.


" Kamu apakan menantu dan calon cucuku?" Cecar Ibu Yuli dengan geramnya.


" Bu. Julian khilaf." Kata Julian singkat dengan wajah yang ketakutan menghadapi kemarahan ibunya yang sungguh menyeramkan.


" Bu sudah, tenanglah ini dirumah sakit. Jangan buat keributan. Biarkan dokter berupaya dan kita dengarkan apa penjelasan mereka nanti. Jangan termakan emosi Bu." Ayah Dito menasehati.


" Bela saja, bela terus anakmu yang semata wayang itu." Ibu Yuli berucap sinis dan kemudian duduk sambil melipat tangannya ke dada. Tatapannya sungguh tajam mengarah pada Julian.


" Bukan begitu." lirih ayah Dito yang kemudian mengusap lengan Istrinya dengan perlahan berharap mau memberi pengampunan untuk putra mereka.


Julian terdiam dan menunduk. Tak berani dia mengangkat kepalanya atau melihat ke arah Ibunya. Bayangan yang menyakitkan muncul begitu saja di kepalanya. Kemungkinan terburuk pun terlintas begitu saja.


" Sudah kamu kabari ibu mertuamu?" Cetus Ibu Yuli yang mengingatkan Julian.


" Em, Bu. Boleh aku berkata jujur?Tapi ku mohon, singkirkan sandal jepit mu itu." Pinta Julian dengan lembut.


" Katakan Nak. Semua sudah aman."Ayah Dito mengangguk meyakinkan Julian sambil merangkul istrinya seolah berjaga-jaga jika amukan istrinya kembali mencuat.


" Aku menempatkan Ibu mertuaku di desa. Ku belikan dia lahan untuk bercocok tanam di pegunungan. Aku juga menempatkan dua orang yang bertugas untuk memantau gerak-geriknya."


" Kenapa harus seperti itu?Dia ibu mertuamu Julian bukan tahanan." Cela Ibu Yuli yang kesal bukan main akan tindakan anaknya yang mengasingkan ibu mertuanya sendiri.


" Ibu, dia bukan ibu mertuaku. Dia hanya ibu angkat Tania. Tania bukan anak kandungnya. Aku sudah memeriksa semua data-datanya. Ibu Dewi sengaja menutupi hal ini untuk terus memeras istriku. Dia tau, istriku tidak akan kembangkan orang tua kandungnya." Kata Julian yang kini berani menatap kedua mata Ibunya.


" Memeras? orang tua angkat? lalu Ayahnya? mengapa tidak memberitahu ini kepada istrimu?" Ibu Yuli semakin penasaran akan kisah hidup menantunya.


" Ya, aku bertemu salah satu saksi kunci saat Tania di angkat anak. Tania adalah seorang bayi yang malang. Dia terbuang Bu. Entah siapa orang tuanya tetapi pasangan mandul yang menemukannya menyembunyikannya dan mengangkatnya sebagai anak." Jawab Julian dengan kejujurannya.


" Tunggu, ceritakan secara lengkap." Pinta ibu Yuli yang kini nada suaranya sudah menjadi lebih stabil.


" Tania dulu di temukan di semak-semak yang jauh dari pemukiman penduduk. Dan ibu Dewi menemukannya dengan sangat senang dia menjadikan Tania anaknya dan menutup semua rahasianya. Lalu mereka pindah ke kota kita ini. Saksi yang mengetahui hal itu tidak lain adalah anak tetangganya Bu. Saat itu dia masih kecil tapi dia ingat dengan baik jika Ibu Dewi yang menemukan bayi lalu membawanya lari." Julian menghela nafasnya saat mengingat bagaimana pertemuan itu terjadi.


" Waktu itu, Tania sakit. Ibu tentu ingat saat Tania berada di rumah sakit dan mencoba memotong urat nadinya?"

__ADS_1


"...." Ibu Yuli mengangguk.


" Ya, saat itu terjadi. Sebelumnya ibu Yuli datang dan meminta uang kepada Tania. Dia menindas Tania jika tidak memberikannya uang, maka Tania adalah anak durhaka. Apa yang lebih menakutkan dari hati yang murni dari Tania dari pada ridho kedua orang tuanya? Tania terlalu berhati mulia Bu. Dia bahkan rela dinikahkan denganku hanya karena takut jika ayahnya akan tersiksa di alam sana. Tania menuruti semua permintaan ibunya yang semakin lama semakin kelewat batas."


" Setelah aku melihat sendiri bagaimana sikap ibu Yuli pada Tania, aku tergetar dan tersadar jika aku juga tidak kalah buruknya memperlakukan istri yang tak berdosa padaku. Aku membuntutinya, di saat aku membuntutinya aku melihat ibu Dewi berdebat dengan seorang perawat. Ya perawat itu adalah yang dulunya saksi yang melihat tindakan ibu Dewi. Perawat itu tau jika Tania adalah anak yang disembunyikan itu. Aku menemui perawat itu, dia bercerita semuanya. Dia kasihan saat melihat Tania dianiaya oleh ibu Dewi." Julian mengusap kasar wajahnya.


" Kamu telah melakukan hal yang benar Nak." Suara ibu Yuli melembut dan mengusap-usap kepala Julian dengan sayang.


JEGLEK! Pintu terbuka.


Tania masih tertidur dan di pindahkan ke kamar rawat inap. Julian segera terkesiap dan menghambur mengikuti arah Tania di pindahkan alih-alih mendengarkan penjelasan dokter.


" Bagaimana keadaan istriku dok?" Tanya Julian setelah Tania berada di kamar rawat.


Julian duduk di sebelah Tania dan menggenggam tangan Tania dengan hangat dan mengecupnya sesekali. Pandangannya tak lepas dari wajah Tania yang terlihat pucat.


" Dia baik-baik saja. Bayinya juga baik, Janin baik. Semuanya stabil. Hanya saja, sepertinya tadi dia terlalu ekspresif dan antusias terhadap satu hal. Janin kalian sedikit terkejut tadi. Lain kali hati-hati saat berbuat Ya." Ucap Dokter yang diselingi senyum yang terkulum.


" Syukurlah, calon cucuku baik-baik saja." Ibu Yuli bersandar lemas di sofa dan mengusap dadanya.


Julian tersenyum senang dengan bulir air matanya yang menetes dari sudut matanya lalu mengecup kening Tania. Terlihat sekali jika Julian sangat mencintai istrinya. Hal itu membuat Ibu Yuli dan Ayah Dito ikut tersenyum senang.


" Pak Julian, karena hal ini. Istrinya harus bed rest ya. Samapi keadaannya membaik. Kalau untuk berhubungan, sebaiknya kalian tunggu sampai melewati trisemester pertama." Kata Dokter menjelaskan.


" Tri semester pertama? Maksudnya kami boleh melakukannya lagi jika usia kandungan sudah 4 bulan?" Julian menerka dengan teorinya sendiri.


" Yup! Anda sangat pandai. Itu lebih aman untuk kalian berdua." Ucap Dokter yang tersenyum ramah.


Tania perlahan mulai membuka mata dan mendapati suaminya mengunggunya di sisihnya. Tangan Tania terulur mengusap lembut wajah Julian.


"Mas" Lirih Tania.


" Wah, kamu sudah bangun Sayang?" Julian sungguh berbinar kala melihat Tania siuman.


" Maafkan aku." Lirih Julian dengan sesal yang nyata.


" Tidak, Mas kamu tidak bersalah. Ini karena kebodohan kita." Tania tersenyum dengan wajah pucatnya.


" Ibu dan ayah senang akhirnya kamu siuman." Kata Ibu Yuli yang berdiri dan menghampiri Tania.


" Baiklah kalau tidak ada yang di tanyakan lagi saya permisi dulu. " Kata Dokter yang merasa jika penjelasannya sudah di mengerti.

__ADS_1


" Anak kita Mas?" Tania bertanya dan menengadah menatap wajah Julian.


" Dia baik-baik saja sayang. Hanya saja kita harus libur dua bulan." Jawab Julian dengan raut wajah yang sulit di artikan.


__ADS_2