
TING TUNG!!
TING TUNG!!
TING TUNG!!
" Siapa sih pagi pagi begini?" Seru Robby yang baru membuka pintu kamarnya begitu juga dengan Mayang. yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
" Ga tau." Mayang menggeleng dan mereka berdua berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Mereka terbengong sat melihat siapa yang datang...
" Nenek!" Seru Mayang yang tercengang akan kedatangan Neneknya di pagi buta.
" Mari masuk Nek. Maaf kami baru bangun." Ucap Robby yang kemudian mencium punggung tangan Nenek dan mengajaknya masuk.
sedangkan Mayang masih berdiri terbengong-bengong melihat kedatangan Neneknya sendiri yang datang di kawal orang orang berbaju serba hitam dan berbadan tegap.
" Yang, kesini geh. Masa Neneknya datang kamu malah mematung disitu?" Robby menegur Mayang sambil melambaikan tangannya memanggil Mayang.
" Eh, iya." Mayang terkesiap lalu berjalan mendekati Robby dan Nenek lalu membaur duduk di sofa.
Raut kemarahan sudah tak nampak lagi di wajah Nenek. kini Nenek sudah lebih sumringah dan ceria.
" Mayang." Ucap Nenek singkat tapi cukup membuat cucunya bingung sekaligus deg-degan.
Mayang melihat Robby sesaat lalu Robby mendekat kepadanya dan mengangguk, seolah memberikan ijinnya.
" Ada apa Nek?" Sahut Mayang ragu ragu.
" Hemh, kamu apa kabar? Bagaimana kabar celon cucu Nenek?" Wanita renta itu mengusap perut Mayang.
" Ba.... baik Nek. Kami baik baik saja." Jawab Mayang terbata bata.
" Ini sudah saatnya kamu tau semuanya. Kamu harus menggantikan Nenek."
" ....." Mayang terkesiap dan mematung. Dia masih belum paham kemana arah pembicaraan Nenek.
" Mayang..., tinggal kamu satu satunya harapan di keluarga kita sebagai penerus."
" Pe... penerus apa maksudnya? aku tidak mengerti Nek." Gumam Mayang perlahan yang kini tangannya mulai dingin meremas tangan Robby.
" Pengawal!" Seru Nenek memanggil seseorang berbadan kekar lalu menyerahkan setumpuk berkas kepada Mayang.
" Ini Nona, silahkan anda baca dan Anda pahami. Jika ada yang tidak anda mengerti, kami siap memberikan penjelasan."
Robby dan Mayang saling bersitatap dan sepersekian detik mereka membeku.
" A... aku ambilkan teh hangat ya Nek." Kata Robby yang sadar jika tamunya belum di berikan suguhan.
Nenek mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Mayang membaca tiap-tiap berkas selama beberapa jam. Banyak yang dia tanyakan. Robby yang penasaran juga ikut membacanya.
" Nek, tapi aku sedang hamil." kata Mayang.
" Tidak apa-apa, ini hanya sampai Bagus cukup umur. Nenek sudah tua Mayang. Sudah tidak bisa mengemban tugas sebagai Ratu lagi."
" Ra... ratu?" Robby menyela dan masih tidak percaya. Ternyata temanya sedari SMA ini memiliki silsilah keturunan keluarga kerajaan.
" Iya. Istrimu yang Nenek tunjuk untuk menggantikan kursi kepemimpinan sementara sampai Bagus cukup usia untuk menjadi raja selanjutnya. Nenek sudah habis cara untuk merayu Ayahmu. Sebagai imbalannya Nenek akan menjamin kesejahteraan kalian. Kamu dan anakmu itu." Kata Nenek yang sekilas melihat perut Mayang.
" Nek, Apa itu berarti aku juga harus pindah ke kerajaan itu?" Tanya Mayang.
" Tentu, tentu saya kamu harus tinggal di istana kerajaan, bersama suamimu. Tapi kamu harus tau disana tidak seprimitif yang kamu bayangkan. Kamu tetap bisa keluar dari istana dan menetap disini. Hanya saja satu bulan sekali kamu harus menghadiri acara yang menjadi ritual rutin kerajaan." Kata nenek menjelaskan panjang lebar.
" Jika aku melanggar?" Tanyanya.
" Jika kamu melanggar, maka kamu akan di coret dari daftar nama pewaris tahta." Jawab nenek yang dengan santainya menikmati teh hangat buatan cucu menantunya.
" Apa itu bentuk pelanggarannya."
" Tidak mematuhi aturan kerajaan, keluar dari wilayah kerajaan semaunya sendiri, tidak menjaga pergaulan, dan bersikap arogan."
" Aku sudah melanggar semuanya Nek. Bahkan anak ini, anak ini bukan anaknya Robby." Jawab Mayang yang menolak keinginan sang Nenek untuk menyandang dan mengemban gelar yang teramat berat baginya.
DEGH!!!
Nenek seketika memegang dadanya. Dunia seolah berhenti berputar, bagaimana bisa Cucunya yang pertama menapaki jejak kelam dirinya bahkan sama persis. Hamil dengan orang lain dan menikah dengan orang lainya lagi sebagai penutup malu.
Nyaring suara tangan yang beradu dengan pipi mulus Mayang. Robby seketika mendekati Mayang dan merangkulnya. Mereka berdua berlutut di hadapan Nenek.
"Mayang! Kamu sadar akan apa yang kamu katakan?" Nenek membentak Mayang.
" Kalian, tutup telinga dan mulut kalian akan hal ini!" Teriak Nenek memberikan perintah kepada pengawalnya.
Mereka semua, pengawal yang berjumlah 6 orang seketika berbalik dan meninggalkan ruangan.
Mereka menunggu di luar rumah Mayang dan berjaga di depan pintu.
" Tidak Nek, Mayang bohong. Bayi yang ada di perut Mayang adalah anakku. Dia murni anak kandungku Nek. Dia darahdaging ku. Aku yang melakukan kesalahan itu." Ujar Robby berseru dengan nada bicara yang tegas namun tercekat dengan suara yang sedikit bergetar.
" Kalian mempermainkanku?" Nenek semakin geram menatap tajam kedua manusia yang sedang berlutut di hadapannya.
" Ti... tidak Nek." Robby menggeleng.
Sedang Mayang tak habis pikir mengapa kini Robby mati-matian mengaku jika janin yang ada di dalam perutnya merupakan darah dagingnya. Seolah suara Mayang habis, lidahnya Kelu dan lehernya tercekat erat.
" Nek~~" Kata Mayang dengan sendunya.
" Nek, Mayang hanya beralasan saja. Dia hanya belum siap untuk mengemban tugas yang berat ini secara tiba-tiba. Biarkan kami berdua berpikir dan memutuskan bersama Nek. Ini terlalu cepat dan berat untuk Mayang." Robby menyela ucapan Mayang dan membela Mayang mencoba mengukur watu sebisa mungkin supaya Mayang lebih siap dengan apapun yang akan terjadi nantinya.
Nenek terdiam dan kembali duduk sambil menyesap teh hangatnya. Rupanya kata-kata bijak dari Robby bisa meyakinkan Nenek.
__ADS_1
Hhh, hampir saja kamu membuatku mati berdiri Mayang.
Cukup aku saja yang membuat kesalahan memalukan itu,
Cukup aku saja yang menjauhkan seorang ayah dari anak kandungnya.
Cukup aku saja yang menderita. Jangan kau ulang keslahanku yang dulu cucuku.
Ayahmu ku besarkan dengan baik. Dia juga berprilaku baik, tapi mengapa malah kamu?
Ah, sudah aku bisa gila.. Nenek berbicara dalam hatinya, menyesali segala perbuatannya di masa lalu.
"Baiklah aku beri kalian waktu untuk berfikir. Lebih tepatnya menerima ini secara perlahan. Katakan kalau sudah siap dan menghadaplah padaku." Ujar Nenek yang kemudian berdiri dan merapikan penampilannya yang terlihat dari pantulan layar monitor TV.
Mayang dan Robby ikut berdiri mengikuti langkah kaki Nenek yang tiba-tiba berhenti di ambang pintu.
Mayang dan Robby keduanya sudah bernafas lega sampai-sampai Robby sempat mengusap peluh Mayang yang menyembul di keningnya.
" Kamu takut? Tenanglah hari ini kita masih bisa bernafas lega." Bisik Robby memenangkan teman yang kini menjadi istrinya dengan sesekali mengusap lembut kepala Mayang.
" Eum." Mayang mengangguk.
Mayang lega juga senang, setidaknya dia tidak bertemu lelaki yang salah.
Robby membuktikan semua ucapanya, dia bertanggungjawab atas semua yang menimpa Istrinya, tidak perduli lagi anak siapa yang di kandung Mayang, baginya itu juga anaknya.
Robby menepati semua janjinya dan menutupi semua kesalahan Mayang.
Padahal, jika dipikir mudah saja bagi Robby untuk melarikan diri dari situasi pelik ini.
Dan, mudah pula baginya untuk mencari wanita lain sebagai istri yang lebih segala-galanya daripada seorang Mayang.
" Pengawal, bawa koperku masuk!" Seru Nenek pada pengawal yang berdiri di depan pintu.
Serempak Mayang dan Robby mengerutkan keningnya.
" Koper?" Celetuk Robby tanpa sadar.
" Iya, aku akan menginap disini sampai kalian menyetujui. Jika tidak, jangan harap aku akan pergi." Kata Nenek dengan santai tetapi sangat mengerikan bagi Mayang dan Robby.
" Apa?" Seru Mayang dan Robby bersamaan dengan mata melotot.
" Kenapa? kalian tidak suka aku menginap Disini? Merasa terganggu?Atau jangan-jangan takut aku kan menguping kegiatan malam kalian?" Ucap nenek mencecar penuh selidik dengan sedikit menggoda pasangan pengantin baru itu.
" Nenek bukan begitu. Aku belum merapikan kamar tamu." Kata Mayang beralasan.
" Tenang pengawal Nenek bisa melakukannya dengan baik." Jawab Nenek yang menepis tangan Mayang yang mencoba menghalau Neneknya untuk memasuki kar tamu yang menjadi kamar Robby.
" Nek, jangan. Itu masih sangat berantakan,"Cegah Robby kali ini dengan merangkul Nenek.
" Apa yang kalian sembunyikan?"Cetus Nenek penuh dengan kecurigaan dan menatap tajam Mayang dan Robby secara bergantian.
__ADS_1