In 30th.

In 30th.
8.


__ADS_3

Selesai melakukan sesi pemotretan kini Dera di sibukkan dengan sejumlah berkas yang menumpuk di mejanya. Berkas lamaran dan juga beberapa dokumen penting lainnya membuat dera hanya bisa terduduk lesu dan memijit pelipisnya.


" Kepalaku cenat senut!" Keluh Dera yang kemudian mulai mengerjakan tugasnya.


Tok!


Tok!


Tok!


" Permisi Bu, Ini berkas laporan keuangannya. Mohon anda periksa. Juga, hari ini adalah waktu pembayaran gaji." Ucap karyawan yang mengelola berkas keuangan.


" Hemh, iya iya. Satu jam lagi saya keluar." Sahut Dera yang tetap fokus menandatangani dan memeriksa dokumen.


" Baik Bu, saya permisi." Pamit si karyawan menunduk dan kembali menutup pintu rapat-rapat.


" Hhhh, kapan aku bisa duduk santai menunggu suami di rumah sambil menimang anak-anak? Aku sudah 30tahun dan masih jomblo." Keluh Dera yang semakin meratapi usianya yang semakin menua dan masih lajang.


" Mama, apa doamu tidak manjur?Kenapa jodohku belum datang?" Gumam Dera yang terus menandatangani dokumen.


Tanpa terasa sudah satu jam berlalu. Dera bergegas beranjak dari ruangannya dan menuju ke Bank. Setiap bulannya pembayaran gaji karyawan selalu di awasinya langsung dari Bank. Dera tidak mau mempercayakan soal keuangan kepada bawahannya secara langsung. Selalu saja dia turun tangan dan mengawasi sampai selesai.


Sore menjelang, Dera sampai lupa makan. Pembayaran gaji sudah rampung dan Dera menuju ke rumahnya. Di dalam perjalanan perasaan dera sudah mulai tidak enak.


" Kenapa perasaanku aneh begini sih, ada apa ya?" Gumam Dera yang tetap melajukan mobilnya membelah jalanan kota.


Besss!


Terdengar suara angin yang mendesis keras dari bagian bawah. Dera merutuki nasibnya. Seharian ini harinya sungguh berat. Harus mengetahui jika sahabatnya teraniaya, juga pekerjaan yang menumpuk, di tambah lagi ban mobilnya yang tiba-tiba bocor.


" Sial, mana tidak ada ban serep. Aku juga mana bisa ganti ban sendiri?"


" Bengkel mana bengkel?" Dera melihat keadaan sekitar dan sangat sepi.


" Gila, ini aku dimana sih? Bukan jalan kerumah kan? apa aku salah jalan?" Gumam Dera seorang diri sambil mengotak atik ponselnya mencoba menghubungi seseorang.


Dera menghubungi pihak bengkel untuk mengambil mobilnya yang tentu saja sudah tidak bisa berjalan lagi karena anginya benar-benar habis.


Dera berjalan kaki menyusuri jalanan yang asing baginya. Tentu saja asing karena dia salah arah. Tetapi beruntung ada google map yang membantunya mengetahui letak dimana dirinya kini.


Saat Dera berjalan tiba-tiba.


Wuws!!

__ADS_1


Seseorang yang berboncengan sepeda motor tiba-tiba menarik paksa tas Dera dan membuat dera jatuh tersungkur sampai terseret beberapa meter mengikuti arah motor berjalan. Dera berteriak histeris meminta pertolongan.


Tetapi, preman yang kesal karena dera mempertahankan haknya malah menghajar dera dan memukuli dera bahkan menendang Dada Dera hingga dera sesak dan tak bisa bernafas.


Dera tercekat dan tak mampu berteriak meminta pertolongan. Entah darimana datangnya, seorang pemuda berpakaian ojol datang menolongnya. Pria itu lantas menghajar para penjambret itu sampai babak belur dengan darah yang mengucur.


Dengan kesadaran yang sedikit tersisa, Dera masih bisa melihat perkelahian antara laki-laki berhelm dengan penjambret itu. Laki-laki berhelm itu memenangkan perkelahian dengan cepatnya. Dan, dera tidak tahu lagi apa yang terjadi karena dia sudah pingsan tak sadarkan diri.


*


*


*


" Dera, Der. Bangunlah. Kamu kenapa sampai seperti ini sih?" Tangis Mayang di samping tubuh dera yang belum sadarkan diri.


Polisi datang memeriksa keadaan Dera sebagai korban penjambretan dengan membawa laki-laki tampan yang katanya sebagai saksi. Mayang mendengarkan semua keterangan dari saksi sekaligus penolong Dera. Tampaknya laki-laki itu lebih muda dari Dera. Kalau di lihat dari tampilannya yang masih menjinjing jaket ojol, tampaknya laki-laki itu hanyalah dari kalangan sederhana.


" Kamu siapa?" ~ Mayang bertanya dengan serius.


" Aku, aku Aldi Kak." Sahut laki-laki itu yang kemudian menunduk dan tak berani menatap Mayang.


Dert....!


Dert......!


Mayang mendapat telepon dari rumahnya. Saat ini ibundanya Juga sedang sakit di rumah dan ingin Mayang segera kembali. Pasalnya sedari tadi Mayang belum menginjakkan kakinya di rumah ibundanya. Mayang terlalu sibuk dan mengkhawatirkan keadaan Dera sampai dia lupa dengan janjinya kepada ibundanya.


" Hem, Mas. Bisa tolong jaga teman saya? Papa dan Mamanya sedang berada di luar negri untuk pengobatan jantung Papanya. Jadi dia tidak ada yang menemani malam ini." Kata Mayang yang langsung pada inti pembicaraan.


" Aku akan pulang dulu, besok aku kembali lagi. Ibuku juga sedang sakit."Ucap Mayang yang buru-buru bergegas pergi tanpa mendengar jawaban dari Aldi.


" Ta.... tapi.. Mbak?" Aldi berlari mengejar Mayang yang sudah keluar dari ruang rawat.


" Oh iya saya lupa. Ini untuk menjaganya. Dan ini untuk uang makanmu. Titip temanku ya." Ucap Mayang setelah menyerahkan uang kertas berwarna merah sebanyak lima lembar ke tangan Aldi.


" Besok aku kembali!" Seru Mayang sambil berlari meninggalakan Aldi yang masih terbengong-bengong.


*


*


*

__ADS_1


Tengah malam.


" Eungh... Dimana aku?" Desis Dera yang baru saja membuka matanya.


" Mbak, mbak sudah bangun? Mari saya bantu." Ucap Aldi yang memasukkan tangannya kedalam lengan panjang jaket ojolnya.


" Kamu siapa?" Dera masih bingung dengan apa yang terjadi.


" Aku, Aldi Mbak. Yang tadi menolong Mbak. Mau saya bantu untuk duduk?" Aldi menawarkan bantuan.


" Hemh.." Dera mengangguk.


Tanpa bersentuhan tangan dan kulit, Aldi membantu Dera untuk duduk. Tatapan Aldi juga selalu menunduk dan tak berani menatap Dera yang saat ini masih mengenakan pakaian hasil rancangannya sendiri dengan tali yang hanya sebesar jari yang membuat dadanya terbuka di bagian atas. Seperti kemben dengan pusarnya yang juga terlihat.


" Makasih." Dera tersenyum setelah Aldi membantunya untuk duduk.


" Mbak, makan ya. Terus minum obatnya." Kata Aldi yangs udah menatakan makan dan minum untuk Dera.


" Kamu kenapa masih di sini? Kamu boleh pergi dan Terimakasih sudah mau menolongku. Bisa ambilkan tasku?"Pinta Dera yang mencoba mencari tasnya yang berada di sofa tempat Aldi duduk.


" Oh iya ini." Aldi menyerahkan tas Dera.


" Aku disini karena teman Mbak yang meminta. Dia juga memberiku upah, tapi Mbak aku ikhlas menolong Mbak. Dan ini uang teman Mbak tadi. Masih utuh. Saya titipkan sama mbak saja ya. Tolong berikan pada dia. Saya ikhlas Mbak." Ucap Aldi dengan memberikan uang yang tadi di berikan oleh Mayang.


Dera memasukkan kembali dompetnya kedalam tas setelah sebelumnya dia berpikir akan memberikan sejumlah uang kepada pria yang sudah menolongnya.


Dia baik sekali dan tidak mata duitan. Jika aku lihat, dia hanya laki-laki dari kalangan biasa saja. Pakaian dan celananya tidak bermerk mahal. Tapi dia tampan Juga. Batin Dera.


" Sudah, simpan saja uang itu. Dan ini kartu namaku jika kamu butuh pekerjaan atau sesuatu. Aku sudah berhutang Budi kepadamu. Kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Aku tidak tahu lagi jika tidak ada kamu." Ucap Dera berterimakasih dengan tulus dan memberikan kartu namanya kepada Aldi.


" Aku,..." desis Aldi ragu untuk berucap.


" Ada apa katakanlah." Dera menangkap ada sesuatu yang ingin Aldi utarakan.


" Em,, apakah Mbak bisa memberikan aku pekerjaan tetap?" Aldi ragu-ragu tapi dia perlu dan sangat butuh.


" Bisa, bisa." Dera mengangguk beberapa kali.


" Mau bekerja tetap? tapi full time." Ucap Dera santai.


" Full time? Baiklah aku ambil." Kata Aldi yakin. Padahal entah apa sebenarnya yang menjadi pertimbangannya sehingga tergesa-gesa mengambil keputusan.


" Mulai sekarang kamu jadi asisten pribadiku juga sekaligus pengawal ku. Aku tidak mau pergi kemana mana sendiri. Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi." Kata Dera yang rupanya masih ketakutan dengan apa yang sudah di laluinya.

__ADS_1


" Baik Mbak. Siap!" Ucap Aldi penuh semangat membara. Terlihat kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.


Dia tergetku selanjutnya. Dera mengulum senyum memikirkan rencananya.


__ADS_2