
" Atas dasar apa selalu ingin berada di dekatnya? Dia jelas-jelas menolakku. Tapi mengapa aku suka sekali mengemis padanya? Kemana harga diriku ini?" Gumam Akbar seorang diri di dalam mobilnya dan menuju ke rumah sakit untuk mengobati tangannya yang nyeri luar biasa.
" Kemana dia?" Gumam Akbar yang melihat Mayang keluar dari kediaman tuan Dewa.
Akbar terus saja membuntuti Mayang tanpa rasa jengah. Entah sihir apa yang Mayang miliki tapi nyatanya sihir itu ampuh membuat Akbar bertekuk lutut.
*
*
*
" Kepalaku pusing sekali." Mayang memijit kepalanya saat mobilnya berhenti melaju di lampu merah.
" Huek!"
" Parfum ini menjijikkan sekali." Kata Mayang yang menutup hidungnya setelah mencium bau pewangi ruangan yang tergantung di mobilnya.
" Apa aku masuk angin Ya? Dari kemarin mual terus." Mayang sedikit mulai ragu akan kondisi kesehatannya.
Mobil Mayang melaju melesat dari kediaman tuan Dewa menuju ke klinik bidan yang berada di tepi jalan. Terbersit memang semenjak kejadian malam itu dengan Akbar. Ada sesuatu yang aneh dengan tubuh Mayang.
"Sejak malam itu, aku belum juga haid. Tapi haidku memang tidak rutin. Semoga tidak ada apa-apa dan aku hanya masuk angin biasa." Mayang berbicara sendiri sambil mengingat siklus haidnya yang tak lancar.
" Tapi kalau aku bisa hamil ya bagus juga. Aku akan membesarkan dan menjagamu sendiri. Setidaknya aku bukan wanita mandul seperti apa yang mereka katakan. Aku wanita normal dan hebat." Mayang bermonolog menyemangati dirinya sendiri
" Kenapa dia ke klinik bidan?" Akbar bermonolog seraya mengerutkan kedua alisnya.
*
*
*
Mayang berketad bulat untuk masuk kedalam klinik. Sementara dari tepi jalan yang lain sepasang mata terbelalak melihat Mayang masuk kedalam klinik bidan.
Mayang terduduk lemas di ruang tunggu setelah memeriksakan kondisinya.
" Selamat anda positif hamil. Tolong di jaga baik-baik ya janinnya. Usianya sudah 5 Minggu." Kata Bidan yang memeriksa Mayang.
__ADS_1
Perkataan bidan itu seperti melayang dan berputar-putar di dekat telinga Mayang dan terngiang-ngiang. Antara musibah atau anugrah. Mayang positif hamil, tetapi tanpa Ayah?
Kembali Mayang teringat cacian, hinaan , dan makian dari Akbar yang dulu. Perkataan jika Mayang sering melakukan hal haram itu bersama pria lainnya dan menjadikan hal tersebut sebagai alat untuk mencari keuntungan sepihak.
" Aku ingat kata- katamu Akbar. Dan kamu juga harus ingat, apapun yang terjadi aku tidak ingin kamu ada di dalam hidupku. Akan aku buktikan jika aku mampu tanpamu. Dan anak ini juga bukan anak yang lemah sehingga dia sangat membutuhkan kamu. Cukup aku dan hanya aku." Gumam Mayang setelah mengingat masa lalunya saat Akbar menghinanya dan merendahkan harga dirinya.
Mayang mengusap air matanya kasar dan pergi setelah mendapatkan obat dan juga vitamin untuk ibu hamil.
" Kamu, hartaku nak. Maafkan ibumu yang mendapatkan kamu dengan cara yang tak lazim. Tapi walau begitu ibu sangat, sangat, sangat mencintaimu. Percayalah." Mayang mengusap lembut perutnya saat terduduk di bangku kemudinya.
" Percayalah, ibu sangat mencintaimu." Kata Mayang dengan penuh sayang.
"Kita beli susu dulu ya." Ucap Mayang penuh bahagia dan mengusap lembut perutnya. Wajahnya berbinar dan penuh semangat.
*
*
*
Akbar terus saja membuntuti Mayang. Akbar kaget saat Mayang membeli Susu untuk ibu hamil. Akbar sudah tidak tahan lagi dan langsung mendekati Mayang.
" Kamu hamil?" Tanya Akbar tiba-tiba dari belakang Mayang.
" Iya kenapa kalau aku hami?" Ucap Mayang dengan ketusnya dan kemudian kembali masang wajah cueknya.
" Dia anakku kan?" Tebak Akbar dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Dari pemantauan Akbar, Mayang tidak pernah memiliki hubungan dengan lelaki lain, maka sudah dapat di.pastikan jika hanya darinyalah bibit kecebong itu menetas.
"Bukan! Dia anak orang lain. Apa kamu lupa? jika aku suka melakukan hal seperti itu dengan sembarang pria? Akan aku ingatkan jika kamu lupa." Ucap Mayang yang sengaja menyindir kesalahan Akbar dalam berucap di masa lalu yang merendahkan Mayang dengan sengaja.
" Tapi kamu tidak..." Ucap Akbar tidak percaya dengan perkataan Mayang sebab Akbar tau dari orang suruhannya jika Mayang tidak memiliki hubungan dengan pria manapun.
" Tidak apa? Diantara kita sudah tidak ada urusan apapun lagi. Aku sudah menepati janjiku untuk tidak mengganggu dan menampakkan wajahku di hadapanmu. Jadi pergilah, aku malas bertengkar dengan orang gila." Kata Mayang dengan santainya seperti tanpa beban di dalam hatinya.
" Yang..." Panggil Akbar yang kemudian memegang tangan Mayang menahan Mayang untuk pergi.
" Lepaskan! Sejak hari itu.
__ADS_1
Sejak kamu merendahkan dan menghinaku. Aku pernah berkata kepadamu jika apapun yang terjadi kepadaku, aku tidak akan pernah menarikmu lagi. Aku tidak akan pernah melihlbatkanmu. Apa kamu lupa? Waktu itu juga kamu yang memintanya."
" Aku hamil, iya Aku hamil dan ini anakku. Tidak ada kaitannya dengan kamu." Kata Mayang yang kemudian melangkah pergi.
" Mayang!!"Teriak Akbar sekencang-kencangnya sambil berlutut. Tapi sayang sungguh sayang, tindakan Akbar sama sekali tidak di gubris oleh Mayang.
Jika kamu pikir aku akan menangis dan merengek memohon kepadamu untuk sebuah pertanggungjawaban, Maka kamu salah besar.
Memang ini semua berawal dari kesalahan dan dosa. Tapi aku tidak ingin menambah dosa lagi untuk mengikat janji suci yang pada akhirnya berakhir di meja hijau.
Maafkan Mama Sayang, Mama janji akan membahagiakan kamu.
Batin Mayang yang mengusap lembut perutnya yang rata sambil berjalan semakin menjauh dari Akbar.
*
*
*
" Aku harus segera pergi dari tempat ini. Aku akan ke kampung halaman Nenek. Hanya Nenek tempat persembunyian terbaikku." Mayang bermonolog seraya menata baju bajunya.
Mayang mulai berkemas-kemas dan bersiap untuk pergi. Di waktu yang sama Akbar pulang ke apartemennya dengan tangan kosong. Akbar hanya terdiam merenungi apa yang baru saja terjadi.
Aku sangat yakin jika itu adalah anakku. Dari apa yang di peroleh Sulaiman, Mayang sama sekali tidak pernah memiliki hubungan dengan lelaki manapun semenjak dia bercerai.
Jika benar Mayang mengandung anakku, maka aku akan menikahinya. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab.
Akbar merasa frustasi dan meluapkannya dengan menenggak minuman keras yang berada di gudang penyimpanan. Kebiasaan Akbar muncul ketika dirinya merasa tertekan akan keadaan.
Sementara itu di tempat lain.
" Apa? Hamil?" Seru seorang wanita paruh baya yang terkejut sembari memegang dadanya.
"........ ........ ....... " Lapor seseorang di ujung panggilan telepon.
" Laporkan apapun yang terjadi padaku dan juga. Terserah bagaimana caramu, aku ingin segera mengetahui siapa ayah dari bayi yang di kandungnya saat ini." Titah si wanita paruh baya yang kemudian menutup panggilan teleponnya.
Wanita paruh baya itu duduk terdiam memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Kebingungan dan kegelisahan melanda kalbunya saat ini.
" Semoga saja. Ya, aku harap begitu..." Wanita paruh baya itu menyemangati dirinya sendiri.