In 30th.

In 30th.
41.


__ADS_3

Julian mandi dan mulai menyalakan shower. Air hangat mengguyur dari kepalanya berharap otaknya bersih dari semua kenangan bersama Angel.


Cukup lama Julian mandi. Selesai mandi Julian hanya mengenakan kaus putih dan celana pendek hitam selutut.


Julian turun kelantai bawah karena sedari tadi Tania tidak juga naik ke kamar mereka.


"Kemana dia?" Gumam Julian bermonolog lalu tersenyum saat melihat Tania sudah tertidur pulas di sofa dengan tv yang masih menyala.


" Disini kau rupanya." Julian segera membopong tubuh Tania untuk tidur di kamar mereka.


" Dasar tembem." Ejek Julian pada Tania yang masih terlelap.


KRUK!!


KRUK!!


Bunyi suara perut Julian. Julian mengusp perutnya yang lapar dan kemudian turun kelantai bawah.


Di bukanya kulkas dan rak makan tidak ada apa-apa, semuanya hanya bahan masakan yang masih mentah. Julian membuka tudung saji dan terbelalak lalu tersenyum senang dan dengan girangnya mulai mengambil nasi.


" Perhatian juga dia."Kata Julian senang.


Julian melahap semua yang ada di meja makan layaknya seorang yang telah diperas habis tenaganya. Ayam goreng, tempe mendoan, dan sayur asam lengkap dengan sambal terasinya habis tak bersisa.


Julian yang kekenyangan segera menuju ke kamar dan naik di ranjang dengan sangat pelan. Dia takut jika setiap gerakan yang di buatnya akan mengganggu tidur Tania.


" Masakanmu yang terenak Sayang."Julian memuji juga menghujani kening Tania dengan banyak ciuman sayang.


*


*


*


Pagi harinya.


Tania sudah terbangun tetapi hanya bisa diam di tempat karena Julian mendekapnya erat.


" Mas," Tania memanggil Julian tapi Julian tak bergeming dan tetap saja melanjutkan dengkurannya.


"Mas," Lagi Tania sedikit mengeraskan suaranya. Tetap saja Julian pulas.


" Mas!"Bentak Tania yang sudah kesal dan matanya menyipit tajam memandang Julian.


" Apasih sayang? Kenapa kamu pagi-pagi sudah marah-marah?" Kata Julian dengan suara seraknya khas bangun tidur tanpa membuka matanya.


" Awas ah, aku mau pipis." Tania menggeser tubuh Julian dengan kasar.


" Tan, tidak bisa lembut sedikit? Seperti yang di novel-novel itu. Bagun pagi pelukan, uwu-uwuan." Kata Julian.


" Halah, males!" Tania segera berlari ke kamar mandi.


" Sayang jangan lari!" Julian melonjak dari tempat tidurnya dan mengikuti Tania.


Julian menunggu Tania dan berdiri di samping pintu kamar mandi.


" Tan, cepat gantian." Seru Julian yang menahan mulas.


" Aku masih lama! kamu ke kamar mandi bawah saja mas!" Teriak Tania menyahuti.

__ADS_1


Julian berlari dan segera menuju ke kamar mandi bawah yang berada dekat dapur.


Selesai mandi, dengan rambutnya yang setengah basah, Tania berdiri di dapur dan menenteng tangannya dengan wajah yang kesal.


" Pagi Sayang." Sapa Julian sehabis mandi dari kamar mandi bawah dan hanya berbalut handuk.


" Kenapa mukanya kesel begitu? Buatin kopi gih!" Kata Julian seenaknya tanpa ingin tau kenapa Tania begitu kesal.


" Kopi, kopi!"Gumam Tania meradang.


" Eh, ga boleh loh marah-marah sama suami pagi-pagi. Bikin rejeki seret." Sahut Julian yang dengan rasa tak berdosa berjalan melewati Tania sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


" Bodo amat, ini beresin!!" Tania berkacak pinggang dan menunjuk meja makan yang berantakan. Sungguh wajah Tania kini sangat tak enak di pandang.


" Sayang, aku buru-buru" Jawab Julian yang hendak mengelak dari kekacauan yang telah dibuatnya semalam.


" Tidak ada alasan! Pokoknya bereskan! atau kamu pulang dan tidur di luar." Kata Tania penuh dengan nada ancaman.


Tania mengamuk sebab semalam karena keenakan makan, Julian tidak membereskan meja makan dan membiarkannya begitu saja. Dengan bibir mengerucut dan ketidak ikhlasan Julian mencuci piring tanpa sempat memakai baju terlebih dahulu.


Selsai mencuci piring, tetap Tania membuatkannya secangkir kopi. Masih membuat kopi dan Julian memeluknya dari belakang.


" Sayang, kamu harum sekali?" Puji Julian sambil menciumi leher Tania.


" Dari dulu!" Sahut Tania acuh.


" Sayang, aku mau jengukin baby." Ucap Julian sebab sesuatu sudah mengeras di bawah sana.


Julian menggesek-gesekkan batang *********** di pantat Tania namun Tania tidak bereaksi.


" Sayang, rasakan. Dia sudah mengeras." Julian menggoda Tania. berharap istrinya akan tersipu malu lalu tergoda rayuan ya dan melakukan kerja kelompok bersamanya.


" Tan, Sayang. Lihat perutku kotak-kotak kan? Kamu tidak pengen apa gitu... hum, hum?" Lagi-lagi Julian menggoda istrinya sambil menaikkan alisnya.


"Ga!" Jawa Tania malas dan kemudian menyesap susu hamilnya.


" Ah, sayang ah... Kamu tidak pengen? Ayuk loh, kita nganu...! Aku kangen kamu Tan."Rengek Julian dengan nada bicara yang manja dan sesekali menghentakkan kakinya seperti anak TK yang merajuk meminta mainan.


" Ya aku enggak pengen!" Tolak Tania yang kemudian meninggalkan Julian sendirian di dapur.


" Apa-apaan dia manja sekali, sok imut. Kamu pikir mempan? Ga mempan!" Gumam Tania yang mencibir tingkah manja suaminya.


Tapi jika aku pikir-pikir, sikapnya sangat baik padaku. Dia menjadi lunak dan tak pernah marah kepadaku.


Apa dia bersungguh sungguh?


Ah, aku butuh waktu lama untuk meyakinkan hatiku. Batin Tania yang berdiri menatap cermin di kamarnya.


Tania membereskan ranjang mereka dan menyiapkan baju untuk Julian. Julian masuk dengan tiba-tiba.


" Sayang, hari ini kamu kemana?" Tanya Julian dengan antusias.


" Di rumah." Jawab Tania malas.


" Kita periksa di baby ya? Aku ingin melihatnya." Lagi rengek Julian dengan manjanya.


" Terserah kamu Mas. Tapi, apa kamu tidak bekerja?"


" Aku akan masuk setengah hari saja. Siangnya kita periksa kandungan ya?"

__ADS_1


" Iyalah apa mau kamu saja Mas." Jawab Tania sekenanya tanpa melihat wajah Julian.


" Kemari, aku punya sesuatu untuk kamu." Julian menarik tangan Tania perlahan dan menuju ke walk in closet yang dari luar pintunya hanya seperti pintu lemari.


" Eh, apa ini?" Tania terkagum-kagum melihat pintu lemari yang di baliknya merupakan ruangan yang besar dan mewah yang luasnya sama dengan kamar tidur mereka.


" Ini, lemari bajumu. Semuanya ada disini." Jawab Julian dengan senyum yang merekah.


" Apa? kamu bercanda?" Tania tak percaya.


Walk in closet itu berisi baju baju wanita, sepatu, tas, dan perhiasan yang semuanya memiliki logo dari brand-brand ternama.


Tania memicingkan matanya lalu bertanya kepada Julian.


"Apa, ini semua milik Angel?"


" Aish! Kenapa susah sekali membuatmu tertarik dan kagum padaku sih Tan? Ini semua baru dan ini adalah hadiah dariku untukmu Sayang. Ini milik kamu!" Kata Julian yang terdengar marah dan berdiri menatap Tania dengan tajam.


Salah Tania juga kenapa selalu mengungkit nama Angel? sedang suaminya sendiri sudah tak ingin mendengarkan nama itu di sebut lagi.


" Oh!" Ucap Tania berpura-pura sedikit terkejut.


" Apa? hanya Oh! Aish, kamu ini wanita jenis apa?" Julian berdecak kesal sampai meremas rambutnya yang setengah basah.


" Waow!" Dari Tania yang lagi-lagi hanya berpura-pura senang.


" Ah, sudahlah." Julian berjalan keluar meninggalkan Tania.


" Bisa- bisanya dia hanya bersikap biasa saja. Jika itu wanita lain, sudah pasti akan berguling-guling kegirangan. Tapi istriku? Ah, tidak tau lagi aku." Julian bermonolog sambil berkacak pinggang geram dengan sikap Tania.


"Mas," Tania berlari kecil menyusul Julian dan menepuk pundak Julian.


" Apa? kalau tidak suka buang saja semuanya." Sahut Julian kesal.


" Ya, Makasih. Tapi itu berlebihan Mas. Banyak sekali." Tania meremas ujung kemejanya.


" Kalau boleh tau, berapa total semua barang-barang itu?" Tania ingin memastikan jika dirinya tidak terjerat hutang lagi dengan Julian.


" Kenapa? Itu hadiah. Gratis!" Julian menekankan kata gratis.


" iya berapa?" Tania mendesak Julian dia benar-benar ingin tau berapa nilai dari hadiah yang di berikan Julian.


" 7 m." Jawab Julian singkat yang kemudian memutar tubuhnya menghadap Tania.


" Apa?" Tania terkejut sampai mulutnya menganga.


" Mas, kamu rugi banyak beli barang barang-barang mahal itu." Ucap Tania yang seolah menyesali uang yang dihamburkan oleh suaminya.


" Tan, harusnya kamu senang dong aku kasih hadiah itu semua. Tapi kamu malah..., ah sudahlah aku akan bekerja. Kamu siap-siap nanti siang kita periksa kandungan. Pakai baju yang sudah ku belikan." Titah Julian tanpa ada tawa yang mengiringinya.


Sepertinya dia marah. Batin Tania melirik Julian.


" Jangan marah, aku senang dengan pemeberianmu. Tapi kurasa aku tidak pantas." Ucap Tania lirih sambil berlalu pergi.


Arghh!!


Apa aku salah memberikan semua ini? terlalu berlebihan?


Tania, aku harus bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2