In 30th.

In 30th.
42


__ADS_3

Mayang hanya terdiam, kepalanya kembali teringat bagaimana Robby berkata jika ingin menjalani pernikahan yang apa adanya tanpa suatu syarat tertentu.


" Mungkin ini garis jodoh kita? Ini kejutan untuk kita." Robby tersenyum manis menatap lekat wajah Mayang.


" hum?" Mayang menatap Robby dengan banyak tanya.


" Sudah ayo bantu aku bawa ini. Kamu hamil bukan berarti menjadi tidak berguna kan?" Celetuk Robby dengan santainya.


" Cih, perhitungan sekali kamu ya. Derita pengantin baru, atau balada rumah tangga?" Mayang mengeluh dengan mengutarakan banyak makna kiasan dalam kata-katanya.


" Hahahaha, iya iya sini. Istriku ngambek nih." Robby terkekeh dan kemudian merebut koper yang di bawa Mayang meninggalkan Mayang yang masih tertegun membeku mendengar ata istri dari mulut Robby.


Istri?


Ah, iya benar kami sudah resmi menikah. Hanya tinggal menunggu buku nikah selesai di proses saja.


Tapi, apakah aku sudah benar dalam mengambil keputusan ini?


Bagaimana jika dia datang dan menuntut haknya sebagai Ayah biologis anakku?


" Hei, cepatlah!" Seru Robby memanggil Mayang.


Mereka berdua seharian sibuk berbenah rumah dari menyapu, mengepel lantai, mengelap kaca, juga memasak bersama. Dan kini mereka berdua tengah menikmati saat istirahat mereka malam hari.



"Ini diminum." Robby memberikan segelas susu ibu hamil untuk Mayang yang bermalas-malasan di depan TV.


" Ah, tidak mau. Itu tidak enak, aku ingin muntah saat mencium baunya saja." Rengek Mayang sambil menutup hidungnya.


"Minumlah, cepat. Ini semua untuk bayimu!" Kata Robby terkesan memaksa Mayang.


" By, bau ah. Itu amis." Keluh Mayang yang belakangan sangat tidak suka bau bauan aneh.


" Apanya yang amis sih Yang? Heran deh, ini bau susu biasa. Malah bau vanila ini." Jawab Robby yang mencoba seteguk susu hamil Mayang.


" Enak tau." Kata Robby memamerkannya seolah memang terasa sangat enak.


" Ini diminum Yang. Ingat kita disini hanya berdua aku tidak ingin ada sesuatu menimpamu. Aku lihat belakangan ini kamu mudah lelah dan tidak nafsu makan. Paksakanlah walau tidak suka. Jangan egois, pikirkan juga nutrisi untuk Anakmu ." Kata Robby panjang lebar menasehati Mayang.


"Hust!" Mayang membekap mulut Robby yang masih ingin berbicara dengan tangannya.


" Iya aku minum, tapi kau diam." Kata Mayang yang menyerah setelah mendengar ceramah dari Robby.


" Hehehe! begitu dong. Itu baru istriku." Cetus Robby yang membuat Mayang terdiam dan memandangnya.


" By, kemarilah aku ingin bicara."Mayang menepuk sofa di sebelahnya.


" Apa?" Robby duduk di sebelah Mayang.


" Kenapa kamu mau membantuku?" Tanya Mayang ingin tau.


" Ya, keadaan yang memaksa juga karena aku sayang kamu." Jawab Robby dengan entengnya seolah tiada beban ataupun keraguan.


" Sayang?" Mayang menelisik.


"Iya Sayang. Kan kita berteman." Jawab Robby.

__ADS_1


" Maksud kamu sayang antar teman? Tidak lebih?" Tanya Mayang mengorek lebih dalam.


" Hhh!" Robby mendesah mengeluarkan beban di hatinya.


" Memangnya kalau aku jujur, itu akan membuatmu mau menerimaku sebagai suami? bukan sebagai teman lagi?" Jawab Robby yang malah bertanya balik.


" Ya, tergantung bagaimana jawabanmu By." Sahut Mayang memainkan bibirnya seolah sedang menimbang sesuatu.


" Aku menyayangimu dan apa yang ada padamu termasuk dia calon anakku. karena kamu adalah istriku."


" Semudah itu?"Desis Mayang tak percaya saat berhadapan dengan seseorang yang mudah menerima segala kekurangannya.


" Hei, aku hamil. Dan itupun bukan atas kemauanku. Kamu yakin ini tidak masalah?" Mayang masih tidak percaya.


" Iya aku tau. Tapi apa yang patut disesali dari kejadian ini adalah kebodohanmu yang malah lari dari laki-laki yang ingin bertanggungjawab." Ucap Robby dengan tenangnya.


" Tapi itu semua ada alasannya By." Mayang membela dirinya.


" Ya, aku tau semua pasti ada alasannya. Dan apapun itu, semuanya sudah menjadi masa lalu. Yang terpenting adalah hubungan kita saat ini. Kamu, aku dan anak kita." Jawab Robby yang sangat berlapang dada dan bijaksana membuat Mayang semakin tergelak tak percaya.


" kemarilah." Ucap Robby yang merentangkan kedua tangannya.


" Apa?" Tanya Mayang yang masih tidak mengerti.


" Kemarilah, aku ingin memeluk istriku yang egois, ceroboh, dan pemarah ini." Kata Robby sambil menarik tangan Mayang hingga Mayang kini berada didalam dekapannya.


" Jangan di bahas lagi Yang. Jalani saja masa depan kita bersama. Apapun itu di masa lalu, aku sangat berterimakasih karena masa lalu itu sekarang kamu berada dalam pelukanku saat ini dan masa depan sampai kita tua." Kata Robby dengan tulusnya.


" Sampai kita tua?" Lirih Mayang yang mengusap air matanya perlahan yang tak terasa jatuh saat Robby mengutarakan ketulusannya.


" Ya, terkecuali kamu yang menceraikan ku." Cetus Robby sambil tertawa geli.


"Ya lucu aja gitu Yang, setelah ku pikir-pikir mungkin kita memang berjodoh. Kamu manggil aku By, seolah panggilan sayang babby. Dan aku manggil kamu Yang, seperti panggilan sayang. Dan anak ini, dia sangat tau waktu yang tepat untuk mendekatiku." Kata Robby yang mengusap lembut kepala Mayang.


Jujur saja saat ini entah karena pengaruh hormon atau memang Mayang sudah terbawa perasaan. Mayang merasakan kenyamanan saat bersama dengan Robby.


Sikap Robby yang tulus dan hangat membuat Mayang mabuk kepayang dan luluh.


Bahkan saat Robby mengusapnya jantung Mayang selalu berdebar tak menentu.


" Sudah sana tidur. Tidak baik ibu hamil begadang." Titah Robby yang mengurai pelukan mereka.


Mayang menatap Robby seolah ingin berkata sesuatu.


" Sudah kamu tidurlah di kamar utama. Aku akan tidur di kamar tamu. Aku tau kamu belum siap."Kata Robby yang seolah tau isi kepala Mayang.


" Boleh peluk lagi?" Pinta Mayang penuh harap.


" Sini." Kembali Robby merentangkan kedua tangannya. Hatinya sungguh senang. Ini merupakan awalan yang baik untuk hubungan mereka.


"Jangan banyak pikiran, jangan stress. Ceritakan semuanya jika ada yang mengganjal. Aku suamimu sekarang, kita hadapi segalanya bersama-sama. Kamu fokus saja pada kehamilanmu." Ucap Robby dengan lembutnya sambil mengusap punggung dan kepala Mayang memberikan kenyamanan kepada wanita yang kini berstatus sebagai istrinya.


Tidak ada reaksi apapun dari Mayang. Robby dengan hati-hati dan perlahan mengurai pelukan mereka dan Mayang sudah tertidur dalam dekapannya.


" Dasar tukang molor!" Cibir Robby yang gemas melihat wajah Mayang yang tertidur pulas tanpa memakai makeup.


CUP!

__ADS_1


Robby mengecup hangat penuh kasih kening Mayang. Dia bahagia dan sangat bahagia saat ini. Tak pernah ada di kepalanya bagaimana masa lalu Mayang. Terlepas dari siapa yang salah atau benar bagi Robby yang terpenting adalah masa depannya.


Robby membopong Mayang dan membaringkannya di ranjang. Mayang tertidur pulas, tak lupa kecupan hangat kembali mendarat di kening Mayang. Robby juga menyelimuti Mayang sebatas dada.


Pagi hari.


" Hoamz!!" Mayang menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya.


" Sudah pagi." Gumam Mayang yang melihat jam di ponselnya lalu melemparnya ke ranjang dan beranjak.


Dengan rambut yang berantakan seperti singa, Mayang keluar dari kamarnya sambil menggaruk-garuk pantatnya.


" Pagi Yang!" Seru Robby yang sudah rapi memakai dasi dan setelan kerjanya duduk di meja makan menikmati sarapan paginya.


" Pagi!" Sahut Mayang yang kemudian duduk di depan Robby.


" Kamu semalam gendong aku By?" Tanya Mayang memastikan.


" Iya. Memang ada orang lain di rumah ini?" Sindir Robby yang ingin menggoda Mayang.


" Eum, aku kira aku berjalan sambil tidur."Jawab Mayang dengan cueknya dengan mulutnya yang penuh makanan.


" Aku beragkat ya," Robby berpamitan dan beranjak dari duduknya.


" Kamu mau kerja?"


" iya Istriku aku mau kerja, tidak lihat aku sudah tampan begini?" Robby membanggakan dirinya. Ya memang saat ini dia sudah tampan paripurna. Setelan jas kerja serba hitam demgan kemeja biru muda dan dasi berwarna biru Dongker melingkar di lehernya menambah wibawa juga kharismanya.


" Ya sudah sana berangkat, cari uang yang banyak ya!"Seru Mayang masih melanjutkan makannya.


" Ya Ratu!" Sahut Robby tertawa melihat tingkah Mayang yang tak berubah dan tetap tomboy.


" Jangan lupa makan, juga istirahat." Pesan Robby lagi.


"Sudah aku berangkat." Kata Robby yang mendekat dan mengusap kepala Mayang lalu mengacak-acak rambutnya.


" Papa berangkat ya nak!" Kata Robby yang menunduk mensejajarkan kepalanya dengan perut Mayang.


" Hati-hati!" Kata Mayang sambil tersenyum bahagia.


Aku tidak salah memilihmu By. Kamu berbeda dari mereka yang pernah menyakitiku. Pikir Mayang yang mengulum senyumnya.


Di kediaman keluarga Nilam.


" Akbar!" Seru Nilam pada Akbar yang sedari pagi tidak menunjukkan tanda-tanda akan beraktivitas.


" Anak itu, bukanya bangun pagi malah tidur terus." Nyonya Nilam mengomel tak jelas di depan pintu kamar Akbar.


" Ada apa sih Mam? Berisik sekali." Sahut Akbar yang keluar dari kamar dengan baju yang sama saat di pakainya semalam.


" Sudah ada kabar tentang Mayang?"


" Belum ma, orang suruhan ku belum ada yang berhasil mendapatkan informasinya." Jawab Akbar yang terdengar pasrah dan putus asa.


"Pokoknya, Mama tidak mau tau, kamu harus menemukan dia dan calon cucu Mama." Ketus Nyonya Nilam yang kemudian pergi dengan kemarahannya.


"Mayang!" Teriak Akbar frustasi yang meremas kepalanya dan masuk kedalam kamarnya seraya membanting pintu.

__ADS_1


"Baru sekali ini aku menemui wanita yang menolakku meski dia sudah terpuruk keadaan." Gumam Akbar.


" Mayang, aku ingin kamu kembali."Lirih Akbar yang kemudian jatuh merosot dilantai dan kembali menenggak minuman keras sebagai luapan amarahnya.


__ADS_2