
" Mayang, rupanya disini kamu." Gumam Akbar yang tersenyum tipis namun licik terlihat.
Seusai Mayang dan Robby saling bertemu namun di meja berbeda di sebuah cafe, Tanpa sengaja Akbar yang juga sedang membeli kopi di cafe tersebut juga melihat keberadaan Mayang.
Robby pergi terlebih dahulu meninggalkan Mayang. Lama Akbar mengintai Mayang sampai-sampai dia mengabaikan pekerjaan kantornya. Akbar memilih untuk menjadi mata-mata saat ini.
Entahlah sosok Mayang yang merupakan mantan istri dari seorang Dery rival bisnis Akbar. Malah seolah memiliki magnet khusus yang membuat Akbar tertarik.
Akbar pun juga tanpa sadar sudah mulai berhenti menggauli jalang setelah kejadian malam bersama Mayang. Dokter yang menangani kesehatan reproduksi Akbar memberitahunya akan usia Akbar yang tak lagi muda dan kesempatan untuk memiliki momongan di masa depan di haruskan Akbar untuk segera memiliki pendamping hidup.
Belum lagi tekanan dari Nyonya Nilam. Wanita mandiri yang telah bercerai dari Ayah Akbar semenjak Akbar kecil. Nyonya Nilam sangat ingin segera menimang cucu.
Hanya memiliki Akbar semasa hidupnya, membuat Nyonya Nilam termotivasi untuk memiliki banyak cucu dari anak semata wayangnya.
Dert!
Dert!
Dert!
Ponsel Akbar bergetar.
" Bunda." Gumam Akbar yang kemudian mengangkat panggilan telepon.
" *Hallo, Asalamualaikum Bunda."
"Waalaikumusalam sayang."
" Bagaimana keadaanmu?"
"Akbar baik Bun."
" Akbar, Bunda ingin kamu jujur sama Bunda*."
Akbar sedikit heran, jika Nyonya Nilam berbicara dengan nada seperti ini berarti ada sesuatu yang serius.
" *Iya Bun tanya saja."
" Bunda dengar, kamu akhir-akhir ini sering tidak masuk kantor? Juga perusahan menderita banyak kerugian. Kamu ada masalah apa?"
" Tidak ada Bun, hanya saja pasang surut dunia bisnis kan selalu ada*." Jawab Akbar dengan mata elangnya yang terus fokus mengawasi Mayang.
" *Akbar, Usia kamu sudah...."
" Bunda, jangan khawatir. Akbar sudah yakin pada satu target*." Kata Akbar asal hanya sebatas ingin menghentikan kemauan Nyonya Nilam untuk menjodohkannya dengan anak temannya.
"Benarkah? kamu sudah pensiun menjadi Playboy? Wah Bunda harus menggelar acara syukuran disini. Besok bunda pulang untuk melihat targetmu. Bye....! Assalamualaikum!" Seru Nyonya Nilam yang sudah terdengar sangat bahagia atas kebohongan putranya.
" Ah, sial. Target apanya? Gara gara dia aku jadi ngelantur bicara sama Bunda." Dengus Akbar yang merutuki kebodohannya dalam berucap.
Akhirnya setelah dua jam, Mayang keluar dari cafe dengan menjinjing tas laptop. Meskipun berpakaian serba hitam dan wajahnya nyaris tidak di kenali tapi Akbar nyata nyata bisa mengenali perawakan Mayang.
Sebenarnya ada sesal di hati Akbar setelah mengeluarkan kata-kata kasar dan merendahkan Mayang. Tapi entah mengapa Akbar suka sekali membuat dan melihat Mayang cemberut. Ekspresi wajah Mayang yang sedang cemberut membuat Akbar bisa tertawa lepas.
Selesai dari cafe Mayang menuju ke butik, Akbar terus mengikutinya.
Selesai dari butik, Mayang bergegas pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Akbar juga terus memantaunya.
Sampai sore hari Akbar mengintai. Akbar benar-benar melupakan pekerjaannya. Sulaiman menjadi kalang kabut mengurus semuanya secara mendadak.
" Aku ini ngapain sih, terserah dia mau ngapain aja. Apa peduliku?" Gumam Akbar sambil membuntuti Mayang.
"Tapi kenapa aku sangat ingin tau dimana dia menetap dan juga aku ingin sekali melihat wajahnya?"Akbar menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil bermonolog.
Mayang berhenti di sebuah restoran yang berada di pusat perbelanjaan dan memesan makan siang. Akbar pun melakukan hal yang sama. Ini kesempatan baginya untuk mengisi energi setelah seharian mengikuti Mayang yang seperti tidak ada rasa lelah sama sekali demi menyusuri Mall yang sangat luas.
Sebenarnya Akbar sangat ingin pergi ke toilet. Tapi demi mengunci targetnya Akbar rela Manahan panggilan alam.
__ADS_1
" Aih.... sumpah kebelet pipis aku. Tapi nanti dia kabur kalau aku tinggal." Desis Akbar menahan rasa ingin kencingnya.
Akbar tersenyum simpul saat melihat sebuah botol air mineral.
" Hahahaha, kamu. Iya kamu, akhirnya kamu berfungsi juga botol bekas." Desis Akbar tertawa kecil.
Selesai makan, Mayang segera pergi. Akbar berharap agar Mayang segera pulang setelah ini.
Tetapi,
Tidak! Mayang kembali mengunjungi sebuah taman dan memotret apa yang menurutnya menarik hati. Dengan telinga yang tersumpal earphone Mayang seolah menikmati kesendiriannya.
Akbar hanya menunggu di dalam mobil yang terparkir berselang satu mobil lain dari mobil Mayang. Di dalam mobil lah Akbar membuang hajat yang sedari tadi di tahannya.
Kricik!
Kricik!
Kricik!
" Ah... lega!"
Akbar menutup rapat botol itu dan meletakkannya di lantai mobil sebelah kemudi.
Cukup Lama dan Akbar malah tertidur di mobil. Akbar terbangun saat terdengar suara petir yang bergemuruh.
" Allahu Akbar!" Seru Akbar yang kaget mendengar suara petir.
Mayang berlari kembali masuk kedalam mobilnya dan kali ini bergegas pulang. Akbar kembali melajukan mobilnya dan mengekori Mayang.
" Ayo Yang pulang. Mau kemana lagi kau seharian main terus." Gumam Akbar.
Akhirnya Mayang sampai di basement Apartment. Mayang yang cuek dengan earphone yang menyumpal telinganya tetap saja acuh dan melenggang memasuki unit miliknya yang berada di lantai 27.
Mayang masuk dan selang 30 Kanit kemudian.
Tok!
Tok!
Tok!
Mayang mengintip dari lubang pintu tetapi tidak terlihat dan tertutup sesuatu. Mayang membuka pintu dengan wajah herannya saat tau siapa tamunya.
" Hai!" Sapa Akbar yang tersenyum memamerkan jajaran giginya yang putih dan rapi.
" Eh, kamu! Ngapain kesini? Kita sudah tidak ada urusan apapun ya." Kata Mayang yang kesal dan menyalak seperti anjing yang siap mengigit mangsanya.
Mayang berusaha menutup kembali pintunya namun telat Akbar mengganjalnya dengan kakinya.
" Aku tamu loh, masa tidak di suruh masuk."
" Cih, tamu? aku tidak pernah mengundangmu masuk sama sekali. Awas kamu sana pergi atau aku panggilkan satpam!" Mayang berdecih geram akan tindakan Akbar yang menyebalkan.
Akbar mendekatkan tubuhnya ke ambang pintu dan,
"Huek!"
" Huek!"
"Huek!!" Mayang mual minal dan seketika berlari menuju ke toilet dan memuntahkan segala isi perutnya.
" Kamu sakit Yang?" Tanya Akbar yang tidak mengerti akan kondisi Mayang.
" Huek!"
__ADS_1
"Huek!"
" Stop! jangan mendekatttt!!!" Teriak Mayang yang menutup hidungnya saat Akbar mencoba mendekat untuk membantunya.
" Berapa tahun kamu tidak mandi huh? Berapa lama?!"
"Huek!" Mayang kembali muntahdan kali ini terlihat lemas dan pucat.
Akbar mengendus sendiri bau tubuhnya.
"Aku masih wangi Yang!" Kata Akbar dengan polosnya.
"Huek! Bau sekali kamu. Pergilah aku tidak suka dengan baumu!!" Tolak Mayang sambil melempar sampo, sabun, dan peralatan mandi lainnya.
" Aku sangat kesal melihat wajahmu, juga baumu itu. Huek! Pergi kamu!!" Teriak Mayang mengusir Akbar.
" Aku wangi Yang." Kekeuh Akbar dengan sejuta kepolosannya yang juga sambil memegang peralatan mandi hasil tangkapan dari lemparan Mayang.
" Jangan Panggil aku Yang!" Tolak Mayang dengan tegas.
" Ya kenapa? Namamu memang Mayang kan dan aku suka memanggilmu dengan kata Yang." Lagi-lagi keisengan Akbar muncul.
PLETAK!!
Sebuah facial foam melayang dan mengenai tepat kepala Akbar.
" Pergi!!" Teriak Mayang mengusir Akbar sampai-sampai tetangga sebelah unitnya datang sambil menggendong anaknya.
" Mbak Mayang ada apa?" Tanya tetangganya yang masuk karena pintu apartemen Mayang masih terbuka lebar.
" Tidak ada Bu. Pacar saya sedang merjauk. Kami sedang marahan jadilah biasa manja manja sedikit." Celetuk Akbar sesuka hati beralasan tanpa melihat kondisi.
Sementara itu tatapan Mayang sudah seperti sinar laser yang siap memotong besi.
" Tuh kan Bu, dia kalau marah nyeremin." Timpal Akbar lagi Sabil tersenyum puas menjahili Mayang.
" Tidak Mbak, dia bukan pacarku!" Sahut Mayang yang kesal lalu berjalan melewati Akbar Sabil menutup hidungnya.
" Tidak, dia memang bukan pacarku tapi ibu dari calon anak-anakku Bu." Kata Akbar.
" Oh, pertengkaran itu biasa antar pasangan. Tapi jangan ada kekerasan ya. Tidak baik. Juga tolong jangan berisik anak saya butuh istirahat dia sedang sakit." Ucap si tetangga yang ternyata terganggu dengan ulah kedua manusia ini.
" Ibu dari anak-anakmu? Cih, tidak Sudi aku."Ucap Mayang sarkas.
Mayang tidak mau ambil pusing lalu pergi meninggalkan tetangganya dan juga Akbar. Mayang memilih mengunci diri di dalam kamar.
" Maafkan sikap Pacarku ya Bu." Kata Akbar dengan sopan.
" Iya, biasa kalau menjelang pernikahan memang banyak cobaannya. Saya permisi." Kata si tetangga yang kemudian kembali ke apartemennya.
" Galaknya Mayang." Ucap Akbar sambil mengelus keningnya yang benjol karena terkena lemparan tepat sasaran dari Mayang.
*
*
*
" Hoamz...! Sudah pagi." Gumam Mayang yang kemudian bangun dan memeriksa keadaan sekitar.
" Akhirnya pergi juga dia setelah aku cueki." Desis Mayang yang tersenyum senang.
Mayang masuk ke dapur dan melihat segelas susu dan juga sandwich tersaji rapi di atas meja dengan note kecil berwarna pink.
^^^^^^'*Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku Yang. ^^^^^^
^^^Tolong beri aku kesempatan.^^^
__ADS_1
^^^^^^Akbar*.^^^^^^
"Kesempatan? Tidak sebelum kau berlutut di hadapanku dan memohon. Hahahahahaha!" Mayang tertawa mengerikan.