In 30th.

In 30th.
52.


__ADS_3

" Apa yang kalian sembunyikan?"Cetus Nenek penuh dengan kecurigaan dan menatap tajam Mayang dan Robby secara bergantian.


" Buka pintunya, Alasan kalian kurang tepat. Rumah ini selalu dalam kondisi rapi. Hanya saja sedikit berdebu karena satu bulan kemarin kosong. Mau menyembunyikan apa kalian?" Nenek mencecar Mayang dengan pertanyaan yang sulit di jawab Mayang hingga Mayang hanya bisa membuka dan tutup mulutnya dengan ragu.


"Pegawal, buka sekarang!" Titahnya tak terbantahkan. Nenek menunjuk pintu kamar tamu.


Tak dapat terelakkan, Nenek menjadi semakin geram setelah pintu kamar terbuka lebar. Terlihat kamar berantakan dengan baju baju Robby yang belum sempat di bereskannya.


Mayang memang belum melaksanakan tugas sebagai istri yang baik.


Baju kotor Robby pun belum pernah di cucinya. Robby juga tidak mau merepotkan Mayang. Robby baru saja berencana akan membawa baju kotornya ke laundry tetapi Nenek terlebih dahulu memergoki yang seharusnya tidak terjadi.


" Kalian tidur terpisah?" Nenek menaruh curiga saat kakinya semakin melangkah masuk di ikuti oleh Mayang dan Robby di belakangnya.


" Hanya semalam Nek, biasa lah kan ibu hamil moodnya berubah-ubah. Kadang maunya di peluk, kadang ga mau liat muka aku. Tadi malam pas dia uring-uringan Nek jadi aku tidur di kamar ini." Kata Robby menjelaskan dengan kebohongan yang lancar.


" Oh?" Nenek mengangguk perlahan dan kemudian membuka lemari baju. Matanya terhenti pada satu titik lalu menatap tajam cucu kandungnya.


" Mayang, bisa kamu jelaskan ini?" Nenek melipat tangannya ke dada dan mencecar Mayang.


" Nek, kemarin dia pulang telat dan kami bertengkar. Aku mengusirnya dari kamar." Kata Mayang yang tertunduk lesu dia takut kebohongannya akan tersirat dari pandangan matanya.


" Nenek tau kamu hamil, tapi bukan berarti kamu bertindak semaunya dengan suamimu. Sebagai wanita kamu harus mengerti keadaan suamimu. Wajar dia pulang terlambat, dia anak baru tentu banyak tugas yang menumpuk. Lalu dimana toleransimu? Tidak bisakah kamu menekan egomu? Dia bekerja juga untuk kamu dan anak kalian! bukan untuk kesenangannya sendiri." Tegas Nenek yang kemudian menutup pintu lemari dengan rasa kecewanya.


" Jadilah dewasa Mayang, kamu akan menjadi ibu. Seorang ibu itu akan menghilangkan seluruh egonya demi anak dan keutuhan keluarganya. Jika kamu tidak bisa melakukan itu maka tidak pantas seorang wanita di panggil sebagai Ibu." Tambahnya lagi dengan lembut kali ini dan menatap kosong cermin yang ada di hadapannya.


Setidaknya hidupmu dan jalanmu harus lebih baik daripada Nenek Mayang.


Nenek berbicara dengan dirinya sendiri di dalam hati menghadap cermin. Meraba setiap kesalahan yang pernah menenggelamkannya dalam nestapa.


" Iya Nek." Sahut Mayang perlahan.


" Tuh, Sayang. Dengarkan apa kata Nenek. Jangan ngambek terus. Dikit-dikit ngambek." Robby cepat-cepat menimpali sebelum kebohongannya terkuak.


Nenek akan semakin menjadi jika dia tau yang sebenarnya.


mengetahui jika Robby dan Mayang selama ini tidur dengan terpisah.


Mengetahui jika Robby bukanlah ayah biologis dari calon cicitnya.


" Iya Maaf." Gumam Mayang tanpa melihat wajah Robby.


Dengan lembutnya Robby merangkul pundak Mayang perlahan lalu mengusap kepalanya.


" Nek, kami permisi ke kamar dulu ya. Aku harus segera ke kantor, dan dia akan membantuku bersiap-siap." Ucap Robby beralasan dan ingin segera membawa Mayang kabur dari suasana genting tersebut.


Lagi-lagi Robby melindungi Mayang dengan caranya yang lembut dan hangat.


Melihat Mayang bersedih pun membuat Robby merasakan kesedihan juga.

__ADS_1


Pengawal membawa isi kamar tamu ke kamar utama. Semua baju dan peralatan Robby telah di pindahkan. Kini mereka berada di kamar berdua.


" Kamu ga apa-apa kan?" Tanya Robby setelah menutup mata kamar. Dia memastikan bagaimana keadaan Mayang. Robby takut Mayang akan stres dan mempengaruhi janinnya.


"..." Mayang menggeleng dengan wajah tertunduk lesu.


" Sudah, jangan begitu. Nanti kita cari jalan keluar bersama-sama. Jangan sedih terus, aku ga mau ya nanti anakku marah-marah sama Papanya gara-gara ga bisa bikin Mamanya senyum. Senyum dong." Kata Robby membujuk Mayang dengan ketulusannya.


" Heum." Mayang mengangguk dengan menyisakan pipinya yang basah karena air mata.


" Istriku cantik ga boleh sedih ya. Sudahlah diam Sayang." Ucap Robby haru mengusap punggung Mayang.


Tanpa di duganya Mayang justru menghambur dan memeluk Robby dengan menangis sesenggukan di dada Robby.


" Hiks! hiks! hiks! Makasih ya. Kamu sudah menjagaku dan berkorban untukku." Lirih Mayang mengungkapkan isi hatinya.


" Sudah kewajiban ku Yang. Sudah seharusnya.


Memang begini tugas suami itu melindungi, menjaga, dan menyayangi Istrinya." Kata Robby.


" Maafkan, aku bukan istri yang baik buat kamu. Tapi aku janji mulai hari ini aku akan berusaha sebaik mungkin." Ucap Mayang yang tersadar akan semua kebaikan dan sikap tulus Robby padanya.


Selama ini aku selau meragukan pria.


Tapi, kamu berbeda By. Kamu hadir di saat terburukku.


Kamu menerimaku yang hina ini.


Aku berharap akan ada cinta yang tumbuh perlahan di hatiku untukmu SUAMIKU.


Mayang meratap sedih dalam tangisnya, berkeluh kesah dalam hati tanpa ada seorang pun yang tau.


" Sudah, senyum dulu. Jangan nangis terus. tidak baik untuk tumbuh kembang janin."


" Kamu tau darimana?"


" Semenjak istriku hamil, aku sering membacanya di laman internet. Oh iya, kapan tanggal periksa kandungan?" Tanya Robby yang masih memeluk Mayang.


" Hem...!" Mayang tersenyum manis di hadapan Robby membuat Robby yang reflek mencium keningnya.


"Nah begitu kan cantik." Robby memuji dengan setulus hati.


" Aku lupa By, buku cek kandunganku tertinggal di apartemen lama."


" Eh, maaf ya Yang aku lancang cium kamu. Kamu jangan marah ya?" Ucap Robby yang takut-takut bila Mayang akan marah karena dia telah berani menciumnya.


" Em, tidak kok." Jawab Mayang yang sedikit tersipu malu.


" Aku mandi dulu ya, Maaf tidak bisa sarapan bersama kalian. Kurasa akan terlambat jika harus sarapan."

__ADS_1


" Ya." Jawab Mayang yang dengan tersipu berbalik badan menghindari kontak mata dengan Robby.


*


*


*


Selsai dengan ritual mandinya Robby mulai menata rambutnya di depan cermin.


Sungguh pemandangan yang menggugah selera. Mayang sampai menelan ludahnya berkali kali.


Badan kekar atletis, tinggi yang sempurna dan warna kulit yang sawo matang, dengan lesung pipi yang kompak memamerkan pesonanya membuat Mayang berinisiatif untuk lebih mendekat.


Entah arahan dari mana, Mayang langsung meraih sisir yang sedang di pegang oleh suaminya.


" Harusnya begini." Kata Mayang yang menata rambut Robby.


" Eh, kok baik banget? ada maunya ini?" Desis Robby menggoda Mayang.


" Apaan sih? Namanya melayani suami kan? Wajar dong! Cuman nanti kalau pulang belikan aku mangga Irwin yang merah banget ya By." Cicit Mayang yang kini beralih memakaikan jas Robby.


" Hahaha, tuh kan bener. Ya nanti aku Carikan. Ya udah sini Salim." Robby mengulurkan tangannya dan Mayang menciumnya.


" Sayang, Papa berangkat ya. Kamu nurut sama papa, ajak mama makan yang banyak ya. Biar sehat." Kata Robby yang membungkuk sampai setara dengan perut Mayang.


" Apaan sih By. Dia mana ngerti?" Decih Mayang mencibirkan mulutnya.


" Ngerti dong. anak Papa Robby kan pintar." Jawab Robby yang tersenyum senang dan lagi-lagi mengusap lembut perut rata Mayang.


Robby mulai melangkah dan menjinjing tas kerjanya dan sesaat kemudian Mayang menahan dan meraih pergelangan tangan Robby.


" Ada yang ketinggalan." Rengek Mayang dengan mode manjanya yang seumur hidup belum pernah di lakukannya. Bahkan saat ini pun sebenarnya dia merasa jijik dengan dirinya sendiri. karena telah berlaku sok manis.


" apa?" Tanya Robby yang tidak mengerti karena memang di luar dari kebiasaan Mayang.


Mayang memberi kode dengan mengetuk-ngetuk Keningnya dengan telunjuknya dan wajahnya sudah merah merona beserta senyum manisnya yang tak luput dari terapan.


" Apa? Pusing?" Tebal Robby.


Lagi-lagi Mayang menunjuk keningnya sendiri beberapa kali.


" Yang, bisa bilang ga sih? biasanya kamu langsung pada intinya. Ada apa? Kamu jerawatan? atau apa?" Tanya Robby yang sungguh tak paham.


" Kiss." Lirih Mayang dengan salah tingkah dan memegangi wajahnya yangs semakin memerah.


" Oh, harus ya? Tiba-tiba sekali?" Bukanya senang Robby malah keheranan.


" Ga mau ya udah!" Ketus Mayang yang kemudian berbaring dan membenamkan tubuhnya kedalam selimut.

__ADS_1


" Yang, kamu kenapasih? marah?" Robby masih membujuk Mayang.


__ADS_2