In 30th.

In 30th.
48


__ADS_3

" Itu hasil perbuatanku? Tan, kamu serius?" Tanya Julian memastikan dengan mata yang berkaca-kaca.


Hatinya sungguh bergetar dan menyadari jika selama ini wanita yang dia sia-siakan adalah wanita yang terbaik yang menjadi ibu dari anak-anaknya.


" Iya Mas ini hasil pemaksaanmu. Mangnya siapa lagi yang bisa dan tega memaksaku selain kamu?" Tania menyindir dengan pertanyaan yang diajukan.


" Tan, tunggu aku Ya. Kita rayakan ini bersama ayah dan Ibu. Aku akan cepat menyelesaikan ini semua dan kembali pada kalian. " Kata Julian yang sangat bahagia.


Mereka berbincang melalui saluran video call sampai akhirnya terputus karena ponsel Tania low battery.


Pagi hari.


"Hoamz!!" Tania menguap dengan lebar dan menggeliat merenggangkan otot otot tubuhnya.


" Pagi dek!" Tania menyapa jabang bayi yang ada di perutnya mengusapnya perlahan dan tersenyum.


" Eh, ponselku."Tania mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai. Dia ingat kembali saat malam tadi mereka bercakap-cakap lama di sambungan telepon sampai tertidur dan ponsel Tania low bat.


" Charge dulu aja lah." Tania mencharger ponselnya dan segera menunaikan ibadah subuhnya.


Aktivitas paginya kini bertambah. Semenjak hamil, dan sudah memeriksakannya dokter kandungan meminta Tania untuk banyak berolahraga ringan. Seperti berjalan santai atau sekedar melakukan senam ibu hamil.


Selesai jalan-jalan pagi, Tania memutuskan untuk membeli bubur ayam yang ada di sekitaran taman. Banyak juga orang yang melakukan olahraga pagi ini. Mereka seperti kerumpulan rayap yang berbaris rapi.


" Kak!" Sapa Harry yang juga tengah berlari pagi. Itu terlihat dari baju yang dikatakannya.


Kaos putih dan celana pendek hitam, juga topi hitam yang melekat dan di padukan dengan sepatu lari berwarna putih yang membuat Harry terlihat bersinar terang di tengah kabut pagi yang membutakan pandangan.


" Hai, Harry. Apa kabar?" Sapa Dera dengan antusias.


" Kakak lagi ngapain disini sendirian?" Tanya Harry yang mengamati sekitar Tania yang terlihat tidak ada orang yang di kenalnya.


" Oh, lagi ini beli bubur Ayam sekalian tadi abis lari pagi laper." Jawab Tania sambil nyengir kuda.


" Makan disini aja yuk, Sarapan bareng kita." Kata Harry.


" Oh boleh juga, tadinya mau aku bungkus tapi karna sekarang ada temen makan ya udah kita makan bareng aja. Lumayan kan ga usah cuci piring." Kata Tania yang sudah menerima semangkuk bubur ayam di tangannya.


" Ih, malesnya cuci piring doang." Cicit Harry mulai mencairkan suasana dengan membuat candaan.


" Eh, lagi males tau mau masak juga. Abisnya suami lagi ga ada jadi males masak. Mandi juga deh jadi males." Kata Tania yang cekikikan sendiri dengan kemalasannya.


" Oh, jadi kalau ada suami baru pura-pura rajin gitu?" Selidik Harry.


" Ya ga juga sih Har. Cuman males aja biasanya makan berdua, terus ngapa-ngapain ada temenya trus Sekarang harus sendiri karena ditinggal kerja. Rasanya ada yang beda gitu." Jawab Tania yang tanpa sadar dirinya menyebutkan jika dia merasakan kesepian saat tidak bersama dengan Julian. Hal itu di nyatakannya ketika membicarakan kebiasaannya sendiri saat ada dan tidak ada Julian.


Sebenarnya di hatimu mulai ada dia Kak.


Haruskah aku mundur?


Aku mencintaimu karena kamu sungguh wanita yang baik. Tapi, aku juga tidak bisa memaksakan hatimu untukku.


Aku bahagia jika kamu bahagia. Tapi jika dia menyakitimu lagi, maka aku akan merampasmu dari dia dengan caraku. TANIA.


" Ih, jadi pengen." Rajuk Harry dengan manjanya seperti anak TK yang minta di tabok.


" Apa, kamu mau?" Tania mengira jika Harry menginginkan bubur yang sedang di sendoknya.


" Eh, tidak tidak!" Harry menggeleng beberapa kali.


Mereka melanjutkan makannya dengan khidmat dan tenang tanpa percakapan. Keduanya seperti kehabisan materi pembahasan dan membuat Tania merasa canggung dan ingin segera pulang.


Tania tak enak hati untuk menghindari Harry. Tapi dia juga tak mau terlihat terang-terangan menjaga jarak dari mantan murid yang pernah diselamatkannya dahulu.


Ponsel Harry berdering dan Harry mengangkatnya. Tak lama kemudian Harry undur diri dan berpamitan pada Tania.


" Huft! Untung saja dia cepat pergi. Kalau ada tetanggaku yang lihat bisa repot urusannya." Tania menghela nafas lega setelah kepergian Harry.


Sesampainya di rumah Tania langsung mandi dan bersiap untuk menyelesaikan agenda pemotretannya.


Ya, Tania memajukan semua jadwal kerjanya yang berhubungan dengan baju baju pres body.

__ADS_1


Selesai memoles wajahnya Tania langsung pergi ke studio yang telah Dera tentukan.


" Ponsel, oh iya ponselku." Tania menepuk sendiri dahinya karena sifatnya yang pelupa akhir-akhir ini sering kali muncul.


Tania berlari kecil menaiki anak tangga dan mengambil ponselnya. Mbak Ina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan menantu majikannya itu.


" Non Tania, Sarapan dulu. Mbak Ina sudah masak ini lho." Kata Mbak Ina kepada Tania saat Tania sudah turun dari lantai atas.


" Lah, Mbak. Saya kira sudah kembali ke rumah ibu. Ngapain masak Mbak, ga usah repot-repot. Tadi saya sudah makan." Jawab Tania.


" Yasudah, saya masukkan ke kotak nasi saja ya Non. ini perintah dari Den Julian soalnya. Kalau tidak saya laksanakan, bisa-bisa di pecat saya." Ujar Mbak Ina.


" Hem, iya. sedikit saja Mbak. Sisanya Mbak makan saja ya sama pak Yok. Nanti saya pulang malam jadi ga usah masak ya Mbak. Sayang kalau ga kemakan." Kata Tania yang sedang bersiap sambil memakai sepatu sportnya.


Out fit Tania kali ini sungguh terlihat Waow! Out fit yang jika di akumulasi akan bernilai ratusan juta. Tapi Tania tetaplah Tania dia mana tau soal harga benda benda yang di pakainya jika dia tau sudah tentu akan berfikir seribu kali untuk memakainya.


Sepatunya saja yang dia pilih yang paling sederhana ternyata memiliki nilai yang fantastis menyentuh harga hampir 15juta. Belum baju, tas dan juga jepit rambutnya.



Gambarnya ini ya. Harga hanya perkiraan karena nilai dolar selalu berubah ubah gais..


Cekrek!


Mbak Ina memotret tampilan Tania yang tengah berdiri menata barang-barang bawaannya. Dari belakang Tania terlihat lebih muda dan menawan. Tentunya mbak Ina melakukannya tanpa sepengetahuan Tania.


*


*


*


Malam hari,


" Sampe juga!" Tania meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum turun dari mobilnya.


"Seharian ini dia tidak menghubungiku?" Gumam Tania sambil melihat layar ponselnya.


" Hoams! ngantuk! mungkin dia sibuk. Besok sajalah." Desis Tania yang kemudian masuk kedalam rumah.


" Eh Non, sudah pulang." Sambut Mbak Ina yang masih menonton TV ditemani oleh pak yok yang menikmati rujak.


" Lah, Mbak. Belum tidur? ini sudah jam 10 loh." Kata tania sambil melihat jam tangannya.


" Nanti Mbak, lagi seru acaranya."Jawab Mbak ini yang kemudian mulai memainkan ponselnya Sabil melihat TV.


" Aku ke kamar dulu ya Mbak. Pak yok, rujaknya jangan di habiskan! aku mau!" Teriak Tania sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Tania berada di dalam kamarnya.


" Den, Nina baru pulang. Dia kelihatan baik baik saja. Misi sukses. Bekal makan sudah, dan sekarang rujak juga sudah." Lapor Mbak Ina kepada Julian.


" Bagus Mbak Ina. Pastikan rujaknya sama dengan yang saya makan ya." Kata Julian di seberang panggilan.


" Sip Den. beres sama semua, pakai tahu asin dan juga kerupuk." Jawab Mbak Ina sambil mengabsen isian rujak yang ada di hadapannya.


" Tolong videokan ya Mbak, saya pingin tau dia kalau tidak ada saya gimana tingkahnya." Kata Julian meminta sesuatu yang sangat aneh bagi mbak Ina.


" Siap Den bagus!." Jawab Mbak Ina penuh semangat.


Mbak Ina menta ponselnya sedemikian rupa agar Tania tidak menyadari jika Mbak Ina sedang merekamnya.


" Sudah." Mbak Ina bernafas lega dan kembali berpura-pura duduk dengan tenang menikmati acara TV.


" Kenapa sih Den Julian jadi banyak permintaan?" bisik pak yok dengan sangat hati-hati agar tak terdengar dalam rekaman.


" Sepertinya Aden sedang ngidam juga sekaligus jatuh cinta sama Non Tania. Makanya jadi alay seperti ini." Jawab Mbak Ina dengan sangat lirih di telinga pak yok.


" Pak yok masih?" Tanya Tania yang tanpa make up terlihat pucat dan memakai kaus Julian yang kedodoran dan celana tidurnya sebagai bawahan.


" Masih Non." Jawab pak yok yang dengan tergesa-gesa berpindah tempat duduk dan duduk di lantai.

__ADS_1


" Eh, ngapain pindah pak Yok? udah duduk saja. beli sofa kan memang untuk di duduki." Tania duduk dengan nyamannya dan mulai melahap rujak buah yang ada di meja.


" Tidak Non. Masa saya duduk di tempat yang sama dengan majikan." Jawab pak yok sungkan.


" Hhh, sudah sini mbak Ina juga." Tania menarik lengan mbak Ina untuk duduk di sofa dengannya.


" Enak non?" Tanya Mbak Ina.


" Enak lah. Mbak Ina pinter buatnya." Puji Tania sambil terus melahap rujak tersebut.


" Mbak, inikan baju Den Julian ya?" Tanya Mbak Ina menjalankan misinya.


" Hehehehe iya." Tania malu-malu menjawabnya.


" Tumben Non pakai baju si Aden." Mbak Ina mulai mengorek sesuatu yang Julian perintahkan.


" Ga tau nih Mbak, tadi pas ganti baju ga sengaja gitu nyium bau parfumnya yang ketinggalan di baju ini terus jadi pengen banget buat pakai. Anaknya kali nih kangen Ayahnya." Jawab Tania dengan jujur dan tanpa rasa curiga sedikitpun.


" Oh, Non. Kalau saya lihat akhir akhir ini Aden seperti orang yang aneh." Kata Mbak Ina.


" Aneh bagaimana Mbak?" Tania mulai tertarik akan isi obrolannya.


" Ya aneh. Tidak pernah sekalipun dia meminta saya dan pak yok untuk ke rumah ini. Tapi sekarang, saya pindah tugas ke rumah ini dan ibu terpaksa harus cari pembantu baru. Kan aneh itu namanya Non." Kilah Mbak Ina yang hampir saja ketahuan karena banyak bertanya.


" Biasa sih Mbak, namanya juga orang kaya. Ya kan pak yok?" Tania mengajak pak yok untuk terjun dan ikut berbincang.


" oh, eh?" Pak yok terbengong.


" Non juga sekarang kan orang kaya." Desis mbak Ina.


" Kata siapa Mbak? Aku sama saja seperti dulu." Kata Tania yang tak mau bertinggi hati.


" Mbak mau minum?" Tania berdiri dan mengambil minuman dingin di kulkas.


Bukan pembantu melayani majikan, tetapi majikan yang melayani pembantu.


Itulah sikap rendah hati Tania yang menganggap semua manusia adalah sama.


Adapun perbedaan harta diantara mereka itu hanyalah barisan angka dengan beberapa nol di belakangnya.


Bagi Tania hal seperti itu tidak berarti sama sekali. Baginya manusia tetap manusia, sesuatu yang berjiwa dan tak ternilai harganya.


" Misi selesai." Desis Mbak Ina yang tertawa senang.


" TOS dulu!" Pak yok mengulurkan tangannya meminta TOS pada Mbak Ina atas kesuksesan mereka.


Di kota lain di sebuah hotel.


Julian tengah senyum senyum mengulang ulang video yang dikirimkan oleh mbak Ina. Dia senang saat Tania memakai bajunya, saat Tania bilang bau parfumnya bikin kepengen pakai bajunya.


Dan juga sikap rendah hati Tania kepada kedua orang yang sudah Julian anggap sebagai ibu kedua baginya.


" Gitu kalau aku ga di rumah, kamu pakai bajuku. Kangen ya? Anak aja di ajukan sebagai alasan." Julian mencibir senang dan meremas serta mengigit bantal karena sangking gemasnya.


*


*


*


" Kenapa sih malam ini dia ga telfon?" Cicit Tania melirik foto pernikahan mereka yang berada di atas nakas.


" Kamu kangen Ayah ya dek? Ayah lagi sibuk sayang." Tania mengusap lembut perutnya dengan Sayang.


**Cie, Tania.


Cinta tapi gengsi 🤭🤭.


Bagaimana kisah selanjutnya?


Tom hore Tania dan Julian mana suaranya**??

__ADS_1


__ADS_2