
Ting tong!
Ting Tong!
Bel berbunyi dengan keras dan berulang ulang membuat Tania yang sedang memasak menjadi kesal dan menghentakkan kakinya sebelum membukakan pintu.
" Siapa?!" Teriak Tania kesal.
Tania membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat Dera yang berdiri di depan pintu hanya dengan memakai baju tidurnya yang masih berantakan bermotif shookie.
" Hiks..., hiks...., hiks....,!" Dera menangis dan memeluk Tania dengan emosional.
" Ada apa?" Tanya Tania yang heran karena melihat wajah Dera yang sembab dan bengkak di bagian matanya.
" Aku menyesal, aku mau bercerai." Keluh Dera yang masuk tanpa di persilahkan.
Dera menghempaskan tubuhnya ke sofa begitu saja dan tengkurap lalu menangis lagi. Tania yang masih kebingungan hanya berdiri melihat tingkah sahabatnya.
"Jangan ngawur kalau ngomong. Kamu mau bercerai? Baru juga nikah berapa hari?"
" Dia sepertinya sudah punya anak dan istri. Kamu lihat ini." Dera menunjukkan foto Al bersama Bu Mira dan anaknya.
" Ah, kenapa aku tidak percaya ya?" Kata Tania lirih sambil menganalisa gambar dari Dera.
" Gimana, sudah jelas kan?" Tungkas Dera mematahkan pemikiran Tania.
" Tidak ini hanya gambar. Bagaimana jika ternyata wanita itu hanyalah saudara dari Suamimu yang belum sempat di kenakan kepadamu?" Ucap Tania berpikir.
" Iya juga." Lirih dera yang mengehentikan tangisnya.
" Tapi kalau ini istrinya bagaimana?" Tanya Dera lagi.
" Ya kamu otomatis jadi pelakor. Kan kamu yang maksa. Kan aku sudah bilang, jangan buru-buru. Kamunya ngeyel." Ketus Tania kesal setelah mengingat dulu bagaimana nasihatnya diabaikan.
" Bisa jadilah itu istrinya. Kan, tidak ada yang tau. Kenapa tidak tanya langsung?"
" Apa menurutmu ada maling yang mau ngaku? Kalau dia baik dan mau ngaku seharusnya sewaktu menolakku dia bilang kalau sudah beristri maka aku tidak akan memaksanya untuk menikah denganku." Kata Dera kesal.
" Jangan termakan gambar. Teliti dulu. aku tidak mau ya kamu salah ambil keputusan. Berpikirlah, tenangkan dirimu. Kalau kamu bercerai sekarang kamu tidak berpikir bagaimana Om dan Tante yang bisa gila karena hal ini?" Kata Tania yang juga memikirkan tentang keluarga Dera.
__ADS_1
Dera duduk di meja makan dan menengguk segelas jus tomat yang ada diatas meja.
" Pokoknya aku *,*,*":;*:*;!#!@:@:@@ Hua....!" Ucap dera yang tidak jelas sama sekali di telinga Tania.
" Ngomong apa sih?" Tania menggerutu sambil terus mengaduk masakannya.
" Kamu denger ga sih? Aku @":"*::""":'@"~~^°^°°°. Hua.....!" Lagi lagi suara Dera tidak jelas sama sekali.
" Hhhhh....~~~." (Tania menghela nafasnya perlahan) dan kemudian duduk di samping Dera.
" Kamu itu ngomong apa? Yang jelas dong. Jangan ~~~~,,,,,;:@'@"@;@"@:@'@@:::::?!!!! Aku mana paham!" Kata Tania yang juga menirukan bagaimana ekspresi Dera saat bercerita.
Dera kemudian terdiam dan mengusap air mata penyesalannya."Aku mau disini sementara waktu." Kata Dera setelah terdiam.
" Silahkan,Kebetulan juga aku sendiri kan? Silahkan sayang, selama yang kamu mau. Sekalian nemenin aku. Tapi maaf ya Ra, soal makanan aku hanya bisa seadanya saja menjamu kamu. Tau sendiri pendapatan ku kan?" Ucap Tania dengan segala keterbukaannya.
" Iya Tan, ga apa-apa aku juga tau gimana posisi kamu sekarang. Masih si Julian nagih hutang ke kamu?" Tanya Dera yang di dalam hatinya memendam rasa jengkel kepada suami Tania.
" Eumm,, Udah wataknya dia seperti itu. Biarkan sajalah, yang penting aku sudah hampir menemui titik temu. Ibu mertua menjadi penengah kami dia yang paham hukum ternyata tidak menutup mata akan kesalahan anaknya. Hanya saja..." Tania terdiam saat ingin melanjutkan ceritanya seperti sedang mengingat sesuatu.
" Hanya apa?" Dera semakin mendekati Tania dengan wajahnya yang super ingin tau.
" Tapi sewaktu menikah dengan kamu ayahnya yang memaksa kan?" Dera kembali mengingat bagaimana keluarga Julian memaksa Tania untuk menikah dengan putranya.
" Sebenarnya waktu itu." Tania menunduk seperti sedang mengumpulkan kekuatan.
" Apa?" Dera semakin penasaran tatapannya bergulir kesana-kemari mencari jawaban.
" Waktu itu Julian juga meminta kepada ayahnya untuk dinikahkan denganku. Aku pikir karena dia menaruh rasa. Tetapi,~~~ Aku salah. Waktu itu Julian melakukan itu karena emosi sesaat setelah bertengkar dengan Angel dan mereka putus. Aku hanya di gunakan sebagai alat balas dendam. Tapi dua hari setelah kami menikah, Angel kembali dan mereka berbaikan. Lalu aku di buang." Tutur Tania mengungkapkan rahasia dari sahabatnya.
" Berarti ini kedua kalinya Julian mencari pelarian?" Kata Dera keceplosan.
" Dua kali? Pelarian?" Tania memicingkan matanya dan menajamkan pendengarannya, dia takut jika salah menduga.
" Iya, Aku tau ini dari tante Ari. Jadi suami Tante Ari dan Angel berselingkuh. Mereka tertangkap basah sedang main kuda lumping di hotel. Tante Ari sekarang juga sedang mengurus sudang perceraiannya." Tukas Dera.
" Kenapa kamu tidak cerita Dera?" Tania berubah sedikit gusar dan panik.
" Pantas saja dia menolak bercerai denganku. Aku yakin dia hanya ingin menjadikanku sebagai pelampiasan dan pelarian Dera." Tania menggigiti kuku jarinya. Kepanikannya muncul saat mengingat bagaimana sikap aneh Julian yang menolak bercerai padahal sebelumnya dia sangat jijik pada Tania.
__ADS_1
" Hhh~~~!"( Tania menghela nafasnya dan menyurai rambutnya dengan jarinya kebelakang)
Seperti sedang frustasi Tania meremas-remas rambutnya dengan wajah yang memerah meredam amarah." Sekarang keputusanku untuk bercerai semakin bulat Ra. Terimakasih untuk informasinya." Kata Tania yakin.
Sebelumnya banyak keraguan akan keputusan yang diambilnya. Tania malah sempat berfikir mungkin Julian memang sudah berubah dan mendapatkan hidayah.
Tapi kenyataannya apa yang di pikirkan Tania tertimbun sebuah fakta yang menyedihkan. Tania kembali ingat bagaimana saat dulu Angel kembali dan dengan mudahnya Julian begitu saja langsung menghempaskan Tania tanpa menganggapnya sama sekali.
" Kenapa sih, kita bertiga kisah cintanya jelek semua? Aku, kamu, Mayang. Kita semua. Ini usia produktif kita, tiga puluh tahun, seharusnya ini masa dimana kita duduk bersantai bersama pasangan menikmati indahnya hubungan pernikahan yang baru terjalin. Tapi kita? Mayang hamil dan kabur, Kamu mau cerai, aku? Ga jelas mau ngapain." Keluh Dera yang sejatinya sedang merutuki nasibnya sendiri.
" Setidaknya kita tidak sendiri saat menderita. Kita menderita bersamaan. Kemarin waktu kau menikah dan membanggakan Al, aku sudah sangat iri." Tania memicingkan matanya seolah iri.
" Tapi setelah itu, kita disini dan bersedih bersama. Apakah ini arti sahabat? susah senang bersama? kamu yang seharusnya bahagia jadi ketularan sedih dari kami?" Ucap Dera asal dengan ironi kehidupannya.
" Hahaha, mungkin bisa jadi Tan. Apapun itu, yang terpenting kita saling menguatkan." Ucap Dera yang kemudian tersenyum dan memeluk Tania.
"Iya. Sahabat selamanya. Sampai kita tua." Ucap Tania yang mengusap lembut penuh hangat punggung Dera.
" Sampai tutup usia sayang." Sambung Dera yang juga menepuk-nepuk halus punggung Tania.
...***...
**Hai!!
Ya kamu, Kamu yang selalu baca cerita aku tapi ga mau aku tau kehadiranmu.
Tolong sih, kalau Selasai baca ceritaku ini, tinggalkan Like atau Vote, atau komentar kalian.
Tau ga, kalau kalian ga ninggalin apa-apa aku tuh ga semangat buat nulisnya.
Sedikit ketukan di jari jempol untuk like, sudah sangat berarti buatku sayang. Iya kamu sayangku, yang suka diem diem baca pakai mode siluman.
Aku pengen tau juga apa kalian sehat sehat aja, atau bagaimana.
Jujur saja karena pandemi ini, aku merasa takut, aku takut jika ada sesuatu yang menimpa kalian atau teman-tqmanku di sosmed lainya aku selalu minta jaga komunikasi.
Kalau sakit bilang, setidaknya kita bisa memberikan semangat, doa dan juga dukungan. Jujur sedikit perhatian dari orang lain meski tidak bertemu terkadang sangat berarti bagi orang itu.
Dari yang aku pahami selama ini. Kesepian adalah penyebab dari depresi. Jadi yuk, sama-sama saling menyapa, mendoakan dan memberikan dukungan bagi sesama🤗✌️.
__ADS_1
Love you all. Sehat-sehat selalu ya sayang**.