In 30th.

In 30th.
54.


__ADS_3

Ada apa Ra?" Tanya Tania yang sudah berada di sebelah Dera saat ini.


" Kamu baca ini, dan lihat chat Al ini." Ucap Dera yang sudah menangis terisak-isak.


" Kamu yang sabar ya Ra." Tania ikut bersimpatik dan memeluk Dera.


" Aku bingung harus apa Tan. Hiks, hiks, hiks!" Dera menangis di pelukan Tania.


" Pergilah temui dia, dia membutuhkanmu sekarang. Dia butuh dukungan dari istrinya." Kata Tania memberikan nasihat.


" Tapi Tan, kamu tau kan bagaimana statusku di mata keluarganya. Aku hanya orang asing Dimata mereka. Aku harus bicara apa?" Dera sungguh tak tau harus berbuat apa kali ini. Otaknya seperti mati kutu saat memikirkan statusnya di mata keluarga suaminya.


" Temuilah saja dulu. Percayakan pada Al. Kamu ikuti saja langkah suamimu." Kata Tania menguatkan sahabatnya yang bimbang.


" Baiklah Tan, aku akan segera menyusulnya." Jawab Dera yang kemudian pergi dan membatalkan acara menginapnya di rumah Tania.


*


*


*


Dera berada di sebuah kampung yang tak asing baginya. Kampung itu adalah kampung yang dulu pernah di singgahi kakek dera sementara waktu.


Lebih tepatnya kakek dera dulu mempunyai perkebunan kopi di kampung Al.


" Ternyata kampung halamannya adalah kampung dimana Kakek dulu bertemu Nenek." Gumam Dera di dalam perjalanannya seorang diri.


Lama menempuh perjalan darat dengan jalanan berbatu, akhirnya Dera sampai di ujung kampung dengan bendera kuning yang menancap di pagar bambunya.


Dera hanya bisa berhenti dari kejauhan dan mengamati apa yang sedang terjadi. Terlihat Al menumpuk beberapa kursi plastik dan memegang gagang sapu lalu mulai membersihkan pelataran rumahnya.


" Al, kamu pasti sedih saat ini." Gumam Dera yang juga menitikkan air matanya.


Dera turun perlahan dan menutup pintu mobilnya. Suara dari mobil yang terkunci membuat Al menoleh seketika.


" Dera?" Lirih Al memanggil nama Istrinya.


" Assalamualaikum." Seru Dera dengan santun.


Dera memakai baju serba hitam yang sederhana dan berjalan menghampiri Al. Al tersenyum simpul melihat kedatangan istrinya antara bahagia dan juga sedih.


Bahagia karena orang terpenting di dalam hidupnya kini hadir memberikan semangat dan dukungan, sedih karena mungkin setelah ini akan terkuak masalah baru.


" Wa'alaikum salam Sayang." Sambut Al yang menjabat tangan dera dengan hangat.


" Kamu kenapa tidak bilang kalau mau datang?" Tanya Al.


" Ay, aku hanya tidak bisa berpikir lagi setelah membaca pesanmu. Aku turut bersedih." Ucap Dera dengan tulus.


" Masuklah, dan sayang tolong bersikap biasa saja disini. Aku tidak mau mereka salah paham dan menyebar fitnah. Aku tidak mau menambah derita Almarhumah ibuku, tanah kuburannya masih basah." bisik Al di telinga Dera.

__ADS_1


Sementara itu para tetangga sudah ada yang bergunjing melihat kedekatan Al dan Dera. Semua itu terlihat jelas dari cara mereka memandang Dera dari ujung rambut hingga ujung kaki.


" Tolong, sembunyikan hubungan kita yang sebenarnya disini." Lirih Al lagi.


DEGH!!!


Sembunyikan? Mengapa harus kita sembunyikan lagi?


Bukankah status kita resmi hanya perlu bersembunyi dari pihak dosen kampus? Lalu kenapa sampai disini juga harus merahasiakan semuanya?


Al, ada apa ini?


Sungguh hatiku sangat cemas Al. Dera menumpuk segala tanyanya dalam hati.


Maafkan aku Sayang, bukan maksudku untuk menyisihkan mu dari kehidupan keluarga besarku. Tetapi ada sesuatu yang seharusnya belum kamu ketahui.


Aku belum siap, ini amatlah menyakitkan untukmu sayang. Aku tidak mau melihatmu terluka.


Aku tau kamu sangat tulus mencintaiku.


Biarlah aku menyelesaikan persoalan-persoalan pelik ini tanpa menyeretmu.


Batin Al yang menatap sendu Dera yang berjalan masuk dan kehilangan gairahnya seketika.


" Mari, silahkan duduk" Al mempersilahkannya seolah dera adalah orang asing baginya.


Ingin rasanya Dera pergi saat itu juga. Rupanya kekhawatirannya tidak sejalan dengan apa yang di dapatkannya saat ini. Namun, Dera tidak mau membuat Al semakin sedih dan terpuruk. Dengan terpaksa Dera hanya bisa membalas dengan senyuman dan duduk di kursi kayu tua di ruang tamu.


" Siapa dia Al?" Tanya seorang wanita paruh baya yang datang menemani Al dan duduk di samping Al.


" Dia, salah satu teman di kampus Bude. Dia datang kemari untuk mewakili yang lainya mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Al. Namanya Dera Bude." Kata Al memperkenalkan dera sebagai teman satu angkatannya.


Ada apa ini Al?


Apakah begitu sulit mulutmu untuk berucap jika aku adalah istrimu?


Al, apa bagimu aku hanya mainanmu?


Apa artiku bagimu Al?


Apa?


Dera sungguh tersayat hatinya. Remuk tak berbentuk. Suaminya tak mengakuinya di hadapan kerabat dekatnya.


" Iya, saya perwakilan dari kampus. Saya datang kemari untuk berbelasungkawa dan untuk memberikan ini. Ini hasil dari santunan kami Bude. Mohon di terima." Kata Dera menyodorkan segepok uang yang masih terikat rapih dari bank senilai 20jt.


" Maaf tadi saya tidak sempat memasukkannya kedalam amplop." Kata Dera lagi yang kali ini menatap dingin Al.


Al sadar benar apa maksud Dera memberikan uang tanpa amplop itu. Al menatap datar Dera.


Uang itu tadinya akan Dera berikan secara langsung kepada keluarga Al untuk semua kebutuhan pemakaman dan acara tahlil.

__ADS_1


" Terimakasih Nak Dera. Kami sangat senang Nak dera sudah menyempatkan diri berkunjung kemari ke gubuk kami ini." Ucap Bude Yanti dengan lembutnya.


" Saya buatkan teh ya. Kalian lanjut dulu ngobrolnya." Kata Bude Yanti yang hendak berdiri.


" Tidak usah Bude. Rumah saya jauh, nanti saya kemalaman kalau tidak segera pulang. Maaf bukan maksud apa-apa, tapi memang saya tidak bisa berlama-lama." Kata Dera sehalus mungkin menolak Bude Yanti.


" Al, kamu yang tabah ya. Aku permisi dulu. Pamit ya Al, Bude." Ucap Dera yang kemudian menyalami keduanya tanpa menunggu balasan dari Al.


Begitu ternyata sikapmu padaku Al.


Aku kira dengan kepergian ibumu kamu bisa berani mengakui ku sebagai istrimu.


Tapi ternyata aku salah.


Saranmu buruk Tania.


Dera menggumam pilu dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan kampung halaman suaminya.


*


*


*


Dera segera pulang menempuh perjalanan darat yang cukup lama lagi. Dera sengaja menonaktifkan ponselnya dan beristirahat di Apartemen tanpa gangguan.


Dera masih terdiam dan memikirkan semua yang terjadi.


Kembali terselip rasa penyesalan dalam dirinya dimana di awal mula dia yang memaksakan Al untuk menikah dengannya.


Dera menangis sendirian. Dera tak. berani mengadu kepada sahabatnya setelah membaca story dari kedua sahabatnya di aplikasi chatting.


^^^Tania.^^^


^^^Self healing adalah kesunyian.^^^


^^^Mayang.^^^


^^^Merenungi tindakan yang akan datang.^^^


" Mereka juga lagi galau rupanya." Gumam Dera yang kemudian mengambil kopernya dan membukanya.


"Sesakit ini rupanya tak di akui.


Sesakit ini rupanya tak di anggap.


Sesakit ini rupanya bertepuk sebelah tangan.


Apakah selama ini aku hanya menjalani cinta sepihak?


Dan dia, dia hanya berpura-pura mencintaiku, memanfaatkan kekayaan dan tubuhku?"

__ADS_1


Dera berkemas dan berganti baju tanpa mandi terlebih dahulu. bahkan urusannya kantornya juga sudah di pasrahkannya kepada tangan kanan kepercayaannya.


" Aku harus pergi." Kata Dera yang sungguh terbakar emosi.


__ADS_2