
Tania pulang dari kegiatan mengajarnya. Dirumahnya masih sepi dan tidak ada orang. Hanya dia sendiri, Tania lantas membersihkan diri dan masuk kedalam kamarnya. Ibu mertuanya sudah pulang karena ada urusan di Surabaya yang mengharuskannya untuk berangkat.
Tania merebahkan dirinya di kasur lantai tipis. Tania menitikan air matanya sedih meratapi hidupnya. Seperti di jual oleh ibu kandungnya dan mendapatkan suami yang suka sekali menyiksa batinnya. Tania mengusap perlahan foto seorang lelaki yang tampan dengan anak kecil yang berada di pangkuannya.
Laki-laki itu adalah Ayah Tania. Lebih tepatnya almarhum ayah Tania. Tania iseng-iseng kemudian mulai membuka ponselnya di lihatnya lagi pesan transaksi pembayaran yang di bayarkan oleh Dera. Tania tersenyum dan mengucap syukur. Satu rencana sudah ada di kepalanya.
Tania berusaha mengumpulkan banyak uang agar bisa lari dari jerat suami dan ibu kandung yang menyiksanya setiap hari. Di lihatnya lagi ada pesan dari Mayang.
" Mayang?" Gumam Tania mengernyitkan dahinya sambil membaca pesan Mayang.
" Apa Dera kejambret? Aku ingin kesana, tapi sebentar lagi Julian akan pulang. Maafkan aku Dera aku belum bisa menjengukmu."Gumam Tania yang lagi-lagi menitikan air matanya.
Tania menghubungi Dera. Dan dera pun mengangkatnya. Mereka berbicara dengan sedikit emosional sampai-sampai Tania menangis sedih di buatnya. Tania ingin membesuk tapi takut Julian akan mengamuk.
Merasa lega dengan keadaan sahabatnya, Tania kembali berbaring dan tertidur dengan pipi yang basah karena lelah menangis.
Alarm Tania berbunyi, menunjukkan akan ada kegiatan rutin yang terjadi. Tania dengan malas membuka matanya dan melihat jam di ponselnya. Ini sudah waktunya si pemilik rumah serta jiwa dan raganya kembali.
Tania hanya bisa pasrah dan terus melangkah. Meski enggan namun Tania tak bisa lari. Takdir memaksanya untuk menjadi pribadi yang kuat meski sebenarnya dia sudah lelah. Lelah akan semuanya.
Tania merapikan penampilannya dan merapikan rambutnya. Tania hanya memakai daster yang mampu di belinya dari pasar tradisional.
" Hhh, aku sudah punya uang. Apa sebaiknya aku memperhatikan penampilanku ya? Aku juga tidak buruk rupa." Tania berdecak lalu pergi setelah melihat pantulan dirinya.
Tania memasang wajah dinginnya dan menyambut Julian. Membukakan gerbang, membawakan tas, dan peluk cium palsu tanpa rasa.
Julian menatap wajah Tania yang terkesan acuh kepadanya. Julian tak suka di acuhkan tapi dia suka mengacuhkan. Betapa menyebalkannya sikap Julian ini. Ingin rasanya Tania menginjak leher Julian dengan sepatu heelsnya.
" Kamu kenapa, wajahmu cemberut begitu? Tidak suka aku pulang?" Julian memeluk Tania dengan paksa. Tapi anehnya Tania tidak memberontak seperti saat berada di kamar.
Seperti patung, Tania tak membalas juga tak menerima tidak juga melihat wajah Julian. Tania hanya diam dengan tatapan hampa. Mereka masih berada di garasi dan kini sudah berada di depan rumahnya.
Mungkin Julian memang dengan sengaja ingin mempermalukan istrinya di depan para tetangga. Julian yang tadinya tidak pernah menyentuh atau bahkan mencium Tania, kini dia dengan buasnya menciumi leher dan wajah Tania.
__ADS_1
Kesal dengan Tania yang hanya diam saja. Julian lalu mengangkat dan menggendong tubuh Tania layaknya seorang suami yang sangat mencintai istrinya dan mengharapkan kegiatan lembur di malam hari.
Sampainya di kamar.
Julian menjatuhkan tubuh Tania begitu saja ke lantai. Beruntunglah Tania sudah bersiap-siap akan apa yang terjadi. Tania terduduk masih dengan Tatapan hampa.
" Kamu ini, kenapa tidak membalasku? Kamu mau aku di marahi Mama karena sikap bodohmu ini? Kamu sengaja, iya!" Bentak Julian sambil menjambak kuat rambut Tania.
Tania hanya diam tak menjawab juga tak menatap. Hanya bulir air mata yang terjatuh yang mewakili perasaannya. Ingin dia berlari dan menjauh pergi, tapi apalah daya. Ikatan dan janji suci yang di junjungnya membuatnya menjadi boneka yang hanya menjadi tempat pelampiasan.
" Jawab aku Tania, jawab!" Teriak Julian dengan kerasnya.
Tania tak bergeming. Seperti tak gentar akan ancaman, Tania hanya diam dan diam. Julian menjadi sangat marah, dia ingin memukul tapi semuanya bisa kacau jika ibunya melihat luka atau lebam di tubuh menantu kesayangannya itu. Julian melepas ikat pinggangnya dan kemudian celananya lalu melemparkannya kesegala arah. Bajunya pun sudah di lepasnya.
Entah sebab apa Julian menjadi sangat marah. Biasanya dia sangat senang jika Tania mengacuhkannya. Tapi kali ini?
Dan Tania dia sebenarnya kecewa pada dirinya sendiri yang seperti tidak punya harga diri sama sekali di hadapan suaminya dan juga ibunya.
" Bicaralah atau aku akan paksa kamu bicara!" Julian membentak Tania.
" Hem." Tania hanya menyeringai misterius menatap mata Julian seolah menantang maut.
" Baik, jika itu maumu." Ucap Julian sebelum memulai aksinya.
Julian menarik daster yang di pakai Tania hingga robek dan menunjukkan buah dadanya. Sepersekian detik Julian terkesiap dan takjub akan apa yang menjadi haknya tapi tak pernah di sentuhnya.
Julian mencium paksa Tania yang hanya diam saja tak membalas. Julian semakin kesal dan juga terpancing setelah melihat dada putih mulus milik Tania semakin menjadi buas dan tak terkendali. Julian melancarkan aksinya dengan heboh.
Julian sedang menyiksa Tania tidak dengan pukulan tapi dengan hentakan. Tidak dengan cubitan membiru tapi dengan hisapan. Dimana pasangan lain membuat kiss Mark sebagai tanda cinta, Julian membuatnya sengaja sebagai bentuk siksaan dan luapan emosi.
Sakit, terhina dan juga terpaksa Tania hanya bisa menangis itupun sudah tak bersuara. Bersuara atas apa? Bahkan dia adalah istri sah seorang Julian. Sudah menjadi kewajiban baginya melayani suami.
Siapa yang akan percaya? dan siapa yang akan peduli. Semua seolah menutup mata atau mereka benar-benar tidak bisa merēka?
__ADS_1
Julian melengkuh setelah mencapai klimaksnya. Jujur dia akui tubuh Tania ternyata lebih legit di bandingkan dengan Angel. Julian juga adalah penikmat pertama yang menikmati indah molek tubuh Tania dan juga lubang sempit Tania.
"Oh, shit! Tania kau masih tersegel? Dan juga sangat sempit." Batin Julian setelah menikmati hidangan prasmanan. Iya prasmanan dimana dia membuka dan mengambil sendri menu makanannya lalu melahapnya.
Julian terpuaskan dan tertidur lelap tanpa melepaskan pelukannya. Julian semakin mengeratkan pelukannya di perut Tania.
Ini untuk pertama kalinya setelah menikah selama 7 bulan, Julian memenuhi haknya sebagai suami.
Pertama kalinya juga bagi Tania tidur satu ranjang dengan Julian. Tidak diatas kasur lantainya lagi, tapi apakah Tania bisa terlelap?
Tidak! Tania terjaga sepanjang malam dengan matanya yang hampa menatap langit langit kamar. Dirinya sangat yakin jika setelah ini akan ada hal buruk yang terjadi.
Julian terbangun dan membuka matanya. Dia sadar betul jika Tania berada tepat di hadapannya. Julian mencium kening Tania dengan lembut lalu tangannya mulai kembali ber gerilya mencari sesuatu yang empuk dan enak untuk di remas.
" Auh!"Pekik Tania karena Julian meremasnya dengan kuat.
Sakit yang Tania rasakan, bukan rangsangan kenikmatan.
" Kenapa? Tidak mau meladeni suami?" Ucap Julian ketus.
" ...." Tania kembali terdiam.
" Bicaralah, bicara jangan hanya seperti patung!"
Aku bicara atau tidak itu tidak akan mempengaruhi hati dan telingamu Julian. Bagimu aku hanyalah sebuah mainan. Ucap Tania dalam hatinya.
" Baiklah, rupanya kamu ingin lagi!" Ancam Julian yang lalu melancarkan aksinya untuk yang kedua kalinya.
" Sakit!" Ucap Tania merintih kesakitan.
" Rasakan! ini bentuk siksaan ku yang baru untukmu!" Ucap Julian yang terus menggenjot kuat tubuh Tania tanpa ampun.
" Sakit, ampun!" Isak Tania dalam rintihan.
__ADS_1