
" Apa? Hamil?" Seru seorang wanita paruh baya yang terkejut sembari memegang dadanya.
"........ ........ ....... " Lapor seseorang di ujung panggilan telepon.
" Laporkan apapun yang terjadi padaku dan juga. Terserah bagaimana caramu, aku ingin segera mengetahui siapa ayah dari bayi yang di kandungnya saat ini." Titah si wanita paruh baya yang kemudian menutup panggilan teleponnya.
Wanita paruh baya itu duduk terdiam memikirkan sesuatu.
Kebingungan dan kegelisahan melanda kalbunya saat ini.
*
*
*
" Bagaimana bisa aku melahirkan anak sebodoh dia. Mayang hamil cucuku dan Akbar anak bodoh itu tidak segera menikahinya? Aku tidak percaya ini." Nyonya Nilam kecewa dengan kebodohan Akbar yang menyia-nyiakan Mayang dan juga calon cucunya.
" Dekta, apa Akbar tau akan kepulangan ku?" Tanya Nyonya Nilam yang tengah duduk di bangku belakang menatap serius Dekta Mata-mata juga sekaligus orang kepercayaan nyonya Nilam selama ini.
" Tidak Madam, semua aman terkendali." Jawab Dekta dengan tegas dan yakin namun tak mengurangi kesopanannya.
" Bagus." Puji Nyonya Nilam akan keprofesionalan Dekta dalam menjalankan setiap tugasnya.
" Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Tanya Nyonya Nilam yang terus lurus memandang ke depan mengamati ramainya jalanan.
" Ada apa Madam?" Tanya Dekta.
" Kalau kamu jadi Akbar apa yang akan kamu lakukan?"
Deg!
Jantung Dekta serasa berhenti berdetak sekarang mendengar pertanyaan yang baginya mustahil terlontar.
" Ya aku akan mengejar Mayang dengan sungguh-sungguh. Dari yang aku tau, Mayang adalah wanita yang teguh, mandiri, dan baik. Hanya saja dia sedikit tomboy dan galak." Jawab Dekta seadanya sesuai fakta dari data yang di jabarkannya.
" Apakah bibit, bebet, dan bobot Mayang itu bagus?" Tanya Nyonya Nilam lagi.
Jeduar!!
Seperti petir yang menyambar disiang bolong. Dekta merasa sedikit sesak di dadanya saat membicarakan sosok Mayang lebih jauh lagi.
" Baik Madam. Sangat Baik. Dahulunya Neneknya masih berkerabat dengan keluarga kerajaan. Hanya saja, kisah cintanya tragis dan terhalang restu. Maaf sebelumnya madam. Neneknya, hamil di luar nikah dengan laki laki keturunan bangsawan asing. Mereka berpisah, tapi..." Dekta menghela nafas.
" Tapi Apa?" Nyonya Nilam penasaran sampai-sampai membuka kaca mata hitamnya.
" Tapi yang terakhir saya dapatkan informasinya jika Neneknya sudah di terima kembali di keluarga kerajaan, Jadi secara otomatis Mayang juga akan kembali ke kekerabatan kerajaan Madam." Terang Delta hingga membuat Nyonya Nilam mengangguk paham.
__ADS_1
" Apa Mayang juga akan kembali kerajaan?" Tanya Nyonya Nilam lagi yang lebih jauh menelisik, mengorek informasi Mayang yang sedang mengandung cucunya.
" Saya tidak yakin Madam. Tetapi, menurut saya, Mayang bukanlah wanita yang gila jabatan, status, atau harta."Jawab Dekta yang terus fokus mengemudikan mobilnya.
" Lalu bagaimana dengan keluarga Kakeknya sekarang?" Tanya Nyonya Nilam lagi.
" Dari informasi yang saya dapat. Kakeknya sudah meninggal, tetapi karena beliau sudah di coret dari daftar kebangsawanan semenjak menghamili Nenek Mayang, Beliau hanya memiliki vila kecil di tepi danau."
" Oh, baiklah. Cukup, gali lebih dalam lagi. Saya ingin tau keseluruhan seluk beluk keluarga Mayang."
" Baik madam." Dekta mengangguk.
Kenapa dunia ini sempit sekali?
Mayang, mengapa juga kamu hadir di tengah kenyamananku?
Butuh bertahun-tahun lamanya bagiku untuk mengikis namamu.
Aish!! Mayang, Mayang. Lagi-lagi kamu. Batin Dekta bergemuruh mengingat Mayang dan seluk beluk keluarganya.
...πππ...
Akbar berjalan gontai dan mabuk setelah merasa frustasi karena Mayang yang menghilang dengan tiba-tiba dan Sulaiman sama sekali tidak bisa melacak keberadaan Mayang saat ini membuat Akbar putus asa.
Entah mengapa semenjak terakhir bersama Mayang, banyak membuat Akbar berubah. Terlebih saat mengetahui Mayang sedang mengandung anaknya, Akbar seperti terketuk hatinya untuk menjadi lelaki yang lebih baik bagi anaknya dan berhenti dari dunia per- Playboy an.
Akbar berjalan perlahan memasuki apartemen dan melempar sembarangan jas dan tas kerjanya. Dasinya telah terurai dan juga di lemparkannya. Rumah Akbar sekarang jauh dari kata nyaman. Berantakan dengan sampah bungkus makanan dan juga botol minuman yang berserakan.
" Mayang! kamu dengar itu, tidak ada yang menolakku kecuali kamu jelek!" Akbar mencaci maki dompetnya.
Di dalam dompet Akbar tersimpan foto Mayang yang sebenarnya adalah foto dalam berkas persyaratan kerja yang Akbar dapatkan dari HRD.
Akbar menunjuk-nunjuk foto Mayang bahkan menyentilnya beberapa kali dengan ekspresi wajah kesal.
" Akbar!" Seru Nyonya Nilam yang rupanya sedari tadi melihat tingkah aneh putranya.
" Astaga!! Mam?" Seru Akbar yang kaget sambil memegangi dadanya.
" Mam? Bukanya Masih di luar negri?" Tanya Akbar dengan terkejutnya.
" Anak bodoh, Anak kurang ajar!! Bisa bisanya kamu malah mabuk-mabukan, dan tidak mencari keberadaan calon cucuku huh?!"
" Pletak! Pletak!" Nyonya Nilam geram dan memukuli Akbar dengan gagang kemoceng yang sudah disiapkannya sebelum kedatangan Akbar.
" Akbar, Mama susah payang melahirkan, membesarkan, dan memberikan pendidikan yang terbaik buat kamu ya. Tapi kamu malah seperti ini?menjadi pecundang. Cih!" Lagi lagi Nyonya Nilam terus mengomel dan tangannya memukuli Akbar dengan kemoceng.
" Ampun Mam, sumpah Mam, Akbar sudah mencari Mayang. Akbar juga ingin menikahinya Mam. Akbar ingin berhenti menjadi playboy!" Seru Akbar membela diri dan menangkis pukulan dari nyonya Nilam.
__ADS_1
" Apa katamu?" Nyonya Nilam tergelak mendengarkan jika Akbar ingin berhenti dari kenakalannya.
" Mam, Akbar tau Mama sangat ingin melihat Akbar menjadi lelaki yang bertanggungjawab. Akbar juga tau Mama seperti ini karena sayang dengan Akbar. Tapi Mam, Mayang bukan wanita yang mudah di gapai. Dia berbeda mam. Dia tidak merengek untuk di nikahi. Dia menolak untuk menikah denganku Mam." Kata Akbar menjelaskan.
" Akbar!" Seru Nyonya Nilam yang meremas rambutnya dengan frustasi
" Bagaimanapun itu kamu harus mencari dia. Mama tidak ingin kehilangan cucu Mama. Kamu tau Mayang bukan wanita sederhana seperti yang ada di profil lamaran kerjanya. Dia masih memiliki garis keturunan darah biru." Ucap Nyonya Nilam yang terduduk lemas di sofa sambil menatap nanar Akbar.
" Ap... apa maksud Mama?" Akbar tak mengerti, kini kepalanya berdenyut kian parah sampai-sampai Akbar terduduk lemas di lantai.
" Jika sampai ada kerabat atau anggota kerajaan yang tau jika Mayang hamil di luar nikah, maka resikonya Mayang akan mendapat siksaan dan juga cucu Mama terancam di lenyapkan. Mama tidak mau darah daging Mama mendapat hukuman sadis atas kelakuan bodoh orang tuanya." Kata Nyonya Nilam dengan tatapan matanya yang lurus tanpa berkedip namun menitikkan air mata.
" Mam, Serius?" Akbar melongo tak percaya.
" Mama serius, tanya Dekta untuk lebih jelasnya." Kata Nyonya Nilam yang kemudian terdiam membayangkan hal yang tidak-tidak yang mungkin bisa menimpa calon cucunya.
" Dekta, jelaskan padaku sekarang juga!" Bentak Akbar pada delta yang sedari tadi berdiri melihat drama antara ibu dan anak layaknya tom and Jerry.
" Baik Mas." Sahut Dekta yang kemudian menceritakan semua secara rinci akan seluk beluk Mayang yang berasal dari keturunan darah biru.
" Lalu mengapa baru sekarang kerabat dan keluarganya mau mengakui dia sebagai cucu dari kakeknya? dan juga Neneknya kenapa baru sekarang di terima ke kerajaan?" Akbar mencecar Dekta dengan pertanyaan kritis.
" Mungkin ini bagian dari takdir. Lebih tepatnya mereka menjalankan wasiat dari yang tertua yang telah tiada." Jawab Dekta singkat.
" Astaga!" Akbar menepuk jidatnya. Rasa mabuknya kini berganti akan rasa perih dan sesak. Dia takut jika calon anaknya akan tertimpa kejadian buruk yang tak diinginkan.
" Harus cari kemana aku Mam? Dia susah di lacak!" Kata Akbar berkeluh kesah dan menjambak rambutnya frustasi.
"Bagaimana jika kita mulai dari vila." Ucap Dekta.
" Vila? kamu tau lokasinya?" Tanya Akbar dengan penuh harap yang terbias dari sorot matanya.
" Ya Mas. Saya tau." Jawab Dekta dengan yakin.
" Cepat antarkan saya!" Akbar terhenyak begitu saja tidak memperdulikan penampilannya yang berantakan.
"Tunggu apalagi? Cepat antarkan aku. Aku tidak ingin calon anakku kenapa-kenapa!"Kata Akbar yang emosional.
" Ayo kita berangkat biar Mama yang akan membujuk Mayang."Kata Nyonya Nilam yang seolah memberikan angin segar pada Akbar. Setidaknya, ada yang dia jadikan tameng dari amukan Mayang.
Hai semuanya!
Kalian sehat? Semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan kalian masing-masing.
Aku harap kebahagiaan selalu menyertai setiap langah kalian.
Maaf ya, up agak telat. Tadi ada sedikit acara.
__ADS_1
Jangan lupa like, dan tinggalkan jejak komentar kalian ya.
Author sayang kalianπ€.