
" Aku kangen." Bisik Dera di telinga Al sebelum dia memeluk Al dengan erat.
" Aku lebih, lebih, lebih, kangen sayang." Jawab Al yang kemudian membenamkan kepalanya di dada Dera.
Malam hari,
Dera sudah tertidur pulas dengan gaya tidurnya yang abstrak diiringi bunyi merdu dengkuran. Al tersenyum melihatnya dan tangannya sesekali mengusap lembut kening Dera dan menciumnya perlahan.
Al terdiam menatap langit-langit kamarnya, mencoba memejamkan matanya namun tak bisa. Al terdiam saat melihat dan fokus ke layar ponselnya. Al tersenyum getir lalu menyimpannya. Sepertiga malam telah datang.
Al masih juga belum bisa tidur, Dia beranjak dan menyelimuti Dera sebatas bahu lalu menciumnya dengan lembut. Gemercik suara air yang mengalir saat Al mengambil wudhu untuk mensucikan diri tak juga membuat dera terbangun.
Al membentangkan sajadahnya dan memulai ritualnya mengadu kepada sang Khaliq.
Entah apa yang di adukannya, tapi terlihat jelas Al sangat khusyuk sampai bersujud lama dan menitikkan air matanya.
Al kembali menaiki ranjang dan Dera ternyata terbangun sambil memegang segelas air.
"Kamu dari mana Al?" Tanya Dera dengan nada bicara yang parau khas orang yang baru terjaga.
" Abis sholat Mbak." Sahut Al yang menekankan kata Mbak dimana dia kesal saat dera kembali lupa akan kesepakatan mereka untuk memanggil dengan panggilan sayang untuk mengikis perbedaan usia diantara mereka.
" Dih, Mbak. Sayang gitu sih." Cicit Dera yang kemudian menenggak air minumnya, memutar bola matanya malas dan kembali tidur.
" Abisnya sama suami manggilnya gitu. Taukan kalau aku ga suka." Sahut Al yang kemudian menyusul Dera dan memeluknya dari belakang.
" Hemh, resiko nikah sama brondong sering di panggil Mbak. Untung bukan Tante ya Ay?" Ucap Dera yang cekikikan mengingat beda usia mereka.
Dera berbalik dan kini mereka saling menghadap satu sama lain.
" Aku tidak pernah menyangka jika akan berjodoh dengan mata-mata Ayah." Cicit Dera dengan tangannya yang meraba rahang tegas Al.
" Apa kamu menyesal?" Tanya Al dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Tidak akan." Jawab Dera dengan tatapan mata yang tulus menembus kedua manik Al.
" Terimakasih." Al mendekap erat Dera dengan penuh sayang, Al mengusap pucuk kepala Dera.
" Tidurlah sayang, ini masih gelap." Ujar Dera menguarai pelukan hangat Al.
Dera terkesima saat dalam cahaya remang kamar mereka, terlihat Al sudah mengeluarkan dengkuran halus yang menandakan jika dia sudah terlelap. Dera mengagumi sosok lelaki yang ada di hadapannya kini.
Lelaki yang lebih muda darinya, tetapi berpikiran dewasa dan bertanggung jawab dengan kemampuan dan kerja kerasnya. Dera mengulum senyumnya lalu membenamkan kepalanya lagi ke dada Al dan tak lama juga terlelap.
Pagi hari,
Dingin embun membasahi permukaan dedaunan, membawa sang lembayung yang tenang dan perlahan menjamah setiap dedaunan.
Sepasang suami istri yang masih berada di alam mimpi mereka seperti berlomba menemukan mimpi terindahnya.
Dert....!
Dert....!
Dert.....!
Suara alarm ponsel Al membangunkan mereka. Dera terbangun dan mengguncang perlahan tubuh Al dengan harapan Al segera bangun.
" Bangun Ay, alarmnya sudah berteriak-teriak." Cibir Dera.
" Hemh?" Al melengkuh mengeluarkan suara serak khas orang yang baru saja bangun.
" Nanti lima menit lagi sayang. Aku masih ingin memelukmu." Al mengeratkan pelukannya di pinggang Dera.
" Ya, terserah kamu sih kalau mau ketinggalan subuh." Cetus Dera yang seketika membuat Al bangun dan berlari terbirit-birit menuju ke kamar mandi.
" Ay, kenapa?" Tanya Dera dengan cemasnya yang juga ikut melompat dari tempat tidur.
__ADS_1
" Wudhu Sayang. Cepetan ayo!" Ujar Al yang sangat ketakutan jika sholatnya akan terlambat.
Mereka beribadah bersama dengan doa yang sama, hanya saja permintaan mereka jauh berbeda.
Dera yangs sedari kecil tidak pernah kekurangan tetapi tidak terlalu sering merasakan hangat dan kebersamaan keluarga. Ayah dan ibu yang sibuk mencari rupiah meski harta mereka sudah berlimpah membuat dera mendambakan keluarga dan gaya hidup yang sederhana namun sangat bahagia.
Al, yang semenjak menikah memiliki kecemasan akan tanggung jawab yang harus dan wajib dipikulnya untuk mencukupi segala kebutuhan dan materi sah istri yang di matanya jauh dari kata sederhana atau biasa saja.
Selesai Sholat Al segera membereskan kamar. Al seolah lupa jika sekarang statusnya adalah seorang suami bulan lagi asisten pribadi yang merangkap sebagai apapun yang Dera mau.
"Ay, biar aku saja." Dera menarik selimut yang akan di berskan oleh Al.
" Eh, iya. Lupa kalau sudah punya istri. Di kepalaku kamu masih majikanku."Al dengan polosnya nyengir kuda di hadapan Dera.
" Sayang, jangan seperti itu. Jujur aku ingin belajar untuk menjadi istri yang berbakti, yang mengurus semua kebutuhan dan rumah kita."
" Rumah kita? Ini rumah kamu sayang. Aku yang menumpang disini. Maafkan aku ya, aku tidak bisa membawamu pergi bulan madu, tidak ada hadiah rumah mewah, tas mahal, atau mobil dengan harga milyaran." Ucap Al sambil menunduk sendu menyiratkan jika ucapan dalam setiap katanya merupakan gambaran hatinya yang gundah gulana.
"Ay, kan kita sudah menjadi suami istri. Punyaku juga punyamu." Kata Dera yang ingin mengikis rasa tidak percaya diri Al.
" Tidak."
" Di dalam agama kita, Punyaku juga punyamu. Tapi punyamu sepenuhnya adalah punyamu. Karena di dalam rumah tangga, suamilah yang bertanggung jawab penuh akan semua kebutuhan didalamnya. Maaf sayang, aku baru bisa memberikan uang yang tidak seberapa kemarin." Kata Al tulus penuh dengan kesedihan akan ketidak mampuannya.
"Sayang, jangan seperti ini ya. Yang terpenting kita saling menyayangi. Untuk kemampuanmu dalam menafkahiku, sedari awal aku sudah bilang kan? Semampumu saja, aku tidak menuntut lebih dan tidak mempermasalahkannya." Kata Dera dengan jujur yang tergambar dari tatapan matanya yang ingin membagun kembali keceriaan di wajah Al.
" Di dunia, dan juga sekarang, kamu tidak akan menuntut. Tapi di akhirat nanti? dan juga nanti jika semua ini di pertanyakan setelah aku mati, aku akan menjawab apa sayang?" Ujar Al dengan gurat kesedihannya.
"Sayang..." Dera menghambur ke pelukan Al dan memeluknya dengan sayang.
" Lakukanlah apapun yang menurutmu baik imamku." Dera berbicara dengan lirih dan terus mengusap lembut kepala Al seolah mengisi energi untuk Al dan menguatkannya.
^^^~Dalam hidup ini tidak ada yang terbebas dari masalah.^^^
^^^Walaupun kematian itu ada, tapi nyatanya kematian tidak bisa mengakhiri masalah yang ada. ~ Lillyreum.^^^
" Sayang!" Seru Dera saat melihat Al keluar dari kamarnya setelah mandi.
" Ya?"Al menghampiri tanpa kecurigaan apapun.
"Sarapan yuk, aku sudah masak. Cicipi ya, ini masakan perdanaku khusus untuk suamiku tercinta." Kata Dera dengan binar kebahagiaan dimatanya, Ia sangat bahagia mengingat ini adalah pertama kalinya dia memasak untuk suaminya.
" Apa ini?" Tanya Al yang terlihat antusias.
" Nasi goreng telur mata sapi." Jawab dera sangat yakin jika masakannya akan terasa sangat enak.
" Sini aku suapi ya Ay." Dera segera menyendok nasi dan menyuapi Al.
Al sedikit melotot saat suapan pertama nasi itu mulai menyatu dengan Indra pengecapnya.
Apa dia memasukkan satu pack garam kedalam nasi goreng ini? Batin Al tanpa mampu berkata-kata.
" Kenapa? Enak banget ya pasti? Biasa aja dong ekspresinya jangan takjub banget gitu. Aku kan jadi ga enak." Dera terkekeh melihat ekspresi wajah Al.
" Wah, pintar sekali istriku ini. Eumh, cantik, dan pintar masak. Sini Aku yang siapin biar romantis seperti yang di drama itu sayang. Sarapan Sabil suap suapan." Kata Al dengan tersenyum manis dan mengusap kepala Dera.
Dera menurut dan,
" Puih....!" Dera lekas berlari menuju ke Ting sampah lalu menyemburkan nasi goreng yang ada di mulutnya.
" Jangan di makan Ay, Nanti bisa jadi janda aku." Cetus Dera yang segera memberi minuman kepada suaminya.
" Jadi janda?" Al tidak mengerti.
" Iya, Asin begitu bisa bisa kena darah tinggi kamu. Tidak tidak jangan dimakan. Membayangkannya saja aku tidak sanggup." Tutur Dera yang mengomel sambil membuang nasi goreng buatannya kedalam tong sampah.
" Aku buatkan yang lain ya?"
__ADS_1
" Tidak usah istriku, aku akan bekerja hari ini. Nanti aku sarapan di tempat kerja saja."
" Yah, sayang maaf ya. Seharusnya kamu berangkat dengan perut kenyang, ini malah sama sekali tidak ada makanan." Kata Dera menyesal tidak bisa melayani suami dengan baik.
"Masaklah untuk makan malam, belajar resep dari internet. Jangan menyerah." Al mencium pipi dera dan menyemangatinya.
" Hehehehe oke!" Sahut Dera senang.
" Hari ini kerja apa?" Tanya Dera penasaran.
" Lihat sudah rapi begini ya jelas di kantor lah." Jawab Al dengan bangganya.
" Syukurlah, jangan terlalu lelah ya sayang. Ingat jangan lirik lirik wanita lain!" Dera memperingati Al dan mengeluarkan sinyal kecemburuan.
" Hahahaha, iya Sayangku, istriku iya." Al terkekeh senang.
" Aku berangkat!" Pamit Al sambil mencium kening Dera dan dera kemudian mencium punggung tangan Al tanda jika dia menyayangi sekaligus menghormati Suaminya.
*
*
*
Di siang hari yang terik di sebuah perkebunan jeruk.
" Angkat itu cepat bawa kemari!" Teriak mandor yang mengawasi jalannya panen jeruk.
" Iya pak." Sahut Al dengan lemah.
" Lelet amat kerjanya, belum makan kamu?" Tanya si mandor.
" belum pak." Jawab Al tersenyum simpul.
" Sana makan dulu, itu tadi istri saya bawakan bekal sarapan lebih. Sana daripada kamu pingsan." Kata mandor.
Al berpikir, jika dia makan maka dia akan kehilangan beberapa kotak peti jeruk yang akan di pikulnya. Tapi jika tidak makan maka dia bisa jatuh pingsan.
"Pak, nasinya boleh buat saya? nanti akan saya makan jika sudah selesai." Ucap Al meminta sebungkus nasi.
" Sana ambil! Saya juga sudah kenyang. Dari tampangmu kamu masih anak kuliahan, tapi kenapa ikut kerja kasar jadi buruh panggul disini?" Tanya si mandor.
" Saya banyak kebutuhan dan juga tanggung jawab pak. Saya tulang punggung." Jawab Al yang tangannya terus bekerja mengemas lalu memanggul kotak kotak peti jeruk.
" Saya suka jika ada pemuda yang mau bekerja keras seperti kamu. Saya jadi ingat bagaimana susahnya saya dulu." Ucap si mandor.
" Eh, iya sana cepat ambil nasinya. Saya mau memeriksa yang sebelah sana dulu." Kata mandor yang kemudian pergi ke sudut kebun yang lain.
Al tersenyum girang saat mengambil sebungkus nasi. Bukan Al tak mampu membeli, tapi dia sudah tak ada waktu lagi. Al takut tertinggal rombongan pekerja maka otomatis pendapatannya juga akan berkurang.
Selesai dengan satu hektar kebun jeruk, kini mereka istirahat sejenak. Al dan para pekerja yang lain saling berbincang dan menikmati secangkir kopi mereka atau bekal nasi bungkus seperti yang sedang di santap Al saat ini.
" Al, tidak pakai sarung tangan?" Tanya seorang yang seumuran dengan dirinya.
" Tidak sempat, tadi buru-buru." Jawab Al masih dengan senyum ramahnya.
" Tangan kamu sampai pada lecet seperti itu." Orang itu meringis melihat luka di telapak tangan Al.
" Tapi Al dapat paling banyak loh tadi." Sahut yang lain.
" Iya, seperti robot dia. Untuk apasih kamu sampai kejar target begitu?" Tanya yang lainnya lagi.
" Untuk keluargaku Mas. Lagi banyak kebutuhan, mumpung hari libur jadi bisa kejar target. Lumayan buat beli beras." Jawab Al dengan ramahnya.
Dulu sebelum menikah, Al dengan mudahnya bekerja dengan Ayah dewa sebagai mata-mata Dera. Tapi sekarang rasanya bibir Al tak mampu berucap untuk meminta pekerjaan dari ayah mertuanya. Al tidak mau jika dirinya akan di cap sebagai orang yang hanya numpang enaknya saja dan memanfaatkan kekayaan Dera dan keluarganya.
" Sudah malam, kenapa dia belum pulang? Pesanku juga belum di balas." Dera bergumam sambil menonton TV seorang diri menunggu kedatangan Suaminya.
__ADS_1