In 30th.

In 30th.
58.


__ADS_3


" Tuh, bener Mae. Mae juga harus hati-hati kalau berucap lu lagi hamil juga kan. Gue ga mau ya entar lahir-lahir anak lu malak gue karena nurun sifat galak emaknya." Dera tertawa.


Sejenak Dera bisa melupakan masalahnya ketika berkumpul dengan sahabatnya meski hanya melalui sambungan VC.


" Ish, iya iya." Sahut Mayang pasrah.


Julian tak bergeming malah sedang senang yang amat senang setelah mendengar jawaban dari bibir Tania yang ternyata sangat baik dan bijaksana saat mengambil keputusan.


Kini Julian paham, mengapa Tania masih butuh waktu lama untuk menerimanya.


Aku hanya harus terus dan terus bersikap manis, baik, dan tulus ke kamu kan sayang? Batin Julian.


Julian yang kegirangan laku mengecup Paha Tania lagi. Tania yang masih berdiri dan berbicara di sambungan VC kini hanya pasrah dan akhirnya menerima kelakuan manja Julian.


Satu Minggu setelah itu.


" Dekta!" Panggil Julian kepada si sekretaris pribadi.


" Ya Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sahut Dekta yang ada di belakangnya.


" Bagaimana persiapannya?" Tanya Julian.


" Aman, sudah 98% finish." Jawab Dekta yang kemudian menunjukkan sesuatu di layar tabletnya.


" Hem, bagus." Puji Julian yangang kemudian mengotak atik ponselnya.


" Halo Bu." Sapa Julian pada Ibunya.


" Nanti malam jangan lupa ya Bu. Kita kan merayakannya. Sepertinya setiap dua tahun sekali aku harus membuat acara seperti ini." Kata Julian." Kata Julian.


" Apa katamu Jul? Setiap dua tahun sekai?" Mata ibu Yuli terbelalak tak percaya.


" Iya Bu. Aku tau bagaimana susahnya keluarga kita memiliki keturunan. Dan aku mendapatkan kemudahan. Jadi kalian harus bersiap-siap untuk membantuku mengasuh anak-anakku ya Bu."


" Hahaha, iya ibu senang sekali kalian akhirnya bisa akur dan rukun. Soal cucu, buatlah sebanyak mungkin Jul. Ibu siap mengasuhnya." Kata Ibu Yuli senang.


" Satu pesan Ibu. jangan kau sia-siakan Tania lagi."


" Iya Bu. Jul akan menjaganya. Ibu percayalah kepadaku." Kata Julian yang lalu mengakhiri perbincangan mereka.


Jadi begitulah sifat asli Julian. Sebenarnya dia lelaki yang setia. Jika sudah ada satu nama dihatinya maka jangan harap ada nama wanita lain yang bisa mengusik.


Itulah sebabnya mengapa dulu dia sangat membela Angel. Ya, dulu baginya angel adalah segala-galanya.


Tapi setelah fakta terungkap, barulah terkuak jika Angel adalah seorang jalang.


Dan sekarang pemilik hatinya hanyalah Tania seorang.


Julian tersadar saat penghianatan angel terkuak. Saat itu Julian mabuk parah sampai kadar alkohol di dalam tubuhnya membuatnya jatuh pingsan dan nyaris meninggal dunia jika saja Dekta tak mendatanginya.


Dalam keadaan pingsan, Julian seperti di sibakkan sebuah tabir dimana dia melihat dirinya sedang menikmati indah waktu bersama dengan tiga orang anak kecil, dan juga dia yang sangat senang bermanja di atas pengakuan seorang wanita yang tak lain adalah Tania.

__ADS_1


Dari saat itulah, mimpi itu telah merubah cara berpikirnya. Dimasa depan kebahagiannya adalah bersama Tania dan anak-anak mereka.


Bukan dengan wanita lain.


Juga, sikap Tania yang bijaksana dan baik hati, tidak pernah menyimpan dendam dan selalu bersikap baik kepadanya akhirnya meluluhkan benteng hati Julian, menghapus nama Angel dari dalam sana.


Sikap baik dan rela berkorban Tania meruntuhkan segala kesombongan Julian. Inilah makna setetes air yang dapat mengikis bebatuan. Dimana kebaikan dapat menggerus keburukan.



Malam Harinya.


" Sayang kamu sudah siap?" Tanya Julian pada Tania yang masih berdiri di depan cermin.


Lama Tania bercermin dan memperhatikan wajahnya. Tania merasa bibirnya semakin menghitam dan juga wajahnya menjadi kusam.


" Ibu dan ayah sudah disana?" Tanya Tania.


" Ehem." Julian mengangguk dan mengancingkan kemejanya.


" Mas, aku di rumah saja ya? Lihat wajahku kusam begini. Bajuku tidak ada yang pantas. Aku jelek!" Tania tiba tiba menjadi tidak bersemangat untuk pergi setelah melihat pantulan gambaran dirinya sendiri.


" Siapa yang bilang sayang? Kamu cantik kok." Bisik Julian yang kini sudah memeluk Tania dari belakang.


" Aku jelek, lihat ini jerawat." Tania menunjuk jerawatnya.


" Lihat bibirku menghitam. Aku rasa mulutku juga menjadi semakin lebar. Julian lihat aku mirip Joker....! Hua, Hua hua!" Tania menangis dan memeluk lututnya.


Sudah terlontar nama Julian, itu berarti Tania benar-benar berada pada level kesal yang tertinggi.


" No! aku mau dandan. Tapi aku malas...!" Lagi Tania merengek-rengek.


Mau tapi malas? Itulah musibah bagi Julian. Suatu kondisi yang susah dijelaskan secara nalar.


" Ya sudah, semau kamu saja ya sayang. Semau kamu saja mau berpenampilan bagaimana." Kata Julian mengentikan tangisan Tania.


" Benarkah?" Tania terdiam.


" Iya." Kata Julian mengangguk dan tersenyum. Setidaknya telinganya tidak lagi mendengarkan suara fals Tania saat menangis yang bisa merobek gendang telinga.


" Tapi kamu keluar." Syaratnya.


" Ok." Julian mengangguk, mengecup kening Tania lalu bangkit dan meninggalkan Tania.


Semenjak hamil memang Tania tidak muntah muntah. Tatapi moodnya sangat buruk, sering berubah-ubah tanpa arah. Tidak seperti Mayang yang cendrung stabil tetapi sering mual. Mereka malah kebalikannya.


" Mas, aku sip." Tania keluar dari kamarnya.


Julian melongo tak percaya melihat dandanan Tania yang membelalakkan matanya. Benarkah ini Istrinya yang selama ini sering di abaikannya?


Melalui kelas make-up dan dengan pekerjaan barunya sebagai model bagi Dera, membuat Tania pandai dalam memadukan baju dan make-up.


" Cantik sekali istriku." Puji Julian segera dengan wajah berbinar menyambut Tania.

__ADS_1


" Jangan di puji..." Rengek Tania sambil menghentakkan kakinya. Bukanya senang Tania malah marah saat Julian memujinya. Bagi Tania pujian Julian hanyalah bualan saja. Karena saat Tania bercermin wajahnya tetaplah menjadi jelek.


" Iya iya oke, aku diam." Julian seolah menarik resleting di depan bibirnya. Pertanda jika dia akan diam saja.


Samapi di dalam perjalanan keduanya hanya terdiam.


" Kamu kenapa diam terus mas? Marah sama aku atau menyesal ingin memberiku kejutan?" Cecar Tania dengan sinisnya.


" ....Em...."Julian menunjuk bibirnya yang sedari tadi masih tersegel.


" Hehehe, iya lupa resletingnya belum di buka." Kata Tania yang nyengir kuda memamerkan barisan gigi putihnya.


" Gimana mau ngomong sih sayang? kamu lupa sedari tadi aku ga ada bebernya?" Kata Julian dengan lembut.


" Hhhh, aku juga tidak tau Mas. Moodku sungguh berantakan." Tania memandang ke jendela luar.


" Kok lesu gitu? Yang ceria geh sayang. 5 menit lagi kita sampai." Kata Julian dengan fokus terus mengemudi.



Acara makan malam berlangsung dengan lancar sampai waktu menunjukkan pukul 10 malam dan ibu Yuli berpamitan pulang.


Tinggallah Julian dan Tania yang kini berada di dalam sebuah lift.


" Kenapa naik? kita mau kemana?" Tanya Tania yang kebingungan. dan mengamati lantai dimana mereka akan sampai.


" Ada kejutan untukmu." Kata Julian.


Ya sudah menjadi budak Cinta, Julian kini benar-benar memanjakan dan bersikap lembut pada Tania.


Kejutan-kejutan kecil sering Julian berikan memang Julian sangatlah romantis. Inilah sisi lain Julian yang baru Tania temukan.


" Tutup mata ya." Julian mengikat penutup mata Tania yang merupakan dasinya sendiri.


" Mas ah, tutup mata segala? kamu tidak bosan memberiku kejutan terus?" Cerocos Tania dengan langkah kaki yang terus mengikuti Julian mengarahkannya.


" Sabar sayang sebentar lagi ya." Alih alih marah, Julian justru mengecup lembut bibir yang terus mengomel itu.


Sampai di depan pintu sebuah kamar hotel Julian membuka penutup mata Tania. Tania terbelalak tidak percaya menyaksikan apa yang di katakan Julian sebagai kejutan tersebut.


" Wah...., Mas. Ini bagus sekali...!" Tania berdecak kagum dan menikmati suguhan yang indah itu.


Sebuah kamar suite room di persiapkan Julian dengan dekorasi bunga mawar berbagai macam warna hingga aroma khas mawar menyeruak. Lengkap dengan pernak-pernik berbau mawar dan juga parfumnya.


Juga ada mainan anak-anak dan perlengkapan bayi yang semuanya terbungkus rapi di dalam plastik bening dengan hiasan pita-pita.


" Mas, aku ingat sekarang. Waktu kamu bilang kejutan sewaktu pualng dari dinas itu apa? aku belum melihatnya." Kata Tania mengingat sesuatu yang terlewatkan.


" Ya itu isinya salah mainan anak-anak untuk anak-anak kita. Tapi berhubung waktu itu aku bad mood jadi ku simpan lagi." Ujar Julian jujur.


Pantas qu cari tidak ada. Aku pikir dia membuangnya karena marah.


" Gimana, kamu suka?"Tanya Julian penuh harap.

__ADS_1


" Eum...., gimana ya?" Tania mengetuk-ngetukkan telunjuk ke dagunya seolah-olah berpikir keras.


__ADS_2