In 30th.

In 30th.
17


__ADS_3

Ibu Dewi melenggang pergi. Dan Tania seperti mayat hidup yang hanya bisa terdiam menelan pil pahit kehidupan. Tania berputus asa meraih selang infus dan....


Tania menarik kuat selang infus hingga terlepas dan darah mulai merembes dari jarum infus yang masih menancap di pembuluh Vena. Perlahan tapi pasti, kini darah terus saja keluar membasahi pergelangan tangan kirinya.


" Kau puas setelah melakukan ini padaku Bu? " Teriak Tania frustasi sambil menjambak rambutnya dan melempar bantal ke sembarang arah dengan emosi yang tidak stabil dan kesendirian yang semakin menekan jiwanya.


" Tuhan, aku lelah dengan hidupku!" teriak Tania lagi yang kini menangis sambil membekap wajahnya kedalam bantal.


Tania berhenti sesaat dengan tangisnya dan kemudian dia tertawa lantang. Dia kini hanya sendirian di dalam ruang rawat. Tidak ada yang mengetahui kondisinya saat ini termasuk kedua sahabatnya. Untuk dera, dia sudah sibuk dengan pernikahannya dan Mayang yang sedang sibuk mengurus masalah dengan Akbar.


" Kamu adalah jalan keluarku, Hahahaha!!" Tania tertawa tawa kala tangannya memegang sebuah pisau buah yang ada di meja.


SIRR!!


Tania menyayat pergelangan tangannya. Julian yang masih mengawasi dari luar melalui kaca kecil di pintu mulai melangkahkan kakinya. Tetapi niatnya terhenti saat ada seorang pria muda yang tampan masuk begitu saja tanpa permisi.


" Bu, Tania!" Teriak si pemuda tampan yang panik melihat Tania sudah bersimbah darah.


Pemuda itu lalu mengikat kuat lengan Tania agar darahnya tidak mengucur lagi. Sambil menangis pemuda itu membopong tubuh Tania yang sudah tak sadarkan diri dan membawanya menuju ke ruang IGD. Dia tidak perduli lagi dengan keadaannya yang kini ikut bersimbah darah dari Tania.


" Kenapa kamu melakukan ini Bu? Huh, seberat apa masalahmu sampai kamu sebodoh ini? Kamu dulu yang menguatkan aku dan terus mendampingiku sampai aku kembali semangat untuk menjalani hidup yang kejam ini. Tapi kamu, kamu malah ingin mengakhiri hidupmu sendiri?" Lirih Harry si pemuda tampan yang dahulu adalah murid SMA Tania.


Julian mengekori dari belakang namun tidak berbuat apa-apa. Ada rasa iba di hatinya tetapi tertutup oleh gengsi dan egonya.


Harry menyerahkan Tania kepada petugas medis. Mereka sangat syok melihat Tania yang tadi pagi saat visit dokter Tania terlihat biasa saja. Tetapi sekarang Tania ingin sekali mengakhiri hidupnya.


Harry terus menunggu di depan ruang IGD sedangkan Julian, Dia pulang kembali ke rumahnya.


*


*


*


Di rumah Julian.


Julian berjalan gontang memasuki rumahnya. Tidak ada lagi sambutan yang di paksakan juga tidak ada peluk dan cium palsu. Tanpa dia sadari, ia mulai merindukan semua kegiatan itu.


Julian masuk kedalam kamarnya lalu berendam air hangat sampai membenamkan kepalanya.


Betapa kejamnya aku selama ini.


Selama berbulan bulan aku menyiksa istriku sendiri.


Ternyata aku salah menilai. Uang uang yang keluar bukan untuk kesenangannya dengan teman temannya.


Ternyata hidupnya sangat ironis, dia punya ibu yang seharusnya menjadi tempat mengadu, tapi tidak. Ibunya hanya memanfaatkannya saja.


Dia punya suami yang seharusnya menjadi tempat berbagi, tetapi tidak. Aku sebagai suaminya malah selalu menyiksa fisik dan batinnya.


Tania maafkanlah aku, Aku lelaku bodoh yang menyianyiakanmu.

__ADS_1


Aku lelaki bodoh.


Seharusnya bila aku tak menyukaimu, tak selayaknya aku menyiksamu. Pikir Julian dengan seluruh tubuh yang terendam dalam bathtub.


Selama ini, Julian selalu berpikir jika Tania hanya mencintainya karena uang. Julian berfikir Tania bersikap royal kepada sahabat sahabatnya. Dan saat mertuanya datang meminta uang dengan alasan untuk berobat adalah karena mertuanya tidak pernah di beri uang sedikitpun oleh Tania.


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah. Ibu Dewi meminta credits card Tania dan juga meminta uang dari Julian, Maka dia akan mendapatkan uang dobel dan berlimpah. Julian tidak pernah menyangka ada ibu yang tega seperti itu pada darah dagingnya sendiri.


Ponsel Julian berdering saat dirinya belum usai menunaikan ritual mandinya. Ponsel itu terus berdering tiada henti.


" Brisik sekali, siapa itu." Dengus Julian kesal. Yang kemudian beranjak dari kamar mandi dan mengangkat ponselnya.


" *Hallo, Julian!"


" Iya, siapa ini?"


" Siapa siapa! Aku Dera! Hai Julian kemana kamu saat Tania sekarat?"


" Tania sekarat? Apa maksudmu Dera?"


" Iya, suami macam apa kamu huh? Jika kamu muak dan membencinya langsung saja tembak kepalanya jangan kamu menyiksanya seperti ini."


" Hei, tunggu dulu. Jelaskan ada apa sebenarnya*?" Kata Julian yang tidak tahu arah pembicaraan Dera.


"*Tania kritis kau tahu, dia memotong urat nadinya. Dia sekarang sedang berjuang antara hidup dan mati. Pertengkaran apa lagi yang kalian ributkan? Dokter menghubungiku dan meminta persetujuan prosedur operasi. Seharusnya kamu disini yang bertanggung jawab sebagai suaminya. Tetapi malah aku."


" Dan juga jika kamu tidak mampu membiayai hidup istrimu maka ceraikanlah. Apa tidak malu kamu, orang kaya sepertimu seorang Julian, bea rumah sakit untuk istrinya sampai di bayarkan oleh orang lain."


" Cih! memalukan*!!" Umpat Dera yang teramat geram dengan Julian.


" Tentu saja kau tidak tau. Kau tengah asik bersama Pelacr itu kan? Teruskan saja Julian dan jangan pedulikan Tania. Aku sangat bisa mengurus sahabatku daripada dia hanya tersiksa bersama denganmu. Tunggulah kejutan dariku, Tidak usah kau ke rumah sakit."


"Apa maksudmu Dera?"


" Pergilah ke hotel, Wxxxx. Kau akan menemukan kejutan besar di sana di kamar 209. Hahaha Jangan lewatkan! Kau akan tau siapa Angel*." Ketus Dera yang kemudian menutup panggilan teleponnya.


" Shit!! Bicara apa Dera." Julian meremas ponselnya.


" Angel, Argghh!! apa maksudmu Dera?!" Teriak Julian yang kemudian menyambar bajunya dan segera berganti pakaian.


Julian segera pergi ke alamat yang di kirim Dera.


" Kamar 209. " Gumam Julian sambil berjalan mengamati tiap pintu kamar.


" Tante?" Sapa Julian pada seorang wanita paruh baya yang di kenalnya. Tak lain dan tak bukan adalah Bibi Dera.


" Julian? Ada apa kamu kesini? ingin menjamah pacarmu gantian sama Om Adam?" Sarkas Tante Ari dengan suara lirih.


Memang Tante Ari tidak sendiri, dia membawa dua orang polisi sebagai pengamanan dan juga sekaligus saksi dari kejadian. Juga seorang petugas hotel yang membawa kunci duplikat. Tante Ari adalah Tante Dera yang juga merupakan bawahan Ibu Yuli, Ibu Julian.


" Siapa yang memberi tahumu?" Tanya Tante Ari lirih.

__ADS_1


" Dera Tante. Ini sebenarnya ada apa Tante?" Jawab Julian yang belum paham akan permainan yang ada di sana.


" Buka!" Alih-alih menjawab, Tante Ari malah menyuruh petugas hotel untuk membuka kamar.


Dan pemandangan erotis tersaji di sana, Dimana Angel sedang menunggangi Om Adam dengan posisi yang biasa di mainkannya bersama Julian.


" Angel!" Teriak Julian saat melihat Angel.


" Adam!" Teriak Tante Ari melihat tingkah suaminya yang sudah seperti hewan liar bersama wanita lain.


" Sa... sayang...!" Om Adam gugup. Begitupun juga dengan Angel yang kemudian membenamkan tubuhnya kedalam selimut.


" Kalian lihat kan? Kalian saksinya dan kalian juga yang wajib menangkap keduanya" Ucap Tante Ari memerintah kedua polisi yang masih bawahannya.


Kilat kemarahan membuat wajah Julian memerah. Julian mengepalkan tangannya dia sakit hati juga sekaligus malu. Dimana wanita yang di cintainya selama ini, sampai di bela Belanya memusuhi sang ibu dan menyiksa istrinya sendiri tak lain dan tak bukan adalah hanya seorang penjaja lubang.


Polisi memborgol keduanya dan menggiringnya ke kantor polisi. Sejak saat itu Julian memutuskan hubungan dengan Angel. Julian menjadi jijik dengan Angel bahkan jika itu hanya sebatas menyebut namanya saja.


*


*


*


Di rumah sakit.


Dera menunda pernikahannya kala pihak rumah sakit menghubunginya. Kini Tania sudah di pindah ruang. Dera berpamitan pulang malam hari dan malam ini tidak ada yang menunggu Tania. Hanya ada Harry.


" Permisi Bu, ini makanannya. Di habiskan ya. Obatnya juga di minum. Bapak tolong di bantu ya istrinya." Ucap perawat kepada Harry.


Tania masih terlelap karena pengaruh obat.


Harry terus saja memandang wajah cantik Tania.


" Jadilah wanita kuat Bu." Ucap lirih Harry mengusap lembut kepala Tania.


" Kamu dulu yang menguatkan ku. Lihatlah aku selalu bersemangat dalam menjalani hidupku. Aku tidak menyangka akan menemukanmu lagi dalam situasi seperti ini. Jujur aku sangat merindukanmu Bu." Ucap Harry yang kini menggenggam tangan kanan Tania lalu mengecupnya.


" Aku sedikit kecewa saat tau kamu sudah menikah. Bukankah aku yang seharusnya menjadi suamimu. Hahaha aku terdengar tidak tau malu ya? Kamu menolakku tapi aku tidak perduli. Bagiku kamu adalah malaikatku."


" Aku tidak perduli dengan jarak usia kita. Bahkan jika kamu menua dan keriput, aku akan tetap mencintaimu cinta pertamaku."


Muach!


Harry mencium kening dan bibir mungil Tania.


" Kemana suamimu, seharusnya dia yang menemanimu dan merawatmu saat ini." Gumam Harry perlahan. Yang hanya berdiri tanpa menyentuh Tania.


" Aku di sini!" Kata Julian yang sudah berdiri di ambang pintu.


" Anda? sejak kapan anda berdiri di sana?"

__ADS_1


Apakah dia melihat perbuatanku pda istrinya barusan?


Apa dia melihat saat aku mencium bibir Bu Tania?


__ADS_2