In 30th.

In 30th.
55


__ADS_3

"Sesakit ini rupanya tak di akui.


Sesakit ini rupanya tak di anggap.


Sesakit ini rupanya bertepuk sebelah tangan.


Apakah selama ini aku hanya menjalani cinta sepihak?


Dan dia, dia hanya berpura-pura mencintaiku, memanfaatkan kekayaan dan tubuhku?"


Dera berkemas dan berganti baju tanpa mandi terlebih dahulu. bahkan urusannya kantornya juga sudah di pasrahkannya kepada tangan kanan kepercayaannya.


" Aku harus pergi." Kata Dera yang sungguh terbakar emosi.


Dera selesai berkemas dan pergi menuju ke suatu negara yang lama tak di kunjungi ya setelah beberapa tahun lamanya.


Turkey, Dera pergi ke Turkey untuk menenangkan dirinya.


Di kampung.


Malam semakin larut tepat dimana Al belum juga bisa terlelap. Saat dimana seharusnya ada sang istri yang menguatkannya tetapi malah kesalahpahaman yang membuatnya menjauh pergi tanpa Al mampu menjelaskan apapun.


Menyesal, Al sungguh menyesal tetapi ada hal lain yang membuatnya menjadi seperti ini. Hal yang tertulis pasti dan disaksikan kerabat dekat sebagai saksi.


"Sedang apa dia? Nomornya sudah tidak bisa ku hubungi lagi. Dia sangat marah tadi. Maafkan aku sayang." Gumam Al yang memijit pangkal hidungnya.


Pagi hari.


" Selamat pagi Mas Al." Sapa seorang wanita muda yang dua tahun lebih muda dari Al.


" Pagi Riri." Balas Al seadanya tanpa senyuman.


" Mas, aku ingin bicara sesuatu denganmu." Kata Riri dengan setengah berbisik.


" Ada apa?" Al menyahuti.


" Ada apa ini pagi-pagi Nak Riri kok sudah kesini?" Tanya Bude Yanti.


Bude Yanti adalah seorang janda yang tak bisa memiliki anak. Adanya Al dan adik-adiknya sudah seperti anaknya sendiri. Kini hidup adik-adik Al tergantung pada kebaikan hati bude Yanti.


Dan, Riri adalah anak kepala Desa yang di jodohkan dengan Al. Bukan tanpa sebab namun itu semua merupakan wasiat terakhir ibu Al untuk menjalankan amanah dari Bapak Al yang terlebih dahulu lama berpulang. Bapak Al dan Ayah Riri adalah teman baik dan mereka ingin sekali menjodohkan anaknya semasa hidupnya.


Sebelum meninggal, Ibu Al menuliskan di secarik kertas tentang keinginan dan pesan terakhirnya untuk anak sulungnya itu. Pesan yang berisikan tentang wanita pilihan Almarhumah Ibu Al.

__ADS_1


" Em, tidak Bude. Hanya saja mau memberikan ini untuk mas Al dari Ayah." Kata Riri yang tersenyum manis dan memberikan sebuah bungkusan yang berisi jas hitam dan kemeja putih.


" Oh, bude kira ada apa." Sahut Bude Yanti.


" Bude, Mas Al. Aku permisi dulu ya. Mau bantu ibu masak." Kata Riri yang kemudian undur diri.


Setelah kepergian Riri, Al menarik tangan Budenya dan berbincnag di dapur.


" Bude, aku ingin bilang sesuatu."


" Apa Mas Al?"


Ya, budenya selalu membahasakan memanggil Al dengan embel-embel Mas untuk mengajari kedua adik kembarnya.


" Bude, apa aku akan berdosa jika melanggar wasiat Ibu?" Tanya Al yang sudah tak sabar memendam hal ini berhari-hari sampai hari ketujuh sepeninggal ibunya.


" Le, tergantung atas alasan apa kamu melanggarnya. Memangnya ada apa? Cerita sama Bude." Bude Yanti duduk di hadapan Al.


" Bude, sebenarnya aku sudah..." Kata Al ragu-ragu.


" Sudah apa? Sebutkan saja. Bude tidak seperti ibumu yang selalu menolak kemauanmu dan adik-adikmu." Ucap Bude Yanti meyakinkan.


Al menjadi percaya diri dan menemukan keberanian untuk berkata jujur. Bagaimana keadaan sedih dan bingung bisa membuatnya lupa akan sikap lemah lembut Budenya. Jauh dari sikap Adiknya yang galak dan tegas, Bude Yanti justru bersikap lemah lembut dan baik hati.


Andai saja bisa memilih, Al lebih memilih dilahirkan dari rahim Budenya.


" Perempuan cantik dan baik hati itu? Ingat iya Bude ingat. Ada apa?"


" Dia, sebenarnya adalah istri Al Bude. Dera namanya. Kami menikah siri." Ujar Al terang-terangan.


" Apa Mas Al? Mas sudah menikah? Lalu mengapa hanya secara siri? menikah siri itu merugikan perempuan Mas, Mas kan tau itu." Ucap Bude Yanti dengan lembutnya.


" Iya Bude, tapi keadaan yang membuat kami harus menikah secara siri. Ada suatu hal yang membuat kami memutuskan untuk menikah secara siri."


" Apa itu Mas? Cerita sama Bude."


" Bude, Al masih menyusun skripsi. Dan bude tau kan Al kuliah juga di universitas negri bagaimana aturannya?"


"Iya, Bude paham. Bude juga seorang guru. Ya walaupun hanya SMA bude juga dulu kuliah, bude mengerti sekali. Status baru pasti akan mempengaruhi kredibilitas dan integritas. Jadi ya.., Ya, Bude paham."


" Lalu?" Tanya Bude Yanti lagi yang semakin penasaran.


" Bude ingat kan sama Pak Dewa? Dimana Al bekerja untuk menata matai kegiatan anak tunggalnya?"

__ADS_1


"..." Bude Yanti mengangguk paham.


" Iya, Itu dia. Dia itu anak Pak Dewa atasanku Bude. "


" Apa dia hamil? dan kamu di jadikan penghapus aib?" Tebak Bude Yanti yang semakin penasaran.


" Tidak bukan Bude. Istriku wanita baik-baik dia hanya bodoh jika berurusan dengan lelaki. Dia tergila-gila padaku dan memaksaku untuk menikah dengannya. Aku tau saat itu Pak Dewa juga Nyonya dan Dera mereka bekerja sama memaksaku untuk menikahi Dera."


" Lalu, kamu mau begitu saja?"


" Bude, bude taukan bagaimana keadaan ibu akhir akhir ini? Butuh uang banyak untuk berobat setiap minggunya. Aku uang dari mana bude kalau bukan dari Pak Dewa?"


" Apa, jadi Pak Dewa memberikan imbalan untukmu agar kamu mau menikahi anaknya?"


"....." Al mengangguk pasti mengingat saat bagaimana pak dewa menemuinya secara empat mata dan berunding.


" Al, itu pernikahan. Bukan permainan. Pernikahan itu suatu urusan yang sakral. Kamu tau saat ijab Qabul terucap? Ribuan malaikat turun dari langit untuk menyaksikan, untuk mendapatkan rahmat-Nya Al. Bude ga abis pikir sama kamu. Bude sudah sering menasehatimu. Tapi mengapa kamu malah mengambil tindakan ini? Bude kecewa." Ucap Bude Yanti yang menitikan air matanya.


" Bude,emang awalnya semuanya karena uang. Tapi setelah menikah Al sadar Bude jika Al harus bertanggungjawab dan menjalankan apa yang seharusnya Al laksanakan sebagai suami termasuk juga nafkah."


" Al sadar Bude Al sadar. Al ingin menjadi suami yang baik seperti mendiang Ayah." Kata Al.


" Baguslah. Lalu kenapa kemarin kamu menyebutnya hanya sebagai teman?" Tanya Bude Yanti yang ingat bagaimana kemarin Al memperkenalkan Istrinya.


" Bude, Al tidak bisa banyak bicara karena kemarin masih banyak tetangga dan juga keluarga Riri yang masih disini." Jawab Al.


" Oh iya kamu benar. Iya iya bude mengerti posisimu sekarang. Kamu hanya tidak ingin semuanya menjadi runyam." Bude Yanti mengangguk.


" Tapi Mas Al, itu pasti menyakitkan untuk istrimu. Kamu sudah bicara sama dia?"


"..." Al menggeleng.


" Loh, kan ada HP. Kenapa tidak langsung hubungi saja?"


" Itulah istimewanya istriku Bude. Dia kalau marah sukanya ngeblok nomor orang." Jawabnya sambil tertunduk.


" Untuk wasiat ibumu, itu hanya wasiat yang tak berdasar. Artinya wasiat itu bisa dijalankan bagi mereka yang mau dan mampu. Sementara kamu dalam hal ini tidak mau dan tidak mampu. Jadi wasiat ini akan gugur seiring waktu." Kata Bude Yanti.


" Bude, lalu bagaimana cara kita untuk menjelaskan ini kepada keluarga pak kades?" Tanya La yang sangat khawatir.


Al takut jika tidak segera di perjelas maka akan ada gosip yang semakin liar beredar.


" Tenanglah, bude akan bicara dengan keluarga Riri. Kamu urus saja istrimu. Lagi pula Riri masih kuliah juga. Bude yang akan atur. Kalau bisa secepatnya kamu meresmikan dan mengesahkan pernikahanmu dengan istrimu."

__ADS_1


"Wasiat itu akan gugur begitu saja jika istrimu dan kamu tidak mengijinkan wasiat itu untuk berjalan. Antara wasiat dan tanggal pernikahanmu adalah lebih dulu tanggal pernikahanmu. Maka bude minta segeralah urus keabsahan dokumen pernikahan kalian. Secepatnya!" Kata Bude Yanti memberikan soalusi.


" Wah, baiklah Bude. Bude Memnag yang terbaik." Al memeluk Bude Yanti dengan eratnya.


__ADS_2