
Julian kini sudah pulang kembali ke kediamannya. Tania pun sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Hanya saja, dari dua hari yang lalu, Tania merasakan tubuhnya lelah dan lemas juga sebenarnya dia sedang demam.
Entah kemana perginya sang suami sudah dua hari tiada kabar berita. Tania yakin jika Julian tengah asik bersama Angel.
" Tan, kamu kelihatan pucat?" Tanya Dera yang kini sudah bisa berjalan.
" Aku sedikit lelah Ra. Entahlah, tubuhku serasa tidak bertulang." Ucap Tania lesu.
Tania dan Dera selesai dari sesi pemotretan. Dan kali ini Dera bak ratu yang selalu di kawal oleh ajudannya. Al kemanapun selalu mengikuti Dera dengan membawakan Tasnya.
" Eh, kalian serius mau menikah?" Tanya Tania yang mengkhawatirkan hubungan percintaan sahabatnya.
" Iyalah." Sahut Dera.
" Tan, aku hanya menasihatimu saja kamu jangan salah sangka. Menikah itu bukan perkara main main Ra. Lihat aku yang menikah karena terpaksa. Tidak enak Ra. Aku tau disini kamu yang memaksa Al untuk menerima pinanganmu kan?"
" Iya Tan, memang aku yang memaksa. Aku yakin dengan dia Tan. Dia lelaki yang baik, sepertinya dia lebih dewasa dari yang aku kira." Jawab Dera dengan centilnya.
" Tan, tanyalah lagi bagaimana perasaan Al kepadamu. Tidak enak Ra rasanya berada dalam satu ikatan yang hambar tanpa rasa. Lihatlah aku yang selalu di abaikan." Ucap Tania lagi yang kini sudah berhenti berjalan karena mereka telah sampai di depan Mall.
" Al, jawab Sahabatku. Dia meragukanmu." Ketus Dera yang kesal setengah mati karena nasihat dari Tania.
" Mbak, mbak benar saya dan Mbak dera memang belum jauh mengenal. Tapi, setelah saya pikir-pikir, Saya sudah cukup usia untuk menikah. Menunda pernikahan juga tidak baik mbak. insyaAllah saya akan menunaikan ibadah terlama sepanjang sisa hidup saya bersama dia." Jawab Aldi dengan datar.
" Eouhhh, Tayang kuh....." Ucap Dera dengan gaya bicara manjanya yang sudah siap memeluk Aldi. Namun Aldi segera mundur beberapa langkah.
" Stop! kita belum Halal." Seru Aldi tegas.
" Kamu lihatkan Tania bagaimana dia. Sungguh lelaki idamanku." Dera melayangkan ciuman di udara untuk Aldi dan lagi lagi Aldi menghindarinya.
" Astaghfirullah!" Keluh Aldi lirih tetapi terdengar di telinga Tania dan Dera.
" Hihihi.....! bagaimana?" Bisik Dera di telinga Tania.
__ADS_1
" Aku percaya sekarang. Aku turut bahagia untukmu sayang." Tania bernafas lega dan memeluk Dera.
Bukanya pulang ke rumah, Tania kini menuju ke rumah sakit setelah merasakan badanya sungguh tidak bisa ditahan lagi rasa sakitnya. Muncul bintik bintik merah di kulit Tania dan juga dia sempat mimisan.
Setelah pemeriksaan Tania dinyatakan terkena demam berdarah. Kemungkinan tertular karena dia yang merawat Julian saat Julian sakit.
Dan di loby hotel.
Julian sedang memeluk mesra Angel. Tanpa sengaja melintaslah seorang ibu ibu paruh baya yang melihat mereka.
" Dasar anak bodoh, pasti dia tidak becus melayani suami sampai suaminya main gila dengan perempuan lain." Ibu Dewi malah menyalahkan anaknya sendiri tanpa tau bagaimana sakit dan sulitnya Tania menahan lara seorang diri.
Ibu Dewi segera menghubungi Tania. Tanpa sengaja, Julian yang mengenali perawakan ibu mertuanya segera mengikutinya dari belakang dan menyuruh angel untuk segera pergi. Angel yang paham akan posisinya seketika menurut dan pergi dengan tergesa-gesa. Angel tidak mau menjadi sasaran labrak ibu mertua Julian.
Ada rasa senang di hati Tania saat ibunya menghubunginya dan menanyakan keberadaannya. Tidak pernah sekalipun dalam sejarah ibu Dewi memperhatikan keadaan Tania. Baginya Tania hanyalah sumber penghasilan.
Julian terus membuntuti Ibu Dewi dan akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Sampailah di salah satu ruangan. Ibu Dewi masuk tanpa permisi. Dan Julian mengintip dari kaca pintu.
PLAK!!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Tania.
" Dasar kamu anak bodoh!" Umpat Ibu Dewi kepada Tania yang bahkan masih terlelap dalam tidurnya.
" Ibu." Rintih Tania sambil memegangi pipinya yang sakit karena ujung bibirnya sampai berdarah.
" Ada apa ini bu?" Tanya Tania tidak mengerti.
" Apa saja yang kamu kerjakan selama ini? Ibu tidak habis pikir dengan kebodohan mu selama ini."
" Apa yang ibu bicarakan?" Tanya Tania lemah.
__ADS_1
" Ibu tadi memergoki suamimu berpelukan dengan wanita lain di depan lobi hotel. Kamu dasar kamu ya tidak becus melayani suami!" Ibu Dewi menjambak rambut Tania sampai kepala Tania menengadah ke atas.
" Maafkan aku Ibu." Rintih Tania yang hanya bisa menangis tanpa mampu memberi pembelaan atau penjelasan.
Percuma saja Bu, percuma aku berbicara apapun itu kamu akan tetap memukul dan menyiksaku. Aku memang hanya mesin penghasil uang bagimu Bu.
Aku hanya berharap ridhoku selalu menyertaiku dan ijinkan aku menapaki surga atas doa dan ijinmu.
Aku sudah lelah hidup ya Allah. Bisakah kau cabut nyawaku saat ini? Batin Tania berputus asa akan jalan hidupnya.
" Mengapa Tania hanya diam dan tidak membela dirinya?" Gumam Julian yang masih berdiri menyaksikan drama penyiksaan.
" Heh! Ibu tidak mau lagi memergoki atau melihat keteledoranmu. Apapun itu kamu harus bertahan di sisi Julian ibu tidak perduli seberapa buruknya sikap dia padamu." Ketus ibu Dewi yang menyudahi aksi kejamnya dan kini tengah merapikan penampilannya.
" Iya Bu." Jawab Tania yang hanya tertunduk lesu dengan Isak tangisnya yang meluncur bebas.
" Ibu, kapan kau akan merasa puas? Apakah kematianku akan memberimu kepuasan?" Ucap Tania dengan tatapan hampa.
" Apa? Mati katamu? Huh, enak saja!" Ibu Dewi menoyor keras kepala Tania kuat sampai Tania terantuk pada headboard.
" Kamu tidak boleh mati. Kamu adalah sumber uangku Tania. Mati itu terlalu enak untukmu. Teruslah hidup dan jadilah sumber penghasilan bagiku. Bahkan jika kamu bercerai dengan Julian karena kebodohanmu, Aku akan menikahkanmu dengan lelaki tua yang kaya raya agar saat lelaki itu meninggal, aku bisa memiliki seluruh hartanya."
" Hahahahahaha!" Tawa ibu Dewi yang terdengar menyeramkan.
Julian membekap sendiri mulutnya. Dia tak percaya akan apa yang di saksikannya saat ini.
" Mana credits cardmu. Aku butuh uang."Ketus ibu Dewi.
" ambillah, Jangan di habiskan Bu. Aku juga butuh uang untuk membayar bea rumah sakit." Ucap Tania.
" Rumah sakit? Biar suamimu yang bayar. Uang yang ada di sini milikku."Ucap Ibu Dewi mencium credit card yang ada di tangannya.
Ibu Dewi melenggang pergi. Dan Tania seperti mayat hidup yang hanya bisa terdiam menelan pil pahit kehidupan. Tania berputus asa meraih selang infus dan....
__ADS_1