In 30th.

In 30th.
56


__ADS_3

"Wah, baiklah Bude. Bude Memang yang terbaik." Al memeluk Bude Yanti dengan eratnya.


" Bude, Yuma sama Kak Yama pergi main dulu ya." Ijin si kembar, Yuma Yama dua kakak beradik yang selalu pergi kemanapun bersama. Ya, kecuali kamar mandi ya.


Yuma dan Yama mereka kembar tapi bukan kembar identik. Keduanya terlahir bersamaan dan hanya berselang beberapa menit.


" Kalian mau main kemana?" Tanya Al yang dengan entengnya menggendong tubuh mungil Yuma.


" Mau ke rumah Wildan Mas. Boleh ya mas?" Yuma memohon.


" Iya boleh, tapi cium dulu." Al memajukan pipinya.


" Huh, manja."Cemooh Yama yang menatapnya dengan jijik.


Ya, keduanya beda karakter, Yama memiliki karakter galak seperti mendiang ibunya sementara Yuma memiliki karakter yang lembut seperti Almarhum Ayah mereka.


" Apa sih ini marah marah Mulu adiknya Mas. Mau di cium juga?" Ucap Al yang kemudian meraih tubuh Yama namun Yama memberontak dan ingin lari.


Terjadilah pergulatan dua orang laki laki yang terpaut usia yang jauh. yaitu 21 tahun.


*


*


*


Dera yang galau memikirkan kelanjutan hubungan rumah tangganya mencoba menghubungi dua sahabatnya.


Sambungan VC tersambung dan ketiganya tengah asik ngerumpi.


" Kamu gimana kabarnya? Beberapa hari ini tidak pernah terlihat?" Tanya Tania yang rupanya juga sedang sibuk memotong sayuran.


" Aku ada keperluan di luar kota Taniaku Sayang." Jawab Dera.


" Bau bau kebohongan ini Tan, sepertinya dia sedang melarikan diri dari sesuatu. Apa kamu berantem lagi dengan Al?" Tanya Mayang yang langsung pada intinya.


Mayang yang sudah hapal bagimana kebiasaan sahabatnya ini menangani masalah langsung bisa menebaknya. Sementara Tania, dia bagaikan sang Dewi yang baik hati, sellau menilai kemungkinan dari sisi positifnya.


" Kelihatan banget ya Mae?" Dera menunjukkan wajahnya yang sedih dan murung.


" Tuh kan Bener Tan. Ada apa lagi kamu?" Tanya Mayang yang sedang bersantai duduk di kamarnya. Ya semnejak ada Nenek di rumahnya Mayang menjadi jarang keluar kamar, dia sangat malas untuk bertemu dengan para pengawal Nenek dan juga nenek yang sellau menuntut jawaban YA.


" Dera, kamu ada masalah apa? Bagaimana kemarin, keluarganya menerima kamu kan?" Tanya Tania yang menunjukkan perhatiannya.


Tania bukanya sedang sendiri melainkan saat ini ada bayi besar yang sedang berbaring di atas pangkuannya dan menjadikan paha Tania sebagai bantalannya. Tangannya dan bibirnya pun mulai aktif memainkan sesuatu yang sedikit menonjol di atas gundukan yang kenyal.

__ADS_1


" Ya, Dia tidak mengakui ku Tania. Dia memperkenalkan aku hanya sebagai teman sekelasnya. Kini aku benar-benar menyesal memaksakan pernikahan. Apa aku minta cerai saja ya?" Ucap Dera dengan mata yang sudah basah dengan air mata.


" Eh, Dera. Aku tidak terima ya, dia memperlakukan kamu seperti itu. Bukankah dulu katamu dia menghindar dari sikap keras ibunya yang kemungkinan menolakmu. Tapi sekarang kan ibunya sudah tidak ada. Lalu alasan apalagi dia?" Mayang menjadi geram mendengar aduan dari Dera.


" Itulah Mae, yang aku tidak mengerti mengapa sikapnya tidak bisa di tebak. Dia selalu berubah-ubah di setiap kondisi." Jawab Dera.


" Emmm." Gumam Tania sambil menahan sesuatu seperti sensasi rasa geli atau semacamnya.


" Apa kau sudah bicara baik-baik dengan Al? Bicarakanlah dulu. Al itu lelaki yang baik kan?" Tanya Tania


"..." Dera mengangguk.


" Dia tidak pernah kasar atau memukulmu kan?" Tanya Tania lagi memastikan.


" Tidak." Dera menggeleng dengan lesu.


" Ya sudah bicarakanlah dengan dia. Bagaimanapun juga tidak akan ada solusi selama kamu hanya berpegang teguh pada pemikiran mu yang sepihak Dera."Kata Tania menasehati dengan ekspresi muka yang menahan geli.


" Tania, kamu kenapa? Kamu menggeliat terus seperti cacing kepanasan!" Mayang mulai curiga.


Sedari tadi rupanya Mayang mengamati ekspresi wajah Tania yang terlihat aneh dan tak seperti biasanya.


" Em, aku mulas. Nanti ya aku ke kamar mandi dulu." Ucap Tania yang seketika berdiri dan membuat sesuatu yang berada di pangkuannya menggelinding ke bawah.


Ponsel Tania bersandar pada tripod yang dia letakkan di meja. Dan kini adu argumen dengan Julian mulai terjadi meski tanpa suara.


" Mas, bisa nanti ga sih mainannya?" Tania marah akan sikap Julian yang sangat manja.


Kini baju kemeja Tania bagian atasnya sudah sepenuhnya terbuka juga bra yang sepertinya mengalami malfungsi karena perbuatan suaminya.


" Ya, aku kangen loh." Julian membela diri sambil terkekeh senang.


" Apaan sih? Ya kan bisa nanti lagi. Aku tidak enak Mas. Kasihan Dera." Tania kembali mengancingkan bajunya.


Julian segera menyergap tubuh Tania yang kini sudah menjadi candunya. Tubuh yang selalu dirindukannya dan membuatnya mabuk kepayang.


Julian memeluknya erat penuh dengan emosional.


Jiwanya menggebu dan sesuatu yang di bawah sana sudah mulai mengeras sempurna. Gumpalan otot itu sungguh memamerkan keperkasaannya.


"Sekali saja, dan sebentar ya sayang tidak lama." Bisik Julian di telinga Tania.


Tanpa ijin Tania, Julian sudah meraup kedua gundukan kenyal Tania yang semakin bertumbuh besar sesuai usia kehamilannya dan kini menjadi tempat favorit Julian untuk bermain.


" Ah awas!" Desis Tania dan kemudian pergi kembali ketempat dimana ponselnya masih menyala.

__ADS_1


" Maaf ya Gengs, perutku lagi ga enak."Kata Tania yang tersenyum pias.


" Tan, Dia kebiasaannya selalu begitu. Marah dikit block, marah dikit kabur, mentang-mentang banyak duit. Dia belum ngomong tau sama suaminya. Belum tanya apa maksud Al kayak begitu." Kata Mayang yang beralih posisi dan kini tengah duduk di meja riasnya.


" Dera, jangan begitulah. Bicarakan baik-baik. Its ok kalau kamu butuh waktu untuk menyendiri. Tapi jangan juga menggantungkan perasaan orang lain. Siapa tau suamimu mau menceritakan sesuatu hanya saja belum siap."Ucap Tania yang kini memasang wajah awas dan seperti sedang mengusir sesuatu meski tanpa suara.


" Kamu kenapa Sih Tan dari tadi sibuk sendiri?" Tanya Mayang curiga.


" Begitu ya? Tapi aku masih dongkol banget sumpah." Dera mendengus kesal dan memasang wajah kusut.


" Kamu tau? Aku sekarang sedang tidak baik-baik saja. Entah kesambet setan apa Julian jadi sedikit gila." Kata Tania yang kehabisan cara mengusir Julian dari perbincangan mereka.


Tania mengarahkan kameranya pada Julian yang siap mendekat dan ingin memeluk kakinya dari bawah.


" Woy Jul! Bisa nanti nanti ga? Ga tau apa kita masih rapat!" Ketus Mayang yang kesal yang melihat Julian sudah menempel di kaki Tania seperti dirinya yang menempel pada Robby.


" Apasih? kalian ngobrol ya ngobrol aja. Aku lagi kangen sama istriku kok. Ga ganggu kalian." Jawab Julian membela dirinya.


" Ga ganggu apaan, gue curiga ya Lo dari tadi grepe-grepe temen gue. Bisa entaran lagi ga bucinya?" Sahut Dera yang tak kalah geram.


" Ga papa dong hallal ini." Julian menyahuti dengan cueknya dan malah diiringi dengan aksinya mencium paha Tania yangs sedang di peluknya.


" Astaga Jul! Entaran ga? Kalau Deket gue tampil lu!!" Ancam Mayang yang sudah emosi tingkat tinggi.


Tania hanya bisa tertawa melihat perdebatan yang terjadi antar sahabat dan suaminya yang tak pernah akur.


" Mas awas dulu." Tania mengusir Julian dengan lembut.


" Tan, kalau ngusir tuh yang galak, yang serem. Lu ngusir apa ngundang begitu lembut dan mendayu-dayu?" Cecar Mayang.


" Mayang, gimana sih. Aku ngusir dia kalau kasar-kasar ga bagus. Gimana entar kalau anak aku nurun aku gitu jadi pemarah, galak, dan kasar. Aku ga mau Mae." Kata Tania yang membela dirinya.


" Tuh, bener Mae. Mae juga harus hati-hati kalau berucap lu lagi hamil juga kan. Gue ga mau ya entar lahir-lahir anak lu malak gue karena nurun sifat galak emaknya." Dera tertawa.


Sejenak Dera bisa melupakan masalahnya ketika berkumpul dengan sahabatnya meski hanya melalui sambungan VC.


" Ish, iya iya." Sahut Mayang pasrah.


Julian tak bergeming malah sedang senang yang amat senang setelah mendengar jawaban dari bibir Tania yang ternyata sangat baik dan bijaksana saat mengambil keputusan.


Kini Julian paham, mengapa Tania masih butuh waktu lama untuk menerimanya.


^^^Aku hanya harus terus dan terus bersikap manis, baik, dan tulus ke kamu kan sayang? Batin Julian.^^^


Julian yang kegirangan laku mengecup Paha Tania lagi. Tania yang masih berdiri dan berbicara di sambungan VC kini hanya pasrah dan akhirnya menerima kelakuan manja Julian.

__ADS_1


Maaf jika typo bertebaran dimana-mana ya!!


__ADS_2