In 30th.

In 30th.
53.


__ADS_3

" Yang, bisa bilang ga sih? biasanya kamu langsung pada intinya. Ada apa? Kamu jerawatan? atau apa?" Tanya Robby yang sungguh tak paham.


" Kiss." Lirih Mayang dengan salah tingkah dan memegangi wajahnya yangs semakin memerah.


" Oh, harus ya? Tiba-tiba sekali?" Bukanya senang Robby malah keheranan.


" Ga mau ya udah!" Ketus Mayang yang kemudian berbaring dan membenamkan tubuhnya kedalam selimut.


" Yang, kamu kenapasih? marah?" Robby masih membujuk Mayang menarik selimutnya perlahan.


Dibalik selimut Mayang kembali sesenggukan. Ingin rasanya dia bermanja-manja dengan lelaki yang kini menyandang status sebagai suaminya.


Tetapi disisi yang lain, Mayang juga merasa tak pantas sebab bayi yang di kandungnya juga bukan bayi Robby meski Robby mengatakan berkali-kali jika dia tidak menolak keberadaan calon anak Mayang dengan lapang dada.


" Yang, sudah ya jangan nangis lagi. Sstt! diam ya. Nanti Nenek kira aku memarahi atau berbuat kasar padamu. Yang," Robby berbicara dengan lembut dan sayang.


" By, aku cuma pengen di kiss kayak yang di drama semalam. Hiks! hiks! hiks!" Kata Mayang masih dengan menahan tangisnya.


" Astaga! jadi kamu nangis begini hanya karena korban drama?" Robby mengulum senyumnya.


" Ya sini berdiri geh. Kalau sambil tiduran nanti bajuku kusut Yang. Ini udah telat bentar lagi." Kata Robby yang melihat arloji di tangannya.


Langsung saja tanpa babi Bu be no, Mayang menghambur seperti bayi koala memeluk induknya.


Ya, Robby berdiri dan Mayang berada di depannya merangkul Robby dengan tangannya yang melingkar di leher Robby. Kaki Mayang juga setia melingkar di pinggang Robby seolah menguncinya.


" Yang, kalau begini perutmu terhimpit." Robby melongo tak percaya tapi juga senang dengan sikap manja Mayang. Tapi Robby juga ingat akan kondisi Mayang yang tengah mengandung. Dia takut si janin akan terhimpit di dalam sana.


" Tidak, dia aman. Cepetan kiss!" Ujar Mayang memaksa.


" Dih, kamu minta cium apa mau malak? Galak amat." Protes Robby sambil menahan tawa. Baginya sangat lucu posisinya saat ini mendapat pemalakan ciuman oleh Istrinya sendiri yang juga teman baiknya.


" Ayo, cepetan!" Mayang mendelik dengan tatapan sinis.


" Astaga, Nak liat Mamamu ini. Hahahaha.!" Robby terkekeh geli dengan sikap Mayang.


" Mau berapa?" Tanya Robby masih menggoda Mayang. Sejujurnya dia masih ingin berlama-lama menggendong Mayang seperti ini. Kapan lagi coba? pikirnya.


" Satu aja tapi yang lama." Jawab Mayang dengan tersipu malu.


" Satu? yang lama? Berarti di bibir dong?" Ujar Robby berpikir.


" Ih, enggaklah By. Di kening tapi yang lama." Kata Mayang memulai negosiasi.


" Bisa kram Yang bibirku kalau di kening." Kata Robby mengharap ciuman di bibir.


" Ih, ga romantis banget sih By, mau cium aja pake negosiasi. Cepetan!" Lagi lagi Mayang memaksa dengan sinar laser dari matanya.


Robby mulai memonyongkan bibirnya dan hendak mencium Mayang saat tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.

__ADS_1


CUP! Ciuman singkat yang akhirnya mendarat.


Tok!


Tok!


Tok!


" Nona Mayang, ini sudah waktunya sarapan. Tuan dan Nona di harapkan segera menuju ke meja makan." Seru seorang pengawal Nenek.


" Ih, ganggu aja!" Decih Mayang yang kesal dan melirik Robby yang kembali merapikan jas kerjanya.


Ya sedikit kusut karena ulah Mayang yang menempel seperti bayi koala.


" Ga usah, rapi rapi ." Ucap Mayang dengan sewotnya berjalan keluar dari kamar terlebih dahulu dan Robby hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


Dasar ibu hamil, maunya menang sendiri. Udah kayak naik wahana roller coaster saja aku. Sebentar ini, sebentar itu.


Nanti aku pulang kerja sudah berubah jadi apa dia?


Pagi ini versi manja, semoga nanti malam versi sexy.


Jangan sampai besok pagi dia beralih ke versi emak-emak kalah arisan.


Robby membatin sambil menahan tawanya dan sebisa mungkin terlihat biasa saja.


" Maaf Nek, aku sudah telat sepertinya aku tidak bisa bergabung dengan kalian. " Ujar Robby yang terburu-buru.


" Duduk! aku sudah menghubungi kantormu. Hari ini kamu tidak usah masuk dan temani Nenek untuk jalan-jalan." Kata Nenek dengan datarnya tanpa melihat Robby ataupun Mayang melainkan hanya fokus ke piringnya.


" Ba.. baik Nek. Jawab Robby yang gugup dan kemudian duduk di sebelah Mayang.


"Auh!" Robby menjerit terkejut akan sesuatu yang terasa nyeri dan kemudian melototi Mayang.


Mayang mencubit perut Robby dengan kuat, rupanya dia masih menyimpan dendam karena ciuman singkat yang terjadi barusan. Rasakan! Aku minta dicium lama tapi kamu banyak omong. Sekarang seharian akan diam dirumah dengan nenek? Rasakan ini!!


Lagi-lagi Mayang mencubit perut Robby.


" Kenapa?" Tanya Nenek.


" Tidak Nek, hanya saja sepertinya ada semut kecil di bajuku. Aku akan berganti baju dulu kalau begitu." Ucap Robby beralasan tetapi justru di sambut senang oleh Mayang.


Dengan begitu Mayang akan bisa berduaan lagi dengan Robby walau hanya sebentar untuk membalaskan dendamnya tadi.


" Nanti saja. Sekarang makanlah dulu." Kata Nenek.


" Tapi Nek, kasihan dia bisa bisa nanti semakin banyak bentol di badannya karena si semut." Kata Mayang beralasan.


" iya Nek, ini gatal sekali." Timpal Robby yang ingin segera kabur dari meja makan dan berpindah posisi duduk agar tak di cubit oleh Mayang lagi.

__ADS_1


" Ya sudah sana." Nenek memberi ijin dan Robby segera bangkit.


Langkah Robby terhenti saat mendengar suara Mayang yang juga meminta ijin untuk menemaninya berganti baju.


" Aku siapkan baju suamiku dulu ya Nek." Kata Mayang yang berdiri sebelum nenek memberikan ijinnya.


Kenapa dia ikut sih?


Pasti mau ngomel-ngomel lagi deh ini. Gumam Robby dalam hatinya.


Di kamar.


" Kiss yang lama!" Lagi Mayang langsung pada inti dan memeluk Robby dari belakang.


" Males, tadi ngapain cubit aku coba?" Cetus Robby yang kesa karena merasa tak bersalah apapun pada Mayang.


" Ya itu hukuman karena kamu ga mau kiss aku lama."


" Oh, gitu? Pengen banget emang?" Tanya Robby yang kini membalikkan badannya.


" Iya." Jawab Mayang.


" By, aku juga ga tau kenapa, tapi aku ini lagi pengen banget manja sama kamu. Bolehkan?" Cicit Mayang yang berbicara setengah menggumam tapi sungguh menggemaskan.


" Tentu boleh dong." Jawab Robby yang lalu mencium kening Mayang dengan lama dan hangat.


" Ada atau tanpa cinta pun kamu boleh melakukannya Mayang. Aku tau di hatimu tidak ada sedikitpun ruang istimewa untukku. Tapi mau bagaimana pun juga kamu sekarang adalah istri sah ku." Kata Robby setelah mencium kening Mayang cukup lama.


" Makasih." Jawab Mayang yang tanpa Robby duga sedikit pun kini mendongakkan kepalanya dan meraih wajahnya lalu mulai menyesap manis bibir Robby dengan hangat, lembut, dan perlahan.


Robby tentu senang dan amat senang. Perlahan penuh perasaan Robby membalas setiap sapuan hangat dari benda kenyal tersebut.


Memagutnya dan mengulumnya dengan nikmat.


" Apa ini artinya kamu mulai mau menerimaku sebagai suamimu? Em, maksudku yang benar-benar suami?" Tanya Robby dengan wajah yang berbinar-binar.


Luapan kebahagiaan sungguh meledak-ledak di dadanya. Sampai-sampai Robby memainkan menggigit bibir bawahnya dan tanpa sadar itu kembali menggugah nafsu Mayang.


Lagi Mayang mengangguk dan memulai aksinya.


Mayang kini di kuasai nafsu dan juga pengaruh hormonal. Dia menjadi agresif dan menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


Persetan dengan gengsi. Itu yang ada di kepalanya saat ini.


" Mayang!" Seru Nenek dari meja makan.


Robby dan Mayang melepas ciuman mereka dan kembali tersadar lalu tertawa bersama dan memakai baju dengan terburu-buru lalu keluar dari kamar dengan binar kebahagiaan.


" Lama sekali berganti bajunya? Kalian ganti baju atau ganti baju? Tahanlah, selama aku disini. Jika kalian tak sabar menungguku segera pergi, maka segeralah setujui keinginanku." Kata Nenek yang kemudian kembali melanjutkan makannya.

__ADS_1


__ADS_2