
"Aku mencintaimu."
Marya terpaksa menghentikan langkahnya, karena Kanzo menangkap tubuhnya.
"Aku mencintaimu Marya." Kanzo menjatuhkan dagunya di bahu Marya, mengelus perut wanita itu dengan lembut."Meski awalnya aku memang tidak mencintaimu. Tapi sekarang aku telah mencintaimu."
"Gombal"
Marya melepas tangan Kanzo yang melingkar di perutnya, dan langsung melangkahkan kakinya. Namun Kanzo menarik sebelah lengannya, membuat langkahnya kembali terhenti.
"Mau kemana?" tanya Kanzo melihat jalan di depan mereka adalah jalan buntu.
"Toilet" jawab Marya.
Kanzo melepas tangan Marya, membiarkan istrinya itu pergi ke toilet sendiri, melihat toiletnya juga tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Memilih menunggu di bangku yang terbuat dari beton di tengah tengah taman.
Namun hampir lima belas menit menunggu, Marya belum juga keluar dari dalam toilet. Membuat Kanzo khawatir terjadi apa apa dengan istrinya itu.
'Lama sekali' ngapain dia di toilet lama lama' batin Kanzo.
Tak sabar menunggu, Kanzo pun berdiri dari tempat duduknya, menyusul Marya ke toilet wanita di pojokan taman itu.
" Marya!" panggil Kanzo mengetok salah pintu pintu yang tertutup.
"Marya!"
Ceklek!
Seorang wanita bertubuh gemuk keluar dari dalam toilet.
"Maaf" ucap Kanzo.
"Tidak masalah" ucap wanita gemuk itu tersenyum manis, membuat Kanzo meringis di dalam hati.
"Kemana dia?, kenapa tidak ada?" gumam Kanzo melihat sudah tidak ada orang di bagian toilet wanita itu.
Kanzo pun langsung menghubungi Haris, menyuruh pengurus taman itu untuk menutup gerbang masuk dan keluar. Dan menyuruh Haris menugaskan orang untuk mencari istrinya.
"Apa dia kabur?." Kanzo menelan air ludahnya, pikirannya menjadi kacau.
"Marya!" Panggil Kanzo berlari ke sana kemari mencari Marya.
"Marya!"
__ADS_1
"Kok bisa Nyonya muda menghilang?."
Kanzo mengarahkan pandangannya ke arah Cici yang sudah berdiri di sampingnya.
"Bagaimana? Apa ada yang melihatnya keluar gerbang?" tanya Kanzo pada Cici.
"Gak ada yang melihat, Pak!."
"Kemana dia pergi?" gumam Kanzo, mengacak acak rambutnya frustasi, khawatir kejadian di pantai terjadi lagi pada Marya.
Kanzo pun kembali ke toilet tadi, memastikan apakah Marya ada di sana atau tidak. Namun pintu toilet semua keadaan terbuka, itu artinya tidak ada orang sama sekali di sana.
"Marya!" teriak Kanzo lagi." Ya Tuhan! dimana istriku?" gumam Kanzo, memutar pandangannya ke sekitar taman.
Sedangkan Marya yang bersembunyi di balik bunga yang tidak jauh dari tempat Kanzo. Terus memandangi pria itu dari celah daun Bunga. Marya sengaja bersembunyi untuk melihat seperti apa reaksi Kanzo kalau dia menghilang. Marya ingin memastikan apakah Kanzo benar mencintainya atau tidak, sebelum pernikahan mereka di ketahui orang banyak.
'Maaf Pak Kanzo, aku juga membutuhkan cinta untuk menjalin rumah tangga. Aku gak mau kamu hanya sekedar bertanggung jawab dengan bayi yang ada di dalam perutku ini. Aku butuh cintamu, Pak' batin Marya.
Perlahan Marya pun melangkahkan kakinya keluar dari persembunyiannya, mencari cara supaya bisa keluar dari taman rekreasi itu.
Sampai malam hari, Kanzo belum juga bisa menemukan Marya. Padahal taman itu tidak terlalu luas, tapi tetap saja mereka tidak bisa menemukan Marya.
"Cari istriku sampai ketemu Ris" lirih Kanzo.
"Saya sudah menyuruh orang mencarinya di sekitar daerah ini. Tapi mereka belum berhasil menemukannya. Sepertinya ada orang yang membantunya keluar dari taman ini" ucap Haris.
"Haris, suruh orang mencarinya ke kontrakan mereka." Terlalu mengkhawatirkan Marya, Kanzo baru kepikiran untuk mencari Marya ke rumahnya.
Sedangkan Marya yang dari tadi sudah berhasil kabur dari taman, kini sudah sampai di sebuah loket bus menuju kampung halaman Ibu Hayati. Di sana Ibu Hayati dan Adi sudah menunggunya dari tadi.
"Marya, ayo cepat kita naik, busnya sudah akan berangkat" ucap Ibu Hayati.
Marya menganggukkan kepalanya, dan langsung naik ke dalam bus jurusan lintas Sumatra yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan.
Dari tadi Kanzo duduk termenung di gajebo tempat terakhir ia menghabiskan waktu dengan Marya, setelah mendapat kabar dari orang suruhan Haris untuk mencari Marya ke rumah kontrakannya. Ternyata rumah kontrakan itu sudah kosong. Tidak ada penghuni lagi, dan para tetangga mengatakan, Ibu Hayati dan Adi pergi dengan membawa tiga travel bag berukuran besar. Itu artinya Marya beserta Ibu dan Adiknya pergi menghilang darinya.
Berulang kali Kanzo menghela napasnya dengan pandangan lurus ke depan dengan mata tak berkedip dari tadi. Wanita tulus itu baru ia dapatkan hatinya, namun sudah menghilang.
'Apa pria beristri sepertiku tidak boleh mencintai wanita lain?' batin Kanzo.
Kanzo sadar dengan statusnya, seharusnya ia tidak melibatkan Marya dalam masalahnya. Tapi sungguh, meski awalnya tidak mencintai Marya, tapi Kanzo tertarik dengan wanita cantik yang lemah lembut itu. Kanzo menikahinya, untuk memperistri wanita itu selamanya, tidak berniat sama sekali membuangnya apa lagi mempermainkan perasaannya.
"Kanzo, apa kamu ingin menginap di sini?, aku mau pulang" tanya Haris.
__ADS_1
"Pulang saja" balas Kanzo tanpa melihat Haris yang berdiri di sampingnya.
Haris menghela napasnya, lalu pergi meninggalkan sahabatnya yang lagi gundah gulana itu. Mungkin sahabatnya itu butuh sendiri dan membutuhkan udara segar lebih banyak untuk menyejukkan hati dan pikirannya yang sudah berani bermain api.
Kanzo tidak tidur semalaman, ia terus menunggu kabar dari orang yang di suruh Haris mencari Marya dan keluarganya. Namun sampai pagi tak ada satu pun yang bisa menemukan jejak mereka.
"Marya" desah Kanzo betapa berartinya wanita itu untuknya. Kenapa wanita itu tidak tau perasaannya?, kalau ia juga mencintai wanita itu. Kenapa masih pergi menghilang? Padahal Kanzo sudah mengatakan kalau ia juga mencintai Marya.
**
"Katakan Widuri, kamu pasti tau kemana Marya dan keluarganya pergi?" tanya Kanzo.
Sekarang ia sudah berada di ruang kerjanya yang berada di perusahaan. Pas sampai tadi, Kanzo langsung meminta Widuri ikut ke ruangannya.
"Maksud Bapak apa?." Widuri bingung, ia pun menatap Kanzo dengan kening mengerut.
"Gak usah pura pura tidak tau, atau kamu akan kupecat sekarang tanpa pesangon" ancam Kanzo.
"Saya serius, Pak!. Saya gak ngerti maksud Bapak. Apa yang terjadi sebenarnya?."
Kanzo menetap Widuri dengan penuh selidik. Widuri adalah sahabat terdekat Marya. Widuri pasti tau kemana Marya pergi, pikir Kanzo.
Widuri yang di tatap seperti itu menjadi menunduk, karena tak nyaman.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau memberitahuku...."
Kanzo mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan telunjuknya tanpa melepas netranya dari wajah Widuri.
"Kamu yang menggantikan Marya menjadi istriku" lanjut Kanzo menyeringai.
Widuri bergidik ngeri sampai bulu bulu harusnya merindik. Yang di katakan sahabatnya berarti benar, kalau bos mereka itu memiliki libido yang tinggi.
'Ya Tuhan!' batin membuat otaknya traveling kemana mana membayangkan pria tampan itu bagaimana buasnya di atas kasur. Mungkin itu alasannya Marya kabur.
"Mana bisa begitu, Pak" ucap Widuri.
"Kenapa tidak?."
Kanzo berdiri dari kursi kebesarannya melangkah mendekati Widuri.
Kabuuuurrrrr....!
Widuri langsung berlari cepat keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Kanzo menahan tawanya sampai pipinya kelihatan mengembang.
*Bersambung