Istri Di Atas Ranjang

Istri Di Atas Ranjang
Ada syaratnya


__ADS_3

Lama menemani Kanzo mengobrol, akhirnya pria itu ketiduran. Marya yang sudah mengantuk juga memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dengan posisi duduk supaya tidur Kanzo tidak terusik kalau ia bergerak. Tak lama kemudian, Marya pun langsung tertidur pulas.


"Papa! Mama Marya!" Areta berteriak dari luar kamar sambil memukul mukul pintu di depannya. Hari sudah beranjak siang, pasangan suami istri itu belum juga terbangun dari tidur lelapnya.


"Papa!" panggil Areta lagi dari luar, mendengar tidak ada sahutan dari dalam.


Kanzo yang terusik dengan suara itu, lantas menggeliatkan tubuhnya kemudian membuka mata. Di lihatnya Marya tidur dengan posisi duduk sambil memangku kepalanya.


'Apa dari tadi malam dia tidur dengan posisi duduk?' tanya Kanzo dalam hati.


Pasti tubuh wanita itu tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu. Kanzo pun segera mendudukkan tubuhnya dan langsung memperbaiki posisi tidur Marya ke atas kasur. Wanita itu tidak terusik sama sekali.


"Lelap sekali dia" gumam Kanzo memandangi wajah Marya penuh cinta. Kanzo mengulas senyumnya, semenjak merasakan punya istri, ini baru pertama kali Kanzo merasa di cintai. Tidak seperti dulu bersama Bella, Bella tidak pernah menunjukkan sedikit pun rasa cintanya kepada Kanzo, hanya Kanzo yang mencintainya.


"Papa! Mama Marya!"


"Sebentar!" sahut Kanzo kemudian turun dari atas kasur, melangkahkan kakinya ke arah pintu, membukakan pintu untuk putrinya itu.


"Papa gak kerja?" tanya gadis kecil itu. Dia sudah pulang sekolah tapi kedua orang tuanya belum juga bangun tidur.


Kanzo tidak langsung menjawab, ia menurunkan sedikit tubuhnya untuk meraih tubuh putrinya itu ke gendongannya.


"Hari ini Papa libur, sayang" Kanzo mengecup kedua pipi Areta.


"Mama Marya kok belum bangun?, Mama Marya sakit?" tanya gadis kecil itu lagi.


"Tadi malam Marya begadang, makanya belum bangun" jawab Kanzo membawa putrinya itu masuk ke dalam kamar, naik ke atas tempat tidur.


"Mama Marya kok gak pernah keluar kamar Pa?" tanya Areta lagi. Ia sudah sangat ingin bermain dengan Marya, namun Ibu sambungnya itu betah tidak keluar kamar.


Kanzo yang di tanya putrinya, tidak bisa menjawab. Kanzo tidak tau harus menjelaskan seperti apa kepada putrinya itu. Akhirnya Kanzo menggaruk leher belakangnya, bingung.


"Mama lagi alergi udara."


Bukan Kanzo yang menjawab, melaiankan Marya yang sudah terbangun, karena mendengar suara Areta.

__ADS_1


"Alergi udara?" gadis kecil itu bingung.


"Hm!" Marya yang sudah duduk menganggukkan kepalanya, lalu menunjukkan benjol benjol di tangannya.


Kanzo dan Areta pun melihat lengan Marya yang benjol berwarna kemerahan.


"Sayang, kamu benaran alergi udara?" tanya Kanzo, di kiranya tadi Marya hanya beralasan kenapa gak keluar kamar selama seminggu ini.


"Sepertinya tadi malam makanan yang ku makan mengandung udang. Meski kantanya alergi udara, tapi bisa kumat karena makanan" jelas Marya.


"Kok bisa gitu" Areta semakin heran, menurutnya udara, ada juga yang jahat.


"Tapi gak apa apa, setelah mandi air hangat, benjolnya nanti akan langsung hilang" ujar Marya, mengambil Areta dari pangkuan Kanzo, lalu mengecup pipi kedua gadis kecil itu.


"Mama Marya sama Papa Bau. Belum mandi." Areta sengatan memencet hidungnya, supaya Marya dan Kanzo percaya kalau mereka Memang bau.


"Enak aja ya bilang Mama sama Papa bau" Kanzo menarik tangan Areta yang memencet hidungnya, lalu mencium ketiaknya ke hidung Areta.


Membuat Areta berteriak minta tolong lepas Marya supaya di jauhkan dari ketiak sang papa.


Ketiak suaminya itu tidak bau meski belum mandi, malah wangi menurut Marya. Dan marya juga sudah biasa mencium aroma itu setiap malam. Bahkan sangat betah tidur di bawah ketiak pria itu.


"Lihatlah, Mama Marya aja suka aroma ketiak Papa. Masa kamu bilang Papa bau" ucap Kanzo.


"Mama Marya sama Papa kan, sama sama bau. Jadi Mama Marya gak bisa cium bau Papa" balas Areta.


"Hm! kamu juga bilang Mama bau. Lihatlah, tapi kamu suka menempel di tubuh Mama" Gemas Marya, mencoba melepas pelukan Arata, namu gadis kecil itu semakin erat memeluk Marya. Malah gadis kecil milik suaminya itu mengecup pipinya.


"Katanya bau, tapi di cium juga" cibir Marya dari tadi tersenyum dengan wajah berbinar bahagia.


Areta pun melepas pelukannya, lalu memandangi wajah Marya dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca. Kemudia gadis kecil itu menempelkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Marya.


"Selama Mama Marya menghilang, papa sering menangis sendiri. Jangan tinggalin Papa lagi ya" ucap Areta tanpa melepas pandangannya dari wajah Marya.


Marya terdiam, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Kanzo yang duduk di sampingnya dan juga memandangnya.

__ADS_1


"Hm! baiklah, Mama tidak akan pergi kemana mana lagi. Tapi ada syaratnya" ucap Marya kepada Areta.


Cup!


Kanzo menjatuhkan satu kecupan di pipi Marya.


"Apa syaratnya sayang, kami siap menjalankannya" jawab Kanzo. Arata menganggukkan kepalanya setuju.


"Pijatin Mama sekarang, tubuh Mama pegel sekali. Ini gara gara Papa nih!." Marya memang merasakan tubuhnya pegal, karena dari tadi malam tidur dengan posisi duduk.


"Baiklah!" ucap Kanzo dan Arata bersemangat. Syaratnya cuma mijat ajak, itu gampang.


Areta pun turun dari atas pangkuan Marya. Marya langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi telengkup. Arata yang berdiri di atas kasur langsung duduk di pinggang Marya, kemudian memijat punggung Marya dengan tangan mungilnya. Sedangka Kanzo memijat pundak Marya.


"Maaf sayang" ucap Kanzo merasa bersalah kepada Marya, lalu mengecup kening wanita itu dari samping.


"Hm...!" balas Marya menikmati pijatan tubuh ayah dan anak itu di tubuhnya. Tak lama kemudian Marya tertidur kembali. Wajar aja, tadi malam ia tidur hampir pagi.


"Kanzo, itu Haris dan Cici datang."


Refleks Kanzo dan Areta menoleh ke arah Ibu Liana yang masuk ke dalam kamar.


"Iya Ma, sebentar" ucap Kanzo, memperbaiki posisi tidur Marya menjadi terlentang, kemudian menyelimutinya.


"Marya kenapa, sakit?" tanya Ibu Liana, melihat Marya di pijat Kanzo dan Areta.


"Katanya tubuhnya pegal Ma. Mungkin gara gara tadi malam kami tidurnya menjelang subuh. Dan dia ketiduran dengan posis duduk" jawab Kanzo.


Ibu Liana menghela napasnya. Dengan kejadian tadi malam, baik Pak Bagus, Ibu Liana juga tidak bisa tidur dengan nyenyak, bahkan bisa dikatakan semalaman mereka tidak bisa tidur. Bukan hanya memikirkan masalah gedung yang hangus dan harus berhenti beroperasi, tapi mereka juga harus mengganti rugi uang orang, belum lagi memikirkan dana untuk membangun. gedung perusahaan itu kembali.


"Sana temui, kata mereka para karyawan, sudah terlantar di depan gedung. Mereka meminta kejelasan nasib mereka" ujar Ibu Liana.


Kanzo menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Kanzo juga harus memikirkan gaji karyawan yang harus tetap di bayar meski harus di rumahkan.


"Iya Ma."

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2